Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Jingjie dan Lima Elemen
Musim semi di Gunung Puncak Angin datang tanpa peringatan. Salju mencair dalam semalam, menciptakan sungai-sungai kecil yang mengalir deras di celah-celah batu, membawa bau tanah basi dan janji pertumbuhan. Fengyin berdiri di tepi jurang, menatangi kabut yang naik dari lembah seperti roh-roh yang terbangun dari tidur panjang.
Delapan belas tahun. Hari ini.
"Kamu tidak siap," kata Gu Yanqing dari belakang, suaranya datar seperti air danau. "Tapi kamu juga tidak akan pernah benar-benar siap. Jadi hari ini adalah hari yang tepat."
Fengyin menoleh. Guru itu terlihat lebih tua dari kemarin—seolah-olah setiap malam dalam tiga belas tahun terakhir telah mencuri sebagian dari dirinya, menyimpannya untuk hari ketika dia akhirnya bisa beristirahat.
"Bagaimana kita mulai?" tanya Fengyin.
"Dengan mengakhiri," kata Gu Yanqing. Dia mengulurkan tangan, dan untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun, meminta Fengyin untuk mengikutinya ke dalam gua—bukan ke area latihan biasa, tapi ke bagian yang selalu tertutup oleh batu besar, yang Fengyin anggap sebagai gudang atau tempat tidur guru.
Gu Yanqing menyentuh batu itu, menggerakkan Jīnglì Tǔ, dan batu itu bergeser dengan bunyi gemeretak seperti tulang yang patah. Di baliknya, sebuah ruangan kecil—tidak lebih dari empat zhang persegi—diterangi oleh cahaya aneh yang tidak punya sumber. Cahaya yang datang dari... segala arah . Seolah-olah udara itu sendiri bersinar.
Di tengah ruangan, sebuah altar batu. Dan di atasnya, sebuah benda yang membuat napas Fengyin terhenti.
Kristal. Tapi bukan kristal mengambang seperti yang dimiliki prajurit atau Dàshī. Ini adalah kristal tumbuh dari batu, seperti stalaktit, dengan cabang-cabang yang berbelok-belok seperti akar pohon tua. Warnanya tidak tetap—berubah-ubah antara putih, biru, merah, kuning, dan sesuatu yang tidak punya nama, sesuatu yang membuat mata sakit hanya dengan mencoba mengingatnya.
"Ini adalah Yuánsǐ Zhīxīn," kata Gu Yanqing, suaranya bergetar dengan emosi yang jarang terlihat. "Jantung Primer. Sisa dari kristal pertama yang pernah ditemukan manusia. Dari zaman sebelum Dinasti, sebelum sejarah, sebelum... segalanya."
Fengyin merasakan sesuatu—bukan dari kristal itu, tapi dari dirinya sendiri . Enam titik cahaya di dalam dadanya, yang selama ini hanya berdenyut pelan, kini bergerak. Berputar. Menari . Seolah-olah mereka mengenali sesuatu. Seolah-olah mereka pulang.
"Ini akan membuka dua elemen terakhir," kata Gu Yanqing. "Guāng dan Yǐng. Cahaya dan Bayangan. Tapi bukan dengan cara yang kau duga. Mereka tidak akan terbuka dengan latihan atau teknik. Mereka akan terbuka dengan..." dia berhenti, menatap Fengyin dengan mata yang tua dan lelah, "...dengan pengorbanan."
"Pengorbanan apa?"
Gu Yanqing tidak langsung menjawab. Dia berjalan mengelilingi altar, tangannya menyentuh permukaan batu dengan kelembutan yang biasanya hanya diberikan pada anak kecil atau orang sakit.
"Tiga puluh tahun lalu," kata akhirnya, "ketika Xie Wuyou mengkhianatiku, dia tidak hanya mencuri status dan kehormatan. Dia mencuri sesuatu yang lebih berharga. Sesuatu yang tidak bisa diganti."
Dia berhenti di hadapan Fengyin, dan untuk pertama kalinya, anak laki-laki itu melihat air mata di mata guru yang selalu kuat.
"Dia mencuri kemampuanku untuk memiliki murid lain. Setelah dia, aku tidak bisa lagi membuka Dàojiàn seseorang. Tidak bisa mengajarkan. Tidak bisa... mewariskan. Kecuali..."
"Kecuali?"
"Kecuali dengan memberikan segalanya," kata Gu Yanqing. "Jiwa. Energi. Pengalaman hidup. Semua yang membuatku aku , ditransfer ke murid terakhir. Membuatnya menjadi lebih dari dirinya sendiri. Menjadikannya... pewaris sejati."
Fengyin mengerti. Dan pengertian itu seperti pisau di ulu hati.
"Tidak," katanya, suaranya pecah. "Ada cara lain. Harus ada. Aku tidak akan—"
"Ini bukan pilihanmu," kata Gu Yanqing, tapi lembut. "Ini adalah pilihanku. Yang sudah kubuat tiga puluh tahun lalu, ketika aku memutuskan untuk menunggu. Untuk menjadi bayangan. Untuk menjadi tidak ada, demi hari ini."
Dia mengulurkan tangan, meraih wajah Fengyin—tangan yang keriput, yang dingin, yang begitu familiar setelah tiga belas tahun.
"Kamu adalah alasan aku masih hidup, Fengyin. Bukan metafora. Bukan kata-kata manis. Fakta. Jiwaku terikat dengan jiwamu sejak aku menemukanmu di hutan, sejak aku melihat potensi di mata anak kecil yang baru saja kehilangan segalanya. Dan sekarang..." dia tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah dilihat Fengyin, "...sekarang saatnya aku melepaskan ikatan itu. Memberikanmu kebebasan untuk terbang. Dan memberikan diriku kebebasan untuk beristirahat."
NPC baru muncul tanpa diundang.
Suara dari luar gua—batu yang bergeser, langkah kaki yang terburu-buru. Gu Yanqing dan Fengyin berpaling, dan di mulut ruangan rahasia, berdiri seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Tidak lebih dari dua puluh tahun, dengan pakaian petani yang terlalu bagus untuk petani biasa, dan mata yang terlalu tajam untuk orang sederhana.
"Maafkan intrusi," kata pemuda itu, suaranya rendah, terlatih, "Tapi aku tidak punya pilihan. Mereka datang. Lebih cepat dari yang diharapkan. Xie Wuyou mengirimkan pasukan elit—bukan prajurit biasa, tapi Yǐngwèizhě , Pembawa Bayangan. Mereka sudah di lereng gunung. Satu jam, mungkin kurang."
Gu Yanqing menatapnya dengan mata yang tiba-tiba menjadi tajam seperti pedang. "Siapa kamu?"
Pemuda itu berlutut—bukan karena takut, tapi karena hormat yang terlalu dalam untuk dipertanyakan. "Namaku Lin Xuan, Tuan Gu. Aku adalah... aku adalah putra dari orang yang dulu kamu kenal. Orang yang tidak disebut namanya dalam cerita-ceritamu."
Gu Yanqing menjadi pucat. "Tidak mungkin. Dia mati. Mereka berdua mati. Xie Wuyou membunuh mereka—"
"Ibu mati, ya," kata Lin Xuan, suaranya tetap tenang meski mata berkaca-kaca. "Dibunuh oleh Xie Wuyou sendiri, di depan ayahku, sebagai peringatan. Tapi ayahku selamat. Melarikan diri. Menyembunyikanku di desa terpencil, dengan nama palsu, dengan identitas palsu. Dia mati lima tahun lalu, Tuan Gu. Tapi sebelum dia mati, dia menceritakan segalanya. Tentang tiga murid Gu Yanqing. Tentang pengkhianatan. Tentang... harapan."
Dia menatap Fengyin, mata tajamnya menilai.
"Harapan bahwa suatu hari, murid ketiga akan muncul. Tiānzé Zhě yang bisa menyeimbangkan kekuatan Xie Wuyou. Dan bahwa aku, putra pengkhianat kedua, bisa membantu."
Fengyin menatap pemuda itu—Lin Xuan, putra dari murid ketiga yang tidak pernah disebutkan. Yang ayahnya juga dikhianati Xie Wuyou, tapi dengan cara berbeda. Bukan dengan kematian, tapi dengan pemaksaan untuk menonton. Dengan trauma. Dengan hidup yang hancur.
"Mengapa kamu di sini?" tanya Fengyin, bukan dengan curiga, tapi dengan... pengenalan. Seolah-olah dia melihat bayangan dirinya sendiri di wajah orang lain.
"Karena aku punya informasi," kata Lin Xuan. "Yǐngwèizhě tidak datang tanpa alasan. Xie Wuyou merasakan sesuatu dua minggu lalu—gelombang energi ketika kamu menyembuhkan ibu gadis kecil itu di Desa Qinghe. Dia tidak tahu persis apa, tapi dia tahu itu terkait dengan Tiānzé Zhě. Dan dia mengirimkan pembunuhnya terbaik untuk memastikan Tiānzé Zhě tidak pernah matang sepenuhnya."
Gu Yanqing menggeram—bunyi yang tidak pernah keluar dari mulutnya sebelumnya. "Aku yang menyuruhnya pergi ke Desa Qinghe. Aku yang—"
"Tidak ada yang salah dalam menyembuhkan," kata Lin Xuan cepat. "Tapi sekarang kita punya masalah. Yǐngwèizhě adalah pembunuh yang tidak bisa dihindari. Mereka menguasai elemen Yǐng pada level yang bahkan Xie Wuyou banggakan. Mereka bisa bergerak dalam bayangan, menjadi bayangan, membunuh dari bayangan. Tidak ada pertahanan fisik yang efektif melawan mereka."
Dia menatap Yuánsǐ Zhīxīn di altar, kemudian ke Gu Yanqing, kemudian ke Fengyin.
"Tapi ada cara," kata Lin Xuan. "Cara untuk membuka Guāng dan Yǐng dalam satu ritual. Cara untuk membuat Fengyin siap—benar-benar siap—dalam waktu yang kita punya. Tapi itu membutuhkan... pengorbanan ganda."
Gu Yanqing menatapnya dengan mata yang tiba-tiba menjadi waspada. "Apa yang kau tahu, anak muda?"
Lin Xuan tersenyum—senyum yang tua, yang terlalu tua untuk wajahnya yang muda.
"Ayahku tidak hanya menceritakan kisah tragis, Tuan Gu. Dia juga menceritakan teknik-teknik yang dia pelajari sebelum pengkhianatan. Termasuk satu yang terlarang. Satu yang hanya bisa dilakukan oleh dua Dàshī yang saling mempercayai sepenuhnya." Dia berhenti, menatap Fengyin. "Atau oleh satu Dàshī dan satu murid yang siap menjadi lebih."
Ritual itu disebut Shuāngxīn Tóngzhèn—Resonansi Hati Ganda.
Gu Yanqing mengenalinya, tentu saja. Dia pernah mempertimbangkannya, tiga puluh tahun lalu, ketika masih punya dua murid lain. Tapi waktu itu, mereka tidak punya kepercayaan yang cukup. Tidak punya kebutuhan yang cukup mendesak. Dan sekarang...
"Ini akan membunuhmu," kata Gu Yanqing pada Lin Xuan. Bukan pertanyaan.
"Mungkin," kata Lin Xuan. "Tapi aku sudah mati sejak ibu dibunuh di depanku. Aku hanya... menunggu momen yang tepat untuk benar-benar pergi. Dan ini—membantu melahirkan Tiānzé Zhě sejati, membalas dendam pada Xie Wuyou, menyelesaikan apa yang ayahku tidak bisa—ini adalah momen yang tepat."
Fengyin menatap kedua pria itu—guru yang akan memberikan segalanya, dan stranger yang juga akan memberikan segalanya. Dua pengorbanan. Dua kematian. Untuknya.
"Tidak," kata Fengyin lagi, lebih kuat kali ini. "Ada cara lain. Harus ada. Aku tidak akan menjadi alasan dua orang mati—"
"Kamu bukan alasan," kata Lin Xuan dan Gu Yanqing bersamaan, kemudian saling memandang dengan pengakuan yang pahit.
"Kamu adalah harapan," lanjut Gu Yanqing. "Dan harapan tidak bisa dipaksakan. Tapi bisa diberikan. Dihadiahkan. Itulah yang kami lakukan, Fengyin. Bukan karena kamu meminta. Tapi karena kami memilih."
Lin Xuan berjalan ke altar, meletakkan tangannya di sisi berlawanan dari Yuánsǐ Zhīxīn. "Aku bukan Dàshī, Tuan Gu. Tapi aku punya darah muridmu. Darah ayah yang pernah dibuka Dàojiàn-nya olehmu. Itu... itu cukup untuk menjadi jembatan. Untuk membuat resonansi tiga arah, bukan dua."
Gu Yanqing menatapnya lama. Kemudian, perlahan, dia meletakkan tangannya di sisi ketiga kristal.
"Tiga arah," bisiknya. "Tiga murid. Tiga generasi. Menyatu dalam satu momen."
Dia menatap Fengyin, dan di matanya ada segalanya—tiga belas tahun, tiga puluh tahun penantian, seumur hidup pengorbanan.
"Duduk, Fengyin. Di tengah. Di antara kami. Dan bukalah dirimu. Semuanya. Biarkan kami masuk. Biarkan kami menjadi bagian dari dirimu. Dan ketika kami pergi... ketika kami pergi, kamu akan membawa kami bersamamu. Bukan sebagai beban. Tapi sebagai kekuatan."
Fengyin berlutuk. Bukan karena lemah. Tapi karena... pengakuan. Pengakuan bahwa ini adalah harga. Harga kekuatan. Harga tanggung jawab. Harga menjadi lebih.
Dia duduk. Di tengah. Di antara dua pria yang akan mati untuknya.
Dan ritual dimulai.
Yuánsǐ Zhīxīn bersinar.
Bukan cahaya biasa—cahaya yang memiliki suara . Cahaya yang bernyanyi dalam frekuensi yang membuat tulang bergetar, yang membuat jantung berdetak selaras, yang membuat jiwa... melepas .
Fengyin merasakan Gu Yanqing masuk pertama. Bukan sebagai tubuh, tapi sebagai aliran . Seperti sungai yang mengalir ke dalam danau. Seperti angin yang mengisi ruang kosong. Dia merasakan tiga belas tahun pelatihan—setiap pukulan, setiap jatuh, setiap bangkit—menjadi bagian dari dirinya. Bukan sebagai memori, tapi sebagai otot . Sebagai refleks. Sebagai kebenaran yang tidak perlu dipikirkan.
Kemudian Lin Xuan. Lebih ringan, lebih pahit, lebih... muda . Tapi juga lebih bebas . Lin Xuan tidak punya beban guru-murid yang rumit. Dia hanya punya keinginan sederhana: membalas dendam . Keinginan itu, murni dan tajam, mengalir ke dalam Fengyin dan menjadi sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak hanya membalas dendam, tapi juga menuntut keadilan .
Dan dari mereka berdua, dari resonansi tiga arah, dua pintu terakhir terbuka.
Guāng—Cahaya.
Bukan cahaya matahari. Bukan cahaya api. Tapi cahaya yang ada sebelum cahaya . Cahaya yang memungkinkan cahaya lain untuk ada. Cahaya yang, ketika Fengyin membuka mata—meski mata fisiknya tertutup dalam meditasi—membuatnya melihat segala sesuatu . Setiap atom, setiap energi, setiap jiwa yang pernah hidup dan masih berdenyut dalam kenangan ruang-waktu.
Dan Yǐng—Bayangan.
Bukan kegelapan. Bukan absensi cahaya. Tapi potensi . Kemungkinan yang belum terwujud. Jalan yang belum diambil. Bayangan adalah tempat di mana segalanya bisa terjadi, di mana aturan belum ditulis, di mana... kekuatan sejati tinggal.
Fengyin merasakan keenam elemen. Bukan sebagai kristal terpisah, tapi sebagai satu . Satu lingkaran sempurna. Fēng yang mengalir, Shuǐ yang menyesuaikan, Huǒ yang mengubah, Tǔ yang menopang, Guāng yang menerangi, dan Yǐng yang... yang mungkin .
Dia merasakan tubuhnya berubah. Bukan fisik—fisik tetap sama. Tapi kapasitas . Seolah-olah sebelumnya dia adalah gelas, dan sekarang dia adalah danau. Seolah-olah sebelumnya dia adalah lilin, dan sekarang dia adalah matahari.
Dan dia merasakan mereka pergi.
Bukan dengan tiba-tiba. Tapi perlahan, seperti pasir yang mengalir melalui jari-jari. Gu Yanqing pertama—yang tenang, yang puas, yang akhirnya bisa beristirahat. Lin Xuan kemudian—yang terkejut, yang gembira, yang tidak menyangka bahwa pergi bisa terasa seperti... pulang.
"Terbanglah," bisik suara Gu Yanqing, terakhir kalinya, bukan di telinga tapi di jiwa. "Terbanglah, Fengyin. Dan jangan pernah lupa: kekuatan sejati bukan di kristal. Bukan di elemen. Tapi di pilihan. Di setiap pilihan yang kamu buat. Itulah warisanku. Itulah... aku."
Kemudian sunyi.
Bukan sunyi kosong. Tapi sunyi penuh . Penuh dengan apa yang mereka tinggalkan. Penuh dengan apa yang sekarang menjadi bagian dari Fengyin.
Dia membuka mata.
Ruangan rahasia hancur. Bukan oleh ledakan—tapi oleh transisi . Yuánsǐ Zhīxīn telah menjadi debu, energinya telah mengalir ke dalamnya. Dinding-dinding retak, lantai bergemuruh, dan dari luar, terdengar suara pertama dari Yǐngwèizhě yang tiba.
Tapi Fengyin tidak takut.
Dia berdiri, dan keenam kristal muncul di punggungnya—tidak mengambang dengan sempurna seperti milik Xie Wuyou, tapi hidup . Berdenyut dengan irama yang sama dengan jantungnya. Bernapas dengan ritme yang sama dengan napasnya.
Dia melihat ke luar, ke lereng gunung, ke bayangan-bayangan yang bergerak—Yǐngwèizhě, pembunuh bayangan, datang untuk memastikan Tiānzé Zhě tidak pernah matang.
Dia tersenyum.
"Maaf," katanya pada bayangan-bayangan itu, suaranya menggema dengan kekuatan yang baru, yang belum terkontrol penuh, yang mentah dan menakutkan . "Kalian terlambat. Aku sudah matang. Aku sudah... lahir."
Dia mengangkat tangan, dan keenam elemen menjawab.
Fēng mengangkatnya ke udara, membawanya keluar dari gua yang runtuh. Shuǐ menciptakan kabut tebal, menyembunyikannya dari pandangan. Huǒ memanaskan darahnya, membuatnya siap untuk bertarung. Tǔ menopangnya, membuat setiap langkah stabil meski melayang. Guāng menerangi jalan, menunjukkan posisi setiap musuh. Dan Yǐng...
Yǐng berbisik padanya. Berbisik tentang kelemahan musuh. Tentang tempat-tempat di mana bayangan mereka terlalu tipis, terlalu rapuh. Tentang cara untuk menjadi satu dengan bayangan, untuk bergerak di dalamnya, untuk membunuh dari dalamnya.
Fengyin melayang di atas lereng gunung, menatangi Yǐngwèizhě yang berhenti bergerak—yang merasakan sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang mereka sendiri tidak bisa lakukan .
"Enam elemen," bisik salah satu dari mereka, suaranya bergema dari bayangan ke bayangan. *"Tiānzé Zhě sejati. Xie Wuyou harus tahu—"
"Xie Wuyou akan tahu," kata Fengyin, dan suaranya adalah suara angin dan api dan segalanya di antaranya. "Tapi kalian tidak akan ada untuk memberitahunya."
Pertempuran itu singkat.
Bukan karena Fengyin lebih kuat—dia belum menguasai kekuatannya, masih terlalu baru, masih terlalu mentah . Tapi karena dia punya sesuatu yang Yǐngwèizhě tidak punya: alasan . Gu Yanqing di dalamnya, Lin Xuan di dalamnya, semua orang yang mati di Kampung Awan Kasih di dalamnya. Mereka bukan beban. Mereka adalah bahan bakar .
Dia menggunakan Yǐng melawan Yǐngwèizhě—memasuki bayangan mereka, mengacaukannya, membuat mereka buta di tempat mereka seharusnya paling kuat. Menggunakan Guāng untuk menembus pertahanan mereka, untuk menunjukkan di mana jiwa mereka bersembunyi di dalam tubuh bayangan. Dan menggunakan empat elemen lainnya untuk menghancurkan, untuk membakar, untuk menghanyutkan, untuk mengubur.
Ketika matahari terbit di Gunung Puncak Angin, tidak ada Yǐngwèizhě yang tersisa. Hanya Fengyin, berdiri di puncak, menatap ke timur—ke arah istana, ke arah Xie Wuyou, ke arah takdir yang menunggu.
Dia menurunkan dirinya ke tanah, kakinya menyentuh batu yang dingin, dan merasakan sesuatu di lehernya. Yuèyǐng Pèi—liontin yang diberikan Gu Yanqing. Masih hangat. Masih berdenyut. Masih melindungi.
"Aku akan menggunakan waktu yang kau berikan," bisiknya pada angin, pada bayangan, pada jiwa-jiwa yang kini tinggal di dalamnya. "Aku akan menjadi kuat. Kuat enough untuk mengalahkan Xie Wuyou. Kuat enough untuk menggulingkan Kaisar. Kuat enough untuk... untuk membuat pengorbananmu berarti."
Dia berbalik, meninggalkan puncak, turun ke lembah. Bukan untuk bersembunyi—tapi untuk mencari . Mencari sekutu. Mencari informasi. Mencari cara untuk menggunakan kekuatan barunya dengan bijak, dengan benar, dengan cara yang akan membuat Gu Yanqing bangga.
Dan di suatu tempat di antara langkah-langkahnya, dia merasakan sesuatu yang familiar. Sesuatu yang telah lama tidak dilihat.
Seekor burung biru, duduk di dahan rendah, menatapnya dengan mata merah seperti batu permata.
Bergerak, berkicau, terbang—menunjukkan arah. Utara. Ke tempat yang belum pernah dijelajahi. Ke petualangan berikutnya. Ke Arc Kedua, yang menunggu.
Fengyin mengikuti.
Bukan karena dia percaya pada takdir. Tapi karena, untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun, dia punya pilihan. Dan dia memilih untuk terus berjalan.
(Bersambung..)