NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Gema Sunyi di Rumah Besar

Rumah kediaman Adhinata itu berdiri megah di kawasan elit yang tenang. Pagar besinya tinggi, halamannya luas dengan rumput Jepang yang terpangkas rapi, dan pilar-pilar betonnya memberikan kesan kokoh sekaligus angkuh. Namun, di balik kemegahan itu, suasana di dalamnya terasa seperti kuburan. Dingin dan tak bernyawa.

Justin duduk sendirian di ujung meja makan kayu jati yang panjangnya bisa menampung dua puluh orang. Di depannya, tersaji sepiring steak salmon dan salad buah yang disiapkan oleh Bi Sumi, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana sejak Justin masih balita.

“Den Justin, mau ditambah jus jeruknya?” tanya Bi Sumi pelan, seolah takut suaranya akan memecahkan kesunyian yang tebal di ruangan itu.

Justin hanya menggeleng tanpa menoleh. “Enggak, Bi. Ini cukup. Makasih.”

Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Ia memotong salmonnya dengan gerakan mekanis. Tidak ada suara obrolan hangat, tidak ada denting sendok yang bersahutan. Hanya ada suara detak jam dinding besar di ruang tamu yang bergema sampai ke ruang makan.

Kedua orang tuanya? Justin bahkan sudah lupa kapan terakhir kali mereka makan bersama di meja ini. Papanya sedang berada di London untuk urusan merger perusahaan, sementara Mamanya kemungkinan besar masih di Paris, sibuk dengan peluncuran lini fashion terbarunya. Bagi mereka, rumah ini hanyalah tempat transit, dan Justin hanyalah bagian dari aset yang harus dipastikan "aman" dengan pengawasan satpam di depan gerbang dan asisten rumah tangga di dalam.

Justin sudah terbiasa. Sejak kecil, ia belajar bahwa uang bisa membeli segalanya, kecuali kehadiran. Itulah sebabnya ia lebih suka menghabiskan waktu di lapangan basket kampus sampai lelah, karena di sana, rasa lelah fisiknya bisa membungkam rasa sepi di kepalanya.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Justin yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Raka.

Justin menghela napas, lalu menggeser tombol hijau. Ia menjepit ponsel itu di antara telinga dan bahunya sambil tetap melanjutkan makannya.

"Halo," sapa Justin singkat.

"Woi, Tin! Lagi apa lo? Makan mewah lagi ya sendirian?" suara Raka terdengar berisik di seberang sana, kontras dengan suasana rumah Justin.

"Hm. Kenapa?"

"Santai amat bos. Gue cuma mau pastiin buat besok. Pendaftaran UKM Basket kan hari terakhir, terus sorenya langsung ada wawancara singkat buat maba yang mau gabung. Siapa yang bakal megang meja wawancara besok? Lo atau gue?"

Justin terdiam sejenak. Ia teringat tumpukan formulir pendaftaran yang sempat ia lihat sekilas di sekretariat tadi siang. Kebanyakan hanya mahasiswa yang ingin sekadar keren-keren atau pengen deket sama anak basket yang populer.

"Gue aja," jawab Justin pendek.

"Hah? Serius lo? Tumben. Biasanya lo paling males ngadepin maba-maba yang cuma modal tampang atau yang mainnya kayak siput. Lo lagi kerasukan jin rajin apa gimana?"

"Gue mau seleksi yang bener-bener niat. Tahun ini kita harus juara liga mahasiswa. Gue nggak mau ada orang yang masuk cuma buat numpang eksis," jelas Justin dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.

"Oke, oke, kapten! Galak bener. Ya udah, besok jam empat sore ya di Gedung Olahraga. Jangan telat, atau gue bakal diserbu maba cewek yang nanyain lo mulu. Bye!"

Justin mematikan sambungan telepon itu bahkan sebelum Raka sempat mengucapkan salam penutup. Ia meletakkan garpu dan pisaunya. Seleranya hilang. Sebenarnya, alasan ia ingin mewawancarai pendaftar besok bukan cuma soal prestasi, tapi karena ia butuh kesibukan agar tidak terlalu lama berada di rumah besar yang menyesakkan ini.

Setelah menyelesaikan makannya, Justin berjalan menuju halaman belakang. Udara malam sisa hujan tadi terasa sangat segar. Ia menumpuk beberapa batang kayu kering di sebuah wadah besi tempat api unggun kecil yang memang sengaja ia buat.

Tik.

Korek api dinyalakan. Dalam sekejap, api mulai menjilat kayu-kayu itu, menciptakan keritik kecil yang menenangkan. Justin duduk di kursi kayu panjang, menyandarkan punggungnya, dan menatap api yang menari-nari di depannya. Cahaya oranye itu terpantul di matanya yang dalam dan lelah.

Ia mengeluarkan ponsel, memasang headphone nirkabel nya, dan mulai mengacak daftar putar lagu. Ia butuh sesuatu untuk menenggelamkan pikirannya.

Setelah beberapa lagu indie yang lewat, tiba-tiba intro lagu yang sangat ia kenal mulai mengalun.

About You – The 1975.

Justin terpaku. Ia tidak mengganti lagu itu. Ia justru membiarkannya meresap ke dalam jiwanya.

“I know you're somewhere, out there...”

Suara vokal yang dreamy itu seolah menarik Justin ke sebuah lubang hitam kenangan. Ia teringat masa kecilnya, saat rumah ini masih terasa hangat sebelum ambisi kedua orang tuanya mengubah segalanya. Ia teringat sosok yang dulu pernah menjanjikan akan selalu ada, namun akhirnya pergi juga mengikuti arus ego masing-masing.

Lagu itu terus berputar, melayang-layang di antara asap api unggun yang naik ke langit malam.

“There was something about you that I can't quite remember, but I can't forget...”

Justin melamun. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia memikirkan tentang hidupnya yang terlihat sempurna dari luar, tapi hancur di dalam. Ia memikirkan tentang betapa sulitnya menemukan seseorang yang benar-benar tulus, yang tidak melihatnya sebagai "Justin si anak orang kaya" atau "Justin si atlet hebat".

Ia teringat bayangan seseorang yang berdiri di lobi kampus sore tadi. Ia sempat merasa ada yang memperhatikannya saat ia bermain di bawah hujan, tapi ia terlalu lelah untuk peduli. Sekarang, di tengah kesunyian malam, ia bertanya-tanya: apakah ada orang di luar sana yang benar-benar bisa mengerti apa yang ia rasakan tanpa perlu ia ucapkan?

Api unggun di depannya mulai mengecil, menyisakan bara merah yang masih panas. Justin tidak sadar sudah berapa lama ia duduk di sana. Ia melirik jam tangan pintarnya.

00:15.

"Sudah lewat tengah malam," gumamnya.

Ia melepaskan headphone-nya, menyiram sisa bara api dengan sedikit air sampai asap putih mengepul, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya menggema di lorong sunyi menuju kamar tidurnya di lantai dua.

Begitu sampai di kamar, Justin tidak langsung tidur. Ia berdiri di balkon kamarnya sebentar, menatap lampu-lampu kota yang masih berkedip di kejauhan. Hidupnya terasa seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Kampus, basket, rumah sepi. Begitu terus setiap hari.

Ia melempar ponselnya ke meja rias, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang terasa terlalu luas untuknya sendirian. Ia menarik selimut hingga sebatas dada.

"Besok pasti bakal melelahkan lagi," bisik Justin sebelum akhirnya memejamkan mata.

Di sisa kesadarannya sebelum terlelap, melodi lagu tadi masih terngiang di telinganya. Ia tidak tahu bahwa esok hari, di tengah riuhnya pendaftaran UKM, ia akan bertemu dengan seseorang yang akan membuat "detik-detik" dalam hidupnya tidak lagi terasa hampa. Seseorang yang masuk ke dunianya bukan karena ambisi, melainkan karena sebuah rasa yang lahir dari gema langkah kaki di bawah hujan.

Justin pun tertidur, sementara di luar sana, angin malam berhembus pelan seolah sedang membisikkan sebuah awal cerita baru yang sebentar lagi akan dimulai.

1
nesha
🤭🤭
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!