Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan
"Sh...sakit. Kenapa gelap sekali?" batin Reta,
Hawa dingin yang menusuk kutikula menyadarkan Reta. Namun sakit di tubuhnya memaksa agar terus terpejam,
"Argh!" Reta mengernyit, merintih kesakitan.
Mata yang baru saja terbuka, tertegun mendapati diri tengah tersungkur tak berdaya.
Reta baru ingat, kalau mobil yang dinaikinya tadi mengalami kecelakaan. Tangannya meraba, menyentuh asal rasa sakit,
"His..."
Tak ada luka luar, tapi mengapa tubuhnya terasa terbakar seperti ditusuk oleh puluhan pisau.
Bersusah payah Reta berbalik merentangkan tubuh, menatap lantai mobil di atasnya.
Dan benar saja, mobil itu terbalik berguling ke dalam jurang.
Di tengah keheningan, Reta teringat, masih ada tiga orang yang menaiki mobil hitam itu.
Matanya melirik, mencari yang lain.
Harusnya malam ini, menjadi perayaan 1 tahun pernikahannya. Tapi musibah menimpa mereka saat menuju pesta,
Rem mobil tiba-tiba tak berfungsi hingga menyebabkan mobil itu terjatuh ke dalam jurang,
"Ryan...Ryan...Hei! Ayo, bangun!"
Panggil gadis yang tampak tergesa-gesa, suaranya cukup keras sampai mengalihkan lamunan Reta.
"Siapa?"
Reta mendongak, berhasil merangkak naik mencari celah dari kursi belakang. Melihat salah satu temannya yang telah berhasil keluar dari mobil,
"Syla?"
"Syukurlah, kalau dia selamat." Reta bernafas lega,
Tubuhnya langsung ambruk, tak kuasa menahan. Rasa sakit itu semakin bertambah, bahkan terlalu sulit guna mengangkat tangan.
Sakit!
Reta kembali menoleh, memandang laki-laki yang telah sadar. Tampak kesulitan menahan nyeri di bahu kanannya,
"Bagaimana Reta?" ucap Ryan berhasil keluar dari mobil.
Menatap sekilas helai rambut tak tertata yang terlihat dari luar.
"Ryan..." Reta mendongak, tak sanggup bersuara.
Terbit senyum di ujung bibirnya, tentu saja pria itu khawatir, pikirnya.
Tangan Reta terulur berharap meminta bantuan. "Aku di sini---"
"Buat apa dipikirin? Tujuanmu sudah berhasil, biarkan saja dia mati." imbuh Syla dengan ketus,
"Lagi pula, selama ini kamu cuma pura-pura mencintainya."
DEG.
Reta tertegun, bibir keringnya terkatup rapat, sorot mata penuh harap telah memadam.
Bohong!
Itu pasti khayalan. Ada yang salah dengan kepalanya, mungkin efek benturan. Iya, kan?
Tanpa sadar linangan air memenuhi pelupuk mata. Reta tak bisa lagi menghibur diri,
Hatinya sakit, seakan tertusuk ratusan tombak. Dadanya sesak, perutnya mual, tertampar kenyataan.
"Apa maksudnya?" Reta tersenyum sepat,
Sulit dipercaya, nyatanya kasih dan kenangan di antara mereka tak lebih dari sandiwara.
Harta, perusahaan, jabatan, bahkan ia rela meninggalkan keluarga yang telah merawatnya sejak kecil, demi menggapai cinta.
Reta percaya jika Ryan lah dermaga terakhir dalam hidupnya.
"A-apa yang Syla maksud? Tujuan apa..."
"Tidak. Ryan sangat mencintaiku,"
Reta menangis, hatinya menolak, berusaha memanggil nama pria yang mungkin menyimpan rasa iba. "Ryan--"
"Kamu benar, tujuanku sudah tercapai. Aku sudah berhasil mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Sidney," lugas Ryan dengan raut datar.
"Ryan? Kenapa..." Reta tercengang,
"5 tahun! Setelah semua yang kita lalui... Apa sedetik saja, kamu---tidak pernah tulus mencintaiku?" gumamnya dalam hati,
Linangan air mata semakin deras membasahi pipi. Reta jatuh terpuruk dalam kekecewaan,
"Ayo cepat! kita harus pergi. Sebentar lagi mobil ini akan meledak," timpal Syla menarik lengan Ryan.
Langkah kaki mereka terdengar menjauh dan menghilang dari telinga.
"Semua yang sudah kuberikan apa belum cukup?"
"Bukankah hartaku sudah lama kamu dapatkan!"
"Tidak bisakah, kamu belajar mencintaiku?"
"Kenapa?"
"Hh! Tidak kusangka, suami dan sahabatku sendiri---bersekongkol untuk membunuhku."
"Haha...Hahaha!" Reta tertawa lantang,
Menertawai kebodohannya sendiri, bisa-bisanya tertipu oleh semua kepalsuan.
Kebahagian atas nama cinta ternyata menyimpan pedang beracun yang berakhir menusuknya.
"Argh..."
Suara rintihan terdengar dari sisi lain,
Berhasil mengalihkan perhatian, Reta terjingkat mencari dari mana asalnya.
"Lia!" Reta terbelalak, menyadari sahabatnya yang lain sudah terpental keluar dari mobil.
Gadis itu tampak kesakitan, bangkit menggulingkan tubuhnya yang sempat terlentang. Dalam posisi tengkurap, bagai orang linglung dia menoleh ke segala sisi.
"Reta!" pekik Lia, berusaha bangkit.
Bersusah payah merangkak menghampiri.
Tangannya terulur meraih tubuh Reta,
"Kamu gapapa?"
"Lia c-cepat pergi!" tegas Reta menepis bantuan itu,
"Tapi, Ta? Aku harus bantu kamu keluar dulu, ayo cepat!" sanggahnya merasa cemas,
Terus menggapai tangan Reta yang semakin menjauh,
"Jangan Lia! Gak ada waktu, sebentar lagi mobil ini akan meledak!"
"Bodo amat! Kamu ga bisa ngusir aku seenaknya!" bentak Lia bersikeras,
"Cepat berikan tanganmu..."
Lia menangis, pipinya memerah mulai tersedu-sedu. "Ayo, Ta..."
"Aku ga mau pergi tanpamu,"
"Ayo, Ta! Bangunlah, pegang tanganku." ajak Lia merengek,
Tangannya mengayun dari luar, hendak menggapai tubuh yang hanya diam.
Namun sepertinya Reta telah mencapai batas,
Sakit itu sudah menggerogoti seluruh tubuh. Reta tak bisa merasakan apapun, seakan lumpuh hanya suara serak yang berhasil lolos dari mulutnya.
"Aku mohon. Demi aku! Larilah,"
"Enggak!" tegas Lia tak menjauh sedikitpun,
"Hubungi Om Neil! Bilang kalau aku belum menandatangani surat alih kuasa."
"Bilang padanya untuk mengambil alih seluruh aset keluarga Sidney,"
"Jangan biarkan Ryan menyentuhnya." pinta Reta berhasil menuntaskan kalimat,
"Hiks...kenapa jadi seperti ini? Reta, ayo kita pulang." Lia merengek,
"Kamu pulanglah dulu dan sampaikan pesanku. Oke?" gumam Reta menerbitkan senyuman hangat,
Seketika aroma bensin menyerbak keluar, Lia melirik bagian belakang mobil, muncul asap putih yang mulai menghalangi pandangan.
Lia terpaksa mundur, dengan berat hati meninggalkan Reta yang masih tergeletak di dalam.
"Terima kasih." ucap Reta tersenyum lega,
Menyapa kembali keheningan yang memeluk dirinya. "Hhh, setelah ini aku akan mati."
"Sepi sekali..."
"Khuk! Khuk!"
Reta terbatuk keras, memuntahkan cairan merah pekat.
"Hah...Apa ini rasanya kematian?" batin Reta,
Merasakan bau darah mengalir membasahi baju.
Nafasnya terengah-engah, betisnya terasa kaku, menjalar sakit ke sekujur tubuh.
Perlahan hidungnya tak sanggup lagi menarik nafas,
Di detik terakhir, dia justru teringat seseorang yang telah lama dia tinggalkan.
Senyum hangat seorang pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya.
"Om Neil, apa om akan memaafkanku?"
"Padahal dulu, dia selalu melarangku berhubungan dengan Ryan."
"Andai ada kesempatan kedua. Aku takkan pernah menikahi bajingan itu,"
DEP!
Seketika kegelapan datang menyerang, mencabut semua rasa sakitnya, hingga Reta sadar jika hidupnya telah berakhir.
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua