" menikahlah dengan ku dan jadilah ibu untuk putriku, apa kamu mau ?"
" apa om meminta ku hanya untuk menjadi ibu untuk anak om bukan istri om ?"
Apa jadinya jika di lamar secara mendadak oleh duda dingin yang bahkan baru Mala temui dimana bukan menjadi istrinya tapi hanya menjadi ibu dari anaknya ?
Apakah Mala akan menerima pinangan duda dingin itu ?
Dan apakah cinta itu akan tumbuh saat keduanya masih memiliki luka yang di sebabkan karena cinta orang di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemas
Sambungan telepon baru saja bisa tersambung pada Fildan tapi suara teriakan minta tolong dari Darrel membuat Bi Ani kehilangan fokus apalagi dirinya harus tetap bisa menjaga Cantika agar tak melihat apa yang terjadi pada Darrel dan juga Mala saat ini.
" halo Darrel " panggil Fildan saat tak mendengar suara apapun dari panggilan yang terhubung padanya.
" halo pak Fildan ini bibi " ucap Bu Ani yang harus tetap fokus agar bisa membantu Darrel yang terus saja berteriak meminta tolong.
" pak Fildan tolong datang ke rumah ini ada keadaan darurat " ucap bi Ani yang tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
" darurat ?"
" darurat seperti apa bi ?" tanya Fildan yang kebetulan baru saja pulang dari klinik tempat nya praktek kerja.
" bibi tidak tau pasti tapi pak Darrel terus saja berteriak minta tolong ditambah ada seorang laki laki yang datang tiba tiba tapi bibi yakin tak memiliki niat baik " ucap bi ani.
" terima kasih bi saya segera ke sana " ucap Fildan yang langsung menutup sambungan teleponnya dan melajukan mobilnya menuju rumah Darrel yang mana perlu waktu dua puluh menit untuk bisa sampai di sana.
" kenapa kamu menusuk Mala ?" tanya Darrel sambil terus memeluk Mala yabg masih mengeluarkan darah dari perutnya.
" om " ucap Mala dengan suara yang terdengar sangat lemah.
" kamu harus kuat sayang " ucap Darrel yang tak ingin hal buruk sampai terjadi pada Mala.
" harusnya kamu yang terluka bukan Mala !" ucap Okta yang langsung pergi dari sana sebelum polisi datang dan menangkapnya karena percobaan pembunuhan.
" lari lah selagi bisa tapi aku berjanji kemanapun kamu pergi dan sembunyi aku akan bisa menemukan mu dan akan ku balas rasa sakit yang Mala rasakan saat ini, ingat itu !" ucap Darrel yang tetap mengutamakan Mala dibanding menahan Okta yang kini sudah pergi meninggalkan rumah Darrel.
Fildan menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalan rumah Darrel dan saat Fildan keluar dari mobilnya Fildan melihat laki laki yang baru saja keluar dari rumah Darrel dan di tangannya ada bercak darah.
" apa yang terjadi di dalam " ucap Fildan yang langsung berlari masuk ke dalam halaman rumah Darrel dan di teras rumah Fildan melihat Darrel yang sedang memeluk Mala yang sudah bersimbah darah.
" Darrel, Mala, apa yang terjadi ?" tanya Fildan yang masih belum melihat pisau yang masih menancap di perut Mala.
" ya Tuhan apa yang terjadi ?" tanya Fildan yang benar benar terkejut dengan yang terjadi pada Mala dimana pisau menancap di perut Mala dan wajah Mala sudah terlihat pucat hingga bisa Fildan pastikan jika Mala sudah kehilangan banyak darah.
" tolong selamatkan Mala " ucap Darrel yang tak tau harus berbuat apa saat melihat wajah pucat Mala saat ini bahkan untuk mencabut pisau itu pun Darrel tak memiliki tenaga untuk itu.
" tenang lah aku panggil ambulance dulu " ucap Fildan yang langsung mengeluarkan handphone nya untuk bisa memanggil ambulance.
" itu terlalu lama " ucap Darrel yang tak tega melihat kondisi Mala jika sampai harus menunggu ambulance datang.
" kamu benar " ucap Fildan.
" kita akan membawa Mala langsung ke rumah sakit " ucap Fildan yang kini sudah berjongkok untuk membantu Darrel mengangkat tubuh Mala.
" bi tolong kami bukakan pintu mobil " ucap Fildan yang langsung di dengar oleh bi Ani yang terus melihat dari jauh dan tetap menjaga Cantika agar tak melihat kondisi Mala saat ini.
" neng Cantika tunggu di sini dulu ya, ingat jangan kemana mana " ucap Bu Ani yang langsung mendapat anggukan dari Cantika meski sebenarnya Cantika tak mengerti kenapa bi Ani melarangnya saat ini.
" baik pak " ucap bi Ani yang langsung berlari menghampiri Darrel dan Fildan yang sudah berhasil mengangkat tubuh lemas Mala menuju mobil Fildan.
" kenapa kamu parkir di pinggir jalan ?" tanya Darrel kesal karena memang tak biasanya Fildan melakukan hal itu saat datang ke rumahnya.
" sudah lah jangan mengomel sekarang "
" saat ini Mala lebih butuh perhatian kita dari pada parkiran mobil " ucap Fildan yang tak mengerti kenapa di saat saat genting seperti ini Darrel harus kesal dengan hal hal sepele.
" bi tolong bukakan pintu mobil " ucap Fildan yang memegang bagian kepala Mala dan setelah pintu mobil terbuka Fildan langsung meletakkan Mala di jok tengah dengan posisi telentang sedangkan Darrel mengitari mobil untuk memposisikan dirinya agar bisa memangku kepala Mala.
" bi tolong jaga Tika dan kunci pintu selama saya tidak ada di rumah " ucap Darrel.
" baik pak " ucap bi Ani yang bahkan tanpa Darrel minta pun dirinya akan selalu menjaga Cantika yang sudah bi Ani anggap seperti cucunya sendiri.
" ayo Fildan " ucap Darrel yang merasa Fildan sangat lambat mengemudikan mobilnya.
Fildan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal di tambah jalanan yang cukup sepi membuat Fildan tak membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai di rumah sakit yang mereka tuju.
" tunggu di sini aku akan ambilkan brankar rumah sakit dulu " ucap Fildan yang tak mungkin membawa Mala seperti saat memasukan Mala ke mobil.
" iya cepatlah " ucap Darrel yang tak tega melihat kondisi Mala.
" om, Mala ngga kuat " ucap Mala dengan suara yang terdengar semakin lemah.
" kamu harus kuat dan kamu pasti akan selamat " ucap Darrel yang langsung turun saat Fildan sudah membawa brankar rumah sakit di bantu beberapa perawat laki laki yang akan membantu membawa Mala ke dalam ruang unit gawat darurat.
" apa yang terjadi ?" tanya dokter andru seorang dokter jaga yang kebetulan salah satu teman sejawat Fildan.
" Darrel akan mengurus administrasi dan menjelaskan kronologinya karena aku pun tak tau pasti tapi satu yang pasti kita harus segera melakukan tindakan untuk Mala karena Mala semakin kehabisan banyak darah " ucap Fildan membagi tugas.
" apa kamu yakin jika dia akan mengatakan yang sejujurnya ?" tanya dokter andru yang terkadang orang yang tega melakukan hal kejam seperti yang Mala alami adalah orang terdekat nya.
" apa maksudmu "
" Darrel tidak akan mungkin menyakiti Mala dan aku bisa menjamin hal itu " ucap Fildan yakin.
" baiklah, semoga saja keyakinan mu benar " ucap dokter Andru yang langsung melakukan pertolongan pertama pada Mala dan dengan sangat hati hati dimana dokter pun mencabut pisau itu dari perut Mala.
" pasien sudah kehilangan banyak darah jadi kita butuh donor darah agar pasien bisa di selamatkan " ucap dokter saat menyadari Mala sudah kehilangan banyak darah.
" apa kamu sudah mengetahui golongan darah pasien ?" tanya dokter Andru pada Fildan.
" AB - " ucap Darrel.
" golongan darah yang cukup langka, semoga saja golongan darah itu ada di rumah sakit ini" ucap dokter Andru
" kalo ngga salah pagi ini ada pendonor yang memiliki golongan darah AB- yang mendonorkan darahnya di rumah sakit kita dok " ucap suster yang tak sengaja mendengar pembicaraan di ruang donor darah.
" semoga saja itu benar dan semoga saja darah itu belum di gunakan " ucap Darrel penuh harap.
✍️✍️✍️ siapa yang sudah mendonorkan darahnya di waktu yang begitu tepat ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘
terus si Reva dan si Okta diusir dari rumah itu😏