💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 : Senyuman yang belum pernah ada.
"Rel, aku ingin pulang sekarang juga," Viona berdiri dan mengangkat tasnya, mengabaikan tatapan teman-teman Farel yang kini menatap padanya. Berada disana terlalu lama membuatnya semakin tersiksa.
Farel yang tengah tertawa bersama teman-temannya pun mengangkat wajahnya ke arah Viona, "Setengah jam lagi ya, sayang. Lagipula malam ini papaku akan pulang sampai larut malam. Dikantor sedang banyak pekerjaan."
"Tidak bisa! Kakek dan yang lainnya pasti sudah khawatir. Kalau kamu tidak mau pulang, aku akan pulang sendiri saja." ucap Viona dengan nada kesal.
Farel akhirnya berhenti tertawa, wajahnya mulai menunjukkan ekspresi marah. "Kamu kenapa sih, Vio! Kita ini masih muda, jadi apa salahnya bersenang-senang sedikit."
"Ya sudah kalau begitu, aku akan pulang duluan!" Viona melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Mengabaikan tatapan semua orang yang ada disana.
Farel meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja dengan cepat, "Viona! Tunggu dulu!" teriaknya sambil berlari mengejar keluar dari ruangan, meninggalkan teman-temannya yang saling bertukar pandang bingung.
Langkahnya semakin cepat saat melangkahkan kaki ke luar, matanya menyapu sekitar guna mencari sosok gadis itu di halaman. Tapi tidak ada satu pun jejak Viona yang terlihat.
Segera dia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dan melajukannya pergi meninggalkan halaman rumah tersebut. Matanya memantau setiap jalan yang mungkin dilewati Viona, pikirannya penuh dengan campuran marah dan khawatir, mencari jejak sang tunangan di jalanan yang mulai sepi.
Setelah beberapa menit berkendara, dia melihat sosok yang mengenakan dress putih yang dikenakan Viona tadi, sedang berjalan terburu-buru di pinggir jalan. Farel mengerem mobilnya di dekatnya dan membuka jendela samping penumpang.
"Vio, ayo naik. Jangan begini," ucapnya dengan nada yang sudah tidak sekeras tadi, sedikit bergetar karena khawatir.
Viona berhenti berjalan, menoleh cepat kearah Farel yang ada didalam mobil. "Aku bilang kan aku bisa pulang sendiri,"
Farel segera membuka pintu mobil dan turun, melangkah cepat mendekati Viona. Dia meraih lembut bahu gadis itu dan memutar tubuhnya perlahan.
"Maafkan aku, sayang. Aku pikir tadi hanya ingin mengajakmu bersenang-senang supaya kamu tidak bosan berada dirumah terus," ucapnya dengan nada penuh penyesalan, "Jangan marah lagi ya,"
Viona menghela napas panjang, "Tapi aku tidak suka dengan cara bercanda kalian, menurutku itu tidak lucu sama sekali, Rel. Dan aku tidak suka kamu berteman dengan mereka, mereka itu..."
Suara Viona menggantung di udara saat sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka. Pintu mobil langsung terbuka cepat dengan Arsen yang turun dari sana, wajahnya tampak khawatir tapi tenang.
"Viona, Farel... Apa yang sedang kalian berdua lakukan disini?" tanya Arsen sambil melangkah mendekat, suaranya lembut tapi tegas. "Apa kalian tahu orang rumah khawatir karena kalian belum juga pulang,"
Viona segera melepaskan diri dari genggaman Farel dan menghampiri Arsen, "Paman Arsen... aku minta maaf. Aku sudah minta pulang pada Farel sejak tadi, tapi Farel tidak mau mengerti."
Arsen mengangguk pelan, kemudian mengalihkan pandangannya pada Farel dan menatapnya dengan tatapan yang penuh makna, "Kamu adalah tunangannya sekarang. Sebagai calon suaminya, kamu harus lebih memperhatikan perasaan dan keamanannya. Sekarang ajak Viona masuk ke mobilmu, kita harus kembali sebelum papa kamu pulang atau kamu akan berada dalam masalah."
Tangan Viona reflek terangkat dan menggenggam lengan Arsen yang dibaluti dengan jas hitam, "Aku ikut dengan Paman saja,"
Arsen sedikit terkejut, matanya menatap tangan Viona yang melingkar di lengannya sebentar sebelum menatap wajah gadis itu. Suasana terasa hening saat tatapan mereka saling bertemu, mata Arsen yang hangat namun penuh kekhawatiran bertemu dengan pandangan Viona yang terpaku. Dalam beberapa detik yang terasa begitu panjang, tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka berdua. Arsen bisa melihat betapa kuat keinginan gadis itu dalam tatapan matanya, juga rasa tidak nyaman yang masih mengendap di dalam dirinya.
"Aku ingin pulang dengan Paman. Aku mohon." pintanya dengan suara yang sedikit melemah, menatap Arsen penuh harapan.
"Tidak bisa! Kamu adalah tunanganku jadi kamu akan pulang bersamaku Viona!" putus Farel dengan tatapan yang mulai kesal.
"Sebaiknya kamu pulang dengan Farel," ucap Arsen menengahi, dia mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Viona yang masih melingkari lengannya. "Mobilku akan ada dibelakang untuk mengawal kalian."
Viona menatap Arsen dengan wajah penuh kekecewaan, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Paman..."
Sebelum Viona sempat menyelesaikan kalimatnya, Farel sudah menarik tangan Viona dan membawanya ke arah mobilnya.
"Rel, lepaskan aku!" teriak Viona dengan suara sedikit teredam, tangannya berusaha melepaskan diri dari genggaman Farel yang cukup kuat. Namun pria muda itu hanya memegangnya lebih erat, membawanya cepat ke sisi mobilnya.
"Kamu hanya akan pulang bersamaku, Vio!" jawab Farel dengan nada yang masih penuh emosi. Dia membuka pintu mobil dengan cepat dan membantu Viona masuk, meskipun gadis itu masih sedikit menolak. Setelah Viona duduk dan pintu mobil tertutup rapat, Farel segera masuk ke dalam jok pengemudi dan menyalakan mesin.
Arsen hanya mampu melihat dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia segera masuk ke mobilnya dan mengikuti di belakang dengan menjaga jarak yang cukup. Dia tidak bisa melarang Farel untuk membawa Viona karena Farel adalah tunangannya, tapi setidaknya dia lega karena Viona baik-baik saja.
Setelah beberapa menit berkendara dalam keheningan yang menyakitkan, mobil Farel memasuki halaman rumah. Tuan Danu yang sedang berada di ruangan depan bersama dengan Saskia segera keluar dengan wajah khawatir.
Farel langsung membuka pintu mobil dan turun, kemudian dengan cepat membuka pintu sebelah penumpang untuk membantu Viona keluar. Gadis itu masih diam dan sama sekali tidak mau menatapnya.
"Farel, Viona, akhirnya kalian pulang," ucap Saskia dengan wajah lega, "Kalian darimana saja? Apa tidak tahu kalau kami khawatir."
"Maafkan aku, Tante. Aku tidak bermaksud membuat kalian semua khawatir." ucap Viona dengan wajah penuh sesal.
Saskia tersenyum dan mendekati Viona, "Tidak apa-apa sayang, sebaiknya sekarang kamu masuk dan istirahat ya,"
Viona mengangguk, menatap pada Tuan Danu dan Saskia sebentar sebelum melangkahkan kakinya masuk. Setelah memastikan Viona pergi, Saskia menatap Farel dengan wajah yang tegas.
"Farel, beberapa kali Mama bilang supaya kamu tidak terus-terusan membuat masalah." ucap Saskia dengan nada yang penuh kekhawatiran namun juga keras. "Kamu sudah dewasa dan punya tunangan, harusnya kamu bisa lebih bertanggung jawab!"
"Sudahlah Ma, Farel cape. Jadi Mama nggak usah ceramahin Farel." ucap Farel dengan malas, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Beberapa saat setelah Farel masuk, mobil Arsen datang dan berhenti di halaman rumah. Tuan Danu menghela napas panjang dan menepuk lembut pundak menantunya.
"Sudahlah, sebaiknya kita bicarakan besok. Biarkan anak-anak tenang dan istirahat dulu." ujar Tuan Danu, kemudian ikut menyusul masuk kedalam rumah.
Arsen turun dari mobil dengan membawa kembali paperbag ditangannya, Saskia yang masih berdiri di teras segera mendekatinya.
"Arsen, terimakasih karena sudah membawa mereka pulang. Sekali lagi kamu sudah menyelamatkan Farel dari kemarahan papanya." ucap Saskia.
Arsen menoleh dengan tatapan yang kembali dingin, "Harusnya Kakak ipar sudah menduga jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Dan kalian sudah membawa gadis itu dalam lingkaran hitam yang disebabkan oleh putra kalian."
Tanpa menunggu jawaban, Arsen melangkahkan kakinya masuk dengan langkah yang tegas. Saskia hanya bisa menatap dengan hatinya yang terasa berat. Dia tahu bahwa apa yang dikatakan Arsen benar, harusnya dia bisa membujuk ulang suaminya sebelum perjodohan itu disetujui.
-
-
"Paman, tunggu!"
Arsen menghentikan langkahnya saat terdengar suara pintu dibuka cepat bersamaan dengan suara Viona yang memanggilnya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Viona yang keluar dari kamarnya dengan langkah tergesa-gesa.
Wajah gadis itu penuh senyuman, sebuah senyuman untuknya yang baru pertama kali dia lihat sejak dia mengenal gadis itu. Senyum itu begitu tulus dan hangat, membuat hati Arsen yang tadinya masih terasa berat menjadi sedikit lega.
"Paman, aku..."
-
-
-
Bersambung...