NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skala Bursa Di london

Skala konflik meningkat dari sekadar birokrasi lokal menjadi perang finansial global. Bagas harus membuktikan bahwa kecerdasan anak SMK Indonesia mampu bersaing di papan atas bursa saham dunia.

Kemenangan Bagas atas Darwin di Jakarta ternyata hanyalah pembuka dari perang yang lebih besar. Jaringan bisnis Darwin memiliki akar yang dalam hingga ke firma-firma ekuitas di luar negeri. Di sebuah kantor pencakar langit di London, seorang spekulan pasar modal bernama Julian van rekan bisnis lama Darwin yang merasa kepentingannya terganggu mulai melancarkan serangan balasan. Ia tidak menggunakan polisi atau dokumen rahasia, melainkan angka-angka di layar monitor.

Julian mulai menyebarkan rumor negatif di pasar modal London tentang stabilitas keuangan Global Logistics Alliance (GLA), perusahaan tempat Bagas bernaung. Ia menuduh Bagas menggunakan dana perusahaan untuk membiayai agenda politik pribadinya di Indonesia. Dampaknya instan: saham GLA anjlok 12% dalam satu malam.

"Bagas, ini gila! Para investor di London mulai panik. Mereka menuntut penjelasan atau mereka akan menarik seluruh modal mereka minggu depan," suara Mr. Khan terdengar sangat gentar di telepon. Bagas, yang saat itu sedang membantu Bapak mengecat pagar, meletakkan kuasnya. Ia tahu, ini bukan lagi tentang logistik fisik di gudang, tapi tentang logistik kepercayaan.

"Mr. Khan, jangan berikan pernyataan apa pun sampai saya tiba di London. Kita tidak bisa melawan spekulan dengan kata-kata, kita harus melawannya dengan transparansi total," jawab Bagas tenang.

Dua hari kemudian, Bagas mendarat di Heathrow, London. Ia tidak membawa jas mewah atau jam tangan emas. Ia hanya membawa sebuah laptop yang berisi seluruh data operasional dan keuangan yayasannya serta divisi logistiknya selama lima tahun terakhir. Ia didampingi oleh seorang ahli audit independen dari Swiss yang ia sewa dengan uang pribadinya sendiri.

Pertemuan dilakukan di gedung The Gherkin, jantung finansial London. Di dalam ruangan rapat yang dingin, para investor berwajah kaku sudah menunggu. Julian Van duduk di pojok ruangan dengan senyum sinis, yakin bahwa anak muda dari Indonesia ini akan hancur di depan para raksasa modal.

"Mr. Pratama , kami mendengar perusahaan Anda hanyalah alat untuk ambisi politik Anda. Bagaimana Anda bisa meyakinkan kami bahwa modal kami aman?" tanya seorang manajer investasi senior.

Bagas berdiri. Ia tidak menggunakan slide presentasi yang penuh dengan janji-janji manis. Ia langsung membuka sistem real-time logistik yang ia bangun.

"Tuan-tuan, Anda bisa melihat di layar ini. Setiap sen yang masuk ke yayasan saya berasal dari royalti paten ayah saya yang sah. Dan setiap sen keuntungan GLA di Indonesia naik 20% sejak sistem transparansi saya diterapkan. Penurunan saham hari ini bukan karena kinerja kami buruk, tapi karena ada pihak yang sengaja melakukan manipulasi pasar," ujar Bagas sambil menatap tajam ke arah Julian Van.

Julian tertawa meremehkan. "Itu hanya angka di layar, siapa yang bisa menjamin keasliannya?"

"Audit independen ini yang menjaminnya," potong Bagas sambil menyodorkan laporan dari firma Swiss. "Dan satu lagi... saya sudah melacak alamat IP dari mana rumor-rumor negatif itu berasal. Semuanya mengerucut pada satu firma di bawah kendali Anda, Mr. Van."

Ruangan mendadak hening. Julian Van yang tadinya merasa di atas angin mulai gelisah. Bagas tidak hanya bertahan; ia sudah menyiapkan serangan balik yang mematikan. Ia telah berkoordinasi dengan otoritas jasa keuangan London untuk memantau pergerakan saham yang mencurigakan selama 48 jam terakhir.

"Saya ke sini bukan untuk memohon Anda tetap berinvestasi," lanjut Bagas. "Saya ke sini untuk menawarkan pilihan. Anda bisa terus mengikuti spekulasi orang ini dan kehilangan uang Anda, atau Anda tetap bersama kami dan melihat bagaimana transparansi akan membawa keuntungan jangka panjang."

Keteguhan Bagas, yang dibentuk dari kerasnya hidup di gang dan bentakan para bos naga, membuatnya tampak tak tergoyahkan. Para investor mulai saling berbisik. Mereka melihat kejujuran di mata Bagas, sesuatu yang sangat langka di lantai bursa London.

Hasilnya luar biasa. Menjelang penutupan pasar, bukannya ditarik, para investor justru menambah modal mereka karena terkesan dengan sistem transparansi Bagas. Saham GLA melonjak kembali, bahkan melampaui harga sebelum anjlok. Julian Van keluar dari ruangan dengan wajah pucat; ia justru yang kini dibidik oleh otoritas bursa atas tuduhan manipulasi pasar.

Malam itu, Bagas berjalan di tepi sungai Thames. Angin London terasa sangat dingin, tapi hatinya hangat. Ia baru saja menyelamatkan perusahaannya di panggung dunia.

Ia menelepon Ibunya di Jakarta. "Ibu... Bagas menang lagi. Orang-orang di sini bilang Bagas hebat, tapi Bagas bilang ini berkat sambal teri Ibu yang Bagas makan sebelum berangkat."

Ibu tertawa di seberang telepon. "Alhamdulillah, Gas. Tapi jangan kelamaan di sana. Bapakmu lagi bingung, TV di rumah mendadak gambarnya goyang-goyang, dia mau benerin sendiri tapi takut kesetrum."

Bagas tersenyum lebar. Seberapa pun tinggi ia terbang ke London atau Dubai, masalah TV goyang di rumah adalah prioritas utamanya. Ia menyadari bahwa kekuasaan global tidak ada artinya jika ia kehilangan kedekatan dengan rumahnya.

Namun, saat Bagas bersiap pulang ke Jakarta, ia menerima sebuah telegram singkat yang sangat rahasia. Telegram itu bukan dari kantor atau yayasan, melainkan dari seorang informan di Perancis.

“Bagas, ada satu paten lagi atas nama Suryo Pratama yang belum terungkap. Paten ini berkaitan dengan energi terbarukan yang bisa mengubah dunia. Dan ada pihak-pihak berbahaya yang mulai memburunya.”

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!