NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Siapa gadis itu sebenarnya?

Mall itu ramai oleh pengunjung pagi itu, suara langkah kaki bercampur dengan musik lembut dari pengeras suara, dan deretan toko yang sudah mulai beroperasi. Abraham berjalan dengan wibawa di samping Julio, mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi. Sorot matanya tajam, seperti biasa, memperhatikan detail-detail kecil, dari pencahayaan mall, kebersihan lantai, hingga cara staf menyapa pengunjung.

“Pastikan laporan keuangan dari tenant ini dicek ulang, Julio,” ujar Abraham dengan nada datar namun tegas. “Aku tidak mau ada kebocoran, meski kecil.”

Julio mencatat dengan cepat, lalu mengangguk. “Baik, Tuan. Saya juga sudah siapkan daftar evaluasi dari beberapa restoran dan kafe di lantai tiga. Kita bisa mulai dari sana.”

Abraham hanya menanggapi dengan anggukan singkat, langkahnya terus membawa mereka ke lantai atas. Begitu sampai, suasana agak berbeda. Beberapa karyawan kafe terlihat menunduk gelisah, sementara seorang manajer berdiri dengan wajah merah padam, jelas sedang emosi.

“Kalau kau tidak bisa kerja sesuai standar, lebih baik keluar saja! Kami tidak butuh pegawai yang ceroboh!” bentak sang manajer dengan nada tinggi.

Di hadapan manajer itu, seorang wanita muda berdiri dengan wajah pucat, kedua tangannya terlipat di depan dada seolah menahan perasaan. Rambut hitam panjangnya berantakan, matanya berkaca-kaca. Dia mencoba bicara, suaranya lirih, hampir bergetar.

“Tolong, Pak … saya butuh pekerjaan ini. Saya janji akan memperbaikinya. Saya bisa belajar, saya bisa...”

“Terlambat!” potong sang manajer kasar. “Kesalahanmu tadi bisa buat pelanggan lari! Kamu sudah bukan bagian dari tim ini!”

Wanita itu semakin menunduk, kedua tangannya meremas apron hitam yang sudah kusut. Beberapa orang staf lain menonton dari jauh, berbisik-bisik, sebagian iba, sebagian tampak lega bukan mereka yang dimarahi.

Abraham yang sejak tadi memperhatikan, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya melebar, napasnya sedikit tercekat. Dari jarak itu, dia bisa jelas melihat wajah wanita tersebut. Sama persis dengan yang ditemuinya malam itu, di depan restoran Mawar setelah rapat bersama investor.

Wanita yang sempat menabraknya.

Wanita yang sempat membuatnya tercekat karena sosoknya begitu mirip dengan seseorang dari masa lalunya.

Dalam hati Abraham bergemuruh.

'Tidak mungkin … tapi, wajah itu … tatapan itu…'

Julio menoleh ke arah bosnya yang tiba-tiba berhenti.

“Tuan Abraham? Ada yang salah?” tanyanya hati-hati.

Abraham tidak menjawab. Ia hanya berdiri kaku, tatapannya tak lepas dari wanita muda itu. Tenggorokannya kering, ada rasa aneh yang muncul, campuran antara keterkejutan, kemarahan, sekaligus rasa ingin tahu yang begitu kuat.

Wanita itu, entah kenapa, seakan menjadi bayangan hidup dari sosok yang sudah lama pergi.

Saat itu, wanita muda tersebut berbalik setelah menunduk memberi salam terakhir. Matanya yang berkaca-kaca sekilas bertemu dengan mata Abraham. Detik itu juga, waktu seakan berhenti.

Wanita itu membeku, seolah mengenali sorot tajam pria berjas rapi di depannya. Sedetik kemudian, ia buru-buru menunduk, meraih tas lusuhnya, lalu berlari keluar dari kafe, meninggalkan suasana yang masih panas. Abraham mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.

“Tuan … kita lanjutkan inspeksi?” Julio mencoba mengingatkan.

Tapi Abraham masih terpaku, tatapannya mengikuti sosok wanita itu yang menghilang di balik kerumunan mall. Dalam hati, suara yang sejak malam itu tak pernah berhenti kini semakin jelas berbisik,

'Alma … apakah itu benar kau?'

Begitu wanita itu berlari keluar dari kafe, Abraham tanpa pikir panjang langsung melangkah cepat. Degup jantungnya menghantam keras di dadanya. Bayangan rambut panjang dan tubuh mungil itu membuat langkahnya semakin terburu-buru.

“Tuan Abraham!” Julio yang melihat bosnya mendadak berlari sontak ikut panik, mengejarnya sambil membawa map laporan di tangan. Beberapa staf kafe dan pengunjung mall sempat menoleh heran melihat CEO Biantara yang biasanya tenang dan berwibawa, kini terlihat gelisah dan terburu-buru.

Keluar dari pintu utama mall, pandangan Abraham langsung menyapu sekeliling. Lalu lintas jalanan di depan begitu padat, orang-orang lalu lalang, suara kendaraan bercampur dengan teriakan penjual asongan. Ia mencari dengan mata tajamnya, mencoba menemukan sosok wanita yang tadi ia lihat.

Abraham berhenti di tepi jalan, napasnya berat. Keringat dingin merembes di pelipis meski udara siang cukup sejuk. Kedua matanya menatap liar, tapi hasilnya nihil. Tak ada jejak, tak ada tanda. Seolah wanita itu hanyalah ilusi semata.

Julio akhirnya berhasil menyusul, terengah-engah.

“Tuan … siapa yang Anda kejar? Saya … saya lihat Tuan berlari keluar begitu saja. Ada apa sebenarnya?”

Abraham diam, rahangnya mengeras, pandangan matanya masih menyapu kerumunan yang makin ramai. Dalam hatinya ada perasaan campur aduk, takut, rindu, dan bingung.

'Bagaimana mungkin wajah itu begitu mirip? Bagaimana bisa suaranya, tatapannya, begitu sama dengan Alma? Padahal Alma sudah…'

Abraham menelan ludahnya, menahan gejolak di dadanya. Lalu, ia akhirnya berbalik pada Julio. Tatapannya tajam, dingin, tapi juga samar menutupi kegelisahannya.

“Kita kembali ke perusahaan,” ucapnya singkat.

Julio menatap ragu. “Tapi Tuan, tadi Tuan seperti...”

“Aku bilang kembali ke perusahaan,” potong Abraham, nada suaranya berat. Ia tidak ingin ada yang tahu apa yang barusan ia lihat. Bahkan Julio sekali pun.

Mereka berdua berjalan kembali ke arah mobil. Namun, sebelum masuk, Abraham berhenti sejenak. Pandangannya kembali menoleh ke arah jalan, seolah berharap sekali lagi sosok itu akan muncul dari keramaian. Tapi tidak ada apa-apa.

'Kalau itu hanya ilusi, kenapa terasa begitu nyata?' batinnya murung.

Saat itulah, ia membuat keputusan cepat. “Julio, kau kembali saja ke kantor. Urusan di perusahaan aku serahkan padamu untuk sementara. Ada hal lain yang harus aku selesaikan.”

Julio mengerutkan kening, bingung. “Tuan, urusan lain? Tapi...”

Abraham menatap asistennya dingin, membuat Julio langsung terdiam. “Lakukan saja.”

Julio mengangguk meski jelas-jelas kebingungan. Sementara itu, Abraham melangkah masuk ke dalam mobilnya. Matanya menatap kosong ke depan, tapi pikirannya penuh dengan satu nama yang terus menggema.

Mobil hitam mewah itu berhenti perlahan di sisi jalan tanah yang sepi. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma basah dari rerumputan setelah hujan tadi siang. Abraham turun, jas rapi masih melekat di tubuhnya, langkahnya berat saat menapaki jalan setapak menuju sebuah makam yang cukup terawat.

Di tangannya, sebuket bunga mawar putih. Jemarinya menggenggam erat, seolah takut buket itu jatuh sebelum sampai ke tujuan. Setibanya di sana, ia berlutut di hadapan sebuah batu nisan berwarna abu-abu muda. Nama yang terukir jelas membuat dadanya kembali sesak.

Tenggorokannya tercekat. Abraham meletakkan buket bunga itu perlahan, lalu tangannya terulur, mengelus pelan permukaan nisan yang dingin. Seakan dengan sentuhan itu ia masih bisa merasakan kehangatan sosok yang telah pergi tujuh bulan lalu.

“Alma…” suaranya serak, nyaris bergetar. “Maafkan aku … aku belum bisa benar-benar ikhlas. Tapi aku janji, aku akan menjaga Kevin dengan sebaik-baiknya. Dia tumbuh sehat, makin mirip denganmu setiap harinya.”

Hening, hanya desiran angin yang terdengar, menyapu dedaunan di sekitar pemakaman. Abraham menarik napas panjang, menundukkan kepalanya. Untuk sesaat, wajah keras dan dinginnya luluh, berganti rapuh dan penuh kehilangan.

Namun, tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya dari balik sebuah pohon besar tak jauh dari sana. Sosok itu berdiri kaku, separuh tubuhnya tertutup bayangan batang pohon, menyembunyikan siapa dirinya.

Sorot matanya tajam, fokus penuh ke arah Abraham yang masih berlutut di depan makam istrinya.

"Abraham," gumam wanita itu melepaskan kaca matanya dan tersenyum sinis ke arah Abraham, dia adalah Rania.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waahh sudah tamat saja... karya Author bagus... aku suka.👍👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Love buat kalian.🫶🫶🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
memberi maaf memang membantu meringankan hati dan fisik... beban terangkat meski memory ga bisa melupakan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ehemmm... ehemmmm... sweet bangetbsih bikin ngiri aja.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
maaf Thor mau koreksi kalimat Hanum "Menatap Ketiganya padahal di kamar itu ada Si kembar, Abraham dan Kevin jadinya berEmpat Thor".🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Kayak penampakan dong..🤣🤣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
bahagia selalu buat kalian.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sampe nahan nafas karena tegang.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wkwkwk... ga apa² Abraham nikmati saja mungkin twins lagi ga mau berbagi kasih sayang kamu buat abangnya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wow... selamat Hanum Abraham kalian mau nambah anggota baru lagi.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah cuma gitu doang ngasih pelajarannya sama Rania, Abraham... hadeuuuhh kurang atuh... harusnya kamu turun tangan sendiri lah kan siluman Rania sudah ngebahayain istri mu loohh tapi kamu sebagai suaminya malah ga mau turun tangan nyiksa dia cuma karna alasan klasik ga mau ngotorin tanganmu sendiri... di luar nurul.🤦‍♀️🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sayangnya waktu ga bisa di putar tapi di perbaiki selagi ada kesempatan buat berubah Galih meskipun Hanum ga mungkin jadi milik kamu lagi... tar yang ada Oleng dong waktunya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Obsesi g1l4, itu mah udah masuk sak1t j1w4 kayaknya siluman Rania perlu di bawa ke RSJ.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya sadar juga kamu Abraham, kalau sampe terjadi kamu terkecoh sama tipuan mereka Aku bakal bantuin Hanum buat getok kepala kamu pake ulekan sekalian sama cobeknya gratis cabe setannya..🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
halaahh padahal kamu juga hampir tertipu sama permainan Alma palsu dan siluman Rania kan Abraham.... mungkin kalau Alma palsu ga ketauan kamu bakalan ninggalin Hanum tuh... plin plan kadi laki².
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah loohh Julio kamu yang harus bertanggung jawab dalam masalah ini karna kamu yang mengusulkan bahkan maksa Abraham untuk nerima kerja sama perusahaan denga siluman Rania kaann
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
So Sweet banget sih kalian.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Aku yang Salfok ya, BUKANNYA SKETSA YANG DI BUAT HANUM ITU PAS DI RUANG KERJA KANTOR ABRAHAM BUKAN DI RUANG KERJA RUMAHNYA, tapi kok di bab ini SKETSANYA ADA DI TEMPAT RUANG KERJA RUMAH... 🤔🤔

mungkin karna di sini kadang ga di tulis jeda waktu antara sedang berada di rumah dan tiba² sudah dikantor jadi bacanya harus teliti apa gimana Thor.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Oowhh... Lanjut Thor.🙂
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hmmm... pemandangan keluarga yang menyejukan.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
mulai drama belatung muncul.🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!