Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.
Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.
Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.
Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.
Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ambang Persembahan
Hari semakin gelap.
Tidak ada lampu menyala di teras rumah warga desa. Jalanan kosong. Sunyi. Seperti semua orang bersembunyi. Atau sedang berkumpul di satu tempat.
Fariz berjalan cepat menuju makam leluhur. Wajahnya tegang. Ingin cepat sampai.
Tapi entah kenapa, perjalanan menuju makam terasa begitu jauh.
Padahal ia tahu jalan ini. Sudah pernah ia lewati tadi siang. Harusnya hanya sepuluh menit berjalan kaki dari rumahnya. Tapi sekarang sudah lima belas menit ia berjalan, dan makam masih terlihat jauh.
Seperti ada yang memanipulasi jarak. Membuat setiap langkahnya terasa sia-sia. Seperti berjalan di tempat.
Fariz mempercepat langkah. Hampir berlari.
"Fariz... tunggu!"
Suara dari belakang.
Fariz menoleh. Aisyah berlari mendekat. Napasnya terengah.
"Kamu tetap di rumah saja, Aisyah."
Fariz terus berjalan. Tidak berhenti.
"Tidak, Iz. Aku mau ikut denganmu."
Aisyah terus mengimbangi langkahnya. Tidak mau tertinggal.
Fariz meliriknya sebentar. Ingin protes. Tapi ia melihat wajah Aisyah. Tekad yang sama kuatnya dengan tekad di dadanya sendiri.
Ia tidak bicara lagi. Hanya terus berjalan.
Aisyah mengikuti di sampingnya. Ia melihat Fariz lewat dari kejauhan tadi, dari jendela kamarnya. Dan ia tahu ke mana Fariz pergi. Ke makam. Sendirian. Tanpa siapa-siapa.
Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Desa semakin sepi. Tidak ada satu pun orang yang melintas. Hanya angin yang bertiup pelan. Membawa bau bunga kantil yang terlalu kuat.
Lalu mereka melihatnya.
Dari kejauhan, cahaya terang dari makam leluhur Eyang Pandilarang. Cahaya putih yang sangat terang. Hampir menembus langit. Seperti pilar yang menghubungkan bumi dengan sesuatu yang ada di atas.
"Ayo, Aisyah, cepat!"
Fariz mulai berlari kecil. Tidak ingin Sucipto kenapa-kenapa.
Aisyah mengikuti. Kakinya bergerak secepat yang ia bisa.
Sesampainya di sana, mereka berhenti di balik tembok.
Mengintip.
Belasan anak buah Darma Wijaya berdiri di depan pintu masuk. Melipat kedua tangan di dada. Berdiri tegak. Wajah mereka kosong. Tidak ada ekspresi. Seperti prajurit yang menunggu perintah.
Mereka tidak memberikan celah bagi siapa pun yang ingin masuk ke dalam makam.
"Kita harus cari jalan lain."
Aisyah berbisik sambil menghentikan langkahnya. Menarik lengan Fariz agar tidak langsung maju.
Fariz mengangguk. Menatap sekeliling. Mencari celah.
"Kamu ke kiri. Aku ke kanan."
Ia menatap Aisyah.
"Kalau ketemu di dalam, kita lepaskan Bapak. Apa pun yang terjadi."
Aisyah mengangguk. Wajahnya pucat. Tapi tatapannya tegas.
Lalu mereka berpencar.
SISI KANAN MAKAM
Fariz berjalan membungkuk. Hati-hati. Menyusuri tembok makam dari sisi kanan.
Tidak ingin anak buah Darma Wijaya melihatnya. Tidak ingin tertangkap sebelum ia sampai di dalam.
Ia terus berjalan. Mengintip sesekali untuk memastikan tidak ada yang mengikuti.
Sampai ia melihat sesuatu.
Pohon.
Pohon tua dengan batang yang cukup tebal. Dahan yang kuat. Dan posisinya tepat di samping tembok makam.
Fariz menatap pohon itu. Lalu ke atas. Mengukur jarak.
"Aku bisa masuk dari sini."
Gumamnya pelan.
Ia mulai memanjat. Tangan mencengkeram kulit pohon yang kasar. Kaki mencari pijakan di celah-celah batang.
Naik perlahan. Satu dahan. Dua dahan.
Sampai ia tiba di dahan yang cukup tinggi. Sejajar dengan tembok makam. Jarak sekitar satu meter dari dahan ke puncak tembok.
Fariz berdiri di dahan. Menyeimbangkan tubuh. Lalu melompat.
Tubuhnya melayang sebentar di udara.
Tangan meraih puncak tembok. Mencengkeram. Kaki menendang-nendang mencari pijakan.
Lalu ia menarik tubuhnya ke atas dengan seluruh kekuatan yang ia punya.
Berhasil.
Ia duduk di puncak tembok sebentar. Napas terengah. Tangan gemetar karena menahan berat tubuh tadi.
Lalu ia menatap ke bawah.
Di dalam kompleks makam, ia bisa melihat struktur tempat ini dengan jelas.
Area terbuka yang cukup luas. Di tengahnya, ada bangunan kecil dengan pintu emas. Bangunan khusus yang menutupi makam Eyang Pandilarang. Dibuat sebagai tanda kehormatan untuk leluhur yang dianggap sangat suci.
Di sekitar bangunan itu, ada beberapa makam lain yang lebih kecil. Tidak ada bangunan. Hanya nisan batu.
Dan di ujung, ada tangga yang turun ke bawah. Menuju ruang bawah tanah. Tempat di mana ritual sebenarnya akan dilakukan.
Fariz turun dari tembok. Melompat ke dalam. Mendarat dengan lutut ditekuk agar tidak berisik.
Lalu ia berlari. Tubuh merapat ke dinding. Tidak ingin ketahuan.
Dari balik dinding, ia mendengar suara.
Beberapa orang sedang membacakan sesuatu. Mantra dalam bahasa Jawa kuno. Nada yang naik turun. Seperti memanggil sesuatu. Membuka sesuatu.
"Sebentar lagi calon persembahan akan datang. Kamu siapkan cawan ini dekat altar."
Suara seseorang berbicara. Jelas. Tegas. Seperti memberi perintah.
Fariz berjinjit. Berjalan perlahan. Lalu mengintip dari balik dinding.
Obor api menyala kuat. Berderet dari pintu bangunan makam hingga batas area yang sudah disiapkan. Cahayanya oranye kemerahan. Membuat bayangan bergoyang di dinding.
Dari sini, Fariz bisa melihat Karno dengan jelas.
Berdiri di dekat kolam kecil yang berisi air dan kembang tujuh rupa. Di tangannya ada sebuah buku. Tebal. Sampul kulit tua. Dengan tulisan emas di permukaannya yang sudah pudar.
Karno mengikat buku itu dengan kain putih. Hati-hati. Seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. Lalu mencelupkannya ke dalam kolam.
Air berubah warna. Dari bening jadi kemerahan. Seperti darah yang encer.
Fariz mengerutkan dahi. Buku itu.
Buku perjanjian. Antara calon tumbal dan Ratu Kalaputih.
Suara gamelan mulai terdengar.
Menyeruak di telinga. Nada yang khas. Seperti musik kerajaan di masa lalu. Anggun tapi mencekam.
Lalu api-api kecil mulai terlihat di ujung jalan. Puluhan obor. Dibawa oleh rombongan yang berjalan pelan. Seperti prosesi.
Iring-iringan para pengantar persembahan.
Mereka berjalan dalam barisan. Mengenakan pakaian serba hitam. Wajah kosong. Mata menatap lurus ke depan tanpa berkedip.
Fariz mencari ayahnya di antara barisan.
Tapi tidak ada.
Karno bangkit. Berjalan ke depan barisan. Mengambil air dari kolam yang sudah berubah merah. Mencipratkannya ke setiap orang yang akan masuk ke dalam ruang ritual.
Satu per satu mereka lewat. Diciprati. Lalu masuk.
Tapi sampai barisan itu habis, Sucipto masih belum tampak.
Fariz menatap dengan bingung.
Ke mana Bapak?
"Iz...!"
Bisikan dari belakang.
Fariz tersentak. Menoleh.
Aisyah. Sudah berhasil masuk dari sisi kiri. Berdiri di bayang-bayang beberapa meter dari Fariz.
"Ikut aku."
Ia memberi isyarat dengan tangan. Menunjuk ke arah yang berbeda.
Fariz mengikuti. Berjalan membungkuk. Berpindah ke sisi yang lain.
Dan di sana ia melihatnya.
MAKAM DI SEBERANG
Sucipto.
Berlutut di depan makam yang ada di seberang bangunan utama. Makam yang lebih kecil. Tidak ada bangunan. Hanya nisan batu tua yang sudah berlumut.
Di sampingnya, Darma Wijaya berdiri. Membacakan sesuatu. Suaranya pelan tapi jelas. Mantra yang berbeda dari yang dibacakan orang lain. Lebih khusus. Lebih kuat.
Di sebelah Darma Wijaya, ada pria tua. Mengenakan pakaian putih. Memegang dupa di tangannya. Asapnya naik tipis ke udara.
Fariz menatap ayahnya.
Wajah Sucipto sudah mulai pucat. Kedua matanya mulai memutih. Samar. Seperti kabut tipis yang menutupi iris.
Sucipto sedang dipersiapkan. Untuk ritual.
"Aku harus bertindak sekarang."
Fariz bangkit dari posisi jongkok. Siap berlari ke arah ayahnya.
Tapi sebelum kakinya melangkah, Aisyah menahan tangannya. Keras.
"Jangan."
Bisiknya dengan suara yang tegas.
"Biar aku."
Fariz menatapnya. Tidak mengerti.
"Aisyah, apa yang—"
Tapi Aisyah sudah berdiri. Sudah melangkah keluar dari bayang-bayang.
Berjalan dengan langkah yang tegas. Menuju ayahnya.
Menuju Darma Wijaya.
Wujud Yang Sesungguhnya
"Aisyah, apa yang kamu lakukan di sini?"