NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Titik Balik Antara Hidup dan Mati

Udara di lorong pasar gelap itu seolah memadat, menciptakan ruang hampa di antara Arga dan Kala Vira. Aura yang terpancar dari Kala Vira bukan lagi sekadar tekanan bela diri, melainkan rasa haus akan eksekusi yang sempurna. Bilah keris di tangan sang pembunuh berpendar redup, menyerap cahaya redup dari lampu gantung yang berayun pelan, seolah bilah itu sendiri adalah perwujudan dari kematian yang sedang menanti.

Arga berdiri mematung. Matanya terpejam, namun seluruh inderanya terbuka lebar, menangkap getaran di udara, gesekan kain sutra Kala Vira, dan detak jantung pria itu yang tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang bersiap mengakhiri nyawa orang lain.

“Dia akan menusuk ulu hatimu dari sudut empat puluh lima derajat,” bisik suara macan di batin Arga. “Jika kau tetap diam, kau akan mati sebelum kau sempat merasakan sakitnya.”

Arga tidak merespons. Ia membiarkan suara macan itu memudar menjadi latar belakang yang tidak penting. Ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mengandalkan insting binatang; ia sedang mencoba mempraktikkan filosofi "menjadi air" yang baru saja dipertontonkan oleh musuhnya.

Tiba-tiba, Kala Vira melesat.

Gerakannya tidak lagi seperti tarian; itu adalah sebuah ledakan. Dalam sepersekian detik, jarak sepuluh meter lenyap. Keris itu menyambar, mengincar titik yang tepat di mana napas Arga berasal. Namun, saat logam dingin itu hampir menembus kulitnya, Arga melakukan gerakan yang melawan logika pertahanan diri manusia normal.

Alih-alih melompat mundur untuk menghindari tusukan, Arga justru melangkah maju ke dalam radius serangan yang paling mematikan.

Ia memutar pinggulnya—menggunakan teknik yang ia pelajari dari dorongan siku Kala Vira tadi—dan membiarkan bilah keris itu hanya mengiris tipis jaket kulitnya, meleset hanya beberapa milimeter dari kulit rusuknya. Momentum itu dimanfaatkan Arga untuk masuk ke ruang kosong di sisi kiri pertahanan Kala Vira. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Arga menghantamkan telapak tangannya ke dada Kala Vira, bukan dengan amarah, melainkan dengan pemahaman mekanis tentang struktur tulang manusia.

Bum!

Sebuah bunyi tumpul bergema. Kala Vira terdorong mundur dua langkah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pembunuh legendaris itu tampak terkejut. Ia menatap telapak tangan Arga, lalu menatap Arga dengan tatapan yang penuh dengan ketidaksenangan.

"Kau belajar," gumam Kala Vira, suaranya kini tidak lagi mengandung nada meremehkan. "Kau menggunakan momentumku untuk memukulku kembali. Sebuah teknik dasar yang mematikan jika dipahami oleh orang yang tepat."

Namun, kemenangan kecil itu harus dibayar mahal. Arga terbatuk, darah kental keluar dari mulutnya. Memaksa tubuhnya bergerak melampaui limit tanpa bantuan Mustika membuat pembuluh darah di matanya pecah. Ia merasa penglihatannya mulai menggelap. Ia tahu, jika ia tidak mengakhiri ini sekarang, ia akan tumbang karena kelelahan sebelum sempat melihat Sari.

"Pelajaran selesai," suara Kala Vira kembali dingin. Ia tidak lagi menahan diri. Aura pembunuhnya kini benar-benar dilepaskan, membuat dinding-dinding kayu di pasar gelap itu berderit seolah-olah ditekan oleh beban raksasa.

Arga merasakan dorongan kuat di batinnya. Mustika Macan Kencana meraung, menuntut untuk dilepaskan. “Berikan aku kendali! Lepaskan aku, Inang! Aku akan merobek lehernya dalam satu kedipan mata!”

Arga mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menembus telapak tangannya. Rasa sakit itu menjadi jangkar baginya. Ia menatap Kala Vira yang kini bersiap untuk serangan terakhir. Arga tahu, jika ia menggunakan Mustika, ia akan menang, tapi ia akan kehilangan jati dirinya. Ia akan menjadi budak dari entitas yang tidak memedulikan Sari.

Aku adalah Arga. Aku adalah manusia.

Dengan sisa kesadarannya, Arga merendahkan kuda-kudanya. Ia tidak memanggil energi emas. Ia memanggil memori. Ia memanggil memori tentang bagaimana ia harus memikul beban karung beras seberat seratus kilogram di pelabuhan tanpa bantuan mesin. Ia memanggil memori tentang bagaimana ia bertahan hidup di jalanan dengan hanya bermodalkan ketangguhan fisik.

Fokus pada titik tumpu.

Saat Kala Vira menyerang dengan teknik yang lebih cepat dari penglihatan manusia, Arga tidak mencoba membaca gerakannya. Ia memprediksi pola pikirnya. Ia tahu bahwa pembunuh seperti Kala Vira selalu mengincar kesempurnaan. Pembunuh seperti dia akan selalu menggunakan serangan yang paling efisien.

Arga menjatuhkan dirinya ke lantai, membiarkan kaki Kala Vira lewat di atasnya, lalu dengan gerakan menyapu yang ia curi dari teknik dasar pencak silat jalanan, ia menghantam engkel kaki Kala Vira.

Kala Vira kehilangan keseimbangan untuk satu detik yang krusial.

Itu saja yang dibutuhkan Arga.

Arga tidak menyerang Kala Vira. Ia menyerang lampu gantung besar yang berkarat di atas mereka. Dengan satu tendangan kuat ke tiang penyangganya, lampu gantung yang berat itu jatuh tepat di antara mereka, menciptakan tirai besi dan kaca yang memisahkan pembunuh itu dari Arga.

Suara debu dan logam yang jatuh memenuhi ruangan. Arga tidak membuang waktu. Ia berlari menembus kegelapan, melewati celah-celah kios yang sudah tutup, menuju pintu keluar pasar gelap.

Kala Vira berdiri di balik tirai besi yang runtuh. Ia menatap ke arah pelarian Arga dengan napas yang sedikit tidak teratur. Ia mengusap bercak darah di dadanya, tempat telapak tangan Arga tadi menghantamnya. Ia tersenyum—sebuah senyum yang jujur, bukan senyum pembunuh.

"Menarik," gumamnya pada kegelapan. "Kau tidak menggunakan 'kekuatan' itu. Kau memilih untuk tetap menjadi manusia yang rusak. Mari kita lihat, Arga, sampai di mana ketangguhan manusiamu bisa bertahan."

Kala Vira tidak mengejarnya. Ia tahu bahwa Jagat Mahesa tidak menginginkan Arga mati malam ini. Jagat Mahesa menginginkan Arga "matang." Dia menginginkan Arga mencapai batas penderitaan yang mutlak agar Mustika itu bisa diambil dalam keadaan yang paling murni.

Di luar pasar, Arga berlari hingga paru-parunya terasa seperti terbakar. Ia jatuh tersungkur di sebuah taman kota yang sepi, jauh dari keramaian pusat. Hujan telah berhenti total, meninggalkan udara malam yang berbau tanah basah.

Ia meringkuk di balik semak-semak, tubuhnya bergetar hebat karena shock. Ia tidak menang melawan Kala Vira, tapi ia berhasil bertahan hidup. Dan yang paling penting, ia berhasil melakukannya sebagai Arga.

“Kau bodoh,” bisik sang macan di dalam batinnya, namun suaranya kali ini tidak lagi angkuh. Ada nada hormat yang samar di sana. “Kau bisa saja membunuhnya. Kenapa kau membiarkan dia hidup?”

"Karena aku bukan pembunuh sepertimu," bisik Arga dengan suara serak.

Ia mengeluarkan bros bunga melati itu. Warnanya kini tampak pudar, namun itu tetap menjadi benda paling berharga di dunia baginya. Ia tidak bisa kembali ke apartemen, ia tidak bisa menemui Maya dalam keadaan seperti ini. Ia harus segera bergerak ke Sektor 7, ke bunker di mana Jagat Mahesa menyembunyikan Sari.

Di kejauhan, sirine mobil polisi terdengar melengking. Linda Rajendra rupanya telah menekan departemen kepolisian untuk mengeluarkan status 'Shoot on Sight' (tembak di tempat) bagi siapa pun yang melihat Arga.

Arga berdiri dengan susah payah. Ia tidak lagi merasa seperti kuli panggul. Ia tidak lagi merasa seperti petarung hebat. Ia merasa seperti seorang pelarian yang kehilangan segalanya. Namun, di balik rasa sakit yang luar biasa itu, ia merasakan sesuatu yang baru: kepercayaan diri yang lahir dari pengalaman pahit.

Ia tahu bagaimana cara bergerak di kegelapan. Ia tahu bagaimana cara membaca pola serangan elit. Ia tahu bagaimana caranya berbohong, mencuri, dan bertarung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!