NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si budak dijadikan tumbal

Awan hitam menghias langit, menambah kepekatan gelap di sepanjang jalan, hembusan angin tak henti menusuk kulit.

Mampu terdengar suara hentak kaki kuda yang membawanya menjauhi kota.

"Akhirnya aku bebas..." batin Sura mendongak singkat.

Mengintip dari bawah kain, dengan senyuman puas menatap jijik gemerlap istana yang perlahan menghilang dari pandangan.

Sura adalah mahasiswa semester akhir, secara tak sengaja masuk ke dalam buku kuno saat tengah mencari materi untuk skripsinya.

Masuk ke dalam buku yang menulis kejadian perang antara bangsa manusia dengan bangsa siluman.

Sura memasuki tubuh seorang budak, pemuas nafsu para wanita bangsawan.

Anehnya, dia selalu mendapat kekuatan baru jika meniduri wanita bangsawan.

"Apa benar ini jalannya?" celetuk pria berjubah hitam, melirik kusir yang duduk di samping.

"Kamu pengawal baru?" pria tua itu menjawab ketus.

"I-iya, memangnya kenapa?" ucapnya sambil membusungkan dada, merasa diremehkan.

Kusir itu hanya diam tak menjawab, cukup mengayunkan tangan, mempercepat kereta kuda yang tengah mereka naiki.

Srak...

Srak...

Riuh suara aneh terdengar di balik kegelapan, gumam rintihan asing bagi mereka.

"Ck...Sial!" pengawal itu mengusap tengkuknya yang terasa dingin.

"Kapan kita sampai?"

"Sabar...duduk dan diam saja. Kalau kamu panik hutan ini malah semakin panjang." menjawab nada datar.

Pengawal terheran dengan sikap santai sang kusir lalu berusaha menenangkan diri, sesuai saran.

Dan benar saja, tak berselang lama mereka mendapati gerbang kayu megah di ujung hutan.

Drap! Hentak kaki kuda menapak tanah.

Bertutup jubah hitam pengawal itu turun. Tubuhnya dibuat kaku melihat gerbang besar yang terbuka sendiri.

Sunyi tanpa suara, tak ada siapapun. Lorong panjang tanpa penerangan terbentang di hadapan, mereka saling pandang,

GLEK...tampaknya kali ini kusir tua itu juga ketakutan.

"Ayo cepat. Keluarkan dia supaya kita bisa pergi dari sini," bergegas membuka pintu kereta.

"Sebenarnya tempat apa ini?"

"Sudah jangan banyak tanya, kalau kamu mau pulang dengan selamat!" tegur sang kusir.

Tangan mereka gemetaran, seakan ada seribu mata mengawasi. Entah perasaan apa ini yang mencekam batin,

Kakinya lemas bagai berdiri di tepi jurang,

"Ayo, turun!"

Mulut Sura tertutup rapat saat lengannya ditarik, tanpa alas kaki menapaki rumput kering disana. Wajahnya tertutup selembar kain putih dengan rantai mengalung di leher, tangan dan kakinya,

"Cepatlah!" pengawal mendorong kuat tubuh pria didepannya.

"Kemana aku harus pergi?" Sura menoleh singkat.

"Masuk saja kesana. Nanti pasti ada yang menjemputmu," jawab sang kusir tampak iba.

Sura mengangguk, patuh berjalan sesuai arahan, sedangkan kedua orang yang membawanya hanya diam memandangi.

"Kasihan sekali..." bergumam lirih.

"Apa yang harus dikasihani? Dia itu cuma budak. Bisanya cuma ngandelin tampang buat ngerayu istri majikan."

Grkh...

Grkh...

Grkh...

Suara gemuruh terdengar, disusul guncangan yang membuat mereka lari ketakutan.

Sura terbelalak ketika gerbang kembali menutup, menyisakan dirinya seorang di tengah kegelapan. Namun rautnya tetap datar melanjutkan langkah,

"Ternyata memang ada yang menungguku." tersenyum singkat,

Muncul kabut pekat mencekam di sekeliling, pemandangan jalanan sepi memenuhi sepanjang mata memandang.

Seperti berada di film horor dan anehnya Sura malah merasa tertantang.

Duk! Dua pengawal berpawak manusia kera saling menyilangkan tombak, tepat di hadapan Sura.

Sigap dia mendongak, tentu terkejut, ini pertama kali baginya melihat paras siluman secara langsung. Tak jauh berbeda dari gambaran pada buku kuno, namun lebih menyeramkan.

Mata merah, hidung datar, dengan gigi taring. Tangan dan kaki mereka memiliki kuku panjang,

"Naik!" menunjuk pada kereta kuda.

Tanpa menjawab Sura maju menaiki tunggangan yang membawanya ke depan bangunan megah.

"Jadi ini kerajaan siluman? Kupikir akan sama persis seperti di buku." bergumam dalam hati.

Sekali lagi melirik dua siluman yang menyeretnya masuk, melewati bangunan kuno berlampu obor.

Setiap sudut istana dijaga para pengawal berwujud setengah binatang,

"Jaga pandanganmu!" bisiknya langsung menekan paksa kepala Sura hingga menunduk.

Berjalan memasuki ruang kosong yang terasa hening. Tampak sebuah singgasana dari sudut lain, Sura pun duduk bertumpu pada kedua kaki dengan pandangan menatap lantai.

"Saya sudah membawanya, Raja. Pria ini adalah tumbal ke 100 anda," ucap Anubis, siluman serigala yang menjabat sebagai patih.

Dari sudut pandangnya, Sura hanya mampu melihat kaki penuh bulu, besarnya 3 kali lipat dari ukuran pria dewasa, terdapat kuku runcing disetiap jari.

"Angkat kepalamu." tegasnya memberi perintah.

Suara tadi terdengar berat bak auman hewan buas, wajar kalau seluruh pengawal tampak tegang.

Sura mendongak tinggi, tanpa sengaja membuat kain yang menutupi wajahnya terjatuh.

Menunjukkan tubuh kekar yang hanya berbalut setelan putih menerawang, rambut pirangnya terurai panjang.

Mata belok Sura menatap lekat, tercengang melihat penampilan Raja tak sesuai dugaan.

"Lho?"

"Suaranya memang menakutkan. Tapi wujudnya itu---berbeda jauh dari singa si raja hutan." batinnya terus menatap tanpa rasa takut.

"Tidak ada surai lebat di lehernya. Jelas-jelas tubuhnya lebih ramping..."

"Anu---anda ini singa betina, kan?" celetuk Sura memasang wajah polos.

"Kurang ajar! Siapa yang menyuruhmu bicara?!" bentak patih merasa geram.

"Beraninya kamu menghina sang Raja---"

"Cukup." Raja mengangkat telunjuk, menegaskan Anubis untuk tetap diam.

"Yang mulia, dari semua tumbal, pria ini lah yang paling buruk. Penampilannya sangat menjijikkan! Memakan manusia kotor sepertinya tidak akan memberi nutrisi pada anda."

"Lebih baik, saya mencabik-cabiknya di tengah kota manusia. Biar mereka sadar dan teliti dalam memilih tumbal,"

"Ck---" Sura berdecak sinis.

Menoleh ke samping, "Bukankah kamu terlalu sadis, Tuan Anjing?"

"An-anjing katamu?! Siapa yang kamu ajak bicara? Bukan aku kan? Jelas-jelas aku ini siluman serigala."

"Iya, kah? Ternyata aku salah sangka. Habisnya kamu sangat kasar... mirip seperti anjing liar, wlek!" ejek Sura menjulurkan lidah.

"Silahkan lihat baik-baik," Sura merentangkan kedua tangan, sedikit membuka belahan kain, menunjukkan dada bidangnya.

"Silahkan...silahkan..." sambil berlenggak-lenggok, bak model majalah.

"Aku ini sangat layak sebagai tumbal. Bahkan aku juga bisa memuaskan Rajamu itu dengan tubuh ini,"

"Berhenti menghina Raja. Raja tidak butuh hiburan dari budak kotor sepertimu!"

"Aku tidak berniat menghina," bersimpuh kembali dan bersikap tenang, "Cuma mengatakan kelebihanku, itu saja..."

"Diam!" pekik Anubis kehabisan akal.

"Maaf yang mulia, saya lancang berteriak gara-gara manusia ini."

"Sudahlah, aku tidak terganggu. Pergilah Anubis...biar aku sendiri yang mengurusnya."

"T-tapi Raja? Dia ini--"

BRAK!! Raja mengibas tangannya ke samping, menciptakan hembusan angin. Kekuatannya berhasil membuat lubang besar pada tembok istana,

"Apa kamu sudah berani melawanku?" gertak Raja menatap sinis,

"CEPAT PERGI DARI SINI."

"Baik, Raja! Ma-maafkan saya." angguk Anubis ketakutan, mengangguk paham lalu berlari keluar.

"Glek...mampus, apa dia tersinggung. Tubuhku pasti sudah hancur, kalau terkena serangan tadi---" menelan saliva.

"Hehe...ternyata Raja juga cepat marah ya?" gumam Sura sambil meringis.

"Tapi ga baik kalau terlalu sering. Nanti susah dapat suami."

1
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Anonymous
💪Gacor banget si Sura😍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!