NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Residu di Sela Jemari

Senin pagi itu Melbourne sedang tidak baik baik saja. Hujan turun bukan sebagai tetesan, tapi sebagai kabut tipis yang menusuk tulang, jenis cuaca yang membuat siapa pun ingin tetap meringkuk di bawah selimut . Di unit 3B, bau opor semalam sudah ilang, digantikan aroma kopi hitam yang kuat dan uap dari pemanggang roti yang bekerja lembur.

Alya berdiri di depan cermin kamar mandi, mencoba merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Matanya masih menunjukkan jejak lelah, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Ada ketajaman yang belum pernah ada sebelumnya.

Tiba-tibah, sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Arka menyandarkan dagunya di bahu Alya, menatap pantulan mereka berdua di cermin yang sedikit berembun.

"Chief," bisik Arka, suaranya masih berat khas bangun tidur. "Jangan terlalu kencang pasang pelindungnya. Nanti napasmu sesak."

Alya tersenyum tipis, tangannya mengusap lengan Arka yang masih memeluknya. "Dunia nggak bakal kasih ampun cuma karena aku sesak napas, Bang."

Arka memutar tubuh Alya agar menghadapnya. Di ruangan sesempit kamar mandi itu, oksigen mendadak terasa padat. Arka menatap mata Alya, lalu tangannya terangkat untuk merapikan sehelai rambut yang menempel di dahi istrinya. Gerakannya lambat, sangat hati-hati, seolah Alya adalah barang pecah belah yang paling berharga di seluruh Australia.

"Dunia mungkin nggak," kata Arka lirih, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alya. "Tapi aku bakal kasih. Kalau di luar sana terlalu berisik, balik ke sini. Tembok hijau ini sudah kering, Al. Sudah cukup kuat buat kamu sandarin."

Arka mencium kening Alya lama sekali. Bukan jenis ciuman yang menuntut, tapi jenis ciuman yang memberi janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ada kemistri yang ganjil di antara mereka—campuran antara trauma masa lalu yang belum sembuh total dan cinta yang sedang dipaksa tumbuh dewasa dalam waktu singkat.

"Sarapan dulu," kata Arka akhirnya sambil melepaskan pelukannya, meski tangannya sempat tertahan sebentar di pinggang Alya. "Aku nggak mau kamu pingsan pas lagi audit koruptor di kantor."

Di kantor, Alya disambut oleh keheningan yang janggal. Marcus sudah tidak ada; meja kerjanya bersih, menyisakan kekosongan yang terasa dingin. Regional Head memanggilnya ke ruangan bukan untuk memarahi, tapi untuk memberikan map hitam.

"Investigasi internal sudah dimulai," kata bosnya, tanpa menatap mata Alya. "Tapi ada satu hal yang aneh, Alya. Vendor di Jakarta yang bekerja sama dengan Marcus... pemilik saham terbesarnya baru saja berganti nama seminggu lalu. Sebuah firma hukum yang berbasis di kota asalmu."

Alya merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dia tahu siapa orang di balik firma hukum itu. Laki-laki itu tidak hanya menyerang lewat foto lama; dia sudah masuk ke dalam sistem kerjanya. Dia mencoba memutus mata pencaharian Alya agar Alya tidak punya pilihan selain kembali.

"Kamu punya koneksi di sana?" tanya bosnya, matanya sekarang menatap tajam.

"Hanya masa lalu yang sedang mencoba menagih hutang yang sebenarnya sudah lunas, Sir," jawab Alya datar. "Saya akan pastikan audit ini tidak terganggu oleh urusan pribadi."

Sepanjang sore, Alya bekerja seperti orang kesurupan. Dia membedah setiap dokumen, mencari celah di mana laki-laki itu mungkin menyisipkan "racunnya". Namun, konsentrasinya pecah saat sebuah pesan masuk di grup kerja.

“Ada paket untuk Bu Alya di lobi. Katanya sangat mendesak.”

Alya turun ke lobi dengan kaki yang terasa berat. Di sana, seorang kurir menyerahkan sebuah buket bungah mawar putih yang besar. Sangat kontras dengan karpet lobi yang berwarna gelap. Tidak ada kartu ucapan, hanya sebuah amplop cokelat kecil di tengah-tengah bunga.

Isinya bukan foto. Tapi sebuah tiket pesawat one-way Melbourne-Jakarta untuk keberangkatan besok malam. Di bagian bawah tiket itu, ada tulisan tangan yang sangat ia kenali: “Ibumu merindukanmu. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama, Al.”

Alya meremas tiket itu sampai hancur di telapak tangannya. Dia merasa mual. Ruangan lobi yang luas itu mendadak terasa seperti penjara.

Saat dia pulang ke apartemen, hari sudah gelap. Dia menemukan Arka sedang duduk di lantai, sedang mencoba memperbaiki kaki meja lipat mereka yang goyang dengan beberapa perkakas baru. Arka melihat buket bunga di tangan Alya dan wajah istrinya yang seperti baru saja melihat hantu.

"Al?" Arka berdiri, membuang obengnya ke lantai.

Alya tidak bicara. Dia menyerahkan remasan tiket itu kepada Arka. Begitu membacanya, wajah Arka tidak berubah marah. Dia justru tersenyum—senyum yang sangat dingin, jenis senyum yang biasanya Arka simpan untuk orang-orang yang meremehkannya.

"Dia makin kreatif," gumam Arka.

"Bang, dia main-main sama karirku sekarang. Dia mencoba bikin aku dipecat dengan menghubungkan Marcus sama firma hukum di kota kita," kata Alya, suaranya gemetar karena marah.

Arka mendekati Alya, mengambil buket bunga itu dan meletakkannya begitu saja di dekat tempat sampah di gang luar pintu mereka. Dia kembali masuk, mengunci pintu, lalu menarik Alya ke dalam pelukannya. Kali ini pelukannya sangat erat, seolah dia sedang mencoba menyatukan kembali kepingan keberanian Alya yang mulai retak.

"Dia pikir dia bisa beli tiket pulang buat kamu," Arka berbisik di telinga Alya. "Dia nggak tahu kalau di Melbourne, kita sudah nggak pakai tiket lagi. Kita sudah punya rumah."

Arka melepas pelukannya, menangkup wajah Alya dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pipi Alya yang dingin. "Dengerin aku, Al. Besok, kamu berangkat kerja kayak biasa. Kasih tahu bosmu soal tiket ini. Jadikan ini bukti pelecehan dan spionase industri. Jangan disembunyiin. Gunakan kekuasaan kantor buat lawan dia."

"Tapi Ibu—"

"Besok pagi, aku yang bakal urus semuanya. Aku punya kejutan buat dia, sesuatu yang belum sempat aku bilang sama kamu."

Alya menatap Arka, mencari kepastian di mata suaminya. "Apa, Bang?"

"Ingat proyek logistikku yang ditolak investor Sydney kemarin?" Arka tersenyum tipis. "Ternyata investor dari Singapura jauh lebih tertarik. Dan mereka punya koneksi buat menekan firma hukum di kota kita. Kita nggak perlu pulang buat lawan dia, Al. Kita lawan dia dari sini, dari tembok hijau ini."

Malam itu, kemistri di antara mereka terasa lebih dari sekadar romansa. Itu adalah kemistri dua orang rekan seperjuangan yang sedang saling mengisi amunisi. Arka membantu Alya menyusun draf laporan untuk kantor, sementara Alya membantu Arka memetakan struktur kekuasaan di kota asal mereka yang mungkin bisa digoyang oleh investor Singapura itu.

Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, mereka berdua terkapar di atas karpet oats, bersandar pada tembok hijau mint yang sekarang terasa benar-benar seperti benteng.

"Bang," panggil Alya pelan.

"Ya?"

"Makasih sudah nggak biarin aku sendirian di lobi tadi."

Arka meraih tangan Alya, mencium punggung tangannya yang masih tercium sisa aroma mawar—residu dari teror yang gagal. "Aku sudah bilang, Al. Ban motorku nggak akan bocor lagi."

mereka yang tertidur di lantai, saling berpegangan tangan di bawah cahaya lampu jalan Melbourne yang samar. Laki-laki di Jakarta itu mungkin punya uang dan masa lalu, tapi di Carlton, Alya dan Arka punya sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan tiket pesawat mana pun: kenyataan bahwa mereka saling memiliki, di atas segala luka yang sedang mereka sembuhkan bersama.

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!