Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Arka Sang Montir Dadakan
Di Wisma Lavender, keahlian seorang pria sering kali diukur bukan dari seberapa dalam ia memahami teori sosiologi yang abstrak atau seberapa cepat jemarinya menari di atas papan ketik untuk mengejar tenggat skripsi. Di sini, nilai seorang pria sering kali ditentukan oleh seberapa terampil jemarinya menangani mesin-mesin yang sedang merajuk atau peralatan rumah tangga yang mendadak mogok kerja. Setelah berhari-hari menjadi "bulan-bulanan" keadaan—mulai dari masalah internet hingga hukuman cuci piring—sebuah kesempatan emas untuk memperbaiki reputasi Arka akhirnya muncul di tengah cuaca Jakarta yang sedang membara luar biasa.
Siang itu, suhu udara terasa seperti sedang berada di dalam oven raksasa yang dinyalakan dengan suhu maksimal. Beton dan aspal di luar sana seolah memuai, mengirimkan gelombang panas yang menembus celah-celah jendela Wisma Lavender. Putri—penghuni kamar ujung yang biasanya paling tenang, anggun, dan jarang mengeluh—keluar dari kamarnya dengan wajah yang memerah padam dan peluh yang membasahi kening serta lehernya. AC di kamarnya telah menyerah pada keadaan; alat itu sempat mengeluarkan suara mendesis pelan, batuk-batuk kecil, sebelum akhirnya mati total dengan bunyi klik yang mematikan, meninggalkan Putri dalam jebakan udara pengap yang menyesakkan.
"Arka... kamu tahu soal mesin nggak? Atau paling nggak, tahu cara benerin sesuatu yang mati mendadak?" tanya Putri dengan nada memelas, berdiri di ambang pintu kamar Arka yang sedang terbuka sedikit.
Arka, yang saat itu sedang asyik membenahi kabel charger laptopnya yang terkelupas menggunakan selotip listrik, mendongak. Ia melihat Putri yang tampak benar-benar menderita karena panas. "Kenapa, Put? AC-nya mati total ya?"
"Iya, nggak mau nyala sama sekali. Lampu indikatornya bahkan nggak kedip. Mana siang ini panas banget lagi, aku ada tugas kuliah yang harus selesai sore ini," keluh Putri sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan buku catatan tebal, mencoba mencari sedikit sirkulasi udara yang mustahil ditemukan.
Dengan membawa obeng multifungsi andalannya dan sedikit rasa percaya diri yang masih tersisa setelah serangkaian kesialan tempo hari, Arka melangkah menuju kamar Putri. Di sana, ia disambut oleh udara pengap yang terasa seperti memukul wajah. Ia menatap unit AC yang menempel di dinding itu seolah-olah sedang berhadapan dengan seorang pasien kritis di atas meja operasi.
Selama beberapa menit yang penuh konsentrasi, Arka mulai melakukan diagnosis. Ia memanjat kursi, membuka penutup plastik unit indoor, dan memeriksa filter yang ternyata sudah tertutup debu setebal karpet. Ia tidak hanya membersihkan filternya; ia mulai memeriksa jalur kabel listrik, membongkar panel kontrol kecil di sisi kanan, dan akhirnya menyadari bahwa masalah utamanya ada pada sekring yang sedikit longgar akibat getaran mesin serta kotoran yang menyumbat sensor suhu, membuatnya "pingsan" karena overheat.
Bagi Arka, yang terbiasa mengotak-atik perangkat elektronik sejak SMA, ini adalah masalah teknis dasar yang solusinya cukup lugas. Namun, bagi para perempuan di Wisma Lavender yang terbiasa memanggil jasa servis profesional untuk masalah sekecil apa pun, apa yang dilakukan Arka terlihat seperti sebuah keajaiban mekanis yang sangat maskulin. Dengan cekatan, ia menggosok sensor itu, mengencangkan beberapa baut yang longgar, dan melakukan sedikit "trik" pada panel kontrolnya untuk mereset sistem.
Klik.
Sebuah suara dengungan halus nan merdu terdengar, diikuti oleh hembusan udara dingin yang langsung menyapu ruangan. Putri memekik kegirangan, merasakan sensasi sejuk yang menyentuh kulitnya. Manda dan Fanya, yang sejak tadi ikut mengintip dengan penuh rasa ingin tahu dari koridor, memberikan tepuk tangan spontan seolah-olah Arka baru saja memenangkan piala dunia.
"Wah, Arka! Kamu beneran montir ya? Kirain cuma tahu soal skripsi doang!" seru Fanya dengan nada takjub yang belum pernah Arka dengar sebelumnya.
"Gila, Arka! Kamu jauh lebih berguna daripada tukang servis langganan Sari yang biasanya baru datang seminggu setelah ditelepon!" tambah Manda sambil mengacungkan dua jempol, matanya berbinar melihat AC yang kini kembali perkasa melawan hawa panas.
Kabar tentang "tangan sakti" Arka menyebar secepat virus di grup WhatsApp Wisma Lavender yang biasanya berisi keluhan tentang sampah atau tagihan listrik. Tiba-tiba, status sosial Arka mengalami lonjakan drastis. Ia bukan lagi "mahasiswa akhir yang kerjanya cuma nyedot kuota internet" atau "pria malang yang jadi sasaran naksir hantu Noni Belanda". Ia kini menyandang gelar baru yang jauh lebih keren: Pahlawan Teknologi Wisma Lavender.
Sore itu, suasana di rumah berubah secara dramatis. Saat Arka lewat di dapur untuk mengambil minum, Dira tidak lagi menatapnya dengan pandangan dingin penuh prosedur 'sterilisasi'. Sebaliknya, Dira menyodorkan sepiring buah potong yang segar dan dingin dari kulkas. "Ini buat kamu, Arka. Anggap saja asupan nutrisi karena sudah bantu Putri. Oiya, nanti kalau kamu nggak sibuk, tolong cek juga ya keran di wastafelku yang agak rembes sedikit. Aku khawatir itu pemborosan air."
Bahkan Sari, sang ketua kos yang biasanya bersikap sedingin kutub utara dan hanya bicara soal aturan, memberikan anggukan hormat yang sangat jarang diberikan saat mereka berpapasan di ruang tengah. "Kerja bagus, Arka. Ternyata keberadaanmu di sini memberikan nilai tambah fungsional yang signifikan bagi pemeliharaan properti ini. Aku sangat menghargai efisiensimu."
Arka tersenyum kecil di dalam kamarnya, menikmati dinginnya AC-nya sendiri sambil mengunyah buah melon manis pemberian Dira. Sastra sorenya kali ini tidak lagi terasa pahit karena bumbu pedas Bon Cabe atau pegal linu karena harus menjadi sandaran curhat selama berjam-jam. Kali ini, sastranya ditulis dengan deru mesin yang lancar, hembusan angin sejuk, dan rasa dihargai yang menghangatkan hati.
Di Wisma Lavender, ia belajar sebuah pelajaran hidup yang praktis: untuk menjadi pahlawan di mata banyak orang, seseorang tidak selalu harus mengangkat pedang, mengenakan jubah, atau memenangkan debat politik yang sengit. Terkadang, cukup dengan sebuah obeng, sedikit keberanian untuk menyentuh mesin yang kotor, dan kemauan untuk membantu di saat yang paling dibutuhkan.
Malam itu, Arka tidur dengan sangat nyenyak, nyaris tanpa mimpi buruk. Bahkan sosok Noni Belanda yang diceritakan Tia pun sepertinya tidak berani mengganggunya. Mungkin sang hantu dari masa kolonial itu pun sadar bahwa di zaman modern ini, jika ia merusak barang elektronik atau membuat instalasi listrik di wisma ini korsleting, Arka-lah satu-satunya harapan untuk memperbaikinya tanpa harus menunggu tukang servis yang tak kunjung datang.