NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Panggung Penaklukan dan Adrenalin

Tumpukan dokumen bersampul biru tua diletakkan oleh Dimas tepat di atas meja gambar Nadin dengan suara ketukan pelan. Pria berjas hitam itu menunduk sedikit sebelum melangkah mundur dan keluar dari ruang kerja sang CEO, meninggalkan Nadin yang kini dihadapkan pada ratusan halaman proposal teknis milik Wirawan Group.

Nadin menarik napas panjang. Dia memutar kursinya, menyalakan lampu sorot meja gambar, dan mulai membuka halaman pertama dokumen tersebut. Di seberang ruangan, Gilang Mahendra duduk di balik meja kerja kayu eboninya yang raksasa. Pria itu sibuk membaca laporan di layar tablet, sama sekali tidak memedulikan kehadiran Nadin. Suasana di dalam ruang kerja berdinding kaca itu berubah menjadi sangat hening, hanya diselingi oleh suara kertas yang dibalik dan ketikan pelan pada layar sentuh.

Selama dua jam pertama, Nadin membaca proposal Bastian Wirawan dengan kening berkerut. Bastian memang lawan yang cerdik. Pria itu menawarkan nilai investasi awal yang dua puluh persen lebih murah daripada rencana anggaran Mahendra Corp. Angka itu pasti sangat menggiurkan bagi para pemegang saham. Namun, sebagai seorang arsitek yang terbiasa membedah struktur dari nol, Nadin tahu bahwa di dunia konstruksi, tidak ada potongan harga tanpa mengorbankan kualitas.

Jari-jari Nadin bergerak cepat di atas kalkulator ilmiah yang disediakan Dimas, membandingkan spesifikasi material yang diajukan Bastian dengan standar keamanan gedung pencakar langit. Matanya menyipit saat menemukan kejanggalan pada bagian fasad kaca dan sistem sirkulasi udara di lantai atas.

"Dia berbohong pada bagian sistem pendingin sentral," guman Nadin tanpa sadar.

Suara pelan itu memecah keheningan ruangan. Gilang menghentikan gerakan tangannya di atas tablet. Pria itu mengangkat wajahnya, menatap Nadin dengan tatapan yang langsung mengunci fokus.

"Jelaskan," perintah Gilang dengan nada datar namun menuntut.

Nadin menelan ludah. Dia berdiri dari kursinya, membawa selembar kertas berisi coretan perhitungannya, dan berjalan mendekati meja kerja Gilang. Nadin meletakkan kertas itu tepat di depan Gilang, menunjuk deretan angka dengan ujung penanya.

"Bastian menggunakan kaca impor kelas dua yang diklaim memiliki penahan panas tinggi. Padahal, kaca jenis ini akan membiaskan cahaya matahari siang secara langsung ke dalam ruangan," jelas Nadin. Insting arsiteknya perlahan mengambil alih rasa takutnya, membuat suaranya terdengar jauh lebih stabil dan penuh keyakinan. "Untuk menutupi kelemahan itu, Bastian menambahkan kapasitas mesin pendingin sentral yang sangat masif di atap gedung. Di atas kertas, investasi awalnya memang murah. Tapi, biaya operasional dan perawatan mesin pendingin itu akan membengkak hingga tiga ratus persen dalam waktu lima tahun. Gedung ini akan menjadi parasit yang menguras kas perusahaan Anda di masa depan."

Gilang menatap deretan angka hitungan Nadin, lalu mendongak menatap wajah wanita itu. Mata hitam pria itu tidak berkedip. Ada kilau kepuasan yang sangat tajam di sana. Gilang tidak pernah meragukan insting bisnisnya sendiri, namun melihat Nadin membedah penipuan lawannya dengan kecerdasan analitis yang begitu memukau membuat darahnya berdesir aneh.

"Dan solusimu?" tanya Gilang pelan.

"Kisi-kisi logam aerodinamis yang saya desain kemarin pagi," jawab Nadin tanpa ragu. "Kisi-kisi itu akan memecah arah angin dan mengurangi paparan cahaya matahari langsung hingga empat puluh persen. Anda tidak perlu menggunakan mesin pendingin raksasa. Biaya operasional gedung akan turun drastis, dan Anda akan mendapatkan sertifikasi gedung ramah lingkungan yang bisa meningkatkan nilai jual properti Anda."

Sudut bibir Gilang berkedut membentuk seringai tipis yang sangat berbahaya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Nadin seolah wanita itu adalah senjata pemusnah massal yang baru saja dia temukan.

"Persiapkan dirimu. Kita akan menghancurkan Bastian di depan seluruh dewan direksi siang ini," ucap Gilang tenang.

Pukul dua kurang sepuluh menit, Dimas kembali masuk untuk menjemput mereka. Nadin berjalan mengekor di belakang Gilang, melangkah keluar dari ruang kerja menuju ruang rapat utama yang terletak di ujung lorong lantai enam puluh.

Sepanjang jalan, telapak tangan Nadin terasa dingin dan berkeringat. Menghadapi dewan direksi sebuah perusahaan konglomerat bukanlah hal yang pernah dia bayangkan. Di firma arsitektur lamanya, dia hanya mempresentasikan desain di depan manajer proyek kelas menengah. Sekarang, dia harus berdiri di hadapan para miliarder yang memegang kendali atas ekonomi negara ini.

Pintu ganda ruang rapat dibuka oleh dua orang petugas keamanan. Ruangan itu sangat megah. Sebuah meja bundar raksasa berbahan kayu jati mengkilap mendominasi bagian tengah ruangan. Belasan pria dan wanita paruh baya dengan setelan jas mahal sudah duduk di kursi masing-masing. Mereka adalah para direktur senior dan pemegang saham utama Mahendra Corp.

Suasana percakapan yang tadinya ramai seketika terhenti begitu Gilang melangkah masuk. Gilang berjalan menuju kursi utama di ujung meja. Namun, alih-alih menyuruh Nadin duduk di kursi belakang bersama para asisten, Gilang menarik kursi kosong tepat di sebelah kanannya dan memberikan isyarat dengan matanya agar Nadin duduk di sana.

Beberapa direktur terlihat saling berpandangan. Seorang pria beruban dengan wajah keras yang duduk di sebelah kiri Gilang, berdeham pelan. Nadin tahu dari buku profil perusahaan yang dibacanya pagi tadi bahwa pria itu adalah Pak Haris, Direktur Operasional yang sangat konservatif dan sering berselisih paham dengan Gilang.

"Maaf, Tuan Gilang," tegur Pak Haris dengan nada yang diusahakan sesopan mungkin, namun matanya menatap sinis ke arah Nadin. "Ruang rapat dewan direksi ini bersifat rahasia dan tertutup. Kita akan membahas persaingan tender triliunan rupiah dengan Wirawan Group. Saya rasa tidak sepantasnya Anda membawa seorang asisten pribadi atau kenalan wanita ke dalam ruangan ini."

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat tegang. Nadin menundukkan kepalanya, meremas jemarinya sendiri di bawah meja. Cincin ruby di jarinya terasa seperti beban yang sangat berat. Dia tahu persis apa yang ada di pikiran para direktur tua ini. Mereka menganggapnya sebagai wanita simpanan tidak berguna yang sengaja dibawa Gilang untuk dipamerkan.

Gilang tidak segera menjawab. Pria itu merapikan lengan jasnya dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh perhitungan. Mata hitam Gilang menyapu seluruh ruangan, memberikan tatapan membekukan yang membuat beberapa direktur segera menundukkan pandangan mereka. Terakhir, tatapan Gilang berhenti tepat di wajah Pak Haris.

"Kenalan wanita yang Anda maksud ini, Pak Haris, adalah Nadin Kirana," ucap Gilang dengan suara bariton yang menggema di seluruh sudut ruangan. "Dia adalah lulusan terbaik fakultas arsitektur, dan mulai hari ini, dia adalah Kepala Konsultan Arsitek Khusus untuk proyek Menara Selatan. Dia berada di ruangan ini karena saya yang memerintahkannya. Apakah Anda memiliki keberatan atas keputusan saya?"

Nada suara Gilang sangat datar, namun ancaman di baliknya terdengar sangat jelas. Pak Haris menelan ludah, rahangnya menegang, namun pria tua itu akhirnya menggeleng pelan. "Tidak ada keberatan, Tuan Mahendra. Silakan dilanjutkan."

"Bagus," sahut Gilang singkat. Dia menoleh ke arah Nadin. "Waktu adalah uang. Berdirilah, Nadin. Jelaskan kepada mereka mengapa proposal Bastian Wirawan adalah sebuah sampah yang dibungkus dengan kertas emas."

Panggilan itu adalah sebuah tantangan sekaligus perintah mutlak. Nadin berdiri perlahan. Kakinya sedikit gemetar, namun dia memaksa dirinya untuk berjalan menuju layar proyektor raksasa di depan ruangan. Dimas telah menghubungkan tablet Nadin ke layar tersebut. Gambar cetak biru Menara Selatan versi Wirawan Group muncul di layar.

Nadin memutar tubuhnya menghadap para direktur. Puluhan pasang mata menatapnya dengan pandangan meragukan. Namun saat Nadin menatap Gilang, pria itu menatapnya dengan sorot mata yang penuh tuntutan, seolah berkata bahwa Nadin tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri setelah semua hal yang terjadi.

Menarik napas dalam, Nadin mematikan rasa takutnya.

"Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian," buka Nadin dengan suara yang jernih dan tegas. "Wirawan Group menawarkan efisiensi anggaran sebesar dua puluh persen pada tahap awal konstruksi. Namun, mari kita bedah kebohongan struktural di balik angka tersebut."

Nadin mulai berbicara. Dia menekan tombol pada tabletnya, menampilkan lapisan-lapisan struktur bangunan yang dia gambar semalam. Nadin memaparkan data, menghitung beban tekanan angin, membedah cacat pada spesifikasi kaca yang diajukan Bastian, dan menunjukkan proyeksi ledakan biaya operasional akibat penggunaan mesin pendingin sentral raksasa.

Setiap kata yang keluar dari mulut Nadin sangat terukur, logis, dan tajam. Dia tidak berbicara seperti seorang asisten yang ketakutan, melainkan seperti seorang ahli yang menguasai panggungnya. Raut wajah meremehkan dari para direktur perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi keterkejutan dan kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. Bahkan Pak Haris yang sejak awal menentangnya, kini mencondongkan tubuhnya ke depan, mencatat beberapa poin penting dari penjelasan Nadin.

"Sebagai solusinya, Mahendra Corp tidak perlu ikut memangkas anggaran untuk bersaing harga," lanjut Nadin, kali ini menampilkan desain kisi-kisi aerodinamis buatannya yang terlihat sangat elegan di layar. "Kita akan menonjolkan desain struktur yang mampu menekan biaya operasional pihak penyewa gedung hingga tiga puluh persen. Dalam bisnis jangka panjang, investor tidak mencari bangunan yang murah untuk dibangun, melainkan bangunan yang murah untuk dirawat. Desain ini akan mematikan daya tarik proposal Wirawan Group di mata klien."

Nadin mengakhiri presentasinya dengan anggukan hormat. Ruang rapat itu hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya Pak Haris menjadi orang pertama yang bertepuk tangan pelan, disusul oleh riuh tepuk tangan dari seluruh direktur di ruangan tersebut.

Nadin berjalan kembali ke kursinya dengan dada yang masih bergemuruh hebat. Adrenalin mengalir deras di setiap pembuluh darahnya. Untuk pertama kalinya sejak hidupnya hancur, Nadin merasa hidup kembali. Dia baru saja membuktikan nilai dirinya murni melalui kecerdasannya.

Saat Nadin duduk di kursinya, dia menoleh sedikit ke arah Gilang. Pria itu tidak ikut bertepuk tangan. Gilang hanya menatap Nadin dengan sepasang mata hitam yang kini terlihat sangat gelap, dalam, dan dipenuhi oleh kebanggaan yang sangat posesif. Tatapan pria itu terasa lebih panas daripada sinar matahari siang di luar jendela.

Sisa rapat berjalan dengan lancar. Dewan direksi dengan suara bulat menyetujui strategi yang dipaparkan Nadin. Begitu rapat ditutup, Gilang langsung berdiri dan memberikan isyarat agar Nadin mengikutinya kembali ke ruang kerja.

Perjalanan kembali menyusuri lorong terasa berbeda. Para asisten dan karyawan yang berpapasan dengan mereka kini menunduk hormat dengan tatapan yang dipenuhi rasa segan terhadap Nadin. Reputasi Nadin di gedung ini baru saja terbentuk hanya dalam waktu satu jam.

Begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja CEO, Gilang menutup pintu ganda berbahan kayu eboni itu dan memutar kuncinya dari dalam. Bunyi klik tajam dari kunci itu membuat Nadin seketika tersadar dari euforia presentasinya. Sangkar kaca ini telah kembali ditutup.

Gilang tidak berjalan menuju meja kerjanya. Pria itu melangkah pelan mendekati Nadin. Jas biru gelap yang membalut tubuh kekarnya membuat Gilang terlihat seperti predator yang sedang mengitari mangsanya setelah perburuan yang sukses.

"Kau membungkam mereka semua," bisik Gilang, suaranya terdengar sangat parau dan berat di dalam ruangan yang kedap suara itu. "Kau berdiri di sana, memamerkan otakmu yang brilian, dan membuat para direktur tua itu memujamu."

"Saya hanya melakukan pekerjaan saya sesuai perintah Anda, Tuan Mahendra," balas Nadin. Nadin mencoba memundurkan langkahnya, namun punggungnya menabrak sisi meja gambar di belakangnya. Tidak ada jalan keluar.

Gilang mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu kulitnya menyentuh ujung sepatu hak tinggi Nadin. Pria itu meletakkan kedua tangannya di tepi meja gambar, mengurung Nadin tepat di tengah-tengah lengan kokohnya. Bau khas parfum vetiver dan aroma maskulin pria itu langsung menyerang indra penciuman Nadin, membuat akal sehatnya mulai goyah.

"Aku melihat bagaimana pria-pria di ruangan itu menatapmu saat kau berbicara," lanjut Gilang dengan nada suara yang bergetar karena emosi yang tertahan. Cemburu buta kembali menguasai pria itu. "Mereka menatapmu dengan rasa kagum. Dan aku sangat benci berbagi kekaguman itu dengan siapa pun."

"Itu adalah rapat profesional, Gilang. Anda sendiri yang menyuruh saya berbicara," protes Nadin dengan napas yang mulai tersengal akibat jarak mereka yang terlalu dekat.

"Dan kau melakukannya dengan sangat sempurna. Terlalu sempurna," geram Gilang tepat di depan wajah Nadin. Jari-jari pria itu naik, meraih tengkuk Nadin dan mengusap kulit lembut di sana dengan sentuhan yang sangat posesif. "Tapi aku perlu mengingatkanmu, Nadin. Tidak peduli seberapa cerdas dirimu di ruang rapat tadi, tidak peduli seberapa banyak orang yang memujimu, di dalam ruangan ini, kau hanyalah milikku."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Nadin untuk membalas, Gilang menabrakkan bibirnya ke bibir wanita itu.

Ciuman itu dipenuhi oleh rasa lapar yang mematikan dan euforia kemenangan yang meledak-ledak. Gilang melumat bibir Nadin dengan kasar, menuntut penyerahan diri yang absolut. Tangan pria itu bergerak cepat, mengangkat tubuh Nadin hingga terduduk di atas meja gambar yang dipenuhi kertas kalkir. Suara kertas yang bergesekan dan berhamburan ke lantai terdengar nyaring mengiringi decakan bibir mereka.

Nadin mengerang tertahan saat Gilang memperdalam ciumannya. Adrenalin yang masih tersisa dari ruang rapat tadi membuat tubuh Nadin merespons sentuhan pria itu dua kali lipat lebih sensitif. Nadin meremas bahu jas Gilang, melengkungkan punggungnya saat pria itu mulai memberikan kecupan-kecupan panas di sepanjang rahang dan lehernya.

"Kau senjata rahasiaku, Nadin," bisik Gilang di sela-sela napas mereka yang memburu, mengisap kuat kulit leher Nadin hingga meninggalkan jejak kemerahan yang baru. "Aku yang menemukanmu. Aku yang membentukmu. Dan aku yang berhak menghancurkanmu."

Hukuman sekaligus hadiah siang itu dieksekusi dengan intensitas yang membutakan. Di bawah terik matahari siang yang menembus dinding kaca raksasa di ruang kerja tersebut, Nadin kembali kehilangan arah. Gilang tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari mata Nadin, memaksa wanita itu untuk menerima setiap gelombang sensasi yang membakar kewarasannya.

Di atas meja gambar yang menjadi saksi bisu kecerdasannya, Nadin menyadari bahwa dia mungkin bisa menaklukkan dewan direksi Mahendra Corp dengan mudah, namun dia tidak akan pernah bisa menaklukkan iblis posesif yang kini sedang mengklaim tubuh dan jiwanya tanpa sisa ini.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!