seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 7
Andi menatap perban yang melilit lengannya, lalu beralih pada Rian yang masih berdiri mematung di bawah lampu jalan yang remang-remang. Debu logam dan sisa uap panas masih menempel di kulit mereka.
"Rian," panggil Andi pelan.
Remaja itu menoleh. Ada kilat di matanya yang tidak pernah Andi lihat sebelumnya—bukan ketakutan, melainkan sesuatu yang lebih dingin. Sesuatu yang Andi kenal dengan baik karena ia melihatnya di cermin setiap pagi selama belasan tahun.
"Kau melihatnya, kan, Bang?" suara Rian datar. "Dia punya segalanya—uang, kekuasaan, hukum di kantongnya. Dia bisa membunuh ayahmu dan hampir membunuh kita hanya dengan menjentikkan jari. Dan dia tetap hidup, sementara orang baik seperti ayahmu harus terkubur."
Andin berhenti membebat luka Andi. Ia merasakan ketegangan yang menjalar. Ia menatap Rian dengan tatapan lembut namun waspada. "Rian, hukum sudah bekerja. Wijaya sudah membawanya."
"Hukum?" Rian terkekeh sinis, suaranya parau. "Hukum itu lambat, Kak. Kalau Bang Andi tadi tidak datang seperti monster, kita sudah jadi cairan besi di dalam sana. Kejahatan mereka tidak butuh pengacara, mereka butuh pembalasan."
Andi berdiri, menahan perih di rusuknya. Ia berjalan mendekati Rian, menaruh tangannya yang besar dan kasar di bahu remaja itu. "Dengarkan aku. Tadi aku punya pilihan untuk mematahkan lehernya. Satu gerakan kecil, dan dunia akan kehilangan satu iblis. Tapi jika aku melakukannya, iblis itu tidak benar-benar mati—dia hanya pindah ke dalam diriku."
Andi meremas bahu Rian lebih erat, memaksa anak itu menatap matanya.
"Aku menghabiskan separuh hidupku untuk berhenti menjadi ular, Rian. Jangan biarkan satu malam ini membuatmu mulai menumbuhkan taring. Sekolah itu... Yayasan Sulistyo... itu bukan hanya tentang buku. Itu tentang membuktikan bahwa kita bisa menang tanpa harus menjadi seperti mereka."
Rian terdiam cukup lama. Deru sirine polisi di kejauhan menjadi latar belakang keheningan mereka. Perlahan, kepalan tangan Rian mengendur. Ia menunduk, bahunya gemetar. Amarahnya luluh menjadi tangis yang selama ini ia tahan sejak penyekapan tadi.
Andin mendekat dan merangkul mereka berdua. Di bawah langit Jakarta Utara yang biasanya tertutup polusi, malam itu bintang-bintang seolah mengintip malu-malu.
"Ayo pulang," bisik Andin. "Besok ada kelas pagi. Anak-anak pelabuhan sudah menunggu guru mereka."
Andi mengangguk. Ia tahu, perjuangan yang sesungguhnya bukan lagi melawan PT. Delta, melainkan menjaga api di dalam hati Rian agar tetap menjadi cahaya, bukan kebakaran yang menghanguskan.
Saat mereka berjalan menuju mobil, Andi sempat menoleh ke arah pabrik tua itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak lagi melihat tempat pembunuhan pertamanya. Ia hanya melihat sebuah monumen masa lalu yang kini benar-benar telah runtuh.
Tiga minggu setelah malam di pabrik baja, suasana di Sekolah Cahaya Bahari tampak berbeda. Bukan karena cat dindingnya yang baru, melainkan karena keheningan yang terasa lebih "berisi". Andi berdiri di selasar, memperhatikan Rian yang sedang membongkar mesin motor tua di pojok bengkel. Anak itu bekerja dengan ketelitian yang menakutkan, gerakannya presisi, namun ia hampir tidak pernah bicara sejak kejadian itu.
"Dia terlalu fokus," suara Andin memecah lamunan Andi. Ia datang membawa dua gelas kopi tubruk, aromanya menyatu dengan bau pelumas mesin.
Andi menerima gelas itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya yang masih menyisakan bekas luka parut. "Fokus adalah senjata, Ndin. Tapi kalau fokusnya dipakai untuk mengubur amarah, itu bisa jadi bom waktu."
Andin menyandarkan bahunya di tiang kayu. "Dia bertanya padaku kemarin. Tentang apa yang terjadi pada aset-aset PT. Delta setelah pemiliknya dipenjara. Dia mulai membaca berita ekonomi, Andi. Bukan lagi komik atau majalah otomotif."
Andi menyesap kopinya, matanya tetap tertuju pada Rian. "Dia ingin tahu bagaimana raksasa itu bekerja agar dia bisa menjatuhkannya jika mereka bangun lagi. Dia kehilangan masa mudanya di pabrik itu, Ndin. Sama seperti aku kehilangan punyaku di selokan pelabuhan."
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang sekolah. Bukan mobil polisi, bukan pula mobil jurnalis. Seorang pria muda dengan setelan rapi keluar, membawa sebuah koper perak. Ia tampak asing di lingkungan kumuh itu, seperti anomali di tengah deretan gudang tua.
Rian berhenti memutar kunci pas. Ia berdiri, matanya menyipit tajam, tangannya yang berlumuran oli mengepal di samping paha.
Pria itu berjalan mendekat, melewati gerbang yang kini sudah diperbaiki. Ia berhenti tepat di depan Andi dan Andin. "Tuan Andi? Saya adalah kurator legal yang ditunjuk untuk mengurus likuidasi beberapa aset pribadi Sang Pendiri."
Andi tidak bergerak. "Kami tidak butuh sumbangan dari darah yang sudah tumpah."
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang profesional namun hambar. "Ini bukan sumbangan. Ini adalah wasiat tertulis yang dibuat sepuluh tahun lalu, jauh sebelum kasus ini mencuat. Ada sebuah lahan di pesisir utara, seluas tiga hektar, yang secara hukum terdaftar atas nama Sulistyo—ayah Anda. PT. Delta hanya 'meminjamnya' selama tiga dekade."
Andi tertegun. Ia menoleh ke arah Rian yang kini sudah berdiri di belakangnya.
"Lahan itu," lanjut pria itu, "adalah lokasi yang dulu direncanakan untuk sekolah buruh. Kami di sini untuk mengembalikan hak milik tersebut kepada Yayasan Sulistyo. Beserta seluruh bunga kompensasi penggunaan lahan selama tiga puluh tahun."
Andin menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. Keadilan ternyata punya cara yang aneh untuk pulang.
Namun, Andi justru menatap Rian. "Kau dengar itu, Rian? Itu milik ayahku. Bukan hasil rampasan, bukan hasil kekerasan. Itu adalah hak yang kembali karena kebenaran."
Rian menatap koper perak itu, lalu menatap Andi. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, otot wajahnya mengendur. "Jadi... kita tidak perlu bertarung lagi, Bang?"
Andi merangkul pundak Rian, menariknya masuk ke dalam lingkaran pembicaraan. "Bertarung itu melelahkan, Rian. Membangun... itu yang jauh lebih sulit. Sekarang kita punya tanahnya. Pertanyaannya, apakah kau siap membantu kakimu tetap berpijak di sana tanpa harus menendang orang lain?"
Rian terdiam, lalu perlahan ia mengangguk. Ia mengambil kain lap untuk membersihkan oli di tangannya.
"Ada satu hal lagi," pria kurator itu menyela sambil membuka koper. "Ada sebuah surat pribadi dari mendiang sekretaris yang Anda temui di Bogor. Beliau menitipkan ini sebelum meninggal dunia dua hari yang lalu."
Andi menerima amplop kusam itu. Di dalamnya bukan hanya kertas, tapi sebuah kunci tua berkarat dengan gantungan kayu bertuliskan: Gudang Literasi 1994.
Masa lalu belum sepenuhnya selesai berbicara, tapi kali ini, ia datang dengan kunci, bukan dengan belati.
Gudang itu terletak di sudut paling sunyi di pelabuhan, sebuah bangunan beton tua yang nyaris tertelan oleh karat dan lumut laut. Andi, Andin, dan Rian berdiri di depan pintunya yang berat. Saat kunci tua itu diputar, suara logam yang bergesekan seolah meratapi waktu yang telah lama membeku.
Debu menari-nari di bawah sorot lampu senter Andi. Di dalamnya, tidak ada tumpukan uang atau dokumen rahasia perusahaan. Ruangan itu dipenuhi oleh rak-rak kayu yang berjejer rapi, memuat ribuan buku yang kini sudah menguning.
"Ini bukan gudang logistik," bisik Andin, jemarinya menyentuh punggung buku Dasar-Dasar Ekonomi Kerakyatan yang sampulnya sudah rapuh. "Ini perpustakaan."
Andi berjalan ke meja kayu di tengah ruangan. Di sana, sebuah mesin ketik manual masih terpasang kertas yang mengering. Ia membaca baris terakhir yang tertulis di sana: 'Pendidikan adalah satu-satunya senjata yang tidak bisa mereka sita darimu.'
"Ayahmu tidak hanya ingin membangun sekolah, Andi," suara Andin bergetar karena haru. "Dia sudah mulai membangun isinya sebelum dia pergi."
Rian mengambil sebuah buku kecil dari rak paling bawah. Itu bukan buku teori, melainkan catatan harian teknis tentang cara memperbaiki mesin kapal dengan bahasa yang sangat sederhana, agar bisa dipahami oleh buruh yang tidak lulus SD. Di sudut halaman, ada sketsa tangan seorang pria yang sedang mengajar anak-anak di pinggir dermaga.
"Dia... dia memikirkan kita," ucap Rian pelan. Amarah yang biasanya menghuni matanya perlahan luruh, digantikan oleh kekaguman yang tulus. "Dia tidak memikirkan cara membunuh PT. Delta. Dia memikirkan cara membuat buruh tidak lagi bisa dibodohi."
Andi terdiam, menatap bayangannya di kaca jendela gudang yang buram. Selama ini ia mengira kekuatannya ada pada tinjunya, pada kemampuannya bertahan di jalanan yang keras. Namun di ruangan ini, ia menyadari bahwa warisan aslinya adalah kecerdasan dan kepedulian.
"Bang," Rian menoleh, memegang buku catatan teknik itu dengan erat. "Boleh aku yang mengurus bagian mekanika di sekolah baru nanti? Aku ingin meneruskan catatan ini. Menambahinya dengan teknologi mesin yang sekarang."
Andi tersenyum, senyum paling lepas yang pernah dilihat Andin. "Itu tugasmu, Rian. Aku akan mengurus manajemennya, dan Andin akan memastikan kurikulum kita tidak kalah dengan sekolah di pusat kota."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari pintu gudang yang terbuka. Komisaris Wijaya berdiri di sana, tanpa seragam, hanya mengenakan jaket kulit tua.
"Aku tahu aku akan menemukan kalian di sini," kata Wijaya. Ia melangkah masuk, memandang ribuan buku itu dengan hormat. "Andi, ada kabar dari kejaksaan. Sang Pendiri tidak akan pernah keluar dari penjara. Namun, ada beberapa faksi di dalam perusahaan yang mencoba menjual aset lahan ayahmu secara ilegal sebelum proses likuidasi selesai."
Andi mengepalkan tangannya, tapi kali ini bukan untuk memukul. "Mereka tidak akan bisa, Pak. Kami punya sertifikat aslinya sekarang."
"Bukan itu masalahnya," Wijaya memberikan sebuah map hitam. "Mereka tidak bermain hukum lagi. Mereka menyewa 'pembersih' untuk meratakan lahan itu besok pagi. Mereka ingin menghapus sejarah sebelum kalian sempat membangun apa pun di sana."
Andi menatap Andin dan Rian. Kedamaian yang baru saja mereka rasakan kembali terusik. Namun kali ini, Andi tidak merasa perlu menjadi monster.
"Biarkan mereka datang," kata Andi tenang. "Tapi kali ini, mereka tidak akan berhadapan dengan Cobra. Mereka akan berhadapan dengan seluruh buruh pelabuhan yang bukunya ada di ruangan ini."