Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Matahari pukul satu siang di Desa Asih benar-benar tanpa ampun. Aspal jalanan yang mulai retak seolah mengeluarkan uap panas yang langsung menembus sol sepatu kets milik Mika. Gadis itu berkali-kali menyeka keringat yang mengucur dari dahi, merusak riasan tipis yang tadi sempat ia poles agar terlihat sedikit "manusiawi" di depan sang Kepala Desa.
"Duhh, panas banget sih! Ayo Siti, Asia, jalan yang cepet keburu kulit gue gosong nih!" keluh Mika sambil mengangkat map plastik di atas kepalanya, mencoba mencari sedikit bayangan. "Lagian si Kades Dajjal itu kayak nggak punya jam aja. Nanti sore kan bisa, atau besok pagi pas udara masih seger. Ini lagi panas-panasnya disuruh ke kantor cuma buat tanda tangan, berasa dia artis papan atas aja yang jadwalnya padat!"
"Sabar, Mik. Kan lo sendiri yang pengen program kerja ini cepet sah biar kita bisa langsung eksekusi," sahut Siti yang juga tampak kepayahan, wajahnya merah padam karena gerah.
"Ya tapi nggak jam segini juga, Ti! Dia itu sengaja banget mau ngerjain gue, biar gue makin kusam. Pasti dia seneng liat muka gue menderita begini," rutuk Mika lagi. Langkah kakinya yang jenjang dihentak-hentakkan ke tanah, menunjukkan betapa dongkol hatinya.
Begitu bangunan Balai Desa yang bercat putih itu terlihat, Mika mempercepat langkahnya. Ia sudah menyiapkan mental untuk kembali berdebat atau setidaknya memberikan tatapan paling judes yang ia miliki. Namun, saat ia sampai di depan beranda kantor Kepala Desa yang sedikit terbuka, langkahnya mendadak melambat. Bahkan, ia hampir saja menabrak Asia yang berhenti mendadak di depannya.
Dari dalam ruangan yang jendelanya terbuka lebar, terdengar sebuah suara yang sangat asing bagi telinga Mika. Bukan suara berat yang dingin, bukan nada otoriter yang menyebalkan, melainkan suara tawa. Tawa yang lepas, renyah, dan terdengar sangat tulus.
Mika mengintip dari balik pilar kayu. Di sana, di balik meja kayu besarnya, Alvaro sedang duduk santai. Ia tidak memakai jaket denim atau kemeja flanel. Ia hanya memakai kaos polo berwarna hitam yang santai. Di depannya, duduk seorang cewek muda berambut panjang yang dikuncir kuda, mengenakan dress bunga-bunga yang tampak segar.
Cewek itu tertawa sambil memukul pelan lengan Alvaro, dan yang membuat jantung Mika mendadak terasa seperti diremas adalah... Alvaro membalasnya dengan senyuman lebar hingga deretan giginya yang putih terlihat. Ia bahkan mengacak rambut cewek itu dengan gerakan yang sangat akrab—bahkan cenderung manis.
"Dih, bisa ketawa juga dia? Gue kira dia cuma bisa nyuruh-nyuruh kayak mandor atau ngebentak orang kayak robot!" gumam Mika sinis. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyelinap di ulu hatinya—rasa panas yang lebih menyengat daripada terik matahari di luar sana.
"Mika, mulut lo!" bisik Siti sambil menyikut pinggang Mika. "Inget, kita ke sini mau urusan kerjaan, bukan mau jadi intel gosip."
"Bodo amat! Gue udah panas-panasan ke sini, dia malah asyik pacaran!" Mika mendengus keras, sengaja membuat suara langkah kakinya terdengar nyaring saat menaiki tangga kayu beranda.
TOK! TOK! TOK!
Mika mengetuk pintu kayu itu dengan tenaga yang sedikit berlebihan. Suara tawa di dalam ruangan seketika berhenti. Alvaro menoleh, ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap—kembali datar, kembali kaku, seolah tawa tadi hanyalah halusinasi Mika belaka.
"Masuk," ucap Alvaro pendek.
Mika melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, diikuti Siti dan Asia yang tampak canggung. Mata Mika langsung tertuju pada cewek muda itu. Dari dekat, cewek itu terlihat sangat cantik dan ramah, jauh sekali dari kesan "judes" yang dimiliki Mika saat ini.
"Oh, mahasiswi KKN yang kemarin ya?" tanya cewek itu dengan suara lembut. Ia berdiri dan memberikan senyum manis pada Mika. "Kenalin, aku Sarah."
Mika hanya membalas dengan anggukan singkat yang kaku. "Mikayla."
"Sarah ini pengurus perpustakaan desa sekaligus... kerabat jauh saya," sela Alvaro dengan nada yang seolah ingin memperjelas posisi, namun bagi Mika, penjelasan itu malah terdengar mencurigakan.
"Oh, pantesan akrab banget. Sampai ketawa-tawa kenceng gitu kedengeran sampai luar. Maaf ya kalau kedatangan kami mengganggu waktu 'istirahat' Bapak yang berharga," sindir Mika telak. Ia membanting map di atas meja Alvaro dengan sengaja. "Ini mapnya. Silakan ditandatangani, biar kami nggak perlu lama-lama di sini."
Alvaro menatap map itu, lalu menatap Mika. Ia menyadari wajah Mika yang merah dan pelipisnya yang basah oleh keringat. Ada kilatan jenaka yang kembali muncul di mata gelapnya.
"Kamu marah karena cuaca panas, atau karena saya sedang tertawa dengan Sarah?" tanya Alvaro tenang, sambil meraih pulpennya.
"Dih! Pede banget! Siapa yang marah? Saya cuma gerah! Kulit saya mahal harganya kalau sampai gosong gara-gara nungguin Bapak pacaran!" balas Mika berapi-api.
Sarah terkekeh kecil, ia seolah bisa membaca apa yang sedang terjadi. "Kayaknya aku balik ke perpus dulu ya, Mas Al. Kasihan ini adek-adek mahasiswanya kayaknya udah butuh kipas angin."
Sarah menepuk bahu Alvaro, lalu berpamitan pada Mika dengan sopan. Begitu Sarah keluar, suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin—atau mungkin hanya perasaan Mika saja.
Alvaro tidak langsung menandatangani berkas itu. Ia justru menyandarkan punggungnya di kursi, memutar-mutar pulpen di jarinya sambil terus menatap Mika yang berdiri dengan napas memburu.
"Siti, Asia, kalian bisa tunggu di luar sebentar? Saya mau bicara soal detail program kerja ini dengan koordinator kalian," perintah Alvaro tanpa mengalihkan pandangan dari Mika.
Siti dan Asia saling lirik, lalu dengan cepat ngacir keluar, meninggalkan Mika sendirian menghadapi sang "Dajjal" Desa Asih.
"Apa lagi sih, Pak? Kan semuanya sudah oke tadi pagi di dermaga. Mbah Darmo juga sudah setuju," ujar Mika tidak sabar.
"Duduk, Mikayla," titah Alvaro. Suaranya rendah tapi tidak bisa dibantah.
Mika duduk dengan kasar di kursi kayu di depan meja Alvaro. "Cepat ya, Pak. Saya ada janji sama warga lain jam dua."
Alvaro menarik kursinya lebih dekat ke arah meja, condong ke depan hingga jarak wajah mereka hanya terhalang meja kayu lebar itu. "Kamu tahu, di desa ini, saya tidak suka orang yang membawa emosi pribadi ke dalam pekerjaan. Tadi itu... kamu terlihat sangat kekanak-kanakan."
Mika tertegun. "Kekanak-kanakan? Bapak yang nggak profesional! Nyuruh orang dateng jam satu siang pas lagi panas-panasnya, eh malah asyik ketawa-tawa sama cewek. Saya ini mahasiswa, Pak, bukan penonton bayaran!"
Alvaro tiba-tiba mengulurkan tangannya melintasi meja. Sebelum Mika sempat menghindar, jari-jari kasar pria itu menyentuh dahi Mika, menyeka setetes keringat yang hampir jatuh ke mata Mika.
Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti aliran listrik yang membakar. Mika terpaku, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kalau kamu tidak tahan panas, jangan jadi orang perairan. Air itu dinamis, dan matahari adalah bagian dari itu," ucap Alvaro pelan, matanya menatap dalam ke mata Mika. "Dan soal Sarah... dia adalah adik sepupu saya. Dia baru pulang dari kota untuk membantu mengelola perpustakaan. Jadi, simpan rasa cemburumu untuk hal yang lebih penting."
"Si-siapa yang cemburu?!" Mika tergagap, wajahnya yang tadi merah karena panas kini semakin merah karena malu yang luar biasa. "Bapak jangan asal tuduh ya!"
Alvaro menyeringai. Ia dengan cepat menandatangani semua berkas di dalam map itu dengan gerakan yang tegas dan elegan. Setelah selesai, ia menutup map itu dan menyodorkannya kembali pada Mika.
"Tanda tangannya sudah sah. Sekarang, pergi ke dapur di belakang balai desa. Saya sudah minta Bu Ida menyiapkan es sirup kelapa buat kalian. Minum dulu sebelum balik ke posko. Saya tidak mau koordinator KKN saya pingsan karena dehidrasi dan... emosi yang meluap-luap."
Mika menyambar map itu dengan cepat. Ia ingin segera pergi dari ruangan yang mendadak terasa menyesakkan ini. Namun, saat ia sampai di pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Makasih... esnya. Tapi tetep aja, Bapak itu nyebelin!" seru Mika, lalu ia berlari keluar dengan jantung yang berdegup kencang.
Alvaro yang ditinggal sendirian di ruangan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia menyentuh ujung jarinya yang tadi sempat menyentuh kulit Mika, lalu tersenyum tipis. "Gadis kota yang menarik," gumamnya pelan.
Dingin yang Menghanyutkan
Di dapur belakang, Mika mendapati Siti dan Asia sudah asyik menyeruput es kelapa segar. Begitu Mika datang, mereka langsung menghujani Mika dengan pertanyaan.
"Gimana, Mik? Dimarahin ya?" tanya Asia.
Mika tidak menjawab. Ia langsung menenggak segelas besar es kelapa itu sampai habis. Dinginnya air kelapa sedikit mendinginkan tenggorokannya, tapi tidak dengan hatinya yang masih berantakan.
"Dia bilang... cewek tadi itu adek sepupunya," gumam Mika pelan.
Siti dan Asia langsung saling lirik dan tertawa serempak. "Tuh kan! Apa gue bilang! Lo cemburu kan?!" goda Siti kencang.
"Nggak! Gue cuma... memastikan relasi sosial di desa ini biar penelitian gue akurat! Udah ah, ayo balik!"
Mika berjalan mendahului mereka, memeluk map yang sudah ditandatangani Alvaro dengan erat. Di dalam hatinya, ia harus mengakui satu hal: tawa Alvaro tadi adalah hal paling berbahaya yang pernah ia temui di Desa Asih. Lebih berbahaya daripada arus sungai di tikungan terdalam sekalipun.