"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
..
Malam itu, langit Jakarta seolah menahan napas. Awan hitam bergulung rendah, menutupi rembulan yang biasanya angkuh menyinari atap-atap mansion elit di kawasan Menteng. Di dalam kamar utama yang luas, suasana justru lebih mencekam daripada badai yang sedang mengancam di luar.
Kalea terbangun dengan perasaan tidak enak yang merayap di tengkuknya. Di sampingnya, Liam Jionel masih terlelap, namun tidurnya tidak tenang. Alis pria itu bertaut, dan sesekali ia meracau pelan—sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan sosok "Dewa Perang" yang biasanya ia tampilkan di depan publik.
Kalea bangkit dengan hati-hati, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap tangannya yang masih mengenakan cincin berlian itu. Kata-kata Clarissa di ponselnya semalam kembali terngiang: “Kau hanyalah nisan hidup.”
Ia menoleh ke arah Liam. Pria ini, yang telah membeli harga dirinya, ternyata hanyalah seorang pengecut yang terjebak dalam bayang-bayang mayat bernama Andini. Kalea merasa jijik, bukan pada Liam, tapi pada nasib yang mempermainkan mereka berdua. Ia adalah replika, sebuah boneka yang diciptakan Tuhan untuk menenangkan rasa bersalah seorang monster.
“Kenapa kau tidak bangun dan membenciku saja, Liam?” bisik Kalea pada kegelapan. “Kenapa kau harus berpura-pura aku adalah dia?”
Tiba-tiba, indra penciuman Kalea menangkap sesuatu yang asing. Aroma sandalwood yang biasanya mendominasi ruangan itu kini tercampur dengan bau yang sangat tajam dan menyengat. Bau bensin.
Jantung Kalea berdegup kencang. Ia menoleh ke arah pintu balkon yang sedikit terbuka. Di sana, di balik tirai sutra yang melambai ditiup angin, ia melihat kilatan cahaya oranye yang merayap cepat. Bukan cahaya lampu taman, tapi lidah api yang mulai menjilat bingkai kayu balkon.
“Liam! Bangun!” Kalea berteriak sambil mengguncang bahu kokoh pria itu.
Liam tersentak bangun, matanya yang tajam seketika waspada. Ia mencium bau asap yang mulai memenuhi ruangan. “Apa yang terjadi?”
“Api! Balkonnya terbakar!”
Liam melompat dari tempat tidur, meraih jubah mandinya dan segera menarik tangan Kalea. Namun, saat ia membuka pintu kamar menuju lorong, asap hitam pekat langsung menyerbu masuk. Suara ledakan kecil terdengar dari arah lantai bawah. Sistem alarm kebakaran mansion yang super canggih entah kenapa tetap membisu—sebuah tanda bahwa ini adalah sabotase yang terencana dengan sangat rapi.
“Sial! Clarissa benar-benar gila!” desis Liam. Ia menyadari bahwa api tidak hanya berasal dari satu titik, tapi sengaja disulut di sekeliling kamar utama untuk mengurung mereka di dalam.
Liam menarik Kalea menuju kamar mandi, membasahi dua handuk besar di bawah kucuran air. Ia memberikan satu pada Kalea. “Tutup hidungmu. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi!”
Kalea menatap mata Liam. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat bayangan Andini di sana. Ia melihat ketakutan nyata—ketakutan kehilangan dirinya, bukan kehilangan bayangan masa lalu.
Mereka menerjang asap pekat di lorong. Panas mulai memanggang kulit mereka. Suara kayu yang berderak dan kaca yang pecah menciptakan simfoni kematian yang mengerikan. Di ujung lorong, tangga menuju lantai bawah sudah tertutup api yang berkobar hebat.
“Kita terjebak!” teriak Kalea di balik handuk basahnya. Paru-parunya mulai terasa terbakar.
Liam menatap sekeliling dengan kalap. Ia menarik Kalea menuju sebuah pintu kecil di ujung koridor—pintu menuju atap. Mereka berlari menaiki tangga sempit, sementara api terus mengejar dari belakang seperti predator yang lapar. Begitu sampai di atap, angin dingin malam menyambut mereka, namun pemandangan di bawah jauh lebih mengerikan. Bagian bawah mansion sudah dikepung api, dan di kejauhan, pintu gerbang tertutup rapat, menghalangi bantuan masuk.
Liam membawa Kalea ke tepi balkon atap. Di bawah, di area taman yang gelap, beberapa pria berjaket hitam tampak berdiri memperhatikan api dengan tenang. Salah satu dari mereka memegang ponsel, seolah melaporkan bahwa misi hampir selesai.
“Mereka ingin kita mati di sini,” gumam Kalea, suaranya hilang ditelan deru api.
Liam mencengkeram bahu Kalea, memaksanya menatap matanya. “Kau tidak akan mati, Kalea. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi abu seperti dia.”
Kalimat itu menyakitkan bagi Kalea. Seperti dia. Bahkan di ambang kematian pun, Liam masih membandingkannya dengan Andini. Namun, sebelum Kalea bisa membalas, Liam mengeluarkan ponsel satelit dari saku jubahnya.
“Aris! Helikopter sekarang! Atap mansion Menteng! Jika kau terlambat sedetik saja, kau akan mengurus mayatku!” Liam berteriak ke ponselnya sebelum membantingnya ke lantai.
Api mulai merayap naik ke struktur atap. Suhu udara semakin tidak tertahankan. Kalea merosot ke lantai beton yang panas, napasnya tersengal. Rasa takut yang selama ini ia tekan akhirnya meledak. Ia teringat ibunya. Ia teringat betapa sia-sianya pengorbanannya jika ia berakhir menjadi arang di rumah mewah ini.
Liam berlutut di sampingnya, memeluk tubuh Kalea yang gemetar dengan sangat erat. “Dengarkan aku, Kalea. Bernapaslah. Jangan tutup matamu!”
“Kenapa kau tidak membiarkanku saja, Liam?” isak Kalea. “Biarkan aku mati. Bukankah itu yang kau inginkan? Menyatukanku dengan bayangan Andini di neraka?”
Liam membeku. Ia menangkup wajah Kalea dengan kedua tangannya yang kotor karena jelaga. “Kau salah. Aku membelimu karena kau mirip dengannya, itu benar. Tapi malam ini, saat aku melihatmu berdiri di depan cermin dan menantang hantuku... aku menyadari sesuatu yang mengerikan.”
Suara deru mesin helikopter mulai terdengar di kejauhan, membelah keheningan malam yang mencekam.
“Aku tidak ingin menyelamatkan Andini lewat dirimu, Kalea,” bisik Liam tepat di telinga gadis itu, suaranya bergetar karena emosi yang belum pernah ia tunjukkan. “Aku ingin menyelamatkanmu. Karena kau... kau adalah api yang sebenarnya. Dan aku tidak sanggup jika api ini padam.”
Kalea menatap Liam dengan pandangan kosong. Apakah ini pengakuan cinta atau hanya bentuk obsesi lain yang lebih gila?
Helikopter Jionel Group muncul di atas mereka, menyorotkan lampu searchlight yang menyilaukan ke arah atap yang mulai runtuh. Sebuah tangga tali diturunkan. Angin dari baling-baling helikopter sempat mengusir asap sejenak, memberikan mereka ruang untuk bernapas.
“Naiklah!” perintah Liam sambil membantu Kalea berdiri.
Kalea meraih tangga tali itu dengan sisa tenaganya, memanjat naik sementara Liam berada tepat di bawahnya, menjaganya agar tidak jatuh. Begitu mereka berhasil ditarik masuk ke dalam kabin helikopter, Kalea jatuh pingsan di pangkuan Liam.
Liam menatap ke bawah, ke arah mansion-nya yang kini menjadi obor raksasa di tengah kegelapan Menteng. Ia melihat para pria berjaket hitam di taman mulai melarikan diri saat melihat helikopter datang.
“Aris, lacak nomor yang menghubungi mereka,” ucap Liam melalui headset kepada asistennya yang berada di kokpit. Suaranya kini kembali sedingin es, namun matanya tidak lepas dari wajah Kalea yang pucat dan penuh debu. “Dan hubungi tim pembersih. Aku ingin Clarissa tahu bahwa dia baru saja membakar tempat tidurnya sendiri. Besok pagi, aku ingin dia tidak punya apa-apa lagi—bahkan udara untuk bernapas pun harus atas izin dariku.”
Helikopter itu melaju menjauh, meninggalkan abu dari sangkar emas yang telah hancur. Di dalam kabin, Liam memeluk tubuh Kalea yang tak sadarkan diri dengan sangat posesif. Ia tahu, mulai malam ini, kontrak satu miliar itu sudah berakhir. Tidak ada lagi tuan dan tawanan. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang sama-sama rusak, terikat oleh darah, api, dan rahasia yang jauh lebih gelap daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.
Di sebuah lokasi rahasia di pinggiran kota, Clarissa menatap layar televisinya yang menyiarkan berita mendadak tentang kebakaran hebat di kediaman Jionel. Ia tersenyum puas, menyesap champagne-nya dengan elegan.
“Selamat tinggal, nisan hidup,” gumamnya.
Namun, senyumnya memudar saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Liam. Hanya berisi satu baris kalimat yang sanggup membuat jantungnya berhenti berdetak:
“Kau lupa satu hal, Clarissa. Api tidak bisa dibunuh dengan api. Sampai jumpa di neraka besok pagi.”
Clarissa menjatuhkan gelasnya hingga hancur berkeping-keping. Gelas kristal itu pecah, sama seperti rencananya yang kini berbalik menjadi bencana. Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar mendekat ke arah penthouse-nya. Malam ini, perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.