Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Matahari pagi baru saja mengintip dari ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan melalui jendela kaca besar di ruang VIP rumah sakit. Di dalam ruangan yang tenang itu, Paroline tertidur lelap di sofa panjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga dagu. Wajahnya tampak begitu lelah setelah ketegangan semalam, namun guratan kedamaian terpancar di sana karena ia tahu putranya berada di tangan yang tepat.
Fharell, sang Papa Muda, sama sekali tidak memejamkan mata. Alih-alih tidur di tempat tidur pendamping yang nyaman, ia menghabiskan malam dengan duduk di kursi samping bed Andreas Sunny, memandangi angka-angka di monitor detak jantung seolah itu adalah misi paling krusial dalam hidupnya.
Sekitar pukul enam pagi, Andreas mulai menggeliat. Mata bulatnya terbuka, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Fharell yang tersenyum lebar meski ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
"Hei, Jagoan Papa sudah bangun?" bisik Fharell sangat pelan, tidak ingin merusak tidur nyenyak istrinya.
Andreas tidak menangis. Panas badannya sudah turun drastis, menyisakan kulit yang sedikit lembap namun segar. Ia menarik ujung kaos Fharell, mengisyaratkan ingin turun dari ranjang. Fharell dengan sigap menggendongnya, melepaskan kabel-kabel monitor dengan bantuan perawat yang masuk, lalu memutuskan untuk membawa Sunny jalan-jalan menghirup udara pagi di taman rumah sakit.
Fharell berjalan menyusuri koridor dengan Andreas di gendongannya. Meskipun hanya memakai kaos oblong putih yang sedikit kusut dan sandal selop, aura ketampanannya tetap tak terbantahkan. Ia terlihat seperti model majalah parenting yang sedang menjalankan tugas pagi.
Baru saja ia keluar dari lift di lantai dasar, ia dikejutkan oleh kehadiran mertuanya. Tuan Benedicta berjalan dengan langkah tegap, wajahnya yang biasanya kaku tampak penuh kekhawatiran.
"Fharell? Bagaimana keadaan Andreas?" tanya Tuan Benedicta langsung tanpa basa-basi.
Fharell tersenyum sopan, ia menepuk punggung Andreas yang sedang asyik mematuk-matuk bahu Fharell. "Sudah mendingan, Yah. Panasnya sudah turun sejak jam empat subuh tadi. Sekarang dia sudah minta jalan-jalan."
Tuan Benedicta memperhatikan menantunya. Ia melihat rambut Fharell yang berantakan dan matanya yang merah. "Kau tidak tidur sama sekali?"
"Tidak bisa, Yah. Saya takut kalau mataku terpejam, panasnya naik lagi," jawab Fharell jujur.
Tuan Benedicta terdiam sejenak. Ada rasa hormat yang tumbuh di hatinya melihat dedikasi pria muda ini. "Kau butuh istirahat, Fharell. Pergilah sarapan, biarkan aku yang menjaga cucuku sebentar."
Fharell baru saja hendak menjawab ketika sebuah suara melengking yang sangat ia kenal menggema di lobi rumah sakit.
"MANA CUCU BUNDA?! MANA ANDREAS?!"
Bunda Fharell muncul seperti angin puyuh, diikuti oleh Tuan Desmon yang berjalan santai di belakangnya sambil membawa beberapa tas berisi buah-buahan dan mainan dinosaurus. Bunda Fharell tampil sangat modis bahkan di pagi buta, dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya.
"Fharell! Ya ampun, anakku sayang, kamu kucel sekali!" seru Bundanya sambil mencubit pipi Fharell, lalu beralih dengan kecepatan kilat mengambil Andreas dari gendongan Fharell. "Ouh, Andreas sayang... cucu ganteng Oma! Kasihan sekali pipinya sampai agak tirus begini. Pasti karena kuman-kuman jahat itu ya?"
Tuan Desmon menepuk bahu Fharell. "Bagus, Jagoan. Menjadi ayah memang ujiannya di malam hari. Kau lulus ujian pertama."
"Tapi Ayah, aku hampir jantungan semalam," keluh Fharell dengan gaya manjanya pada sang ayah.
Bunda Fharell langsung heboh lagi. "Jantungan kenapa? Kamu tidak pingsan kan? Nanti kalau kamu pingsan, siapa yang jaga Paro? Oh iya, mana menantu Bunda yang cantik itu?"
"Paro sedang tidur, Bun. Kasihan, dia sangat kecapekan semalam karena panik," jelas Fharell.
"Bagus, biarkan dia tidur. Wanita cantik butuh beauty sleep setelah drama medis," Bunda Fharell mulai sibuk membongkar tas yang dibawa suaminya. "Lihat ini, Oma bawakan mainan dinosaurus yang bisa bunyi, robot-robotan, dan ini... baju tidur baru yang super lembut!"
Fharell tertawa melihat antusiasme ibunya. Ia kembali menjadi sosok Papa muda yang sangat bersemangat. "Bun, tadi malam aku hampir saja membelikan Sunny seluruh isi toko mainan lewat online karena takut dia trauma bangun di rumah sakit."
"Itu baru anak Bunda!" seru ibunya bangga.
Meskipun lelah, Fharell tidak bisa berhenti bercerita tentang betapa hebatnya dia semalam, menurut versinya sendiri. Ia menjelaskan pada kedua kakek itu bagaimana ia tetap tenang, padahal ia panik luar biasa dan bagaimana ia berdiskusi dengan dokter seolah-olah ia adalah ahli medis profesional. (🤣)
"Yah, Bun, Tuan Benedicta... kalian tahu? Tadi malam saat dokter memeriksa Andreas, aku sampai mencatat frekuensi bersinnya. Aku tidak mau ada detail yang terlewat," lapor Fharell dengan mata berbinar.
Tuan Benedicta hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Kau terlalu berlebihan, Fharell. Tapi setidaknya kau bertanggung jawab."
"Tentu saja! Andreas ini kan aset masa depanku. Dia yang akan menemaniku main bola nanti," Fharell mengambil kembali Andreas dari bundanya dan mengangkat bayi itu tinggi-tinggi. "Benar kan, Sunny? Kita harus cepat sembuh biar bisa bikin Papa bangga lagi!"
Fharell benar-benar menikmati perannya. Baginya, menjadi ayah bukan hanya soal status, tapi petualangan baru yang jauh lebih seru daripada kuliah atau bisnis keluarga. Ia tidak peduli jika penampilannya sekarang berantakan atau jika ia belum mandi. Selama Andreas sehat dan Paroline bisa beristirahat, ia merasa menjadi pria paling perkasa di dunia.
"Sudah, sekarang kalian semua ke kamar saja. Aku mau ajak Andreas lihat ikan di kolam taman dulu," kata Fharell dengan penuh energi.
"Fharell, kau itu butuh tidur!" teriak Bundanya.
"Nanti saja, Bun! Adrenalin Papa Muda lagi tinggi!" sahut Fharell sambil berlari kecil menuju taman, meninggalkan para orang tua yang hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol namun tulus dari pemuda itu.
Di taman, di bawah sinar matahari pagi, Fharell mendudukkan Andreas di rumput. Ia berlutut di depan putranya, memperbaiki letak jaket Andreas dengan telaten.
"Sunny, nanti kalau Mama bangun, jangan bilang Papa sempat nangis dikit di pojokan kamar mandi tadi malam ya? Itu rahasia pria," bisik Fharell sambil mengedipkan sebelah matanya.
Andreas hanya membalas dengan tawa kecil dan tarikan pada kaos Fharell, seolah mengerti bahwa papanya adalah pahlawan paling konyol namun paling menyayanginya di seluruh alam semesta.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰