“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRIDGE - CH 18 : Adu Mekanik
Kriet... Kriet...
Langkah kaki itu terdengar sangat lambat, seolah sengaja mempermainkan psikologis korbannya. Setiap kali tapak kaki tak kasat mata itu menginjak anak tangga kayu yang menghubungkan lantai satu dengan mezzanine, ada suara air yang merembes. Blesek. Blesek. Bara Mahendra menahan napas. Posisi tidurnya kini sudah berubah menjadi posisi ninja siaga satu. Punggungnya menempel rapat pada dinding triplek kamarnya, sementara tangan kanannya menggenggam erat gagang pisau cake bergerigi yang panjangnya nyaris menyamai pedang samurai pendek.
Aroma di udara semakin tidak masuk akal. Bau garam laut yang tajam, amis ikan busuk yang sukses mengocok isi perut, bercampur dengan wangi bunga melati yang kelewat pekat. Kombo aroma ini lebih mematikan daripada bau durian busuk di dalam angkot tanpa AC.
Kriet... Anak tangga ketujuh. Tinggal tiga anak tangga lagi menuju lantai mezzanine tempat Bara berada.
Suhu ruangan merosot tajam. Kipas angin Cosmos milik Bara yang dalam posisi mati mendadak baling-balingnya berputar sendiri dengan kecepatan rendah. Ngik... ngik... ngik.
Otak Bara berputar liar. Teori konspirasi, doa-doa pendek yang dia ingat dari pelajaran agama SD, sampai hitungan kalkulator kerugian semuanya bercampur aduk.
“Ini setan kecebur laut. Valid. Nggak no debat lagi,” batin Bara panik. “Pasti ngikut gara-gara omongan Mang Ojak tadi! Atau... jangan-jangan dari koin naga emas itu?!”
Pikiran Bara terhenti ketika sebuah tangan pucat pasi yang keriput dan membengkak seperti mayat yang sudah terendam air laut berhari-hari mendadak mencengkeram ujung lantai mezzanine kayu. Air keruh menetes dari sela-sela jarinya yang berkuku panjang dan hitam.
Lalu, sebuah kepala perlahan menyembul ke atas.
Rambutnya panjang, basah kuyup, dan kusut masai, menutupi sebagian wajah yang warnanya seputih kertas HVS. Dari balik rambut basah itu, sebelah mata melotot menatap Bara. Mata yang seluruhnya berwarna hitam legam tanpa bagian putih sama sekali.
Makhluk itu membuka mulutnya perlahan, memamerkan deretan gigi runcing yang kehitaman. Suara erangan parau keluar dari kerongkongannya, diiringi gelembung air dan lumpur laut yang menetes ke atas karpet murah Bara.
"Grrrhhhhhhh...."
Setiap manusia normal yang punya akal sehat pasti akan berteriak histeris, melompat dari mezzanine, dan berlari mendobrak rolling door untuk mencari pertolongan warga.
Tapi, Bara bukanlah manusia normal. Dia adalah bos bakery yang baru saja memegang uang cash dua puluh delapan juta ditambah emas murni senilai dua puluh juta.
Saat mata Bara melihat tetesan air laut berbau lumpur itu mengenai karpetnya, lalu matanya melirik ke arah bawah, tepat ke meja kasir di lantai satu... sebuah kesadaran yang jauh lebih mengerikan dari hantu mana pun menghantam otaknya dengan kekuatan sepuluh skala Richter.
“Bentar... kalau ini setan beneran ngiler... berarti dia bisa bikin basah lantai gue. Kalau dia tadi dari lantai satu... otomatis lantai gw basah, nah ini setan kan dari laut. Berarti dia bawa air laut dan air laut itu korosif, kalau air korosif itu netes ke panel digital brankas baja gue... KONSLET! SETAN DUIT GUE BISA KEKUNCI DAN NGGAK BISA DIBUKA!
Mata Bara yang tadinya memancarkan ketakutan absolut, dalam sepersekian detik berubah menjadi mata seorang predator kapitalis yang hartanya sedang diancam.
Urat di leher Bara menonjol. Pisau cake di tangannya dia genggam semakin erat.
Hantu laut itu bersiap merangkak naik sepenuhnya ke atas mezzanine, mungkin berniat menyajikan jumpscare paling menakutkan abad ini dengan mencekik leher Bara.
Tapi Bara punya rencana lain.
"WOI! MINGGIR LU, BANGSAT! JANGAN SENTUH BRANKAS GUE!"
Raungan Bara membelah keheningan malam Kota X. Tanpa aba-aba, Bara melompat dari kasurnya. Dia tidak mundur. Dia justru berlari maju, langsung menerjang ke arah tangga.
Makhluk gaib itu tampak nge-lag sesaat. Otak (atau apapun yang ada di kepalanya) gagal memproses reaksi korban yang tidak sesuai dengan SOP dunia perhantuan ini. Bukannya lari menjauh, korban ini malah lari menabraknya.
Bara tidak peduli. Dia melompati makhluk yang sedang merangkak di ujung tangga itu layaknya atlet lari gawang. Sepatu kets Bara bahkan sempat menginjak pundak basah si hantu dengan bunyi SQUELCH yang menjijikkan, menjadikannya pijakan untuk melompat turun ke lantai satu.
Makhluk itu terhuyung, nyaris terjengkang dari tangga karena ditendang koki gila.
Bara mendarat dengan tidak mulus di lantai keramik, berguling sekali, lalu langsung melesat menuju meja kasir dengan kecepatan kilat.
"Duit gue... duit gue..." Bara meracau seperti orang kesurupan (padahal yang mau nyurupi ada di tangga).
Dia menyingkirkan karpet di bawah meja kasir, memeluk brankas baja yang tertanam di lantai itu layaknya memeluk anak pertama yang baru lahir. "Aman. Kering. Panel digitalnya belum kena air. Alhamdulillah ya Allah, puji syukur..."
Bara mengelus-elus permukaan baja yang dingin itu, napasnya tersengal-sengal.
Sementara itu, di atas tangga, hantu laut itu perlahan bangkit berdiri. Kalau hantu bisa merasa tersinggung, makhluk ini pasti sedang baper maksimal. Harga dirinya sebagai penunggu pelabuhan berdarah dingin baru saja diinjak-injak, secara harfiah maupun kiasan, demi sebuah kotak besi.
Lampu neon panjang di langit-langit lantai satu tiba-tiba berkedip-kedip cepat. Ceklik... ceklik... ceklik. Suhu ruangan turun semakin drastis hingga embun mulai terbentuk di kaca etalase depan. Hantu laut itu melayang turun dari tangga, ujung kakinya tidak menyentuh lantai. Rambut basahnya melayang-layang menentang gravitasi. Auranya membunuh.
Ia merentangkan kedua tangannya. Pintu-pintu kabinet dapur di bawah meja stainless terbuka dan tertutup sendiri dengan bantingan keras. BRAK! BRAK! BRAK!
Bara, yang masih duduk ngesot memeluk brankasnya, menoleh. Matanya memicing tajam mengamati kekacauan poltergeist itu. Bukannya komat-kamit baca ayat kursi, tangan kanan Bara justru mengacungkan pisau roti ke arah si hantu.
"Eh, Setan! Berhenti lu!" teriak Bara ngegas. Suaranya serak namun penuh ancaman nyata. "Lu tau nggak engsel kabinet itu baru gue ganti bulan kemaren pake duit seratus ribu?! Kalo jebol lu mau ganti rugi?! Hah?!"
Hantu laut itu menghentikan bantingan pintunya. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara lampu yang masih berkedip. Makhluk itu memiringkan kepalanya dengan patah-patah, mengeluarkan suara gemeletuk tulang leher yang mengerikan. Krek... krek... krek.
Makhluk itu mengangkat sebelah tangannya. Secara tiba-tiba, sebuah mangkok keramik putih yang tergeletak di atas etalase melayang ke udara.
Bara memelotot. "Woi... woi... turunin. Itu mangkok sisa suvenir nikahan orang, harganya gopek sih, TAPI KALO PECAH LU YANG NYAPU!"
Hantu itu mengibaskan tangannya. PRANG! Mangkok itu melesat menghantam dinding dan hancur berkeping-keping.
Bara menganga. Darahnya mendidih. Uang dua puluh delapan juta di dalam brankas ini telah memberinya buff keberanian yang tidak masuk akal.
"Oh, lu ngajak adu mekanik beneran?!" Bara langsung menarik laci meja kasirnya dengan kasar. Di dalam laci itu, ada kantong plastik kresek merah berisi bawang putih sisa Lintang masak nasi goreng kemarin, dan sebotol garam dapur.
Bara tahu teori basic pengusiran makhluk halus dari film-film horor Hollywood. Garam!
"Rasain nih anjir!" Bara melempar segenggam garam dapur kasar dengan sekuat tenaga ke arah hantu yang sedang melayang itu.
Taburan garam itu menembus tubuh tembus pandang si hantu, berjatuhan ke lantai tanpa efek apa-apa.
Hantu laut itu terdiam. Seolah sedang menatap Bara dengan tatapan meremehkan.
"Sialan, teori bule nggak mempan disini!" rutuk Bara panik.
Hantu itu kembali mengangkat tangannya. Kali ini, incarannya bukan barang murah. Sebuah mixer industri merek KitchenAid warna merah seharga delapan juta rupiah mulai bergetar di atas meja kerjanya. Mesin berat itu perlahan terangkat dari meja sejauh dua sentimeter.
Mata Bara nyaris copot dari rongganya. Kalau mangkok yang pecah dia bisa ikhlas. Tapi KitchenAid?! Itu adalah separuh nyawa Bara's Kitchen! Itu adalah mesin pencetak uangnya!
"JANGAN SENTUH MIXER GUE, ANAK HARAM JADAH!"
Bara langsung melepaskan pelukannya pada brankas. Dia tidak peduli lagi pada bau amis ikan busuk. Dia tidak peduli pada wajah pucat bermata hitam itu. Bara mengambil langkah seribu, berlari menuju mixer berharga fantastis itu.
Bara memeluk mixer seberat lima belas kilogram itu erat-erat dengan tubuhnya, seolah menjadi tameng manusia. Hawa dingin yang memancar dari hantu itu menusuk punggung Bara hingga rasanya membeku, tapi Bara tidak melepaskan pelukannya pada mesin mixer itu.
"Kalo lu mau ngancurin ruko ini, bunuh gue dulu!" raung Bara, matanya menatap tajam langsung ke mata hitam si hantu. "Lu tau susahnya nyicil mixer ini?! Dua tahun gue makan mie instan telornya dibagi dua! Lu nggak punya hak buat ngancurin aset gue!"
Lampu neon kembali berkedip liar. Ceklik! Ceklik!
"DAN JANGAN MAENIN LAMPU SETAAN! LISTRIK GUE PAKE TOKEN! TARIKAN DAYANYA NAIK KALO LU KEDAP-KEDIPIN GITU! MATIIN AJA SEKALIYAAAN!" Bara berteriak histeris, menunjuk lampu di langit-langit dengan pisau rotinya.
Benar saja, hantu itu tampaknya sangat terganggu dengan teriakan Bara yang volume-nya mengalahkan TOA masjid. Tiba-tiba... PET. Lampu neon mati total.
Kini ruko itu benar-benar gelap gulita. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah lampu jalanan berwarna kuning yang masuk dari celah atas rolling door.
Bara masih memeluk mixer-nya, terengah-engah. Matanya mencoba beradaptasi dengan kegelapan. Bau melati dan amis laut itu semakin menusuk hidung, pertanda makhluk itu berada sangat dekat.
Benar saja, dari sudut mata kanannya, Bara melihat sosok pucat itu melayang mendekat. Wajah mengerikannya kini hanya berjarak satu jengkal dari wajah Bara. Air laut dingin menetes dari rambutnya, jatuh mengenai pipi Bara.
Suara bisikan parau terdengar langsung di dalam telinga Bara. "Keeembaaalliiikaaannnn..."
Bara merinding hebat. Bulu kuduknya berdiri semua. Otot-ototnya kaku. Ini adalah titik di mana keberanian asalnya mulai luntur digantikan oleh teror primitif.
Namun, otaknya masih menyaring kata-kata hantu itu. Kembalikan? Kembalikan apa?
Bara tidak mengambil apapun dari pelabuhan selain bayaran sepuluh juta dari Bang Kobra, dan...
Mata Bara melebar. Koin emas. Koin emas bergambar naga dengan huruf Mandarin milik Haji Muhidin.
Bara memutar otaknya cepat. Kenapa demit pelabuhan mencari koin itu? Apakah Haji Muhidin memakai pesugihan laut? Apakah koin emas itu adalah media perjanjian gaib yang sekarang malah berpindah tangan ke Bara?!
"Keeembaaallikaaannn maaassiiaaa..." hantu itu kembali mendesis, tangannya yang pucat dan basah perlahan terulur ke arah leher Bara. Ujung kuku hitamnya yang panjang dan tajam nyaris menyentuh jakun Bara.
Bara tidak punya pilihan. Daripada mati konyol dicekik arwah penasaran, lebih baik dia menyerang psikologis hantu ini menggunakan mind games ala preman pasar.
Dengan tangan gemetar namun gerakan yang sangat cepat, Bara merogoh saku celana kargonya. Dia mengeluarkan koin emas berat itu.
Cahaya temaram dari luar memantul di permukaan koin naga tersebut.
Bara tidak mengembalikannya. Alih-alih takut, Bara justru mengacungkan koin emas itu tepat di depan wajah si hantu, seolah koin itu adalah salib pengusir vampir.
"Lu nyari ini?!" bentak Bara, suaranya dipaksa keras meski tenggorokannya tercekat. "Lu tau ini punya siapa?! Ini punya Bos Haji Muhidin! Penguasa Pelabuhan Utara!"
Hantu laut itu menatap koin emas di tangan Bara. Lalu ia menatap wajah Bara.
Alih-alih ketakutan mendengar nama bos mafia paling ditakuti di Kota X, hantu itu justru memiringkan kepalanya. Seolah bingung dan tidak peduli sama sekali dengan konsep hierarki preman manusia. Siapa itu Haji Muhidin? Bisa dimakan? Mungkin begitu pikir si hantu.
Sadar gertakannya gagal total, wajah Bara pucat pasi. Mampus gue. Setan mana ngerti bekingan orang dalem.
Hantu itu menggeram marah. Tiba-tiba, kedua tangannya yang dingin, basah, dan berbau busuk melesat mencekik leher Bara.
Cengkeramannya sekeras besi baja. Bara tersedak hebat. Pisau cake dan koin emas di tangannya terlepas, berdenting jatuh ke lantai keramik. Dia meronta, memukul-mukul lengan basah hantu itu, tapi rasanya seperti memukul tiang beton yang terendam es.
"Maaaatiiiii..." desis hantu itu di depan wajah Bara. Bau lumpur busuk masuk ke paru-paru Bara.
Pandangan Bara mulai berkunang-kunang. Titik-titik hitam menari di matanya. Paru-parunya menjerit meminta oksigen. Di sisa-sisa kesadarannya, Bara menyadari betapa ironisnya hidup ini. Punya uang lima puluh juta di brankas ternyata tidak bisa digunakan untuk menyogok malaikat maut, apalagi menyogok setan pelabuhan.
Bara menutup matanya, pasrah. Tubuhnya mulai melemas. Cengkeraman di lehernya semakin menyempit.
Lalu... keajaiban itu datang. Bukan dari kekuatan uang, bukan dari pisau cake, dan bukan dari gertakan mafia.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..."
Suara azan Subuh mengalun syahdu dari pengeras suara TOA masjid kelurahan yang jaraknya hanya dua blok dari ruko Bara. Suaranya memecah keheningan fajar, bergema kuat menembus dinding-dinding ruko.
Bersamaan dengan lantunan azan itu, semburat cahaya matahari pagi pertama mulai mengintip dari ufuk timur. Sinar hangatnya menyusup masuk melalui celah-celah rolling door dan ventilasi kaca di bagian atas, menerangi debu-debu yang melayang di udara.
Hantu laut itu seketika menegang. Cengkeramannya di leher Bara mengendur.
Makhluk itu mendongak, menatap cahaya pagi yang mulai masuk. Mulutnya menganga lebar, mengeluarkan jeritan melengking yang memekakkan telinga, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat yang dipaksa putus.
"Aaarrrggghhh!"
Suara azan itu seakan membakar eksistensinya. Tubuh pucat hantu itu perlahan mundur dan menghilang di tengah ruko yang masih gelap meninggalkan genangan air laut kotor berbau amis yang merembes ke karpet.
Bara ambruk ke lantai, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang memerah dan perih. Dia menghirup udara rakus-rakus, paru-parunya bekerja ekstra keras menyuplai oksigen yang tadi dirampas.
Suasana ruko kembali sepi. Gelap. Hanya diisi oleh suara napas Bara yang memburu dan lantunan azan Subuh yang terus mengalun menenangkan dari luar.
Bara bersandar lemas pada kabinet dapur. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin dan sisa air laut dari makhluk tadi. Dia menatap genangan air kotor di depannya di bawah remang-remang cahaya lampu jalan, pecahan mangkok di sudut ruangan, dan lampu neon yang pecah berantakan di atas sana.
Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang bergetar. Realita yang pahit menghantam akal sehatnya. Dia selamat bukan karena dia berani. Dia selamat murni karena demit itu kepanasan denger azan.
Bara melirik jam dinding di atas meja kasir. Pukul 04.45 WIB. Matahari masih lama terbit, tapi setidaknya nyawanya masih menyatu dengan raga.
Dan yang paling membuat Bara ingin menangis saat ini bukanlah rasa sakit di lehernya, melainkan sebuah fakta sederhana yang baru dia ingat saat menatap sisa genangan air gaib itu.
"Ini... baru malam pertama," bisik Bara dengan suara serak, suaranya bergetar menahan putus asa. "Lintang sama Mang Ojak libur DUA hari... Gue masih harus survive di sini besok malem sendirian..."
Di dalam ruko yang bau amis dan gelap gulita itu, seorang koki bakery yang perlahan mulai kehilangan kewarasannya, duduk memeluk lutut. Menunggu matahari benar-benar terbit, dan merutuki nasibnya yang harus menghadapi malam kedua yang mungkin akan jauh lebih panjang dari malam ini.
Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya mengalahkan sisa-sisa adrenalin di nadinya. Kelopak mata Bara perlahan memberat, lalu menutup rapat seiring napasnya yang mulai teratur. Ajaibnya, bersamaan dengan dengkuran halus pertama yang keluar dari mulutnya, genangan air berbau amis itu menguap tanpa bekas. Suhu ruangan kembali hangat, bau melati lenyap digantikan aroma ragi, dan segala kekacauan fisik di ruko itu mereda dalam diam. Semuanya kembali rapi dan normal, menyisakan fajar yang tenang seolah malam jahanam barusan tidak pernah terjadi sama sekali.