Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung Terakhir di Ambang Maut
Suasana di kamar utama mansion pegunungan itu lebih mirip dengan ruang operasi darurat daripada tempat beristirahat. Bau amis darah yang kental bercampur dengan aroma tajam antiseptik. Dokter keluarga Moretti, seorang pria paruh baya dengan tangan yang stabil namun wajah yang tegang, sedang berjuang mengeluarkan peluru dari perut Maximilian.
Rebecca berdiri di sudut ruangan, tangannya yang masih ternoda darah Max gemetar hebat. Ia menatap sosok pria perkasa itu kini terbaring tak berdaya, wajahnya sepucat kertas, dengan selang infus yang menusuk kulitnya. Setiap desah napas Max yang berat terasa seperti pisau yang mengiris jantung Rebecca.
"Vargo, pendarahannya terlalu hebat," suara dokter memecah kesunyian yang mencekam. "Aku butuh lebih banyak kain kasa dan unit darah cadangan dari lemari pendingin di bawah."
Vargo mengangguk dan segera melesat keluar. Namun, baru saja pintu tertutup, seluruh lampu di mansion mendadak padam. JLEP.
Kegelapan total menyergap. Sunyi yang mematikan menyelimuti pegunungan, hanya menyisakan suara deru hujan di luar dan bunyi alat pemantau jantung Max yang kini beralih ke baterai cadangan.
"Ada yang memutus aliran listrik utama," desis Vargo melalui interkom yang masih menyala dengan tenaga darurat. "Nona! Tetap di dalam kamar! Kami diserang!"
Jantung Rebecca berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap ke arah tempat tidur. Maximilian masih dalam pengaruh bius, tidak sadar bahwa maut sedang mengetuk pintu depannya. Rasa takut yang sempat melumpuhkan Rebecca tadi pagi kini menguap, digantikan oleh naluri protektif yang dingin dan primitif.
Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Om. Tidak lagi.
Rebecca merangkak di dalam kegelapan menuju lemari jati besar di pojok kamar. Dengan tangan yang kini stabil karena keputusasaan, ia meraba bagian bawah lemari dan menarik keluar tas panjang yang ditinggalkan Vargo tadi pagi. SIG Sauer MCX. Senjata yang telah membaptisnya sebagai seorang pembunuh di malam perjamuan Valenti.
Ia memeriksa magasinnya. Penuh. Ia menarik tuas pengokang—bunyi logam yang beradu terasa begitu akrab dan menenangkan.
"Dokter, tetaplah di samping Tuan Maximilian. Jangan berhenti menanganinya apa pun yang terjadi," perintah Rebecca. Suaranya tidak lagi bergetar. Ia berdiri di depan pintu kamar yang tertutup, kakinya kokoh menapak lantai marmer.
Di luar lorong, suara tembakan mulai terdengar. RAT-TAT-TAT! Disusul dengan teriakan-teriakan tertahan dan suara hantaman benda tumpul. Musuh telah berhasil menembus barisan pengamanan luar dan kini berada di dalam benteng mereka.
"Mereka di lantai dua!" suara Liam terdengar dari interkom, disusul suara ledakan granat kecil yang membuat lantai bergetar.
Rebecca mematikan semua sumber cahaya kecil di dalam kamar agar posisinya tidak terlihat. Ia berdiri di balik pilar besar yang menghadap langsung ke arah pintu kayu jati kamar utama. Napasnya teratur. Ia mengingat setiap kata Maximilian: “Dunia ini akan memangsamu jika kau tidak menjadi serigala.”
BRAKK!
Pintu kamar ditendang hingga jebol. Dua pria dengan pakaian taktis hitam dan penutup wajah menyeruak masuk, moncong senjata mereka menyapu ruangan. Mereka tidak melihat Rebecca yang tersembunyi di dalam kegelapan sudut pilar.
RAT-TAT-TAT!
Rebecca melepaskan serangkaian tembakan sebelum mereka sempat bereaksi. Peluru-pelurunya menghantam dada pria pertama, membuatnya terpental kembali ke lorong. Pria kedua sempat menembak ke arah tempat tidur, namun Rebecca lebih cepat. Ia membidik kepala dan menarik pelatuknya tanpa ragu.
DOR!
Pria kedua tersungkur di ambang pintu, darahnya menggenang di atas karpet mahal. Rebecca bergerak cepat, ia tidak lagi merasa mual. Ia melangkah maju, memungut magasin cadangan dari rompi taktis musuh yang jatuh, dan kembali ke posisi bertahannya.
"Nona! Anda tidak apa-apa?!" teriak Vargo dari ujung lorong, diikuti suara baku tembak yang semakin menjauh. Tampaknya tim keamanan Moretti berhasil memukul mundur gelombang pertama.
"Aku baik-baik saja! Selesaikan mereka di bawah!" sahut Rebecca tegas.
Ia kembali ke sisi tempat tidur Maximilian. Dokter itu tampak gemetar, namun tetap menjahit luka Max dengan cahaya dari ponsel yang diletakkan di meja. Rebecca memperhatikan wajah Maximilian. Pria itu sedikit mengernyit, kesadarannya mulai merayap kembali akibat kebisingan dan rasa sakit yang luar biasa.
"R-Rebecca ..." gumam Maximilian pelan, nyaris tak terdengar.
Rebecca segera meletakkan senjatanya dan menggenggam tangan Max yang dingin. "Aku di sini, Om. Aku di sini. Jangan banyak bergerak."
Maximilian membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya kabur, namun ia melihat sosok Rebecca yang berdiri di sampingnya—bukan sebagai gadis manja yang butuh dilindungi, melainkan sebagai prajurit yang bersimbah peluh dan memegang senjata. Ia melihat dua mayat di ambang pintunya dan bau mesiu yang memenuhi kamarnya.
"Kau ... menembak mereka?" bisik Maximilian, sebuah senyum getir yang penuh kebanggaan muncul di sudut bibirnya yang pucat.
"Mereka mencoba menyentuhmu," jawab Rebecca, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya namun suaranya tetap tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi dariku. Aku adalah pelindungmu malam ini."
Maximilian meremas tangan Rebecca dengan sisa-sisa tenaganya. "Tadi pagi ... kau bilang kau ingin menjadi pelayanku ..." Max terbatuk, darah sedikit keluar dari sudut bibirnya, membuat Rebecca panik. "Tapi lihat dirimu ... kau berdiri di depan pintu itu seperti seorang Moretti sejati."
"Jangan bicara dulu, Om. Dokter sedang menjahit lukamu."
"Dengarkan aku," Maximilian memaksa dirinya untuk tetap terjaga. "Pelayan tidak akan mengangkat senjata untuk tuannya seperti itu. Hanya seorang istri ... hanya seorang ratu yang akan melakukannya. Kau baru saja ... membuktikan bahwa posisimu bukan di dapur ... tapi di sampingku."
Maximilian kembali memejamkan mata saat rasa sakit dari jahitan dokter menusuk sarafnya. Namun kali ini, napasnya terasa lebih stabil. Ia merasa aman, bukan karena pengawal-pengawalnya yang bersenjata lengkap, melainkan karena ia tahu bahwa di ambang pintu kamarnya, ada seorang gadis yang siap menjadi iblis demi menjaganya tetap bernapas.
Rebecca kembali berdiri di depan pintu, memegang senjatanya dengan waspada saat suara sirine polisi dan bantuan tambahan dari pelabuhan mulai terdengar mendekat. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan pegunungan yang luas.
Malam ini, Rebecca menyadari bahwa cinta dalam dunia Maximilian Moretti bukanlah tentang makan malam romantis atau kata-kata manis. Cinta adalah tentang siapa yang tetap memegang senjata saat semua orang sudah melarikan diri. Cinta adalah tentang darah yang tumpah untuk melindungi satu sama lain.
Ia tidak lagi merasa berbeban dengan nama "Moretti". Ia justru memeluknya sebagai perisai.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, listrik di mansion kembali menyala. Cahaya lampu kristal menerangi kehancuran di kamar itu—mayat-mayat, lubang peluru, dan noda darah. Vargo masuk ke dalam kamar, napasnya tersengal, dan ia membungkuk sangat dalam di hadapan Rebecca.
"Area sudah bersih, Nona Moretti. Musuh telah dimusnahkan. Maafkan kelalaian kami."
Rebecca menoleh ke arah Vargo. Tatapan matanya kini memiliki kilat yang sama dengan Maximilian. Dingin, berwibawa, dan tak tergoyahkan.
"Bersihkan kekacauan ini, Vargo," ucap Rebecca tenang. "Dan pastikan dokter mendapatkan apa pun yang dia butuhkan. Tuan Maximilian harus pulih sepenuhnya. Kita punya banyak hutang darah yang harus ditagih setelah ini."
Vargo tertegun sejenak melihat perubahan drastis pada Rebecca, lalu ia mengangguk patuh. "Siap, Nona."
Rebecca kembali duduk di samping Maximilian, menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur sambil tetap menggenggam tangan pria itu. Ia lelah, namun ia tahu bahwa mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani meremehkannya. Ia telah melewati ujian api yang paling panas, dan ia keluar sebagai pemenang.
Di dalam tidurnya yang tidak stabil, Maximilian merasakan kehadiran Rebecca. Ia tahu bahwa meskipun dunianya hancur, ia telah menemukan satu-satunya hal yang layak untuk diperjuangkan. Pelindung terakhirnya bukan lagi seorang gadis yang ia selamatkan di gang gelap, melainkan seorang wanita yang baru saja menyelamatkan jiwanya dari kegelapan.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣