(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat ke Pusat Benua
Pagi itu, dermaga Pulau Tengkorak Naga dipenuhi kesibukan yang berbeda. Bukan persiapan perang, tapi persiapan ekspedisi diplomatik.
Han Luo berdiri di depan Gerbang Teleportasi Jarak Jauh yang baru saja selesai dibangun oleh Xiao Ling dan Baili Xue (menggunakan sumber daya dari Aliansi Pedagang). Gerbang ini menghubungkan markas mereka langsung ke jaringan teleportasi benua, meskipun biayanya mahal (1.000 Batu Roh per penggunaan).
"Aku menyerahkan pulau ini padamu, Guru," kata Han Luo pada Baili Xue.
Baili Xue, yang kini sudah pulih sepenuhnya ke tingkat Inti Emas Menengah, tersenyum anggun. "Jangan khawatir, Muridku. Dengan formasi baruku dan meriam kristal itu, bahkan Jiwa Baru Lahir pun akan berpikir dua kali sebelum menyerang. Pergilah bermain."
Han Luo mengangguk. Dia menoleh ke tim ekspedisinya.
Long Tian (Hei Long): Jenderal Perang (Inti Emas Awal).
Xiao Ling: Penasihat Formasi (Pondasi Akhir - Mata Hati).
Dan sepuluh Pengawal Elite Gerhana (Mantan bajak laut terbaik).
Mereka tidak membawa kapal. Mereka akan menggunakan teleportasi langsung ke Kota Pelabuhan Naga, ibu kota maritim Kekaisaran Pusat.
"Aktifkan," perintah Han Luo.
Xiao Ling menempelkan tangannya ke pilar batu.
WOOSH!
Cahaya putih menelan mereka. Pemandangan pulau hitam itu menghilang, digantikan oleh sensasi tarikan ruang yang memualkan.
Kota Pelabuhan Naga - Kekaisaran Pusat.
Saat Han Luo membuka mata, dia disambut oleh kebisingan yang memekakkan telinga.
Mereka berdiri di alun-alun teleportasi raksasa yang dipenuhi ribuan orang dari berbagai ras dan benua. Ada manusia bersayap, demi-human bersisik, dan kultivator dengan aura yang menekan.
Di langit, kapal-kapal terbang berlalu-lalang seperti lalat. Gedung-gedung pencakar langit yang terbuat dari kristal dan logam menjulang menembus awan.
"Ini... Kekaisaran Pusat," Long Tian ternganga. "Energi di sini... sepuluh kali lipat lebih padat dari Benua Selatan!"
"Dan harga barang sepuluh kali lipat lebih mahal," tambah Han Luo sinis.
Seorang petugas berseragam emas (Aliansi Pedagang) mendekat. Dia melihat token di pinggang Han Luo.
"Tuan Mo dari Aliansi Gerhana? Selamat datang. Madam Zhu sudah menyiapkan penginapan untuk Anda di Distrik VIP."
"Bagus. Antar kami."
Mereka dibawa ke sebuah penginapan mewah yang mengapung di atas danau buatan.
Namun, Han Luo tidak datang untuk istirahat.
Sore itu juga, dia pergi ke Balai Pendaftaran Turnamen.
Turnamen Raja Laut bukan sekadar adu otot. Ini adalah ajang pamer kekuatan antar faksi laut dari seluruh dunia.
Peserta dibagi menjadi tiga kategori:
Kelas Perorangan: Duel satu lawan satu.
Kelas Armada: Perang kapal.
Kelas Harta: Lelang barang langka.
Han Luo mendaftar untuk Ketiganya.
"Nama Faksi?" tanya petugas pendaftaran, seorang wanita cantik dengan tanduk naga kecil di dahinya (Klan Naga Laut).
"Aliansi Gerhana."
"Asal?"
"Laut Selatan."
Wanita itu berhenti menulis. Dia menatap Han Luo dengan tatapan meremehkan. "Selatan? Tempat kumuh itu? Biasanya wakil Selatan tidak pernah lolos babak penyisihan."
"Tahun ini berbeda," kata Han Luo, meletakkan 10.000 Batu Roh Murni di meja sebagai biaya pendaftaran (jumlah yang membuat mata wanita itu melebar).
"Baiklah. Ini token peserta Anda. Babak penyisihan dimulai tiga hari lagi di Pulau Naga."
Han Luo mengambil token itu.
Saat dia berbalik, dia menabrak seseorang.
Atau lebih tepatnya, seseorang sengaja menabraknya.
Seorang pemuda tinggi tegap dengan kulit biru dan rambut seperti ombak laut. Dia dikelilingi oleh aura air yang sangat kuat.
Pangeran Hiu Biru. Tingkat: Inti Emas Menengah. Pewaris Klan Hiu Laut Timur (Penguasa Laut Terkuat saat ini).
"Minggir, orang darat," kata Pangeran Hiu, menepis bahu Han Luo. "Kau menghalangi jalan bangsawan."
Han Luo tidak bergerak. Kakinya seperti dipaku ke tanah.
"Jalan ini lebar, Tuan Ikan," jawab Han Luo tenang (dalam persona Tuan Mo). "Jika kau tidak muat, mungkin kau harus diet."
Pangeran Hiu berhenti. Matanya menyipit. "Kau berani menghinaku?"
Dia melepaskan tekanan spiritualnya. Aura laut yang berat menekan Han Luo.
Tapi Han Luo hanya tersenyum di balik topeng emasnya.
Domain Gerhana - Versi Mikro.
Han Luo tidak melawan tekanan itu. Dia menelannya. Aura Pangeran Hiu lenyap begitu menyentuh tubuh Han Luo, seperti air yang jatuh ke lubang tanpa dasar.
Pangeran Hiu terkejut. "Teknik apa itu?"
"Teknik orang miskin dari Selatan," sindir Han Luo.
Sebelum Pangeran Hiu bisa marah, seorang pria tua berjubah putih muncul di antara mereka.
"Cukup. Dilarang bertarung di Balai Pendaftaran."
Itu adalah Wasit Agung. Auranya... Jiwa Baru Lahir Puncak.
Pangeran Hiu mendengus. "Kau beruntung, Topeng Emas. Kita lihat nanti di arena. Aku akan menjadikanmu umpan pancing."
Dia pergi dengan angkuh.
Long Tian berbisik pada Han Luo. "Dia kuat, Tuan. Auranya lebih padat dariku."
"Tentu saja. Dia memakan Mutiara Laut sejak bayi. Tapi..." Han Luo menatap punggung Pangeran Hiu. "Ikan yang terlalu kenyang biasanya lambat."
Malam Hari - Kamar Penginapan.
Han Luo duduk di balkon, menatap ke arah laut lepas di mana sebuah pulau raksasa berbentuk naga tidur terlihat samar-samar. Pulau Naga.
Itu adalah lokasi turnamen.
Tapi bagi Han Luo, itu adalah lokasi Reruntuhan Keempat.
Menurut peta yang dia dapat dari Gudang Harta di Benua Selatan, Reruntuhan Keempat berada di "Jantung Naga yang Tidur".
"Turnamen ini hanya kedok bagiku," batin Han Luo. "Tujuanku sebenarnya adalah menyusup ke bawah arena saat semua orang sibuk bersorak."
Dia mengeluarkan Pedangnya.
"Kau lapar lagi, Lian?"
Pedang itu bergetar. Dia merasakan kehadiran potongan tubuhnya yang lain di kota ini.
Bukan di Pulau Naga. Tapi di Kota Pelabuhan ini.
Han Luo menyipitkan mata.
"Ada potongan Pedang Darah lain di sini? Siapa yang membawanya?"
Mungkinkah... Antagonis Utama dari Kekaisaran Pusat sudah muncul?
Di novel, antagonis itu adalah Jenderal Perang Kekaisaran yang memegang Bilah Pedang Darah.
"Jika dia ada di sini... maka pesta ini akan menjadi jauh lebih meriah."
Han Luo menyimpan pedangnya.
"Tidur, Hei Long. Besok kita belanja informasi. Aku ingin tahu siapa saja monster yang bersembunyi di kota ini."
tpi gw demen....