"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Di Balik Gengsi Sang Kakak
Malam itu, setelah Nirbi kembali mengendap-endap ke kamarnya, suasana di ruang tengah menjadi sangat hening. Varro yang tadinya pura-pura tidur, kini duduk tegak di sofa. Ia menatap langit-langit penthouse yang mewah itu dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya, penolakannya tadi siang bukan karena dia benci Calvin. Justru sebaliknya. Varro tahu betul bahwa Calvin adalah pria terbaik. Ia ingat saat kuliah dulu, ia sering memergoki Calvin sedang menatap foto Nirbi di wallpaper ponsel Varro dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang tidak pernah Calvin berikan pada Veyra atau gadis mana pun.
“Gue tahu lo cinta sama adek gue, Vin. Dari dulu gue tahu,” gumam Varro pelan sambil meremas ponselnya yang baru saja menerima pesan penolakan investasi lagi.
Varro merasa gagal. Ia ingin menyerahkan Nirbi pada Calvin dalam keadaan ia sudah sukses, bukan dalam keadaan ia masih menumpang dan kalah telak seperti ini. Baginya, harga dirinya sebagai kakak adalah satu-satunya yang tersisa.
Keesokan Harinya: Operasi Backstreet Dimulai
Pagi hari di meja makan, suasana berubah menjadi kaku. Nirbi dan Calvin sudah memulai sandiwara mereka.
"Pak Bos, ini kopi hitamnya. Jangan protes kalau kurang simetris!" ketus Nirbi sambil meletakkan cangkir dengan hentakan sedikit kasar.
Calvin mengkerutkan kening, mengikuti permainan. "Kamu ini asisten atau musuh? Cuci tanganmu dulu sebelum menyentuh peralatan makan saya."
Varro yang sedang mengunyah roti hanya melirik curiga. “Tumben bener ini dua orang galak-galakan,” batinnya.
"Bang, nanti Nirbi berangkat kuliah bareng temen aja ya. Males bareng Pak Bos, hawanya dingin kayak di kutub!" ujar Nirbi sambil nyengir ke arah Varro.
"Lho, bukannya biasanya manja minta anter jemput?" Varro menaikkan alis.
"Enggak! Nirbi mau mandiri!" Nirbi berdiri dan berpamitan.
Begitu Nirbi keluar pintu, Calvin langsung menatap Varro. "Navarro, saya ada rapat di luar. Kamu mau ikut ke kantor atau mau di sini saja meratapi nasib bisnismu?"
Varro mendengus. "Gue ikut lo. Gue mau liat gimana lo kerja, siapa tahu gue dapet inspirasi buat bangkitin perusahaan Rein lagi."
Kucing-Kucingan di Kantor
Di kantor, Calvin dan Nirbi benar-benar diuji. Varro duduk di sofa ruang kerja Calvin, mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Nirbi masuk membawakan dokumen. Saat ia meletakkan map di meja Calvin, tangannya sengaja bersentuhan dengan tangan Calvin di bawah meja. Calvin meremas jari Nirbi pelan, memberikan kode rindu, sementara wajahnya tetap dingin menatap monitor.
"Nirbita, kuku kamu terlalu panjang 1 milimeter. Potong nanti malam," tegur Calvin secara formal, padahal di bawah meja dia sedang mengusap punggung tangan Nirbi dengan ibu jarinya.
"Iya, cerewet!" jawab Nirbi sambil menjulurkan lidah pelan—hanya bisa dilihat oleh Calvin.
Varro berdiri dan menghampiri meja mereka. "Vin, gue rasa ada yang aneh. Sejak kapan asisten lo berani bilang lo cerewet dan lo nggak manggil petugas keamanan?"
Calvin berdehem, segera melepaskan tangan Nirbi. "Saya... saya sedang mencoba metode kepemimpinan yang lebih humanis, Navarro. Agar dia tidak stres dan bolos kuliah lagi."
"Humanis?" Varro memicingkan mata, menatap cincin di jari Nirbi. "Ngomong-ngomong soal cincin itu... Bi, lepas aja kalau kamu nggak nyaman. Abang bisa cari pinjaman lain buat kuliah kamu."
Nirbi menggeleng kuat. "Nggak mau! Ini udah nempel, Bang. Anggap aja ini jimat keberuntungan Nirbi."
Momen di Pantri
Saat Varro sedang sibuk membaca majalah bisnis, Nirbi dan Calvin bertemu di pantri kantor yang sepi. Begitu pintu tertutup, Calvin langsung menarik Nirbi ke dalam pelukannya.
"Saya benci harus pura-pura membentakmu di depan kakakmu," bisik Calvin sambil mencium puncak kepala Nirbi.
"Sabar ya, Kak Posesif. Ini seru tau! Rasanya kayak lagi main detektif-detektifan," Nirbi tertawa kecil di dada Calvin. "Tapi Kak... Abang sebenernya lagi sedih. Aku tau usahanya gagal lagi kemarin. Kakak jangan galak-galak ya sama Abang."
Calvin terdiam. Ia baru mengerti sekarang. Gengsi Navarro memang setinggi langit. "Pantas saja dia menolak lamaran saya. Dia merasa belum layak menjadi ipar saya."
"Iya, makanya kita jalani dulu begini ya? Sampai Abang merasa lebih baik," Nirbi mendongak, mencium pipi Calvin dengan cepat lalu lari keluar pantri sebelum Varro mencari mereka.
Calvin menyentuh pipinya yang baru saja dicium. Ia tersenyum tipis. "Navarro, Navarro... kamu tidak tahu kalau adikmu ini jauh lebih pintar bernegosiasi daripada kamu."
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka