NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Rival & Sinyal Kegelapan

Uap air hangat masih menggantung tipis di ruang ganti ketika pintu logam otomatis terbuka pelan. Suara mekanismenya nyaris tak terdengar, hanya cukup untuk menandai perpindahan suasana — dari hiruk pikuk latihan menuju ketenangan yang terasa… terlalu sunyi.

Amatsuki Douma keluar lebih dulu.

Seragam latihannya sudah rapi kembali. Rambut peraknya masih sedikit lembap, jatuh alami mengikuti garis wajah yang tenang. Air mandi yang tersisa hanya memberi kilau tipis di kulitnya — bukan terlihat lelah, justru membuatnya tampak hidup, seperti seseorang yang baru saja selesai melakukan hal biasa… padahal seluruh lapangan tadi bergetar oleh permainannya.

Langkahnya ringan. Tidak terburu-buru.

Namun langkah lain menyusul.

Berat. Stabil. Tegas.

Itadaki Inosuke.

Ketua tim basket itu berjalan sejajar beberapa meter di belakang Douma sebelum akhirnya mempercepat langkah. Sepasang mata gelapnya menilai dengan tenang — bukan tatapan penasaran, melainkan tatapan seseorang yang terbiasa mengukur ancaman.

Mereka berhenti di lorong yang menghubungkan ruang ganti dengan koridor utama. Cahaya putih dari panel transparan memotong bayangan tubuh mereka, menciptakan kontras tajam di lantai.

Beberapa siswa yang lewat otomatis mempercepat langkah.

Atmosfer di antara dua pria itu… berat.

Inosuke yang bicara lebih dulu.

Nada suaranya datar. Tidak tinggi. Tidak rendah.

Namun mengandung tekanan.

“Selama kau tidak menghalangi jalanku,” katanya pelan, “aku akan menganggapmu rival.”

Douma tidak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.

Inosuke melanjutkan:

“Tapi jika kau mengacau di hari arc turnamen… kau tidak akan melihat matahari yang sama di esok harinya.”

Ancaman itu tidak diucapkan dengan emosi. Justru karena itulah terasa lebih dingin — seperti fakta yang hanya disampaikan.

Douma berhenti.

Perlahan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada ledakan aura. Tidak ada drama berlebihan.

Hanya… keheningan yang menekan.

Douma menatapnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik sedikit — senyum yang tidak ramah.

“sudah selesai?” katanya dingin.

Inosuke sedikit menyipitkan mata.

Douma melanjutkan:

“Kalau begitu jangan halangi jalanku.”

Nada bicaranya ringan. Tapi setiap kata terasa seperti pisau tipis — tidak memotong… hanya memberi peringatan.

Satu detik.

Dua detik.

Inosuke merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Tatapan Douma tidak membawa agresi… tapi juga tidak menunjukkan rasa takut.

Kosong.

Terlalu kosong.

Dan justru itu yang membuatnya tertantang.

Bukan manusia biasa.

Naluri lamanya berbisik.

Douma berbalik dan berjalan pergi seolah percakapan itu tidak penting. Namun Inosuke berdiri diam beberapa saat — memproses perasaan asing yang jarang ia rasakan.

Ketertarikan… bercampur kewaspadaan.

---

Dimensi Iblis

Ruangan itu tidak memiliki arah.

Tidak ada atas. Tidak ada bawah.

Hanya hamparan gelap seperti langit mati yang dipenuhi simbol-simbol samar mengambang di udara. Di tengahnya berdiri lingkaran obsidian raksasa — tempat para iblis tingkat tinggi berkumpul.

Salah satu dari mereka berlutut.

“Tuanku… Douma telah berinteraksi langsung dengan pemimpin tingkat dua — Itadaki Inosuke.”

Suara itu menggema tanpa sumber jelas.

Di hadapannya… duduk sosok yang bahkan kegelapan tampak tunduk.

LUCIFER.

Raja iblis tidak memiliki bentuk tetap. Hanya siluet tinggi dengan mata seperti bara yang menyala pelan.

“Apa yang terjadi?” suaranya bergema — bukan keras, tapi mengisi seluruh ruang.

“Energi mereka… bersinggungan. Tidak terjadi konflik langsung. Namun… tekanan dimensi terasa.”

Keheningan.

Lalu Lucifer berkata:

“Berikan sinyal kepada Inosuke.”

Simbol-simbol di udara berhenti bergerak.

“Biarkan Inosuke tahu… bahwa variabel itu yang sedang kita waspadai.”

Nada suaranya berubah lebih dingin.

“Kita berada di situasi yang tepat.”

Perintah itu tidak diulang.

Tidak perlu.

---

Kanzaki Haruto

Di lorong atas arena, Kanzaki Haruto berdiri sendirian.

Tangannya masih menggenggam botol minum yang belum disentuh. Tatapannya kosong mengarah ke lapangan yang kini mulai sepi.

Tadi…

Semua mata tertuju pada Douma dan Inosuke.

Dua pusat gravitasi.

Dua pemain yang membuat permainan terasa… berbeda kelas.

Haruto menghembuskan napas pelan.

Selama ini, dialah yang sering disandingkan dengan Inosuke. Meski tak pernah benar-benar diakui, ia tetap berada di lingkaran terdekat.

Sekarang…

Rasanya seperti digeser.

Ada sedikit rasa panas di dada.

Iri?

Mungkin.

Namun ia menutup mata sejenak.

Bukan waktunya meratapi.

“Aku hanya perlu bermain lebih baik berikutnya,” gumamnya pelan.

Tatapannya kembali fokus.

Tekad.

---

Sementara itu di Kelas I-A Pria

Suasana kelas jauh dari sunyi.

Rei adalah yang pertama menyambut Douma begitu ia masuk.

“Woi! Bintang lapangan sudah datang!”

Shin ikut berdiri.

“Statistik permainanmu tadi… absurd. Aku hampir yakin itu melanggar hukum fisika.”

Douma duduk tanpa banyak reaksi.

Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.

Rei langsung menunjuk.

“Eh! Eh! Tadi itu apa? Dia tersenyum!”

Shin ikut mencondongkan tubuh.

“Fenomena langka!”

Rei menepuk dada dramatis.

“Gawat… kalau kau sering begini reputasiku sebagai cowok manis bakal tergeser!”

Kelas meledak tawa.

Douma menggeleng kecil.

“Jangan berisik.”

Namun tidak ada penolakan sungguhan.

Ia mulai… terbiasa.

Shin mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat.

“Ngomong-ngomong… tentang keluarga Kazehaya…”

Rei ikut berbisik.

“Kau dengar rumor itu?”

Ekspresi Douma langsung berubah.

Tatapannya menggelap — bukan marah, tapi cukup membuat keduanya berhenti.

“Jangan bahas itu di hadapanku,” katanya singkat.

“Bukan urusan kalian.”

Hening.

Rei mengangkat tangan defensif.

“Baiklah… aku cuma khawatir putrinya yang cantik dan anggun itu. Katanya dia absen beberapa hari… Sangat disayangkan dia pasti frustasi.”

Lanjut Shin “Jika saja dia mengenal ku lebih dulu, mungkin tingkat kekhawatirannya berkurang”

“ Yah benar! Kami penghibur sejati! Benarkan Tuan douma??” Celoteh Rei dengan gestur dramatis.

Douma menatapnya datar.

“Kalau begitu lakukan.”

Rei tersedak.

“Eh? Hehe Mustahil! Dia bahkan tak bisa kuraih!”

Douma membuka jurnal digitalnya.

“Kalau begitu diam dan kerjakan tugas. Sudah selesai?”

Shin dan Rei saling pandang.

Wajah mereka pucat.

“Oh tidak…”

“Deadline hari ini…”

Mereka langsung panik membuka perangkat masing-masing.

Kelas kembali riuh.

Douma menatap layar.

Namun pikirannya… jauh.

Pertemuan dengan Inosuke.

Aura yang aneh.

Rumor keluarga Kazehaya.

Potongan-potongan itu belum membentuk gambar jelas.

Tapi…

Sesuatu sedang bergerak.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama—

dunia ini terasa… tidak sepenuhnya biasa.

Douma bersandar ringan di kursinya.

Tatapan tenang.

Menunggu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!