NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERNIKAHAN KEDUA: BERSIAP- SIAP

Sabtu pagi itu, Mayra terbangun dengan cahaya matahari yang lembut menyusup melalui tirai kamarnya.

Untuk seperkian detik, dia bingung kenapa alarm belum berbunyi. Lalu dia ingat, hari ini adalah hari pernikahannya.

Jantungnya langsung berdebar dengan kencang.

Di sampingnya, Dina masih tidur dengan rambut berantakan. Mayra mengecek jam di ponselnya, pukul tujuh pagi. Tim riasan dan penataan rambut akan tiba jam delapan.

Dengan hati-hati supaya tidak membangunkan Dina, Mayra turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Jakarta terlihat cerah dengan langit biru yang sempurna, tidak ada awan gelap, tidak ada tanda-tanda hujan.

Cuaca sempurna untuk pernikahan outdoor.

Mayra tersenyum. Semesta sepertinya mendukung hari bahagianya.

"Kamu sudah bangun?" suara Dina yang serak membuyarkan lamunannya.

"Baru saja. Aku tidak bisa tidur lebih lama. Terlalu gugup dan bersemangat," jawab Mayra sambil berbalik.

Dina duduk di tempat tidur sambil meregangkan tubuhnya. "Cuaca bagus ya? Sepertinya tidak akan hujan."

"Itu dia, Din. Aku sudah berdoa sejak seminggu lalu untuk cuaca bagus," kata Mayra. "Dan Tuhan mengabulkannnya. " Ia melompat girang seperti anak kecil yang baru di belikaj mainan. Dina tersenyum melihatnya.

"Ayo mandi dan sarapan sebelum tim riasan datang. Hari akan sangat panjang dan kamu butuh energi," kata Dina sambil turun dari tempat tidur.

***

Pukul delapan tepat, pintu penthouse dibuka untuk menyambut rombongan yang akan membantu Mayra bersiap-siap.

Yang pertama datang adalah Tina, perias profesional yang sudah Mayra kenal dari beberapa pernikahan yang pernah dia tangani. Diikuti oleh Liana, penata rambut yang terkenal dengan karyanya yang natural tapi elegan.

"Mayra! Selamat pagi pengantin yang cantik!" sapa Tina dengan pelukan hangat. "Kamu siap untuk transformasi?"

"Siap! Aku serahkan diriku padamu," jawab Mayra sambil tertawa.

Mereka mengatur area di kamar Mayra menjadi stasiun kecantikan dadakan. Kursi di depan meja rias, berbagai produk riasan dan alat-alat penataan rambut tersusun rapi, dan gaun pengantin yang indah tergantung dengan hati-hati di lemari.

Pukul delapan tiga puluh, Pak Bambang tiba dengan membawa sarapan, nasi uduk, telur, dan buah-buahan.

"Papa pikir kalian butuh sarapan yang benar. Tidak boleh pergi ke pernikahan dengan perut kosong," kata ayah Mayra tersebut sambil menaruh kantong-kantong makanan di meja makan.

"Papa yang terbaik!" kata Mayra sambil memeluk ayahnya. "Tapi Papa sudah siap? Sudah pakai jasnya?"

"Belum, masih di mobil. Papa akan ganti nanti setelah memastikan kamu baik-baik saja di sini," jawab sang papa.

Mereka sarapan bersama dengan santai sambil ngobrol ringan. Pak Bambang sesekali menatap Mayra dengan mata berkaca-kaca.

"Papa baik- baik saja?" tanya Mayra saat melihat ayahnya menghapus mata.

"Baik- baik saja, sayang. Papa hanya terharu. Putri Papa yang cantik akan menikah hari ini. Dengan pria yang benar kali ini," kata Pak Bambang dengan suara bergetar.

Mayra meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya. "Terima kasih Pa, untuk semua yang Papa lakukan untukku."

"Apapun untuk putri Papa," jawab Bambang dengan senyum.

***

Sementara itu, di suite hotel, Dev juga sudah bangun sejak pukul enam pagi.

Dia tidak bisa tidur lebih lama, terlalu bersemangat untuk hari ini.

Setelah mandi dan mencukur dengan rapi, dia duduk di balkon dengan secangkir kopi, menatap kota yang mulai ramai dengan aktivitas pagi.

Marco datang mengetuk pintu pukul delapan.

"Pagi! Kamu siap untuk jadi suami yang resmi?" sapa Marco dengan senyum lebar sambil membawa kantong berisi sarapan.

"Lebih dari siap. Aku sudah siap sejak berbulan-bulan lalu," jawab Dev sambil membukakan pintu.

Mereka sarapan bersama, sandwich dan kopi yang Marco beli dari kafe hotel.

"Gugup?" tanya Marco.

"Tidak gugup tentang menikahi Mayra. Hanya... gugup tentang pidato dan janji pernikahanku. Aku ingin semuanya sempurna," jawab Dev jujur.

"Kamu sudah hafalkan janjim u?" tanya Marco.

"Sudah. Tapi tetap saja, berbicara di depan umum tentang perasaan bukanlah keahlianku," kata Dev sambil menyesap kopinya.

"Kamu akan baik-baik saja. Dan lagipula, yang penting adalah Mayra mendengar dan merasakan apa yang kamu maksud. Yang lain tidak terlalu penting," kata Marco dengan bijak.

Dev mengangguk. "Kamu benar."

Pukul sembilan, Rendra dan Fajar datang untuk menemani Dev bersiap-siap. Mereka membawa jas Dev yang sudah diambil dari binatu, jas navy yang sempurna, rompi yang serasi, kemeja putih rapi, dan dasi tipis silver.

"Jas yang bagus, bro," komentar Rendra sambil memeriksa jas itu. "Sederhana tapi elegan."

"Mayra yang bantu pilih. Dia bilang navy lebih cocok untuk pernikahan taman daripada hitam," jelas Dev.

"Dia punya selera yang bagus," Puji Fajar sambil menyeringai.

Dev mulai berpakaian dengan bantuan teman-temannya. Kemeja, rompi, celana, lalu jaket. Semuanya pas sempurna, hasil dari beberapa kali fitting.

Marco membantu Dev dengan kancing manset, kancing manset platinum dengan inisial D.A yang Mayra hadiahkan seminggu lalu.

"Dari Mayra?" tebak Marco sambil memasang kancing manset itu.

"Ya. Dia bilang ini simbol bahwa aku resmi miliknya sekarang," jawab Dev sambil tersenyum mengingat momen saat Mayra memberikan hadiah itu.

"Uhuh, CEO yang bucin. " Canda Fajar seketika menimbulkan tawa bagi yang lain.

Setelah semuanya rapi, Dev berdiri di depan cermin besar. Dia terlihat berbeda. Bukan hanya karena jas yang bagus, tapi ada sesuatu di matanya. Kebahagiaan, semangat, dan cinta.

"Kau siap, bro?" tanya Marco.

Dev menarik napas dalam. "Siap."

***

Kembali di penthouse, Mayra duduk di kursi rias dengan mata terpejam sementara Tina bekerja dengan ahli.

"Aku akan buat riasan yang natural tapi tetap bersinar. Kamu sudah cantik alami, jadi kita hanya menonjolkan apa yang sudah kamu punya," jelas Tina sambil memulai dengan riasan dasar.

Liana di belakang mulai mengerjakan rambut Mayra, blow dry dulu, lalu akan ditata dengan gelombang lembut dan gaya setengah diikat, dan setengah terurai yang cantik.

Prosesnya memakan waktu sekitar dua jam. Selama itu, Dina menemani Mayra sambil mengobrol tentang berbagai hal untuk mengalihkan gugup yang mulai muncul.

"Kamu ingat pertama kali kamu cerita tentang Dev?" tanya Dina. "Kamu bilang dia dingin dan menakutkan."

Mayra tertawa. "Aku ingat. Dan sekarang dia adalah pria paling hangat dan perhatian yang pernah aku kenal. Lucu bagaimana persepsi bisa berubah."

"Bukan persepsi yang berubah. Dev yang berubah. Karena kamu," kata Dina dengan lembut.

Pukul sepuluh tiga puluh, riasan dan rambut sudah selesai. Mayra menatap pantulannya di cermin dan hampir tidak percaya.

Riasannya sempurna, natural tapi membuat kulitnya bersinar, mata terlihat lebih besar dengan eyeliner yang halus, bibir dengan warna pink lembut yang membuat dia terlihat segar dan muda.

Rambutnya ditata dengan gelombang lembut yang indah, bagian depan ditarik ke belakang dan diikat dengan jepit yang halus, sementara sisa rambut jatuh mengalir di punggung.

"Tina, Liana, kalian luar biasa," kata Mayra dengan terharu.

"Kamu yang luar biasa, sayang. Kami hanya membantu," kata Tina sambil tersenyum.

Sekarang saatnya untuk gaun.

Dina dengan hati-hati mengambil gaun dari gantungan. Gaun yang indah dengan korset renda yang rumit, lengan sabrina yang elegan, dan rok yang mengalir dengan sempurna.

"Oke, hati-hati saat memakainya supaya tidak merusak riasan dan rambut," instruksi Dina.

Dengan bantuan Dina dan Tina, Mayra masuk ke dalam gaun. Materialnya terasa mewah di kulit, pas sempurna di tubuhnya setelah beberapa kali penyesuaian.

Dina mulai mengancingkan kancing-kancing kecil di punggung, ada puluhan kancing yang butuh kesabaran untuk dikancingkan satu per satu.

"Hampir selesai," kata Dina sambil mengancingkan kancing terakhir.

Akhirnya, gaun terpasang dengan sempurna.

Mayra berbalik untuk melihat pantulannya di cermin besar, dan di situlah napasnya tertahan.

Dia terlihat seperti pengantin dari negeri dongeng. Gaun yang indah mengalir dengan sempurna, riasan dan rambut yang sempurna, dan yang paling penting, dia terlihat bahagia. Benar-benar bahagia.

"Oh my God, Mayra," bisik Pak Bambang yang berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. "Kamu terlihat persis seperti Mama saat menikah."

Mayra berbalik dan melihat ayahnya sudah mengenakan jas abu-abu yang rapi, dengan bunga korsase di kerahnya.

"Papa..." Mayra berjalan menghampiri ayahnya dengan hati-hati supaya tidak menginjak gaunnya.

Sang papa memeluknya dengan lembut, menangis di bahu putrinya.

"Papa sangat bangga padamu, sayang. Sangat bangga," bisik Papa.

"Aku mencintaimu, Pa," bisik Mayra balik.

Momen haru itu terganggu oleh ketukan di pintu. Marco masuk dengan kotak kecil di tangan.

"Maaf mengganggu momen ini, tapi Dev meminta ku menyampaikan ini untuk Mayra sebelum upacara dimulai," kata Marco sambil menyerahkan kotak itu.

Mayra membuka kotak dengan penasaran. Di dalamnya ada kalung berlian yang sangat indah, sederhana tapi elegan, dengan liontin berbentuk hati kecil.

Ada juga catatan kecil dengan tulisan tangan Dev:

"Untuk istriku yang cantik,

Kalung ini adalah simbol dari hatiku yang selamanya milikmu.

Aku tidak sabar untuk melihatmu berjalan menuju aku di altar.

Aku mencintaimu. Selamanya.

Dev. "

Mayra merasakan air mata menggenang tapi dia cepat menghapusnya sebelum merusak riasan.

"Dia selalu tahu bagaimana membuatku emosional," kata Mayra sambil tertawa di tengah tangisnya.

Dina membantu memasang kalung itu di leher Mayra. Berliannya berkilau sempurna, melengkapi keseluruhan penampilan.

"Sempurna," kata Dina sambil tersenyum.

Pukul sebelas tiga puluh, saatnya untuk berangkat ke tempat acara.

Mayra mengambil buket bunganya, rangkaian mawar putih dan pink dengan baby's breath dan daun eucalyptus yang indah, diikat dengan pita satin putih.

"Semua siap?" tanya Pak Bambang sambil mengulurkan lengannya.

Mayra meraih lengan ayahnya. "Siap."

Dan mereka berjalan keluar dari penthouse menuju mobil yang sudah menunggu, Mercedes putih yang dihias dengan pita dan bunga, siap membawa pengantin ke hari terindah dalam hidupnya.

*****

BERSAMBUNG

1
Siti Maryati
suka ceritanya ... banyak masalah langsung selesai jd ga berlarut" atau ber bab" selesainya.
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
Jaden Bowen
👍👍👍👍👍
falea sezi
bapaknya goblok ceraikan lah istri benalu
Siti Maryati
seneng baca ceritanya ... ringan, alur nya bagus, tertata
Siti Maryati
blm kebaca nih rintangan ke depan bya
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!