Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Axel berlutut dengan hati-hati di samping tubuh Lusy yang baru saja dilumpuhkan oleh zat penenang yang diberikan beberapa saat yang lalu. Napas wanita itu kini terdengar pendek dan berat, keluar dengan irama yang tidak terlalu teratur, kontras yang sangat mencolok dengan raungan predator yang mengerikan beberapa menit lalu.
Doni berdiri dengan tubuh yang sedikit menggoyangkan di ambang pintu kamar mandi, napasnya masih tersengal dan tidak teratur akibat usaha yang luar biasa besar yang ia lakukan untuk membantu menahan pintu dan mencegah Lusy keluar. Matanya menatap nanar pada pemandangan tragis yang ada tepat di depannya—seorang wanita yang dulunya penuh dengan keceriaan kini terbaring tidak berdaya di lantai yang basah dan berantakan akibat perjuangan yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Bantu Ayah angkat dia." Ia tahu bahwa ini adalah tugas yang sangat berat dan penuh dengan risiko, namun ia juga tahu bahwa tidak ada pilihan lain selain melakukan hal ini untuk menyelamatkan wanita yang telah menjadi bagian penting dari keluarga mereka.
Dengan sangat hati-hati, keduanya mengangkat tubuh Lusy dengan lembut. Axel merengkuh bagian punggung dan lutut tunangannya dengan kedua tangannya, merasakan bobot tubuh Lusy yang terasa jauh lebih ringan daripada yang ia ingat selama ini. Kulitnya yang biasanya hangat dan lembut kini terasa sangat dingin seperti es, membuat Axel merasa ingin segera membawanya ke tempat yang lebih aman dan bisa memberikan perawatan yang dibutuhkan.
Mereka melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati, menembus lorong rumah yang temaram dan hanya diterangi oleh lampu dinding yang berkedip-kedip. Setiap langkah yang mereka ambil terasa seperti melalui jalan yang penuh dengan bahaya, menuju pintu lemari rahasia yang sudah terbuka menganga lebar.
Begitu sampai di laboratorium bawah tanah yang penuh dengan peralatan ilmiah, Axel dengan hati-hati membaringkan tubuh Lusy di atas brankar medis yang telah ia siapkan dengan cermat di dalam ruang isolasi berkaca tebal yang terletak di sudut paling jauh dari ruangan utama.
Ruangan itu dirancang khusus untuk kedap suara dan steril secara maksimal, suhunya jauh lebih dingin daripada suhu ruangan di luarnya—semua ini untuk memastikan bahwa tidak ada kontaminasi yang bisa membahayakan pasien atau mempengaruhi hasil pengamatan yang akan ia lakukan.
Begitu tubuh Lusy menyentuh kasur medis yang empuk dan dilapisi seprai bersih, Axel tertegun sepenuhnya oleh perubahan yang terjadi pada tubuh wanita itu.
Seiring dengan bekerja dengan baiknya obat bius yang telah ia suntikkan—zat yang bekerja dengan cara menekan sistem saraf pusat dan meredakan aktivitas sel-sel yang sedang bermutasi itu—transformasi yang mengerikan dan membuatnya merasa takut itu perlahan mulai memudar dengan sendirinya.
Urat-urat berwarna biru gelap yang sebelumnya menonjol jelas di leher dan lengan Lusy mulai perlahan-lahan surut ke dalam, masuk kembali ke balik lapisan dermis yang tipis dan tidak lagi terlihat dari luar. Warna merah pekat yang sebelumnya mendominasi seluruh bagian mata wanita itu perlahan menghilang seiring dengan kelopak matanya yang kini tertutup rapat sebagai tanda bahwa ia telah memasuki fase tidur yang dalam. Taring-taring yang sempat menyembul keluar dan terlihat sangat tajam kini juga tertutup kembali oleh bibirnya yang kembali melunak dan kembali ke bentuknya yang normal.
Dalam tidurnya yang dipaksakan oleh obat bius itu, Lusy kembali menjadi sosok wanita cantik yang selama ini dicintai dan dipuja oleh Axel. Wajahnya yang tadinya penuh dengan ekspresi kesakitan dan keganasan kini kembali menjadi cantik, damai, dan terlihat sangat rapuh.
Pemandangan yang begitu kontras dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu itu justru menghantam ulu hati Axel dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada serangan fisik mana pun yang pernah ia alami. Setiap garis wajah Lusy yang ia kenal dengan sangat baik seolah menyuruhnya untuk merasa bersalah karena telah menyebabkan semua ini terjadi pada wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
"Dia terlihat seperti tidak terjadi apa-apa saja, bukan?" Gumam Doni, ia berdiri dari balik kaca isolasi yang jelas dan kuat itu, matanya yang sudah berkaca-kaca menatap sosok Lusy yang sedang tidur dengan tenang di dalam ruangan kecil itu. Ia tidak bisa mempercayai bahwa wanita yang sedang tidur di sana adalah sosok yang baru saja menyerangnya dengan kekuatan yang luar biasa besar dan hampir membawanya pada kematian.
Axel tidak bisa menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan sepatah kata pun—bahkan ia tidak bisa membuka mulut untuk berbicara sama sekali. Ia hanya bisa berdiri dengan tenang di sisi brankar medis, kemudian mengambil semangkuk air hangat yang telah ia siapkan sebelumnya dan selembar kain kasa steril yang bersih.
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar akibat emosi yang belum bisa ia kendalikan dengan benar, ia mulai membersihkan wajah dan tubuh Lusy dengan sangat lembut dan hati-hati. Ia menyeka dengan cermat sisa-sisa saus daging yang masih menempel di sekitar bibir dan dagunya, serta membersihkan bercak darah kering yang ada di sudut bibir dan sedikit menyebar ke pipinya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Maafkan aku, Sayang... sungguh maafkan aku." Bisik Axel, suaranya pecah dan tercekat oleh isak tangis yang ia tekankan dengan sangat keras agar tidak keluar dan mengganggu tidurnya. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti menusuk hati sendiri dengan sangat dalam, membuatnya merasa seperti ingin segera menghilang dari dunia ini karena rasa bersalah yang tak ada batasnya.
"Seharusnya aku membuang jus itu saat itu. Seharusnya aku lebih hati-hati dan tidak pernah membiarkan ambisiku yang buta itu menyentuh hidupmu yang damai dan bahagia itu."
Setiap usapan kain kasa yang ia lakukan pada wajah dan tubuh Lusy itu terasa seperti duri yang menusuk langsung ke dalam batinnya yang sudah sangat terluka. Ia melihat dengan sangat cermat setiap bagian wajah wanita yang ia cintai itu—bulu mata Lusy yang panjang dan lentik yang masih sedikit bergemetar saat ia tidur, hidung bangirnya yang bentuknya begitu sempurna, dan kulitnya yang seputih porselen yang kini kembali bersih dari segala kotoran dan bekas perjuangan yang terjadi sebelumnya.
Kontras yang sangat mencolok antara kecantikan yang damai ini dengan sosok monster yang mengamuk dengan sangat ganas beberapa saat yang lalu adalah neraka pribadi bagi Axel yang harus menyaksikannya sendiri.
Logikanya sebagai seorang dokter dan ilmuwan tahu dengan sangat jelas bahwa kondisi ini hanya bersifat sementara—hanya fase dorman yang akan berakhir begitu pengaruh obat bius itu mulai menghilang. Namun hatinya yang penuh dengan cinta ingin sekali percaya bahwa Lusy telah benar-benar kembali dan tidak akan pernah berubah menjadi makhluk mengerikan itu lagi.
"Aku akan menyembuhkanmu. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri bahwa aku akan melakukan segala cara untuk menyembuhkanmu."
Ia menggenggam tangan Lusy yang masih dingin itu dengan erat, kemudian mengecup bagian keningnya dengan sangat lama dan penuh dengan cinta. Setiap sentuhan yang ia berikan pada tubuh wanita itu membuatnya merasa semakin yakin bahwa ia harus melakukan segala yang bisa ia lakukan untuk mengembalikannya seperti sedia kala.
"Aku akan mencari penawarnya dengan sekuat tenaga, meski aku harus membedah isi kepalaku sendiri atau menghabiskan seluruh waktu hidupku untuk itu. Kamu tidak akan berakhir di sini, Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkannya terjadi."
Doni yang masih berdiri di balik kaca isolasi itu memalingkan wajahnya dengan cepat, tidak sanggup melihat betapa dalamnya penderitaan yang dialami oleh anaknya satu-satunya itu. Ia merasa sangat tidak berdaya—tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu Axel atau Lusy selain hanya berdiri diam dan menyaksikan segala sesuatu yang terjadi.
Di dalam laboratorium yang telah terisolasi dari dunia luar itu dengan sangat ketat, hanya ada bunyi detak jantung yang stabil dari monitor medis yang terpasang pada tubuh Lusy yang terdengar dengan jelas—suara yang menjadi satu-satunya bukti bahwa wanita itu masih hidup dan masih memiliki harapan untuk diselamatkan.
Axel berdiri tegak dengan tubuh yang sudah kembali penuh dengan kekuatan dan tekad, ia menyeka air mata yang masih mengalir di wajahnya dengan cepat menggunakan punggung tangan, kemudian menoleh dengan mantap ke arah meja risetnya yang penuh dengan buku referensi, alat-alat eksperimen, dan sampel-sampel yang telah ia ambil dari tubuh Lusy dan zat kimia yang menjadi penyebab semua ini.
Tatapannya yang tadinya penuh dengan kesedihan dan keraguan kini telah berubah total; tidak ada lagi sedikit pun rasa ragu yang tersisa di dalam dirinya, yang ada hanya tekad yang hampir bisa disebut sebagai mematikan.
Ia tahu dengan sangat jelas bahwa keheningan dan kedamaian yang ada saat ini bersifat sementara. Saat pengaruh obat bius yang diberikan mulai menghilang dan tubuh Lusy mulai pulih dari efeknya, monster yang ada di dalam dirinya akan kembali bangun dengan lebih ganas lagi, dan Axel harus sudah siap dengan sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar suntikan penenang yang hanya bisa memberikan efek sementara itu.
"Ayah, kunci pintunya dari dalam dan pulanglah untuk istirahat."
Ia tidak melihat ke arah ayahnya, namun tetap bisa merasakan bahwa Doni sedang menatapnya dengan penuh perhatian dan kekhawatiran. "Malam ini, riset yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan cara untuk mengembalikan Lusy yang sebenarnya."
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ