Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
Hutan di belakang Kastel Blackwood terasa mencekam. Suara embusan angin di sela pepohonan terdengar seperti rintihan, tapi tak ada yang lebih mengerikan bagi Aira selain melihat sosok pria yang berdiri di depan mobil hitam itu.
Syarif Malik.
Pria yang seharusnya mendekam di balik jeruji besi Indonesia, kini berdiri dengan angkuh di tanah Inggris. Meskipun pakaiannya tidak semewah biasanya, aura kekuasaan yang jahat itu tetap terpancar dari matanya yang dingin.
"Masuk ke mobil, Aira. Aku tidak suka mengulang perintah," ucap Syarif dengan nada bicara yang datar, seolah ia sedang meminta pelayan untuk mengambilkan minum.
Aira mundur selangkah, napasnya memburu. "Bagaimana bisa... Bagaimana kau bisa ada di sini?! Polisi seharusnya sudah menjebloskanmu ke penjara!"
Syarif tertawa kecil, tawa yang membuat bulu kuduk Aira meremang. "Kau meremehkan koneksi keluarga Malik, Nak. Penjara hanyalah tempat persinggahan sementara bagiku. Edward Sterling membutuhkan sekutunya di sini untuk menangani putraku yang membangkang itu."
"Arkanza..." Aira menoleh ke arah lubang terowongan yang kini tertutup reruntuhan batu akibat ledakan tadi. "Kau bekerja sama dengan Edward untuk membunuh putramu sendiri?! Kau benar-benar iblis, Syarif!"
Syarif melangkah maju, mencengkeram rahang Aira dengan kasar hingga gadis itu meringis. "Aku tidak ingin dia mati, Aira. Aku hanya ingin dia 'patah'. Jika dia hancur, dia akan kembali menjadi anjing penurutku. Dan kau... kau adalah kunci untuk mematahkan semangatnya."
Di Dalam Terowongan yang Runtuh
Kegelapan total menyelimuti Arkanza. Debu tebal memenuhi paru-parunya, membuatnya terbatuk hebat. Rasa sakit menusuk bahu kirinya yang tertimpa balok penyangga kayu, namun yang lebih menyakitkan adalah serangan alergi yang mencapai puncaknya. Kulitnya terasa seperti disiram asam.
"Ugh... Aira..." gumam Arkanza parau.
Dalam kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari sisi lain reruntuhan. Itu Arthur Kingsley, yang ternyata selamat dari ledakan karena posisinya lebih jauh.
"Tuan Arkanza? Masih hidup di bawah sana?" suara Arthur terdengar mengejek di balik tumpukan batu. "Menyedihkan sekali. Seorang penguasa Malik Group berakhir seperti tikus yang terkubur."
Arkanza menyeringai di kegelapan, meskipun darah mengalir dari pelipisnya. "Kau... kau terlalu banyak bicara, Arthur. Jika aku keluar dari sini, hal pertama yang kulakukan adalah mencabut lidahmu."
"Sayangnya, kau tidak akan keluar. Edward memberikan perintah baru. Jika kau tidak mati tertimpa batu, aku harus memastikan kau mati tertembak," Arthur mengokang senjatanya, mencoba membidik ke arah celah reruntuhan tempat suara Arkanza berasal.
"Lakukan saja," tantang Arkanza, suaranya tiba-tiba tenang dan sangat dingin. "Tapi ingat satu hal... Aira sedang bersama Syarif sekarang. Jika kau membunuhku, Syarif tidak akan punya alasan lagi untuk bekerja sama dengan Edward. Dia akan mengambil Aira dan kodenya untuk dirinya sendiri. Kau pikir Edward akan senang dengan hasil itu?"
Arthur terdiam. Logika Arkanza masuk akal. Syarif Malik adalah pria yang tidak bisa dipercaya oleh siapa pun.
Kembali ke Hutan
"Lepaskan aku!" Aira meronta, mencoba menendang kaki Syarif.
"Diam!" Syarif menyentakkan tubuh Aira ke arah pintu mobil yang terbuka. "Dengar, Aira. Arkanza sedang sekarat di dalam sana. Hanya aku yang punya akses untuk memanggil tim penggali rahasia guna mengeluarkannya sebelum dia kehabisan oksigen. Jika kau ingin dia hidup, berikan kode Sterling itu padaku sekarang."
Aira menatap mata Syarif yang penuh tipu daya. "Kau bohong. Jika aku memberikan kodenya, kau akan membunuh kami berdua."
"Kau punya pilihan lain?" Syarif mendekatkan wajahnya. "Biarkan dia mati sebagai pahlawan yang terkubur, atau berikan hartamu padaku dan aku akan memberimu waktu lima menit untuk mengucapkan selamat tinggal padanya sebelum aku membawamu pergi."
Aira merasakan liontin di dadanya. Ia tahu kode itu adalah satu-satunya pelindungnya. Namun, bayangan Arkanza yang kesakitan karena penyakitnya di bawah reruntuhan tanpa dirinya sebagai 'penawar' membuatnya hancur.
"Baik," bisik Aira lemas. "Aku akan memberikan kodenya. Tapi kau harus mengeluarkan Arkanza sekarang! Sekarang juga!"
Syarif tersenyum penuh kemenangan. Ia mengeluarkan ponselnya. "Arthur, hentikan eksekusi. Bawa tim evakuasi ke koordinat terowongan utara. Pastikan Arkanza Malik tetap bernapas, setidaknya untuk malam ini."
Aira terjatuh di atas tanah berlumut, terisak. Ia merasa telah mengkhianati perjuangan ibunya, Riana. Namun di hatinya, ia hanya tahu satu hal: Dunia tanpa Arkanza jauh lebih menakutkan daripada hidup dalam kemiskinan atau pelarian.
Syarif menarik Aira berdiri. "Bagus, Gadis Pintar. Sekarang, mari kita temui suamimu yang malang itu."
...****************...
Saat tim evakuasi mulai mengangkat batu-batu besar, Arkanza berhasil ditarik keluar dalam keadaan setengah sadar. Syarif melemparkan Aira ke arah Arkanza. Namun, saat Aira memeluk Arkanza untuk meredakan alerginya, Arkanza membisikkan sesuatu yang sangat mengejutkan tepat di telinga Aira.
"Jangan berikan kode yang asli, Aira. Kode yang ada di liontin itu... itu adalah jebakan virus yang akan menghancurkan seluruh sistem bank Swiss jika dimasukkan tanpa sidik jariku."