Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: PERANG DI GARIS BATAS
Udara di dalam kabin pesawat kargo itu terasa tipis dan berbau logam, sangat kontras dengan wangi bunga di auditorium Surabaya yang baru saja Jonatan tinggalkan. Di tengah gemuruh mesin pesawat yang memekakkan telinga, Jonatan duduk bersandarkan peti-peti kayu, matanya menatap kosong ke lantai pesawat yang bergetar. Di sampingnya, Sarah terus memandangi layar ponselnya yang timbul-tenggelam sinyalnya, berusaha menghubungi siapa pun yang tersisa di Oetimu.
Setiap menit terasa seperti satu jam. Jonatan membayangkan wajah Pak Berto yang mungkin sedang berdiri di depan bengkel, menghalangi linggis-linggis suruhan Tuan Markus dengan tubuh rentanya. Ia membayangkan Matheus yang temperamental, jangan sampai sepupunya itu melakukan tindakan gegabah yang justru akan menjebloskan mereka semua ke penjara.
"Kita akan sampai dua jam lagi, Jon," suara Sarah nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Aku sudah berkoordinasi dengan jaringan LBH di Kupang. Mereka akan mengirim tim pendamping ke Oetimu besok pagi. Tapi malam ini... malam ini kita sendirian."
Jonatan hanya mengangguk kecil. Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Mereka pikir karena aku tidak ada, mereka bisa menginjak-injak tanah itu semaunya. Mereka lupa kalau air itu sudah masuk ke pembuluh darah warga. Menutup pompa itu sama saja dengan menghentikan detak jantung mereka."
Begitu pesawat mendarat di Kupang, Jonatan dan Sarah tidak membuang waktu. Dengan bantuan seorang kawan lama Pak Johan, mereka mendapatkan tumpangan mobil jip tua yang dipacu membelah kegelapan malam Timor. Jalanan berbatu menuju Oetimu terasa lebih kejam dari biasanya, mengguncang tubuh mereka seiring dengan detak jantung Jonatan yang kian tak beraturan.
Saat mobil akhirnya mencapai perbatasan desa, pemandangan yang menyambut mereka adalah sebuah luka di tengah kegelapan. Cahaya obor dan lampu senter terlihat berkumpul di area bukit tempat panel surya berada. Jonatan melompat turun bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna.
Di sana, di bawah cahaya temaram, terlihat pemandangan yang memuakkan. Garis polisi kuning melintang mengelilingi area bengkel dan sumur utama. Dua orang pria berseragam aparat lokal berdiri berjaga, sementara di belakang mereka, Tuan Markus sedang memberikan instruksi kepada sekelompok pria berbadan tegap yang memegang linggis dan palu besar.
"Berhenti!" teriak Jonatan. Suaranya memecah kesunyian malam, memantul di dinding-dinding bukit kapur.
Tuan Markus menoleh, senyum kemenangan yang menjijikkan tersungging di wajahnya yang berminyak. "Oh, sang pahlawan nasional sudah pulang. Bagaimana Surabaya? Dingin? Sayangnya, di sini sedang panas, Jonatan. Panas karena prosedur hukum yang kau langgar."
"Hukum apa, Tuan?!" Jonatan melangkah maju, melewati garis kuning tanpa peduli pada teguran petugas. "Alat ini berdiri di atas tanah keluarga saya. Izinnya sedang diproses dan didukung oleh kementerian!"
"Kementerian itu jauh, Jon. Di sini, yang berlaku adalah laporan warga tentang potensi kerusakan struktur tanah," Tuan Markus menunjuk ke arah beberapa orang dari desa seberang yang berdiri ragu di belakangnya. "Mereka khawatir sumur mereka kering karena kau menyedot air terlalu rakus. Petugas hanya menjalankan tugas untuk mengamankan barang bukti."
Jonatan melihat ke arah bengkelnya. Pintu kayunya sudah dirusak. Alat-alat solder dan beberapa modul cadangan berserakan di tanah. Dan yang paling menyakitkan, ia melihat Matheus sedang duduk di tanah dengan tangan terikat ke belakang, wajahnya lebam terkena pukulan. Di sampingnya, Pak Berto tampak lemas ditenangkan oleh beberapa ibu-ibu desa.
"Bapa..." Jonatan berlari memeluk ayahnya.
"Jon... mereka bilang air kita ilegal," bisik Pak Berto dengan suara bergetar. "Mereka mau bongkar panelnya."
Jonatan berdiri, membalikkan badan menghadap Tuan Markus dan para petugas. "Kalian tidak akan menyentuh satu pun baut di sana. Sarah, tunjukkan!"
Sarah maju dengan langkah tegas, mengeluarkan map berisi surat keputusan dari kementerian yang baru saja diterimanya lewat surat elektronik resmi dan ia cetak di Kupang tadi. "Ini adalah surat proteksi inovasi desa. Setiap tindakan perusakan terhadap aset ini akan dianggap sebagai sabotase terhadap program strategis nasional. Siapa yang mau bertanggung jawab jika nama kalian masuk dalam laporan menteri besok pagi?"
Para petugas penjaga itu saling lirik, keraguan mulai muncul di wajah mereka. Namun Tuan Markus tertawa kencang. "Surat sakti? Ini daerah saya, Nona. Jangan bawa-bawa kertas dari Jakarta untuk menakuti kami. Bongkar!"
Para pria berlinggis itu mulai mendekati dudukan panel surya. Jonatan tidak punya pilihan. Ia tidak memiliki senjata, ia tidak memiliki kekuasaan fisik. Namun, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Tuan Markus: kesetiaan warga yang sudah mencicipi manisnya kemerdekaan.
Tiba-tiba, dari balik kegelapan semak-semak dan pepohonan asam, muncullah warga Oetimu dan Nekmese. Tidak hanya para pria, tapi juga para ibu yang membawa jerigen kosong, dan anak-anak yang membawa batu. Mereka bergerak dalam diam, membentuk pagar betis manusia mengelilingi area panel surya dan bengkel.
"Kalau kalian mau bongkar ini, kalian harus lewat kami dulu," suara itu datang dari Bu Maria. Ia berdiri paling depan, memegang botol air yang tadi siang baru saja diisinya dari kran desa. "Air ini yang buat saya tidak perlu jalan kaki lima kilometer lagi. Siapa pun yang ambil air ini, dia ambil nyawa saya."
Suasana menjadi sangat mencekam. Tuan Markus tampak terkejut melihat perlawanan massal yang begitu tenang namun mematikan ini. Ia menoleh ke arah petugas, memberi kode untuk bertindak keras.
"Bubarkan mereka! Ini penghalangan tugas!" teriak Tuan Markus.
Namun, petugas itu tidak bergerak. Salah satu dari mereka berbisik pada Tuan Markus setelah melihat kerumunan yang semakin banyak—hampir seluruh penduduk desa turun ke bukit. "Tuan, kalau terjadi kerusuhan di sini, karir kami habis. Massa terlalu banyak."
Jonatan melangkah ke depan, berdiri tepat di depan pria yang memegang linggis terbesar. "Tuan Markus, Anda bisa membeli hukum di tingkat kecamatan. Anda bisa memfitnah saya lewat koran-koran bayaran. Tapi Anda tidak bisa membeli rasa haus orang-orang ini. Panggung saya di Surabaya mungkin hanya panggung bicara, tapi panggung di Oetimu adalah panggung kehidupan. Silakan, hancurkan kalau Anda berani menanggung dendam ribuan orang."
Pria berlinggis itu perlahan menurunkan alatnya. Ia melihat ke arah kerumunan warga, melihat mata mereka yang menyala di kegelapan. Ia tahu, uang dari Tuan Markus tidak sebanding dengan nyawa yang dipertaruhkan malam itu.
Tuan Markus meludah ke tanah, wajahnya merah padam karena terhina. "Ini belum berakhir, Jonatan. Kau mungkin menang malam ini karena massa yang kau hasut. Tapi besok, pajak air, pajak tanah, dan izin gangguan akan mencekikmu sampai mati."
"Kita lihat saja, Tuan," balas Jonatan dingin. "Tanah ini sudah lama mati, sekarang dia sedang bangun. Dan orang yang bangun tidak akan pernah mau tidur lagi dalam penindasan."
Dengan gerutu penuh amarah, Tuan Markus masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi meninggalkan debu yang mengepul. Para petugas pun perlahan mundur, melepas garis polisi kuning itu meski dengan wajah enggan.
Begitu mobil-mobil itu menjauh, suasana pecah. Warga bersorak, namun Jonatan langsung berlari melepaskan ikatan Matheus.
"Kau bodoh, Theus. Kenapa melawan mereka sendirian?" tanya Jonatan sambil memeluk sepupunya itu.
"Aku tidak sendirian, Jon," Matheus meringis menahan sakit di bibirnya. "Sumur ini yang bicara padaku. Dia bilang, jangan biarkan serigala itu minum dari air kita."
Malam itu, Oetimu tidak tidur. Mereka berjaga di sekeliling bukit. Jonatan duduk di depan bengkelnya yang berantakan, memperbaiki kabel-kabel yang sempat ditarik paksa. Sarah duduk di sampingnya, memandangi bintang-bintang Timor yang tampak begitu dekat.
"Perang ini naik kelas, Jon," ujar Sarah pelan. "Tuan Markus akan menggunakan instrumen birokrasi yang lebih rumit. Kita butuh perisai hukum yang lebih permanen."
Jonatan menghentikan pekerjaannya sejenak, menatap kran air yang mengeluarkan suara desis udara. "Biarlah. Selama air ini mengalir, selama itu pula kita punya kekuatan. Besok kita mulai buat Koperasi Air Desa. Tidak ada lagi yayasan pribadi, ini harus jadi milik warga seutuhnya. Agar tidak ada satu pun penguasa yang bisa mencuri apa yang sudah menjadi hak milik rakyat."
Bab 27 ditutup dengan suara kran yang terbuka, mengeluarkan air jernih di tengah kegelapan malam. Air itu jatuh ke tanah, membasahi bumi yang selama ini hanya tahu arti kering. Jonatan membasuh wajahnya yang penuh debu dan lelah, menyadari bahwa setiap tetes air yang keluar adalah sebuah pernyataan perang terhadap siapa pun yang berani mencoba menjajah rakyat lewat dahaga.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian