Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Halal
Pagi itu Ciwidey terasa berbeda. Udara tetap sejuk, kabut tetap turun perlahan di sela kebun teh, tetapi hati Yasmin terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak badai itu datang, ia bangun tanpa dada yang sesak.
Di ruang tengah, ibunya sedang menyeduh teh hangat ketika Yasmin keluar dari kamar.
“Wajahmu cerah sekali,” goda ibunya lembut.
Yasmin tersipu. “Ibu tahu saja.”
Ibunya tersenyum penuh arti. “Kalau ayahmu sudah mengizinkan, berarti langkah kalian tinggal dijaga. Jangan sampai goyah lagi.”
Yasmin mengangguk. Ia tahu perjalanan belum sepenuhnya selesai. Ragnar masih harus menjalani proses sebagai saksi dalam persidangan. Media mungkin masih menyorot namanya sesekali. Tapi keputusan terbesar sudah dibuat: mereka memilih melanjutkan.
Dan memilih bersama.
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar sedang membereskan beberapa urusan kantornya. Ia memutuskan mundur dari beberapa proyek besar yang berpotensi menarik perhatian publik. Ia ingin hidupnya lebih tenang, lebih bersih.
Rafi menghubunginya siang itu.
“Kita perlu bicara,” suara Rafi terdengar serius.
Mereka bertemu di sebuah kafe sederhana di Bandung, titik tengah antara Jakarta dan Ciwidey.
“Aku jujur saja,” kata Rafi tanpa basa-basi. “Aku sempat tidak setuju dengan hubungan kalian.”
Ragnar tersenyum tipis. “Aku tahu.”
“Tapi setelah melihat cara kamu menghadapi masalah kemarin… aku mulai paham kenapa Yasmin memilihmu.”
Ragnar terdiam.
“Aku cuma minta satu hal,” lanjut Rafi. “Jangan pernah membuat dia menyesal mempertahankanmu.”
Ragnar menatapnya tegas. “Aku sudah terlalu banyak membuat kesalahan dalam hidupku. Aku tidak akan menjadikan pernikahan ini sebagai kesalahan berikutnya.”
Rafi mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, selamat datang di keluarga kami,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Untuk pertama kalinya, Ragnar merasa benar-benar diterima.
________________________________________
Beberapa minggu kemudian, keluarga Ragnar datang ke Ciwidey untuk pertemuan resmi.
Ayah Ragnar—pria berdarah Belanda yang kini lebih banyak tinggal di Indonesia—duduk bersampingan dengan ibu Yasmin yang anggun dalam balutan kebaya sederhana.
Perbedaan budaya terasa, tapi tidak canggung.
Pembicaraan berjalan hangat.
Tanggal lamaran pun ditentukan.
Yasmin duduk di kamarnya setelah semua tamu pulang. Ia memandangi cincin sederhana yang baru saja dikenakan di jarinya.
Bukan cincin mewah.
Bukan berlian besar.
Tapi cukup untuk menjadi simbol niat.
Ragnar mengirim pesan malam itu.
Aku masih tidak percaya kamu benar-benar memilihku.
Yasmin tersenyum sebelum membalas.
Aku memilih tanggung jawabmu, bukan masa lalumu.
Ragnar membaca pesan itu berkali-kali.
________________________________________
Namun, ujian kecil kembali datang.
Sebuah portal gosip mengangkat ulang berita lama tentang kasus perusahaan Ragnar, lengkap dengan judul sensasional.
“Calon Suami Gadis Desa Terseret Skandal Lama!”
Beberapa tetangga kembali berbisik.
Yasmin mendengar sebagian komentar itu ketika ia berbelanja di pasar.
“Sayang sekali… cantik-cantik dapat laki-laki bermasalah.”
Langkahnya sempat terhenti.
Hatinya tersentak.
Malam itu, ia menangis dalam diam.
Bukan karena ia menyesal.
Tapi karena ia baru benar-benar merasakan beratnya menjadi pasangan seseorang yang pernah jatuh.
Ragnar datang keesokan harinya dengan wajah penuh penyesalan.
“Aku minta maaf,” katanya lirih.
“Untuk apa?” tanya Yasmin.
“Karena kamu harus ikut menanggung akibat dari kesalahanku.”
Yasmin menatapnya.
“Inilah arti mendampingi, Kang,” ucapnya lembut. “Aku tidak hanya ingin bersamamu saat semuanya baik.”
Ragnar menahan air matanya.
“Tapi aku manusia biasa,” lanjut Yasmin pelan. “Kadang aku lelah juga.”
Ragnar mendekat sedikit, menjaga jarak yang tetap terhormat.
“Kalau kamu lelah, sandarkan sebentar. Aku akan berusaha menjadi tempat yang layak untuk kamu sandari.”
Kata-kata itu membuat Yasmin tersenyum di tengah sisa air matanya.
________________________________________
Hari lamaran tiba.
Langit cerah.
Rumah Yasmin dihiasi sederhana dengan kain putih dan rangkaian bunga segar. Tidak berlebihan, tidak mewah—cukup hangat.
Ragnar datang bersama keluarganya, mengenakan batik cokelat tua.
Prosesi berjalan khidmat.
Ketika ayah Yasmin menyebut nama Ragnar dalam kalimat penerimaan lamaran, dada Yasmin bergetar.
Ini nyata.
Semua ujian itu nyata.
Dan keputusan ini juga nyata.
Setelah acara selesai, Ragnar dan Yasmin duduk sebentar di teras, ditemani angin sore.
“Kita benar-benar melangkah,” kata Ragnar pelan.
Yasmin mengangguk. “Takut?”
“Ada sedikit.”
“Aku juga.”
Ragnar tersenyum.
“Tapi mungkin bukan tentang tidak adanya rasa takut,” lanjut Yasmin. “Melainkan tentang tetap melangkah meski takut.”
Ragnar menatap kebun teh yang membentang luas.
“Dulu aku pikir cinta itu tentang memiliki,” katanya perlahan. “Sekarang aku tahu cinta itu tentang memperbaiki diri agar layak mendampingi.”
Yasmin menatapnya dengan mata hangat.
“Dan aku belajar,” katanya, “bahwa ta’aruf bukan jalan yang mudah. Tapi justru karena tidak mudah, ia terasa lebih bermakna.”
Matahari mulai tenggelam, meninggalkan semburat jingga di langit Ciwidey.
Tidak ada lagi badai besar.
Tidak ada lagi rahasia tersembunyi.
Hanya dua insan yang telah melewati ujian pertama mereka—dan memilih tetap berdiri bersama.
Ragnar menggenggam tasbih kecil di sakunya.
“Fi…”
“Ya?”
“Terima kasih sudah tidak menyerah ketika aku hampir menyerah pada diriku sendiri.”
Yasmin tersenyum lembut.
“Terima kasih juga sudah berani berubah.”
Angin sore berembus pelan, membawa harum daun teh.
Dan di bawah langit yang semakin redup, keduanya tahu—
Perjalanan mereka belum selesai.
Pernikahan bukan akhir dari ujian.
Tapi awal dari bab yang lebih panjang.
Namun kali ini, mereka tidak lagi takut pada masa lalu.
Karena mereka telah belajar satu hal penting:
Cinta yang tumbuh dalam kejujuran akan selalu menemukan jalannya menuju halal.