NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuk…Tuk…

Hari-hari setelah makan malam keluarga itu terasa seperti musim dingin yang tak kunjung usai bagi Jake. Di atas panggung, ia tetaplah bintang yang bersinar, namun begitu lampu sorot padam, ia tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.

Jake sengaja menaruh jarak. Ia tidak mengirim pesan, tidak menelepon, bahkan sengaja memutar jalan jika harus melewati area konstruksi tempat Takara bekerja. Bukan karena ia membenci Takara, justru sebaliknya. Ia sedang berperang dengan logikanya sendiri.

Di dalam studio latihan yang sepi, Jake duduk menyandar pada cermin besar, menatap pantulan dirinya yang tampak kuyu.

"Kalau gue minta kita balik jadi sahabat, itu artinya gue jahat," batinnya pedih.

Meminta Takara kembali ke status "sahabat" setelah pengakuan cinta itu sama saja dengan menolak perasaannya secara halus. Itu artinya Jake membiarkan Takara terus menderita dalam ketidakpastian, melihatnya dari jauh tanpa bisa menyentuh, dan menahan cemburu saat pria lain seperti Arlo hadir memberikan kehangatan nyata.

Namun, menjadi kekasihnya? Jake memejamkan mata rapat-rapat. Posisinya sebagai idol papan atas saat ini sama sekali tidak akan menguntungkan Takara. Jika dunia tahu, Takara akan menjadi sasaran kebencian, privasinya akan habis, dan karier arsitek yang ia bangun dengan susah payah bisa hancur dalam semalam karena skandal.

"Gue nggak mau lo hancur karena gue, Ra," gumam Jake lirih ke arah ruangan yang kosong.

Siang itu, dari lantai atas gedung agensi, Jake berdiri di balik jendela kaca yang gelap. Ia melihat sebuah pemandangan yang membuat dadanya sesak.

Di area proyek, Takara sedang duduk di sebuah bangku kayu sementara. Di sampingnya, Arlo sedang membukakan tutup botol minum untuknya dan memberikan sebuah kotak makan siang. Mereka tampak mengobrol tenang. Takara tidak tertawa lebar, tapi ia tampak... damai.

Ada rasa ingin berlari ke sana, menarik Takara, dan mengatakan bahwa dialah yang seharusnya ada di sana. Tapi langkah Jake terhenti. Ia sadar, Arlo bisa memberikan "waktu" dan "ketenangan" yang tidak akan pernah bisa Jake berikan selama ia masih terikat kontrak dan popularitas.

"Sampai kapan mau ngeliatin dari jauh terus?" suara Jay memecah lamunan Jake. Jay berdiri di pintu studio dengan dua botol kopi.

"Gue nggak tahu harus apa, Jay. Gue sayang sama dia, tapi gue idol. Gue cuma bakal ngerusak hidup dia kalau gue egois sekarang," jawab Jake jujur.

Jay menghela napas, menyodorkan satu botol kopi ke Jake. "Idol juga manusia, Jake. Tapi lo bener, risikonya gede buat dia. Masalahnya, dengan lo naruh jarak kayak gini, lo justru ngebuka pintu lebar-lebar buat cowok itu masuk ke hidupnya. Apa lo siap liat Takara bener-bener pergi?"

Jake terdiam. Pertanyaan Jay menghujam tepat di ulu hatinya.

Sore harinya, saat Jake hendak keluar dari gedung untuk jadwal pemotretan, ia berpapasan dengan Takara di lobi. Takara baru saja menyelesaikan koordinasi dengan staf agensi.

Mereka membeku selama beberapa detik. Takara terlihat lebih profesional, lebih dingin, namun matanya yang lelah tidak bisa berbohong.

"Ra..." panggil Jake pelan.

Takara berhenti, namun ia tidak mendekat.

"Oh, hai Jake. Baru mau berangkat jadwal?" tanyanya dengan nada yang sangat formal, seolah mereka benar-benar hanya rekan kerja yang kebetulan kenal.

"Iya. Lo... lo nggak apa-apa?"

Takara tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Jake merasa semakin jauh. "Gue oke. Arlo jagain gue dengan baik kok. Lo fokus aja sama kerjaan lo, ya."

Kalimat itu, sebutan nama Arlo yang keluar begitu alami dari bibir Takara, terasa seperti tamparan bagi Jake. Ia menyadari bahwa jarak yang ia ciptakan secara sengaja kini mulai menjadi permanen.

———

Kabar tentang keberangkatan ENHYPEN untuk syuting konten di luar kota selama seminggu menyebar cepat di koridor gedung agensi. Bagi Takara, berita itu seperti embusan angin segar di tengah sesak dadanya.

"Baguslah," bisik Takara pada dirinya sendiri sambil menatap draf revisi maket di mejanya.

"Gue butuh jarak. Gue butuh udara buat napas tanpa harus ngerasa diawasin atau ngerasa bersalah tiap kali papasan sama Jake."

Dengan pikiran yang sedikit lebih ringan, Takara menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia bekerja dua kali lebih keras, seolah-olah semen dan baja bisa membantunya melupakan rasa sakit hati. Ia mengabaikan jam makan siang, meminum kopi keempatnya hari itu, dan terus berdiri di bawah terik matahari untuk memastikan pemasangan balok kayu jembatan presisi hingga milimeter terakhir.

Matahari mulai terbenam, menyisakan semburat oranye di langit Seoul. Area konstruksi mulai sepi, hanya menyisakan beberapa pekerja teknis dan Takara di barak sementara.

Tiba-tiba, pandangan Takara mengabur. Kepalanya terasa berdenyut hebat, seolah ada palu yang menghantam pelipisnya. Saat ia menunduk untuk mengambil penggaris, sesuatu yang hangat dan kental menetes jatuh di atas kertas kalkir putihnya.

Tuk. Tuk.

Cairan merah pekat menodai desain jembatan yang ia kerjakan dengan susah payah. Takara menyentuh hidungnya, dan jarinya seketika bersimbah darah.

"Sial... kenapa sekarang?" gumamnya lemas. Ia mencoba berdiri untuk mengambil tisu, namun dunianya mendadak berputar hebat. Lututnya lemas, dan ia nyaris tersungkur jika sebuah tangan kokoh tidak menangkap bahunya dari belakang.

"Takara?! Astaga, hidung kamu!"

Itu suara Arlo. Pria itu sebenarnya sudah hendak pulang, namun ia kembali karena melihat lampu barak Takara masih menyala. Wajah Arlo pucat pasi melihat kondisi Takara yang bersimbah darah di bagian wajah dan kemejanya.

"Aku nggak apa-apa, Arlo... cuma kecapekan," lirih Takara, suaranya terdengar sangat jauh.

"Nggak apa-apa gimana?! Kamu pucat banget, Ra!" Arlo tanpa babibu langsung menyambar tas Takara, lalu menggendong gadis itu ala bridal style menuju parkiran. Ia tidak peduli lagi dengan formalitas atau pandangan staf keamanan yang tersisa.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Arlo terus menggenggam tangan Takara yang dingin dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengemudi dengan kecepatan tinggi.

Takara terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di tangannya. Dokter mendiagnosisnya mengalami kelelahan ekstrem dan stres akut yang memicu pecahnya pembuluh darah kecil di hidung.

Arlo duduk di samping tempat tidur, menatap Takara dengan pandangan yang campur aduk antara marah dan sedih.

"Kenapa kamu harus nyiksa diri kayak gini, Ra?" tanya Arlo pelan saat Takara akhirnya sadar sepenuhnya. "Apa karena Jake? Apa kamu kerja keras begini cuma supaya nggak punya waktu buat mikirin dia?"

Takara membuang muka, menatap cairan infus yang menetes perlahan. "Aku cuma mau nyelesain tugasku, Arlo."

"Tugas kamu bukan untuk mati di lokasi proyek," potong Arlo tegas. "Kalau Jake tahu kamu masuk rumah sakit gara-gara ini, dia pasti bakal nyalahin dirinya sendiri, atau lebih parah, dia bakal nyalahin aku karena nggak becus jagain kamu."

Takara terdiam. Di saat yang sama, ponselnya yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar yang retak.

📲 Jake: Gue udah sampe di lokasi syuting. Jaga kesehatan ya, Ra. Jangan lewatkan makan siang lo.

Takara memejamkan mata. Pesan itu terasa sangat terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!