Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.
Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar kontrakan bulanan dan menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Di dalam rumah, Kirana menutup pintu perlahan. Ia bersandar sebentar, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Arka memandang ibunya, menangkap perubahan raut wajah itu.
“Bun, Om Yuda kenapa kelihatan serius?” tanya Arka polos.
Kirana tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Bang. Om Yuda orang baik.”
Tiara yang duduk di lantai memeluk boneka barunya, mendongak. “Om Yuda baik, ya, Bun. Tiara suka.”
Sesampainya di rumah, Yuda disambut Lasma yang sedang menyiram tanaman.
“Kok cepat pulangnya?” tanya ibunya.
“Sudah, Bu. Saya cuma mampir sebentar,” jawab Yuda. Ia tersenyum kecil, lalu masuk.
Yuda melangkah ke kamarnya dengan langkah pelan. Begitu pintu tertutup, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit putih yang terasa begitu sunyi. Kedua tangannya disilangkan di atas dada, napasnya ditarik dalam-dalam.
Sore harinya, matahari sudah mulai condong ke barat, menciptakan semburat oranye di langit. Di rumah Kirana, anak-anak masih asyik bermain di ruang tengah ketika suara motor terdengar berhenti di depan.
Tak lama, sosok Jefri dan Mbak Rita muncul di depan pintu.
"Assalamualaikum, Ra," sapa Mbak Rita sambil melangkah masuk.
"Waalaikumsalam. Eh, Mbak, Mas... baru sampai?" Kirana menyambut mereka dengan senyum.
". Eh, Mbak, Mas, masuk dulu,” sambut Kirana hangat.
“Enggak usah, Ra. Ini cuma mau jemput Lilis sekalian mampir sebentar,” kata Mbak Rita sambil melangkah masuk ke ruang tamu. “Lilis mana? Enggak merepotkan, kan?”
“Enggak sama sekali, Mbak. Tuh, lagi asyik main sama Arka dan Tiara,” tunjuk Kirana ke ruang tengah.
Mas Jefri menyerahkan kantong plastiknya kepada Kirana dengan senyum canggung. “Ini, Mbak... ada titipan jajanan sedikit buat Arka sama Tiara. Biar mereka makin semangat mainnya.”
“Aduh, Mas Jefri, makasih banyak ya. Repot-repot amat,” ujar Kirana merasa tidak enak.
Arka dan Tiara yang mendengar ada jajanan langsung menghampiri. “Wah, martabak! Makasih Om Jefri, makasih tante!” seru Arka senang. Lilis pun ikut menghampiri.
"mama udah pulang" ucap Lilis.
"udah ayok, mandi dulu udah sore. Pamit sama Tante Kirana dulu"
......
"Mas Jefri, dipanggil Pak Yuda ke ruangannya sekarang."
Jefri menarik napas panjang, merapikan seragam pabriknya yang sedikit berdebu, lalu melangkah menuju ruangan bos besarnya. Begitu sampai di depan pintu, ia mengetuk pelan.
"Masuk," suara Yuda terdengar dari dalam.
Jefri melangkah masuk dengan sikap sopan. "Selamat pagi, Pak Yuda. Bapak memanggil saya?"
"Pagi, Jefri. Duduk dulu, santai saja," ujar Yuda sambil memberi isyarat ke kursi di depan mejanya.
Jefri duduk, meski tetap ada rasa sungkan. "Terima kasih, Pak."
"Gimana kerjaan hari ini? Aman?" tanya Yuda membuka obrolan ringan. "Ngomong-ngomong, saya agak lupa, kamu di bagian mana sekarang?"
Jefri sedikit mengerjap, lalu menjawab cepat, "Saya di bagian kepala gudang, Pak. Sudah jalan tiga tahun di sana."
"Oh, bagian gudang. Pantas saja laporannya selalu rapi, ternyata kamu orangnya," Yuda terkekeh pelan, membuat suasana jadi jauh lebih cair. "Kerja yang bagus, Jefri. Pertahankan."
Namun, setelah itu Yuda terdiam sejenak. Ia memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, wajahnya berubah agak serius
"Sebenarnya saya panggil kamu ke sini karena ada yang mengganjal di pikiran saya sejak kemarin. Soal di rumah Mbak Kirana," ucap Yuda jujur. "Saya agak kaget pas kamu datang titip Lilis kemarin. Hubungan kamu sama Mbak Kirana itu... bagaimana?"
Jefri langsung tersenyum maklum. Ia paham kenapa bosnya sampai bertanya seperti itu.
"Anu, Pak... Mbak Kirana itu adik ipar saya," jelas Jefri. "Istri saya, Rita, itu kakaknya almarhum suaminya Mbak Kirana. Jadi kami memang keluarga dekat, Pak. Rumah kami juga sampingan. Makanya sering mampir buat bantu-bantu."
Mendengar penjelasan itu, Yuda tampak menghembuskan napas lega. Ketegangan yang sejak pagi menghinggapi pikirannya seketika sirna.
"Ooh, jadi kakak ipar? Syukurlah," gumam Yuda pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri. "Saya kira... ya, saya cuma ingin memastikan saja."
Yuda lalu tersenyum lebih lebar. "Bagus kalau begitu."
Jefri mengangguk. "Iya, Pak. Mbak Kirana sudah kami anggap adik sendiri."
"Ya sudah, kembali kerja sana. Jangan tegang begitu kalau ketemu saya di sini"
"Siap, Pak! Terima kasih, Pak Yuda," jawab Jefri yang kini merasa jauh lebih plong. Ia berpamitan keluar ruangan dengan langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.