NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Perjalanan Ke Klan Naga Hijau

Kabut tebal menyelimuti hamparan hutan hijau yang luas saat rombongan mencapai perbatasan wilayah Klan Naga Hijau. Udara lembap dan segar memenuhi paru-paru mereka, dengan suara burung dan serangga yang membentuk simfoni alam yang khas. Pohon-pohon tinggi menjulang ke langit, sebagian besar tertutup oleh lumut dan tanaman merambat yang tumbuh liar.

“Klan Naga Hijau tinggal jauh di dalam hutan—di kawasan yang hanya bisa dijangkau melalui jalur yang tidak dikenal oleh orang luar,” jelas Liu Hai, yang telah bergabung dengan rombongan setelah dari Klan Naga Biru. “Mereka menguasai kekuatan tanah dan tumbuhan, menjadikan hutan sebagai benteng yang tak tertembus.”

Feng melihat ke dalam hutan yang lebat dengan mata yang penuh perhatian. Dia merasakan getaran yang hangat dari Pedang Naga di pundaknya—energi kehidupan yang kuat mengalir di setiap sudut wilayah ini, seolah tanah itu sendiri bernapas dengan kehidupan yang melimpah.

Mereka memasuki hutan melalui jalur yang sangat kecil, hanya bisa ditembus satu per satu. Pohon-pohon besar membentuk langit-langit yang lebat di atas kepala mereka, sehingga hanya sedikit sinar matahari yang bisa menembus ke tanah. Di sepanjang jalan, tanaman-tanaman aneh dengan bunga berwarna-warni tumbuh dengan subur, beberapa di antaranya bahkan bergerak perlahan seolah menyambut kedatangan mereka.

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka mulai bergerak. Akar pohon besar muncul dari bawah tanah, membentuk pagar yang menghalangi jalur mereka. Dari balik rerumputan tinggi, sekelompok orang berpakaian hijau tua dengan mahkota dari dedaunan muncul dengan gerakan yang seolah menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

“Siapa yang berani memasuki wilayah Klan Naga Hijau tanpa izin?” suara lembut namun penuh kekuatan terdengar dari antara mereka. Seorang wanita muda dengan rambut berwarna hijau muda dan mata seperti dedaunan hijau tua berdiri di depan mereka, dengan tangan yang terlipat di depan dadanya.

“Ia adalah Lin Xia, putri pemimpin Klan Naga Hijau,” bisik Li Mei kepada Feng. “Mereka bilang dia bisa berkomunikasi dengan semua makhluk hidup di hutan ini.”

Feng melangkah ke depan dengan tangannya terangkat sebagai tanda perdamaian. “Kami datang dengan damai, Puan Lin Xia. Saya adalah Chen Feng, dan kami telah datang dari Kota Yunlong bersama dengan perwakilan Klan Naga Merah dan Klan Naga Biru. Kami ingin berbicara dengan pemimpin klan Anda tentang menyatukan kekuatan untuk melindungi Tanah Seribu Pegunungan.”

Lin Xia mengamati mereka dengan cermat, kemudian menyentuh salah satu akar pohon yang membentuk pagar. Akar itu mulai bergerak perlahan, membuka jalan kecil untuk mereka. “Hutan telah memberitahu saya bahwa kamu datang dengan niat yang benar,” ujarnya dengan suara yang merdu seperti getaran dedaunan. “Namun kamu harus melewati ujian kecil untuk membuktikan bahwa kamu layak bertemu dengan ibu saya.”

Mereka diantar ke dalam hutan yang lebih dalam, sampai tiba di sebuah kawasan terbuka yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun dengan akar yang membentuk bangunan alami. Di tengah kawasan itu, sebuah kuil yang terbuat dari kayu dan batu alam berdiri dengan kokoh, seluruh permukaannya ditutupi oleh lumut hijau dan tanaman merambat yang indah.

Di dalam kuil, seorang wanita yang tampak lebih tua dengan wajah yang penuh kedalaman dan kebijaksanaan berdiri dengan sikap tenang. Ia adalah Lin Qing, pemimpin Klan Naga Hijau yang telah memimpin klannya selama lebih dari tiga puluh tahun.

“Selamat datang di rumah kita,” ujarnya dengan suara yang hangat seperti tanah yang subur. “Kita telah mengamati perjalananmu melalui hutan, Chen Feng. Kamu telah menunjukkan bahwa kamu bisa menghormati alam dan hidup berdampingan dengan segala makhluk hidup di dalamnya.”

Ujian untuk Klan Naga Hijau dilakukan di kebun khusus yang terletak di belakang kuil. Kebun itu diisi dengan berbagai jenis tanaman langka dan langka yang membutuhkan perawatan khusus untuk tumbuh dengan subur.

“Kekuatan tanah tidak hanya tentang kekerasan atau ketahanan,” jelas Lin Qing sambil menunjukkan ke arah kebun. “Ia tentang kesabaran, perawatan, dan kemampuan untuk memberikan kehidupan kepada yang lain. Jika kamu bisa menunjukkan bahwa kamu mengerti hal itu, maka kamu layak untuk mendapatkan dukungan klan kita.”

Feng memasuki kebun dengan hati-hati. Dia meletakkan Pedang Naga di satu sisi dengan lembut, kemudian mulai bekerja dengan tangan kosong. Dia menggali tanah dengan hati-hati, menyiram tanaman dengan air dari sungai kecil yang mengalir di dekat kebun, dan menyebarkan pupuk alami dengan tangan yang terampil.

Saat dia bekerja, dia merasakan energi alam yang mengalir dari tanah ke dalam tubuhnya. Dia bisa merasakan kebutuhan setiap tanaman—yang membutuhkan lebih banyak sinar matahari, yang membutuhkan lebih banyak air, yang membutuhkan ruang untuk tumbuh. Dengan gerakan yang lembut dan penuh perhatian, dia mengatur tanaman-tanaman itu agar bisa hidup berdampingan dengan baik.

Mendadak, hujan deras mulai turun dari langit yang tiba-tiba menjadi mendung. Namun alih-alih berlindung, Feng tetap berdiri di tengah kebun. Dia membentangkan kedua tangannya ke atas kepalanya, dan energi keemasan mulai menyebar dari tubuhnya ke seluruh kebun. Sebuah bidang energi tipis terbentuk di atas kebun, melindungi tanaman-tanaman itu dari hujan yang terlalu deras namun tetap membiarkan air yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanah.

Ketika hujan reda dan matahari mulai muncul kembali, seluruh kebun tampak lebih hijau dan segar dari sebelumnya. Bunga-bunga yang tadinya belum mekar mulai mekar dengan indah, dan udara dipenuhi dengan aroma yang harum.

“Kamu benar-benar mengerti makna kehidupan,” ujar Lin Xia dengan suara yang penuh kagum. “Kita selalu berpikir bahwa kekuatan tanah hanya untuk melindungi diri sendiri, namun kamu telah menunjukkan bahwa ia juga bisa digunakan untuk memberikan kehidupan dan kebahagiaan bagi yang lain.”

Malam itu, perayaan besar diadakan di tengah hutan. Api unggun yang terbakar dengan nyala api yang lembut menyala di tengah lingkaran pohon-pohon besar, dan makanan yang terbuat dari sayuran segar, buah-buahan, dan jamur khas hutan disajikan dengan murah hati. Anggota Klan Naga Hijau menari dengan gerakan yang mengalir seperti tumbuhan yang sedang tumbuh, sementara musik khas yang dimainkan dengan alat-alat dari kayu dan kulit tumbuhan mengisi udara.

Feng berdiri di samping Lin Xia dan Linglong, menyaksikan pemandangan bulan yang terlihat melalui celah-celah daun pohon di atas kepala mereka.

“Klan kita telah hidup dalam keharmonisan dengan alam selama berabad-abad,” ujar Lin Xia dengan suara yang lembut. “Kita percaya bahwa setiap makhluk hidup memiliki hak untuk hidup dengan damai. Namun kamu telah menunjukkan bahwa kita juga bisa berkontribusi untuk melindungi wilayah yang lebih luas.”

“Setiap bagian dari alam memiliki peranannya sendiri,” jawab Feng. “Kekuatan tanah dan tumbuhan kamu bisa membantu kita memulihkan daerah yang telah rusak oleh konflik dan membuat tanah menjadi subur kembali. Bersama-sama, kita bisa membangun masa depan yang lebih baik bagi semua orang.”

Di kejauhan, Lin Qing berdiri bersama dengan Li Mei dan Liu Hai, menyaksikan pemandangan itu. “Waktunya telah tiba bagi kita untuk keluar dari zona nyaman kita,” ujarnya dengan suara yang penuh keyakinan. “Kita telah menyimpan kekuatan kita terlalu lama. Sekarang saatnya untuk berbagi dengan dunia luar dan membantu membangun perdamaian yang sesungguhnya.”

Keesokan paginya, puluhan prajurit Klan Naga Hijau siap berangkat bersama rombongan. Mereka membawa benih-benih tanaman langka, pengetahuan tentang pengobatan alami, dan kemampuan untuk mengendalikan kekuatan tanah dan tumbuhan untuk melindungi dan membangun. Jalannya untuk menyatukan semua klan pemburu naga hampir selesai, dan kini mereka telah memiliki kekuatan yang besar—sebuah aliansi yang dibangun atas rasa hormat terhadap alam dan tujuan bersama untuk membawa kehidupan dan kebaikan bagi semua orang di Tanah Seribu Pegunungan.

Saat mereka meninggalkan wilayah Klan Naga Hijau, seluruh hutan seolah menyambut mereka dengan hangat. Pohon-pohon bergerak perlahan seolah mengucapkan selamat jalan, dan burung-burung terbang mengikuti mereka sejauh mungkin sebelum kembali ke rumah mereka di hutan. Semua orang tahu bahwa mereka telah mendapatkan sekutu yang kuat dan bahwa alam itu sendiri akan selalu berada di sisinya ketika mereka berjuang untuk kebaikan.

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!