Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 — BERTEMU DENGAN KOMANDAN WANITA
"Liu, apa kau lupa aku mantan narapidana?"
"Penjara dan Bai Ma itu berbeda!!!"
"Ken..."
Liu mendekati Kenzo. Lalu bersandar di pundaknya. Hangat. Tapi Kenzo tak merasakannya. Tubuhnya sudah di tempat lain.
"Baiklah, aku akan pergi."
"Kau akan kemana, Ken?"
"Tentu saja mencari lokasi Bai Ma."
"Ken..."
"Jangan cegah aku."
"Baiklah, tapi bawa ini."
Liu Xiang pun memberikan kartu ATM miliknya. Kartu hitam, logo emas, hasil darah dan bisnis.
"Untuk apa?"
"Aku tahu kau selalu menggunakan uangmu untuk amal dan Zhenzhu."
"Pasti kau sekarang kekurangan uang."
"Baiklah, terima kasih."
Kenzo pun melangkahkan kakinya. Meninggalkan ruangan tersebut. Namun Liu Xiang seperti tidak merelakan. Orang yang dicintainya pergi jauh. Terlalu jauh.
Dia pun memeluk Kenzo. Dengan erat. Dari belakang. Tangan kecil itu mencengkram perut Kenzo. Seolah melepaskan sekarang berarti selamanya.
"Jaga dirimu baik-baik, Ken."
"Aku mengerti."
Kenzo pun meninggalkan Shehua. Tanpa menoleh. Tanpa melihat air mata yang jatuh.
Dalam perjalanan, tiba-tiba sebuah mobil Ferrari merah menghadang. Laju kendaraannya. Kenzo pun dengan cepat menghentikan mobilnya. Rem berbunyi mencicit. Jantung berdebar.
"Sialan!!!"
Dari mobil tersebut, muncul sosok wanita. Rambut panjang terkuncir. Tubuh atletis di balut pakaian ketat hitam. Kaki panjang dengan sepatu boots melangkah. Mendekati mobil Kenzo. Pistol di tangan kanan. Mata di belakang kacamata hitam.
"Perlihatkan kedua tanganmu!!"
"Keluar dari mobil!!"
Teriak wanita itu. Menodongkan pistol miliknya. Tegas. Tanpa ampun. Seperti Kenzo di masa lalu.
Kenzo pun membuka pintu mobilnya. Dan turun. Sambil mengangkat tangannya. Mendekati wanita tersebut. Langkah pelan. Napas teratur. Dia menghitung jarak. Menunggu celah.
"Balikan badanmu!!!"
Wanita itu memutar tubuh Kenzo dengan paksa. Lalu mendorongnya ke atas kap mesin. Dingin. Keras. Membuat tulang punggung berteriak.
"Hei!!!"
Ucap Kenzo. Tak terima. Tapi tak melawan.
"Diam!!!"
Setelah menggeledah tubuh Kenzo, dia memborgolnya. Dan membawanya ke dalam mobil Ferrari-nya. Tangan di belakang punggung. Tak bisa bergerak.
"Apa salahku?!!"
"Diam atau aku akan membawamu ke penjara!!"
Lalu mereka pun pergi. Meninggalkan mobil Kenzo di tengah jalan. Merah. Mewah. Terbuka. Seperti undangan.
Setelah sampai di sebuah traffic light, wanita tersebut menutup wajah Kenzo dengan kain hitam. Gelap. Total. Tak ada cahaya. Tak ada arah.
"(Brengsek, mau dibawa kemana aku.)"
Pikirnya dalam hati. Tapi dia diam. Menghitung waktu. Menghitung belokan. Menghitung kemungkinan.
Setelah melakukan perjalanan hampir 2 jam, mobil mereka pun berhenti. Di sebuah bangunan terbengkalai. Yang dikelilingi padang rumput. Di dekat perbukitan. Terpencil. Terlupakan.
Wanita itu membawa Kenzo dengan paksa. Menuju ke bangunan tersebut. Tangan kecil tapi kuat. Borgol menggigit pergelangan.
"Hei... pelan-pelan!!"
"Diam!!"
"Sekali lagi kau bersuara, ku ledakan kepalamu."
Kenzo pun diam. Sambil mencari cara untuk membebaskan diri. Mata terbiasa dengan gelap. Telinga menajam. Dia menghitung langkah. Menghitung penjaga. Menghitung peluang.
......................
Sementara itu, di Shehua, seorang pengawal dengan terburu-buru menghampiri Liu Xiang. Pintu terbuka tanpa ketuk. Napas tersengal. Wajah pucat.
"Gawat!!!"
Brak!!!
"Apa yang kau lakukan!!!"
"Lancang sekali kau masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu!!"Bentak Liu Xiang kepada salah satu anak buahnya.
"M-maafkan aku, Nona."
"Ada berita buruk."
"Ada apa? Katakan."
"K-Kak Kenzo dibawa pergi oleh seorang wanita. Di tengah jalan."
"APA?!!"Liu Xiang terkejut dan bangkit dari duduknya
"Jangan bercanda!!!"
"Tidak, Nona, aku tidak bohong."
"Aku melihatnya tadi. Saat akan menuju ke Shehua."
"Cepat bawa aku ke sana!!"
Liu Xiang pun segera pergi. Menuju lokasi yang dikatakan pengawalnya. Diikuti 10 orang pengawal. Dia menuju ke mobil Rolls-Royce miliknya. Dan para pengawal memasuki mobil Mercedes SUV di belakangnya.
Mereka pun tiba di lokasi. Dan melihat mobil McLaren F1 merah milik Kenzo. Yang terdiam di tengah jalan. Pintu terbuka. Mesin mati. Seperti jenazah.
"T-tidak-tidak, Ken..."
Liu Xiang terduduk di tanah. Air matanya mengalir. Tak peduli dengan debu. Tak peduli dengan pengawal.
"N-Nona..."
Pengawalnya yang melihat Liu Xiang tak berani mendekatinya. Tak pernah mereka lihat ratu ini menangis.
"Cepat cari informasi keberadaan Kenzo!!"
"Cepat...!!"
"B-Baik, Nona..."
Setengah orang pun meninggalkan Liu Xiang. Dengan beberapa pengawalnya yang tersisa, mereka masuk ke dalam mobil Mercedes SUV. Lalu pergi. Mencari. Menyelidik. Menyelamatkan.
......................
Kembali ke tempat di mana Kenzo tertangkap. Kini dia telah berada di sebuah ruangan. Di gedung terbengkalai. Yang tidak selesai pembangunannya. Bata merah. Semen retak. Atap bolong. Tapi bersih. Terlalu bersih untuk bangunan terbengkalai.
Lalu wanita itu melepaskan kain penutup kepala Kenzo. Dan Kenzo dengan mata yang buram memerhatikan sekelilingnya. Menyesuaikan cahaya. Menilai. Menghitung.
"Siapa kalian?!!"
Beberapa pria berdiri di belakang wanita tersebut. Mengenakan pakaian serba hitam. Berkacamata hitam. Berpostur tegap. Militer. Bukan gengster. Bukan polisi biasa.
"Namaku Xiu Zhu. Komandan dari pasukan elit The Eagle."
"Mereka adalah anak buahku."
Ucap wanita tersebut kepada Kenzo. Suaranya datar. Tegas. Tak ada gairah. Tak ada takut.
"Apa hubungannya denganku?"
"Mengapa kalian membawaku seperti ini?"
"Kami adalah pasukan pemburu dari pemerintahan. Yang dibentuk khusus menangani gangster."
"Jadi?"
"Aku butuh bantuanmu untuk memasuki Bai Ma."
"Apa?!!"
Kenzo berpikir dalam hati. Ini kesempatan. Untuk pergi ke Bai Ma. Tapi mereka adalah penegak hukum. Musuh. Atau mitra?
"Kalian meminta warga sipil untuk terlibat dengan masalah pemerintahan?"
"Sangat lucu."
Xiu Zhu mendekati Kenzo. Lalu menarik dagunya. Tangan kecil. Tapi kuat. Matanya menyelidik. Mencari kebohongan.
"Kau jangan berpura-pura di hadapanku, Shadow of Death."
"Kalian salah orang."
Xiu Zhu mengarahkan pistolnya ke dahi Kenzo. Dingin. Tegas. Siap menembak.
"Kalau begitu aku akan membawamu ke penjara."
"Apa kau sinting."
"Memang apa kesalahanku?"
"Sangat mudah."
"Aku akan membuat laporan. Kau melecehkan ku."
"Kau tahu bukan, melecehkan komandan satuan akan mendapatkan hukuman berapa tahun?"
"Brengsek kau."
"Jika aku membantumu, apa yang kau berikan kepadaku?"
"Aku akan menghapus semua kasus mu. Dan membuatmu bersih dari segala tuduhan."
"Dan pemerintah akan menghadiahkan uang 100 miliar."
"Bagaimana?"
"Lalu apa rencana kalian?"
"Kau dan aku akan masuk ke perbatasan Bai Ma."
"Untuk seseorang pembunuh berdarah dingin seperti mu, sangatlah mudah."
"Apa lagi nama S.O.D telah menggetarkan dunia bawah."
"Jadi kau akan sangat mudah masuk ke dalam."
"Baiklah, tetapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kau harus mendengarkan semua ucapanku, dan menuruti perintahku."
"Aku tidak ingin nyawaku menjadi taruhan di tangan wanita."
Setelah diam beberapa lama, Xiu Zhu pun mengangguk. Tegas. Tanpa senyum.
"Baik, namun jika kau macam-macam, aku tak segan melubangi kepalamu."
"Baik, aku setuju."
Xiu Zhu pun melepaskan borgol Kenzo. Bunyi klek yang membebaskan. Tapi juga mengikat. Ke dalam misi. Ke dalam bahaya.
"Baiklah kalian semua, segera bersiap-siap."
"SIAP KOMANDAN !!"
Ucap mereka serentak. Dan segera mempersiapkan semua keperluan misi penyusupan tersebut.
"Tuan, silahkan ikut kami untuk mengenakan beberapa perlengkapan."
"Baiklah."
Kenzo pun mengikuti mereka. Ke salah satu ruangan di gedung. Yang telah ditutup dengan tirai berwarna hitam. Diikuti oleh Xiu Zhu. Pengawasan. Ketat. Tak percaya.
Kenzo pun melepaskan pakaiannya. Jaket. Kemeja. Celana. Terlihat jelas luka-luka di tubuhnya. Yang menghiasi tubuh atletisnya. Akibat siksaan dan perkelahian di penjara. Peta kekerasan. Peta kehidupan.
Xiu Zhu terkejut. Sekaligus terkesima oleh keindahan tubuhnya yg atletis. Dan oleh kisah. Setiap luka adalah cerita. Setiap bekas adalah perjuangan.
Wajah Xiu Zhu memerah. Dia berusaha menahan detak jantungnya.Karena gairah yang tiba-tiba muncul.Pada seseorang yang berada di hadapannya. Pada seseorang yang akan menjadi rekannya nanti.
"Sialan, tubuhnya terlalu menggoda dan..."
"Sangat jelas terlihat jika tubuhnya sangat terlatih. Bukan di gym. Di medan perang."
"Apa kau bilang?"
Tanya Kenzo. Mendengar gumaman Xiu Zhu yang tak begitu dengarnya.
"B-bukan apa-apa."
"Cepat kenakan pakaianmu."
Xiu memalingkan wajahnya. Berusaha menghindari tatapan. Tapi bukan karena malu. Karena takut terlihat lemah. Di depan anak buahnya. Di depan targetnya.
Kenzo pun mengenakan pakaian yang disiapkan untuknya. Serba hitam. Taktis. Militer. Lalu dia memeriksa pistol Desert Eagle-nya. Dan mengambil beberapa selongsong peluru. Ritual. Persiapan. Transformasi.
"Komandan, semua persiapan siap."
"Kalian cari posisi yang pas. Dan jangan sampai ketahuan oleh pemimpin kota Bai Ma."
"Siap!!"
"Dan kau, ikut dengan ku menuju Bai Ma. Dan memasuki kota."
"Ya... ya... ya..."
Mereka semua pun segera menjalankan misi. Ke kota hitam. Ke tempat tak tersentuh hukum. Ke masa depan yang tak pasti.
...$ BERSAMBUNG $...