Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏
Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!
Donasi ke aku:
Saweria: parleti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Turning Point
Sudah tiga hari sejak Asha mendapat kabar dari dokter tentang kondisi Arsa yang mustahil untuk sembuh.
Tiga hari di mana Asha mencoba untuk bangkit. Mencoba untuk menerima kenyataan. Mencoba untuk melanjutkan hidup.
Ia memaksa dirinya untuk bangun pagi, mandi, dan berpakaian rapi meskipun hatinya masih hancur.
Ia memaksa dirinya untuk makan meskipun nafsu makannya sudah hilang.
Ia memaksa dirinya untuk tersenyum meskipun air matanya hampir jatuh setiap saat.
Karena ia tau, ia tidak bisa terus terpuruk. Ia harus bangkit. Ia harus melanjutkan hidup.
Meskipun tanpa Arsa.
🌷🌷🌷🌷
Sabtu sore, Asha memutuskan untuk keluar rumah. Ia sudah bosan mengurung diri di kamar.
Ia mengendarai motornya tanpa tujuan yang jelas. Ia hanya ingin jalan-jalan, menenangkan pikiran, dan mencoba untuk melupakan semua rasa sakit yang ia rasakan.
Angin sore menerpa wajahnya dengan lembut. Langit terlihat begitu indah dengan warna jingga yang mempesona.
'Gw harus kuat. Gw harus bisa move on' batin Asha mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ia mengendarai motornya melewati jalanan kota yang mulai ramai dengan orang-orang yang hendak bersantai di akhir pekan.
Tanpa sadar, ia sampai di sebuah taman kota yang cukup besar. Taman yang sering ia kunjungi saat masih bersama Arsa dulu.
'Kenapa gw malah kesini...' batin Asha dengan perasaan yang tidak enak.
Ia ingin pergi, tapi sebagian dirinya ingin turun dan berjalan-jalan di taman itu. Hanya untuk mengingat kenangan indah yang pernah ia lalui di sana.
Akhirnya Asha memutuskan untuk memarkirkan motornya dan masuk ke dalam taman.
🌷🌷🌷🌷
Taman itu cukup ramai dengan pengunjung. Ada keluarga yang sedang piknik, ada anak-anak yang bermain, dan ada juga pasangan muda yang sedang berkencan.
Asha berjalan sendirian menyusuri jalan setapak di taman itu. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, wajahnya terlihat begitu kosong.
Ia mencoba untuk menikmati suasana sore yang indah. Mencoba untuk tidak memikirkan Arsa.
Tapi setiap sudut taman itu mengingatkannya pada Arsa.
Bangku di bawah pohon besar itu adalah tempat mereka dulu sering duduk bersama.
Danau kecil di tengah taman itu adalah tempat di mana Arsa pernah mengajaknya memberi makan ikan.
Jembatan kayu di atas danau itu adalah tempat di mana Arsa pernah memeluknya dari belakang dan berbisik "I love you" di telinganya.
Asha menutup matanya sejenak. Berusaha mengusir semua kenangan itu dari kepalanya.
'Udah. Gw gak boleh mikirin dia lagi. Gw harus move on' batin Asha dengan tekad yang kuat.
Ia lalu melanjutkan langkahnya, menyusuri taman dengan langkah yang pelan.
🌷🌷🌷🌷
Saat Asha berjalan melewati sebuah cafe kecil di dalam taman, matanya tidak sengaja menangkap pemandangan yang membuat langkahnya terhenti.
Di salah satu meja outdoor cafe itu, ia melihat dua orang yang sangat ia kenal.
Arsa dan Raya.
Mereka duduk berhadapan, dengan dua gelas minuman di atas meja.
Raya tertawa dengan ceria, sementara Arsa tersenyum lebar menanggapi cerita Raya.
Mereka terlihat begitu bahagia. Begitu nyaman satu sama lain.
Asha merasakan dadanya sesak melihat pemandangan itu. Tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
'Cuek aja, Asha. Lo harus cuek' batin Asha mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ia mencoba untuk berjalan pergi, tapi kakinya terasa begitu berat. Seolah ada sesuatu yang menahannya.
Tanpa sadar, matanya kembali melirik ke arah meja Arsa dan Raya.
"Hmm, Arsa! Kamu tau gak, aku tuh seneng banget bisa ketemu kamu lagi. Rasanya kayak mimpi gitu" ucap Raya dengan senyuman lebar.
Arsa tertawa kecil. "Aku juga seneng kok. Dulu waktu kamu pindah, aku sedih banget."
"Hmm, beneran? Kamu sedih?" tanya Raya dengan mata yang berbinar.
Arsa mengangguk. "Iya dong. Kamu kan sahabat terbaik aku waktu kecil."
Raya tersenyum manis mendengar ucapan Arsa. Pipinya sedikit merona.
"Hmm, Arsa... Aku... Aku seneng banget kamu masih inget aku. Masih inget semua kenangan kita" ucap Raya dengan nada yang lembut.
Arsa tersenyum hangat. "Kenangan kita gak mungkin aku lupain. Kamu selalu ada buat aku waktu aku lagi susah."
Asha yang mendengar percakapan itu merasakan dadanya semakin sesak. Tangannya mengepal di dalam saku jaketnya.
'Cuek, Asha. Lo harus cuek' batin Asha terus mengulang kalimat itu di dalam kepalanya.
Ia mencoba untuk berjalan pergi, tapi matanya tidak bisa berhenti menatap mereka.
"Hmm, Arsa... Boleh aku tanya sesuatu gak?" tanya Raya tiba-tiba dengan nada yang hati-hati.
"Boleh. Mau tanya apa?" jawab Arsa dengan nada penasaran.
Raya terdiam sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan. "Hmm... Kamu... Kamu sama Asha itu gimana sekarang?"
Asha tersentak mendengar namanya disebut. Ia semakin memperhatikan percakapan mereka.
Arsa menghela nafas pelan. "Aku... Aku gak tau. Kami udah putus. Tapi kadang aku ngerasa bersalah sama dia."
"Hmm, bersalah kenapa?" tanya Raya dengan nada yang lembut.
"Karena... Karena aku gak bisa inget dia. Aku tau dia pasti sakit hati. Tapi aku... Aku bener-bener gak inget apa-apa tentang hubungan kami" jelas Arsa dengan nada yang sedikit sedih.
Raya meraih tangan Arsa yang ada di atas meja. "Hmm, Arsa... Itu bukan salah kamu. Kamu gak bisa disalahin karena kecelakaan itu."
Arsa menatap tangan Raya yang menggenggam tangannya. Ia tidak menarik tangannya. "Aku tau. Tapi tetep aja aku ngerasa bersalah."
"Hmm, Arsa... Kamu gak usah mikirin itu terus. Yang penting sekarang kamu fokus sama diri kamu sendiri. Fokus buat sembuh dan bahagia" ucap Raya dengan senyuman yang lembut.
Arsa tersenyum mendengar ucapan Raya. "Makasih ya, Lea. Kamu selalu tau cara buat aku ngerasa lebih baik."
Raya tersenyum lebar. Tangannya masih menggenggam tangan Arsa dengan erat.
Asha yang melihat pemandangan itu merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya.
Tangan yang dulu selalu menggenggam tangannya, sekarang menggenggam tangan Raya.
Senyuman yang dulu selalu ia lihat, sekarang ditujukan untuk Raya.
Perhatian yang dulu selalu ia dapatkan, sekarang diberikan kepada Raya.
Tapi Asha tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan yang kosong.
'Cuek. Gw harus cuek' batin Asha terus mengulang kalimat itu seperti mantra.
Ia lalu membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan langkah yang cepat.
Ia tidak ingin melihat lagi. Ia tidak sanggup.
🌷🌷🌷🌷
Asha berjalan cepat keluar dari taman. Nafasnya tersengal-sengal. Dadanya sesak.
Tapi ia tidak menangis. Ia menahan semua air matanya dengan keras.
'Gw gak boleh nangis. Gw udah janji sama diri gw sendiri buat bangkit' batin Asha mencoba menguatkan dirinya.
Ia sampai di parkiran dan langsung menaiki motornya. Tangannya bergetar saat hendak menghidupkan mesin.
Ia mencoba beberapa kali, tapi tangannya terus bergetar hingga ia tidak bisa menghidupkan motornya.
"Sialan..." gumam Asha dengan suara yang bergetar.
Ia menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berhasil menghidupkan motornya.
Asha mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah. Ia ingin mengurung diri di kamar.
Sepanjang perjalanan, ia terus mengulangi kalimat yang sama di dalam kepalanya.
'Gw harus cuek. Gw harus move on. Gw harus melupakan dia.'
Tapi semakin ia mengulang kalimat itu, dadanya semakin sesak.
🌷🌷🌷🌷
Sesampainya di rumah, Asha langsung masuk dan menuju kamarnya tanpa menyapa ibunya yang sedang menonton tv.
Ibunya meliriknya sekilas tapi tidak berkata apa-apa.
Asha masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Ia melempar tasnya sembarangan dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Di dalam benaknya, pemandangan tadi terus terulang.
Arsa dan Raya yang duduk berhadapan dengan senyuman bahagia.
Raya yang menggenggam tangan Arsa.
Arsa yang tidak menarik tangannya.
Mereka yang terlihat begitu nyaman satu sama lain.
Asha menutup matanya dengan keras, berusaha mengusir semua bayangan itu dari kepalanya.
Tapi bayangan itu tidak mau pergi. Bayangan itu terus menghantui, terus menyiksa.
"Cuek... Gw harus cuek..." gumam Asha dengan suara yang bergetar.
Tapi dadanya semakin sesak. Tenggorokannya tercekat. Nafasnya mulai tidak karuan.
"Gw harus... Gw harus move on..." ucap Asha lagi dengan suara yang semakin bergetar.
Tapi air matanya sudah mulai berkumpul di pelupuk matanya.
"Gw gak boleh... Gw gak boleh nangis..." ucap Asha mencoba menahan.
Tapi ia tidak bisa lagi. Ia sudah mencapai batasnya.
Akhirnya air mata itu jatuh. Jatuh dengan begitu deras.
Dan Asha menangis. Menangis dengan begitu keras hingga tubuhnya bergetar hebat.
"KENAPA... KENAPA GW HARUS NGELIAT ITU..." teriak Asha di tengah tangisannya.
"KENAPA GW HARUS NGELIAT MEREKA BAHAGIA SEMENTARA GW DI SINI TERSIKSA..."
Ia mengambil bantal dan memeluknya dengan erat sembari menangis sejadi-jadinya.
"Arsa... Arsa... Kenapa lo gabisa ingat gw..." isak Asha dengan suara yang sangat lemah.
"Kenapa lo bisa ingat Raya dengan sempurna tapi lo gabisa ingat gw..."
"Kenapa... Kenapa gw yang harus ngerasain sakit kayak gini..."
Ia menangis semakin keras. Semua rasa sakit yang ia tahan sejak tadi akhirnya meledak.
Semua usahanya untuk cuek, untuk bangkit, untuk move on... Semuanya sia-sia.
Karena pada kenyataannya, ia masih sangat sakit. Ia masih sangat mencintai Arsa. Dan ia tidak bisa melupakan Arsa.
"Gw gak bisa... Gw gak bisa move on dari lo, Arsa..." isak Asha di tengah tangisannya.
"Gw udah berusaha... Gw udah berusaha keras... Tapi gw gak bisa..."
Ia menangis sejadi-jadinya di atas kasurnya. Menangis tanpa peduli kalau ibunya mungkin mendengar dari luar.
"Gw capek, Arsa... Gw bener-bener capek..." bisik Asha dengan suara yang sangat pelan.
"Gw capek harus ngeliat lo bahagia sama orang lain..."
"Gw capek harus berpura-pura kuat..."
"Gw capek harus terus sakit kayak gini..."
Air matanya tidak berhenti mengalir. Ia menangis sampai tubuhnya tidak punya tenaga lagi.
Ia menangis sampai suaranya serak. Sampai matanya bengkak. Sampai dadanya terasa sangat sakit.
🌷🌷🌷🌷
Beberapa jam kemudian, Asha masih terbaring di kasurnya dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
Ia sudah tidak menangis lagi. Ia sudah tidak punya air mata lagi.
Yang tersisa hanya rasa hampa yang begitu dalam. Rasa sakit yang tidak akan pernah hilang.
Hpnya tiba-tiba bergetar. Pesan masuk.
Dengan malas, Asha meraih hpnya dan melihat layar.
Pesan dari Arsa.
Arsa:
Asha, lo gapapa? Tadi gw kayaknya liat lo di taman. Tapi pas gw mau nyamperin, lo udah pergi.
Asha menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Air matanya kembali berkumpul di pelupuk matanya.
'Jadi... Jadi dia liat gw...' batin Asha dengan perasaan yang campur aduk.
Arsa:
Lo kenapa sih akhir-akhir ini? Lo kelihatan gak baik-baik aja. Gw khawatir sama lo.
Asha merasakan dadanya sesak membaca pesan itu.
Khawatir. Arsa bilang dia khawatir.
Tapi khawatir itu bukan karena sayang. Khawatir itu hanya karena... Karena apa? Karena kasihan?
Asha tidak tau. Dan ia tidak ingin tau.
Dengan tangan yang bergetar, Asha mengetik balasan.
Asha:
Gw gapapa. Lo gausah khawatir.
Setelah mengirim pesan itu, Asha langsung mematikan hpnya. Ia tidak ingin membaca balasan dari Arsa.
Ia memeluk bantalnya dengan erat dan kembali menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Gw... Gw gak sanggup lagi..." bisik Asha dengan suara yang sangat pelan.
"Gw gak sanggup lagi ngeliat lo bahagia sama dia..."
"Gw gak sanggup lagi berpura-pura kuat..."
"Gw... Gw udah gak kuat lagi..."
Air matanya kembali jatuh. Jatuh dengan pelan tanpa suara.
"Arsa... Tolong... Tolong inget aku..." bisik Asha dengan suara yang sangat lemah.
"Atau kalau lo gabisa ingat aku... Tolong... Tolong bikin gw bisa ngelupain lo..."
"Karena gw... Gw gak sanggup hidup kayak gini terus..."
Ia menangis dalam diam. Menangis untuk cinta yang tidak akan pernah kembali.
Menangis untuk rasa sakit yang tidak akan pernah hilang.
Menangis untuk harapan yang sudah benar-benar pupus.
🌷🌷🌷🌷
Malam semakin larut, tapi Asha tidak bisa tidur. Ia hanya terbaring di kasurnya dengan mata yang terbuka lebar.
Di dalam kepalanya, satu pertanyaan terus berulang.
'Sampai kapan gw harus ngerasain sakit kayak gini?'
'Sampai kapan gw harus ngeliat mereka berdua bahagia?'
'Sampai kapan gw harus berpura-pura kuat?'
'Sampai kapan...'
Dan untuk pertanyaan-pertanyaan itu, Asha tidak punya jawaban.
Yang ia tau hanya satu hal.
Ia sudah tidak kuat lagi.
Ia sudah mencapai titik terendahnya.
Dan ia tidak tau... Ia tidak tau apakah ia masih bisa bangkit dari keterpurukan ini.
TO BE CONTINUED
🌷🌷🌷🌷🌷
SAKIT BANGET! 😭😭😭 Asha udah berusaha keras buat bangkit, buat cuek, buat move on. Tapi takdir kayaknya gak ngasih dia kesempatan...
Dia malah ngeliat Arsa dan Raya lagi kencan di taman. Ngeliat mereka bergandengan tangan. Ngeliat mereka bahagia.
Asha berusaha cuek sepanjang waktu, tapi pas dia sendirian... Air mata itu akhirnya pecah dengan dahsyat 💔
Kira-kira Asha masih bisa bertahan? Atau dia bakal semakin terpuruk?
Penasaran kan kelanjutannya? Yuk stay tune terus dan jangan lupa follow ig author!
@Jaaparr
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku