Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KOTA SELATAN
Tiga hari perjalanan melewati hutan dan lereng gunung akhirnya membawa Ha-neul dan Soo-ah ke pinggiran Kota Selatan.
Kota itu tampak seperti lukisan yang hidup. Ribuan atap rumah berjejer rapat, menjulang di antaranya beberapa bangunan bertingkat dengan ornamen-ornamen rumit. Jalan-jalan utama dipenuhi pedagang, kuli pikul, pengendara kuda, dan anak-anak yang berlarian ke sana kemari. Bau rempah, gorengan, dan keringat bercampur jadi satu, menciptakan aroma khas kota besar.
Ha-neul berhenti di pinggir jalan, menarik napas dalam-dalam. Ini pertama kalinya ia melihat kota sebesar ini. Selama delapan belas tahun hidupnya, ia hanya mengenal kompleks Klan Pedang Kang dan desa-desa kecil di sekitarnya.
Soo-ah di sampingnya tak kalah takjub. Matanya berbinar-binar melihat jajanan warna-warni yang dijual di pinggir jalan.
"Oppa, itu apa?" tanyanya menunjuk sesuatu yang mengepul putih.
"Kue beras kukus kayaknya."
"Wah, Soo-ah mau coba."
Ha-neul merogoh kantongnya. Uang mereka hanya sedikit—beberapa koin perak peninggalan ibunya dulu yang selama ini ia simpan tanpa pernah digunakan. Cukup untuk makan beberapa hari, tapi tidak untuk bermewah-mewah.
"Nanti, ya. Kita cari tempat tinggal dulu."
"Keputusan bijak," suara Hyeol-geon di kepalanya. "Di kota besar, yang pertama kau butuhkan adalah tempat berteduh. Setelah itu, baru cari penghasilan."
Mereka menyusuri jalan utama, melewati deretan toko dan kedai. Sesekali Ha-neul bertanya pada pedagang tentang tempat penginapan murah. Beberapa menunjuk ke arah utara, beberapa ke selatan. Akhirnya, setelah hampir dua jam berjalan, mereka menemukan sebuah losmen kecil di gang sempit.
Losmen "Naga Tidur"—namanya kebetulan sekali, pikir Ha-neul.
Pemiliknya, seorang wanita paruh baya bernama Mak Nyonya Kim, awalnya curiga melihat dua anak muda dengan pakaian lusuh. Tapi setelah Ha-neul membayar sewa seminggu di muka, sikapnya langsung berubah ramah.
"Kamar satu di lantai dua, yang paling ujung. Kecil, tapi cukup buat berdua. Toilet di ujung lorong, mandi pakai ember. Makan tidak termasuk, tapi kalau mau beli nasi bungkus, tinggal pesan sama saya."
Ha-neul mengangguk. "Terima kasih, Nyonya."
---
Kamar itu benar-benar kecil. Hanya cukup untuk satu dipan bambu, satu meja kecil, dan satu lemari usang. Tapi bagi Ha-neul dan Soo-ah, itu sudah istana dibandingkan gudang reyot mereka dulu.
Soo-ah langsung menjatuhkan diri ke dipan. "Ah, capenya..."
Ha-neul tersenyum. "Istirahat dulu. Nanti malam kita cari makan."
Ia duduk di lantai, bersandar ke dinding. Tubuhnya juga lelah, tapi pikirannya terus bekerja. Mereka butuh uang. Uang sewa losmen hanya cukup seminggu. Setelah itu, mereka harus punya penghasilan tetap.
"Kau bisa cari kerja," saran Hyeol-geon. "Di kota besar, banyak lowongan untuk kuli kasar atau penjaga toko."
"Aku butuh sesuatu yang tidak mengikat waktu. Biar bisa tetap latihan."
"Hm... jadi kau butuh kerja paruh waktu. Atau pekerjaan lepas."
"Apa itu?"
"Pekerjaan yang tidak tetap. Misalnya, jadi pemburu hadiah. Atau pengawal kargo. Atau..." Hyeol-geon terdiam. "Atau ikut turnamen bawah tanah."
Ha-neul mengerutkan kening. "Turnamen bawah tanah?"
"Di banyak kota besar, ada arena pertarungan gelap. Orang-orang bertaruh pada petarung. Hadiahnya lumayan, dan kau bisa mengukur kemampuan."
"Tapi itu berbahaya."
"Iya. Tapi apa yang tidak berbahaya di dunia ini?"
Ha-neul merenung. Ia harus memikirkan ini baik-baik.
---
Malam turun dengan cepat. Kota Selatan berubah wajah—lampu-lampu bermunculan, pedagang malam berjejer di pinggir jalan, dan suara musik samar terdengar dari kedai-kedai arak.
Ha-neul dan Soo-ah berjalan mencari makan. Mereka menemukan kedai kecil yang menjual mie kuah hangat dengan harga murah. Dua mangkuk mie dan satu porsi pangsit goreng untuk dibagi.
"Ini enak banget, Oppa!" Soo-ah melahap mie-nya dengan lahap. Belum pernah ia makan mie seenak ini—atau mungkin karena ia sangat lapar.
Ha-neul tersenyum melihat adiknya makan. Ia sendiri makan lebih pelan, menghemat energi.
Di kedai itu, ia mengamati orang-orang. Ada pedagang, kuli, beberapa pendekar dengan pedang di pinggang, dan beberapa wanita dengan pakaian mencolok yang mungkin penghibur. Kota ini sungguh campur aduk.
Tiba-tiba, dua orang duduk di meja sebelah. Mereka berbicara cukup keras, tanpa peduli siapa yang mendengar.
"...turnamen minggu depan, katanya hadiahnya naik. Seratus koin emas buat juara."
"Seratus? Banyak amat. Pasti pesertanya kuat-kuat."
"Iya, kabarnya dari Klan Pedang Sa juga ikut. Ada juga pendekar bayaran dari utara."
Ha-neul menajamkan pendengarannya.
"Klan Pedang Sa? Mereka kan klan terkenal di timur. Kok jauh-jauh ke sini?"
"Entahlah. Mungkin cari pengalaman. Atau mungkin ada incaran lain."
Mereka terus mengobrol, tapi Ha-neul sudah mendapat informasi yang ia butuhkan.
Turnamen. Seratus koin emas.
"Kau tertarik?" suara Hyeol-geon.
"Mungkin. Tapi aku harus lihat dulu levelnya."
"Bijak."
---
Keesokan harinya, Ha-neul bangun pagi-pagi sekali. Soo-ah masih tidur pulas. Ia menulis pesan singkat di lantai berdebu: "Oppa cari kerja. Jangan ke mana-mana."
Lalu ia pergi.
Ia mencari lokasi arena bawah tanah yang dimaksud. Butuh waktu hampir dua jam bertanya-tanya, sampai akhirnya ia menemukan sebuah bangunan tua di pinggir kota, di belakang pasar ikan. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang kosong. Tapi dari dalam, terdengar suara ramai dan sesekali teriakan.
Ha-neul masuk melalui pintu samping yang tidak dikunci. Di dalam, ternyata luas. Sebuah arena berukuran sekitar dua puluh meter persegi di tengah, dikelilingi tribun kayu sederhana. Sekitar lima puluh orang duduk di sana, bersorak melihat dua pria bertarung di arena.
Salah satunya bertubuh besar seperti beruang, dengan kapak raksasa di tangan. Yang lain lebih kecil, lincah, dengan sepasang pisau pendek. Pertarungan sengit, darah berceceran di lantai tanah.
Ha-neul mengamati dari kejauhan. Ia bisa melihat kelemahan kedua petarung—yang besar lambat, yang kecil kehilangan stamina cepat. Tapi ia tidak datang untuk bertarung hari ini. Ia datang untuk melihat.
Seorang pria tua dengan kumis tebal mendekatinya. "Mau daftar, bocah?"
"Belum. Lihat dulu."
Pria itu mengangkat alis. "Penonton bayar seratus koin tembaga."
Ha-neul membayar tanpa mengeluh. Ia duduk di tribun paling belakang, mengamati setiap pertarungan.
Dua jam kemudian, ia keluar dari arena dengan informasi yang ia butuhkan. Level petarung di sini menengah ke bawah—bekas tentara, preman, dan petarung jalanan. Tidak ada yang benar-benar ahli. Dengan teknik Bayangan Meridian, ia yakin bisa bersaing.
Tapi ia juga tahu, semakin tinggi ia naik, semakin kuat lawan yang akan ia hadapi. Dan pada titik tertentu, mungkin ia akan bertemu dengan orang-orang dari klan besar.
"Kau mau ikut?" tanya Hyeol-geon.
"Ya. Tapi tidak sekarang. Aku butuh persiapan."
Ha-neul kembali ke losmen dengan langkah mantap. Di dalam saku celananya, ia membawa selebaran pendaftaran turnamen.
Perjalanan di kota baru ini baru saja dimulai.