Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Dalam detik-detik mengerikan itu, insting seorang ibu mengambil alih, Nadine tidak melindungi kepalanya, ia justru meringkuk, mendekap perut buncitnya dengan kedua tangan sekuat tenaga.
“Ya Allah... anakku... selamatkan anakku...” hanya itu rintihan terakhir dalam hatinya sebelum tubuhnya menghantam rerumputan liar di tepi jurang yang dalam dan gelap.
Di dalam mobil yang ringsek dan berasap, Aditya terjepit di balik kemudi. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi wajahnya yang pucat. Kesadarannya mulai menipis, namun matanya terus mencari sosok istrinya.
"Na... dine..." suaranya hanya berupa bisikan pecah.
Pintu mobil yang ringsek ditarik paksa dari luar. Sosok-sosok berbaju hitam, anak buah Tuan Pratama, muncul seperti malaikat maut. Mereka tidak melihat ke arah jurang tempat Nadine tergeletak, mereka hanya peduli pada satu hal, Sang Pewaris.
"Tarik Tuan Muda! Cepat sebelum ambulans datang!" perintah kepala pengawal.
Aditya mencoba meronta dengan sisa tenaganya. "Nadine... ? !!!"
Salah satu anak buah Pratama melongok ke arah jurang yang gelap dan curam. Ia melihat tubuh Nadine yang diam tak bergerak di bawah sana, tertutup bayangan pohon. Tanpa rasa iba, ia kembali menatap Aditya yang hampir pingsan.
"Lupakan dia, Tuan Muda. Dengan benturan sekeras itu dan jatuh ke jurang sedalam itu... dia tidak mungkin selamat. Dia sudah mati," ucap pria itu dingin, berbohong demi menjalankan perintah Tuan Pratama untuk memutuskan semua ikatan Aditya dengan masa lalunya.
"TIDAK! NADINE!!!" teriakan Aditya membelah malam, namun sedetik kemudian kegelapan menyergap kesadarannya. Ia jatuh pingsan tepat saat tubuhnya ditarik keluar dan dimasukkan ke dalam mobil mewah milik keluarganya, meninggalkan istrinya sendirian di kegelapan.
___
Di bawah sana, di antara semak belukar yang dingin, Nadine terbaring diam. Napasnya tersengal, pendek dan berat. Darah mengalir dari luka di kepalanya, namun tangannya masih mendekap erat perutnya, sebuah pelukan abadi seorang ibu.
Air matanya mengalir pelan, bercampur dengan debu dan darah. Ia menatap langit malam yang kelam. Ia sempat melihat mobil yang membawa suaminya pergi menjauh.
"Mas Adit... jangan tinggalkan aku..." bisiknya tanpa suara.
Kesedihan itu lebih menyakitkan daripada tulang-tulangnya yang patah. Ia merasa dunianya runtuh. Ayahnya baru saja meninggal, suaminya dibawa pergi, dan kini ia sendirian di ambang maut dengan nyawa kecil yang masih berdenyut lemah di dalam rahimnya.
Nadine memejamkan mata. Bibirnya yang pucat bergerak pelan, melantunkan potongan ayat suci yang masih tersisa di ingatannya, sebelum akhirnya kesunyian total menyelimutinya.
___
Suasana di tepi jurang itu begitu mencekam. Bau aspal terbakar dan besi panas masih menggantung di udara. Gus Azmi, dengan jubah yang kini ternoda tanah dan debu, berlari menuruni lereng curam diikuti beberapa santri senior yang membawa senter besar.
"Nadine! Nak! Di mana kamu?!" teriak Gus Azmi, suaranya bergetar hebat. Ia tidak peduli pada duri semak yang merobek kainnya.
Sinar senter salah satu santri tiba-tiba menangkap secercah kain putih di balik rimbunnya pohon perdu. Gus Azmi tersentak. Di sana, di atas tanah yang lembap, Nadine terbaring miring. Tubuhnya tampak begitu kecil dan rapuh.
Gus Azmi berlutut di samping Nadine. Pemandangan itu membuat air matanya luruh seketika. Nadine tidak sadarkan diri, wajahnya yang teduh kini bersimbah darah dari luka di pelipis. Namun, yang membuat Gus Azmi dan para santri tertegun adalah posisi tangan Nadine.
Kedua tangan gadis itu masih mendekap erat perut besarnya. Ia seolah menggunakan seluruh sisa kesadarannya sebelum pingsan hanya untuk satu tujuan, melindungi nyawa di dalam rahimnya.
"Cepat! Angkat dengan tandu darurat! Hati-hati dengan perutnya!" perintah Gus Azmi parau. "Hubungi rumah sakit terdekat, katakan ada pasien darurat, hafizhah kita sedang bertaruh nyawa!"
Ambulans meraung membelah malam, membawa Nadine menuju gedung putih yang penuh aroma antiseptik. Di belakangnya, mobil tetangga yang membawa Ibu Nadine tiba hampir bersamaan, mereka memutuskan untuk mengikuti mobil Gus Azmi... karena ibunya Nadine tidak tenang kalau putrinya itu tidak berada di sisinya di saat seperti ini.
Begitu pintu ambulans terbuka dan brankar Nadine didorong masuk ke ruang IGD, Ibu Nadine yang baru saja turun dari mobil langsung histeris. Ia melihat putrinya, satu-satunya harapan hidupnya, terbujur kaku dengan pakaian yang koyak dan berdarah.
"Nadine! Anakku! Ya Allah, jangan ambil dia juga setelah Bapaknya!" raung sang Ibu.
Lututnya lemas. Bayangan suaminya yang baru saja meninggal dan kini putrinya yang sekarat membuat dunianya gelap gulita. Ibu Nadine ambruk, jatuh pingsan di lantai rumah sakit sebelum sempat menyentuh tangan anaknya. Beberapa perawat segera membopongnya ke ruang perawatan lain.
___
Di dalam ruang operasi yang dingin, lampu bedah yang terang menyorot tubuh Nadine. Dokter kandungan dan ahli bedah saraf bekerja dalam keheningan yang tegang.
"Dokter, detak jantung janin melemah! Pasien mengalami perdarahan internal di kepala , kita tidak bisa menunggu dia sadar," lapor asisten dokter.
Dokter utama menarik napas panjang. "Kita harus melakukan operasi caesar sekarang juga. Jika tidak, kita akan kehilangan keduanya. Panggil tim NICU /perawatan bayi prematur!"
Di luar ruangan, Gus Azmi dan para santri duduk bersimpuh di lantai selasar rumah sakit. Suara lantunan ayat suci dari puluhan mulut santri bergema rendah, memenuhi koridor yang sepi. Mereka sedang mengirimkan doa untuk sang Permata Tersembunyi yang kini sedang berjuang di ambang maut.
Gus Azmi menunduk, tasbih di tangannya berputar cepat. "Ya Allah, Engkau yang menitipkan cahaya Al-Qur'an di dadanya. Jangan biarkan cahaya itu padam malam ini. Selamatkanlah ia dan titipan-Mu yang ada di rahimnya."
Beberapa jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Tidak ada tangisan bayi yang kencang, hanya suara rintihan kecil yang sangat halus. Seorang perawat keluar membawa inkubator kecil berisi bayi laki-laki yang sangat mungil, putra Aditya dan Nadine.
"Gus," panggil dokter dengan wajah lelah. "Bayinya selamat, meski lahir prematur dan sangat lemah. Tapi Ibunya... Nadine..."
Gus Azmi berdiri dengan kaki gemetar. "Bagaimana Nadine, Dok?"
Dokter menggeleng pelan. "Nadine masuk ke dalam fase koma yang dalam. Tubuhnya mengalami trauma hebat. Secara medis, dia masih hidup, tapi jiwanya seolah enggan kembali.... Nadine dinyatakan koma, entah sampai kapan Nadine akan siuman, Kita hanya bisa menunggu keajaiban."
Bayi itu diletakkan di ruang isolasi, berjuang sendirian tanpa dekapan ibu dan perlindungan ayah, sementara ibunya tertidur dalam sunyi yang entah kapan akan berakhir.
Gus Azmi menetap bayi mungil itu"Masya Allah nak... Kamu memang anak hebat, semoga menjadi anak sholeh, yang bisa membahagiakan orang tuamu di dunia dan di akhirat...
setelah Gus Azmi meng-adzani anak dari Nadine dan Aditya, ia menyerahkan kembali bayi mungil itu pada suster untuk ditempatkan di inkubator.