Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Keluar Tanpa Izin
Sierra kembali menuju kelasnya setelah berpisah dengan Adrian dan James di kantin. Wajahnya datar, tidak menyiratkan emosi apa pun setelah kegaduhan yang terjadi di ruang kepala sekolah tadi.
Dia mendorong pintu kelas yang tertutup. Semua tatapan siswa langsung tertuju padanya. Sierra berjalan menuju bangkunya yang berada di barisan belakang. Dia duduk dan mengambil mengambil kotak earphone nirkabel dari saku roknya. Dia memasang kedua earbud itu ke telinganya, memastikan suaranya cukup kencang untuk memblokir dunia luar. Kemudian Sierra melipat kedua tangannya di atas meja, menyandarkan kepalanya, dan memejamkan mata untuk tidur.
Suasana yang tadinya senyap perlahan berubah menjadi riuh. Suara bisik-bisik mulai memenuhi ruangan. Melihat Sierra baik-baik saja, maka artinya sudah jelas Nora yang salah. Mereka pun mulai berspekulasi hukuman apa yang akan diterima Nora.
Tiba-tiba, seorang siswa berteriak, memecah keriuhan. "Eh, liat! Ada postingan baru di forum sekolah!"
Hening sejenak. Semua mata tertuju pada siswa itu, lalu serentak mereka mengeluarkan ponsel masing-masing. Jari-jari mereka menari di atas layar, membuka aplikasi forum sekolah yang biasanya hanya berisi gosip-gosip ringan atau pengumuman tidak resmi.
"Ada postingan dari Nora!" teriak siswi itu lagi.
"Apa isinya?"
"Permintaan maaf!"
"Nora? Nggak mungkin!"
"Nora selama ini anak yang baik, murid teladan. Mana mungkin dia tega melakukan itu ke Sierra dan Eugene?"
"Ah itu semua cuma akting! Aku pernah lihat kok dia dan teman-temannya membully Anna setahun lalu sampai Anna memutuskan pindah sekolah. Tapi pihak sekolah tutup mata karena tidak ada bukti dan teman-teman Nora rata-rata dari keluarga kalangan atas. Tapi lihat sekarang, teman-temannya mulai meninggalkan Nora satu per satu. Kali ini tidak ada yang bisa membackup dia"
"Anna? Anak penjual daging itu? Benarkah itu?! Wah kita memang tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja."
"Bukan cuma Anna kok, dulu waktu sekolah menengah pertama juga Nora pernah melakukannya pada Bethany. Bethany, anak terpintar di angkatan Nora, tapi tiba-tiba dia keluar dari sekolah di pertengahan semester. Aku dengar dia sering kali dipanggil Nora dan teman-temannya sepulang sekolah. Entah apa yang Nora dan teman-temannya lakukan padanya tapi kabarnya Bethany sempat depresi selama dua tahun."
Banyak yang tidak menyangka. Citra Nora sebagai siswi teladan yang "anak baik" runtuh seketika dalam pandangan mereka. Mereka tidak menyangka di balik sikap diamnya, Nora menyimpan kedengkian yang begitu besar.
Tentu saja beberapa siswa masih tidak percaya kalau Nora melakukan semua itu, terutama para siswa laki-laki yang menyukai Nora. Mereka tetap percaya kalau Nora dijebak.
Sedangkan Tamara dan teman-temannya tentu akhirnya percaya jika foto palsu Sierra adalah perbuatan Nora karena selain Sierra kembali tanpa hukuman setelah dipanggil kepala sekolah, sebenarnya mereka juga tahu sifat Nora sesungguhnya tidak sebaik yang orang lihat. Hanya saja mereka tidak menyangka perbuatan Nora kali ini akan dibongkar di publik seperti ini.
Mereka menjadi ragu apakah aman bagi mereka tetap dekat dengan Nora. Jika Nora sampai dikeluarkan, mereka mungkin juga akan kena imbas. Akan ada kemungkinan "kenakalan" mereka selama ini juga akan terungkap di publik dan mereka juga bisa dikeluarkan.
Di tengah kegemparan itu, pintu kelas kembali terbuka. Eugene dan Melissa masuk. Wajah mereka tampak tenang. Mereka telah menghabiskan waktu di ruang kepala sekolah sampai sekarang hanya untuk menyaksikan hukuman apa yang akan diterima Nora.
Eugene merasa hukuman Nora terlalu ringan, menurutnya Nora pantas dikeluarkan dari sekolah. Dari dulu, Eugene sudah tidak suka pada Nora, dia selalu merasa kalau keramahan dan kebaikan Nora itu palsu. Dan dia senang karena topeng Nora akhirnya terungkap di publik.
Melissa berjalan menuju bangkunya, tidak mempedulikan kasak-kusuk di sekitarnya. Dia segera membuka buku kumpulan soal matematika dan mulai mengerjakan soal-soal di dalamnya.
Sedangkan Eugene, mulai dari masuk kelas, pandangannya langsung tertuju pada Sierra yang masih tertidur di bangkunya. Sampai duduk pun, matanya tidak lepas dari Sierra.
Hati Eugene bergejolak. Dia lega karena kebenaran akhirnya terungkap dan Sierra terbukti tidak bersalah. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di benaknya, satu hal yang belum sempat dia tanyakan secara langsung pada Sierra. "Apa hubungan Sierra dengan Adrian? Apakah mereka punya hubungan spesial? Adrian tampak sangat perhatian pada Sierra. Tapi dari mana Sierra bisa mengenal Adrian Blackwood? Mereka tidak berasal dari kalangan yang sama." Pikirannya terus berputar, mencoba mencari jawaban yang tidak mungkin dia dapatkan hanya dengan menatap punggung Sierra.
Tak lama, pintu kelas terbuka lagi. Kali ini, Nora masuk, diantar oleh Samantha. Suasana kelas mendadak hening total. Semua mata tertuju pada Nora.
Nora dengan wajahnya yang pucat, matanya yang sembap, dia hanya menunduk sambil berjalan ke arah bangkunya, menghindari tatapan teman-temannya. Samantha hanya menunggu Nora untuk mengambil barang-barangnya dan berdiri di ambang pintu.
Nora membuka tasnya dan mulai memasukkan barang-barangnya satu per satu. Buku-buku pelajaran, kotak pensil, dan lain sebagainya, dia masukkan ke dalam tas ranselnya. Dia tidak bisa untuk mengikuti pelajaran. Dia kembali hanya untuk mengemasi barang-barangnya. Sekolah telah menjatuhkan hukuman skorsing padanya selama dua minggu, terhitung mulai hari ini.
Tamara dan beberapa temannya yang penasaran memberanikan diri mendekati Nora.
"Nora, apa yang terjadi? Apa benar kau yang...?" tanya Tamara, suaranya sedikit bergetar.
Nora tidak menjawab. Dia terus mengemas barang-barangnya dengan gerakan yang sedikit gemetar.
"Nora, apa kau tidak mau menjelaskan sesuatu? Ini pasti hanya kesalahpahaman kan?" desak teman yang lain.
Nora masih diam. Dia menutup tasnya dengan pelan, lalu menatap lurus ke arah Sierra.
Untuk sepersekian detik, mata Nora dan Sierra bertemu. Sierra yang merasakan tatapan Nora langsung membuka matanya. Mata Sierra datar dan dingin, tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun, mata Nora memancarkan kebencian yang begitu mendalam. Dia menatap tajam ke arah Sierra, sebuah tatapan yang penuh amarah dan dendam, sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan keluar kelas, menyusul Samantha yang sudah menunggunya.
Tamara dan teman-temannya terpaku dan merinding, mereka terkejut saat melihat cara Nora menatap Sierra. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara Nora dan Sierra, serta apa yang memicu kebencian Nora yang begitu besar. Mereka perlahan kembali ke bangku masing-masing saat bel tanda pelajaran selanjutnya berbunyi.
Samantha dan Nora berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Suasana di antara mereka begitu canggung dan berat. Samantha diam seribu bahasa. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan dari sekolah menuju halte bus.
Biasanya, Samantha adalah orang yang paling cerewet. Dia selalu punya cerita untuk diceritakan, tawa untuk dibagikan. Tapi hari ini, dia seperti orang yang berbeda. Kekecewaan yang begitu mendalam telah membungkamnya.
Samantha tidak habis pikir. "Sejak kapan Nora menjadi orang semacam ini? Kapan anak yang sudah dianggapnya anak sendiri lebih dari Sierra, anak kandungnya berubah menjadi seseorang yang licik dan kejam dengan menyebarkan rumor palsu seperti ini? Ataukah, jangan-jangan selama ini aku hanya melihat apa yang ingin dia diperlihatkan? Jangan-jangan aku tidak benar-benar mengetahui karakter Nora yang sesungguhnya? Apakah benar ini pertama kalinya dan hanya kekhilafan? Atau jangan-jangan tiga tahun lalu...", pikiran Samantha berkecamuk.
Pikiran Samantha melayang ke masa lalu. Tiga tahun lalu, Sierra juga pernah menjadi korban perundungan yang parah di sekolah ini. Rumor jahat, cyberbullying, semua dialami Sierra.
Samantha, Brady dan Carson selalu percaya semua itu adalah akibat perbuatan Sierra sendiri. Mereka bertiga juga ikut jadi bahan olok-olokan keluarga lain gara-gara hal itu karena itu mereka memutuskan mengusir Sierra.
Samantha menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran buruk itu.
Samantha menolak percaya jika Nora ada hubungannya dengan kejadian tiga tahun lalu mengingat usia Nora masih 15 tahun saat itu.
Tapi, benih keraguan telah tertanam di hatinya. Kepercayaan penuh yang selama ini dia bangun untuk Nora perlahan mulai runtuh.
Di rumah, Nora dijatuhi hukuman kurungan oleh Brady dan Samantha. Lebih tepatnya, dia diminta untuk menginstrospeksi diri dan tidak diperbolehkan keluar rumah selama masa skorsing dua minggu.
Nora merasa tercekik. Kamarnya terasa seperti penjara. Dia merasa tidak adil. Dia merasa dialah korbannya. Dia hanya ingin menjatuhkan Sierra, tapi kenapa malah dia yang harus menanggung semua ini.
Hari pertama lewat. Hari kedua, Nora sudah tidak betah. Dia merasa stres, tertekan, dan dipermalukan. Permintaan maafnya di forum sekolah adalah hal paling memalukan yang pernah dia lakukan. Dan sekarang dia harus mengurung diri di rumah.
Meskipun ponselnya tidak disita, tetap saja dia merasa bosan. Nora masih berkomunikasi dengan teman-temannya dan berpura-pura dirinya dijebak oleh Sierra dengan bukti-bukti palsu.
Walaupun teman-temannya berusaha memberikan kata-kata penghiburan tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar percaya pada Nora. Tapi mereka semua lebih tidak suka pada Sierra, jadi mereka masih mendukung Nora untuk menyingkirkan Sierra.
Mereka semua kumpulan para gadis iri dan dengki karena Sierra cantik, pintar, dan banyak anak lelaki jatuh hati padanya. Sikapnya yang dingin justru dianggap kesombongan oleh mereka.
Di kamarnya, Nora merasa butuh pelarian. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan stresnya. Dia memutuskan untuk pergi ke mall. Dia ingin belanja, membeli baju-baju baru, makan enak, melakukan apa saja untuk melupakan kejadian di sekolah sekaligus menjernihkan pikirannya untuk mencari ide baru untuk menyingkirkan Sierra selamanya. Nora ingin jadi satu-satunya putri keluarga Moore.
Nora merencanakan pelariannya dengan hati-hati. Dia tahu Brady, Samantha dan Carson sedang tidak ada di rumah siang itu. Brady dan Carson pergi bekerja, dan Samantha tengah pergi dengan para sosialita. Nora menunggu hingga suasana rumah benar-benar sepi.
Dia keluar lewat pintu belakang rumah yang jarang digunakan dan tidak dijaga oleh satpam perumahan. Dia berhasil keluar dari area perumahan tanpa ketahuan. Dia segera berjalan menuju jalan raya dan mencegat taksi pertama yang lewat.
"Metropolia Grand Mall," katanya saat masuk ke dalam taksi.