Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HITAM DI ATAS PUTIH
Setelah tamu terakhir pulang dan pintu depan dikunci rapat, keheningan yang nyaman kembali menyelimuti rumah baru mereka. Sisa-sisa tawa Dito dan obrolan hangat Rendy masih terasa di udara, namun perhatian Arsen dan Rosa kini tertuju sepenuhnya pada amplop cokelat yang diletakkan Rendy di atas meja makan. Arlo sudah terlelap di dalam kamarnya, mungkin kelelahan setelah menjadi pusat perhatian sepanjang sore. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arsen membuka segel amplop itu, sementara Rosa berdiri merapat di sampingnya, menahan napas seolah waktu melambat.
Di bawah pendar lampu ruang makan yang temaram, Arsen mengeluarkan selembar kertas dengan kop resmi negara. Mereka membacanya pelan-pelan, baris demi baris, sampai mata mereka tertuju pada kolom nama orang tua. Di sana, tercetak dengan jelas dan tegas nama Arsenio Wijaya sebagai ayah dan Rosa Amalia sebagai ibu. Tidak ada lagi catatan kaki yang meragukan, tidak ada lagi status "anak seorang ibu", dan tidak ada lagi bayang-bayang ketidakpastian hukum. Arlo kini benar-benar, secara hitam di atas putih, adalah putra mereka.
Rosa menutup mulutnya dengan tangan, air matanya jatuh tanpa suara dan membasahi sudut kertas tersebut. Ia menyentuh permukaan kertas itu, mengusap nama Arlo yang bersanding dengan namanya sendiri. "Akhirnya ya, Sen. Dia punya nama. Dia punya pelindung. Kalau suatu saat dia tanya siapa orang tuanya, kita nggak perlu takut lagi menunjukkan kertas ini," bisiknya dengan suara serak karena haru. Segala lelah menghadapi birokrasi, tatapan sinis petugas kelurahan, dan ketakutan akan kehilangan Arlo seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa lega yang luar biasa.
Arsen melingkarkan lengannya di bahu Rosa, menarik istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia mencium puncak kepala Rosa berkali-kali, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. "Kertas ini bukti kalau kita sudah berhasil melewati badai itu, Ros. Terima kasih sudah mau berjalan di sampingku, dari saat aku masih hancur sampai kita bisa memegang dokumen ini bersama-sama." Arsen menatap akta itu sekali lagi, merasa bahwa selembar kertas tersebut jauh lebih berharga daripada semua pencapaian kariernya.
Malam itu, mereka duduk cukup lama di meja makan hanya untuk menatap akta kelahiran tersebut. Ada rasa bangga yang aneh, rasa tanggung jawab yang semakin besar, namun di atas segalanya, ada kedamaian yang mendalam. Mereka tahu tantangan di depan sebagai orang tua baru akan tetap ada, tapi dengan dokumen itu di tangan dan cinta yang sudah teruji, mereka merasa siap menghadapi apa pun. Hujan benar-benar sudah berhenti, dan di rumah baru itu, mereka mulai menyusun rencana masa depan yang cerah untuk Arlo.
Pagi itu, halaman belakang rumah baru mereka yang ditumbuhi rumput hijau jepang menjadi saksi sebuah pencapaian besar. Matahari baru saja naik, memberikan kehangatan yang pas untuk kulit Arlo yang kini sudah berusia hampir sebelas bulan. Arsen berjongkok di satu sisi, sementara Rosa berada sekitar dua meter di depannya, membentuk jalur kecil untuk "penerbangan" pertama putra mereka.
Arlo berdiri dengan goyah, kedua tangan mungilnya memegang erat jempol Arsen sebagai tumpuan. "Ayo, Jagoan. Papa lepas ya? Ke Mama... lihat itu Mama sudah panggil," bisik Arsen dengan nada menyemangati. Perlahan tapi pasti, Arsen melepaskan kaitan jemarinya. Arlo sempat terhuyung ke samping, matanya membulat lucu karena merasa kehilangan keseimbangan untuk pertama kalinya tanpa pegangan.
Rosa merentangkan tangannya lebar-lebar, wajahnya penuh dengan antusiasme yang tertahan agar tidak membuat Arlo kaget. "Ayo sayang... Arlo bisa! Sini ke Mama, Ma-ma!" panggilnya lembut. Arlo melihat ke arah Rosa, lalu ke arah kakinya yang telanjang di atas rumput. Dengan penuh keberanian, ia mengangkat kaki kanannya, melangkah maju dengan gerakan kaku seperti robot kecil. Satu langkah, dua langkah, Arlo berhasil menjaga tubuhnya tetap tegak meski badannya tampak oleng ke kiri dan ke kanan.
Arsen menahan napas, tidak berani bersuara agar tidak memecah konsentrasi anaknya. Pada langkah keempat, Arlo mulai kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh terduduk, namun dengan gerakan cepat dan penuh semangat, ia mempercepat langkahnya hingga akhirnya mendarat dengan sukses di pelukan Rosa. Rosa langsung menyambutnya dengan tawa riang dan ciuman bertubi-tubi di pipi gembil bayi itu. "Pintar! Anak Mama pintar sekali!" seru Rosa sambil mengangkat Arlo tinggi-tinggi ke udara.
Arsen segera menghampiri mereka, ikut memeluk Rosa dan Arlo dalam satu dekapan besar. Ada rasa haru yang menyelusup di sela tawanya; melihat Arlo belajar berjalan terasa seperti melihat kehidupan mereka sendiri yang sedang melangkah maju. "Baru beberapa bulan lalu dia cuma bisa telentang di kasur kontrakanku, sekarang dia sudah mau lari mengejarmu, Ros," ucap Arsen sambil mengusap kepala Arlo yang berkeringat. Di halaman rumah itu, mereka menyadari bahwa setiap langkah kecil Arlo adalah kemenangan besar bagi perjuangan mereka selama ini.
Suasana ceria di halaman belakang itu mendadak mendingin saat Arsen merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan telepon. Wajahnya yang tadi penuh tawa perlahan berubah menjadi tegang dan serius. Rosa, yang masih mendekap Arlo, memperhatikan perubahan ekspresi suaminya dengan perasaan tidak enak.
"Halo? Eh ya, Pak, apa kabar?" Arsen terdiam sejenak, mendengarkan suara di seberang sana yang ternyata adalah mantan pemilik kontrakan lamanya. "Oh, saya nggak kenal orang itu. Jangan kasih alamat kantor ataupun rumah, data pribadi saya tolong dijaga ya, Pak. Saya nggak mau ada gangguan."
Setelah menutup telepon dengan gerakan cepat, Arsen mengembuskan napas panjang dan menatap kosong ke arah rumput.
"Siapa, Sen?" tanya Rosa pelan, ia melangkah mendekat sambil menggendong Arlo yang mulai penasaran melihat wajah serius Papanya.
"Pemilik kontrakan lama," jawab Arsen sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Katanya ada yang cari aku ke sana. Orang itu nanya alamat baru kita atau di mana aku kerja sekarang."
Rosa mengerutkan kening, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. "Siapa? Teman kantor? Atau... orang dari masa lalu kamu?"
Arsen menggeleng cepat, seolah ingin mengusir bayangan buruk yang mulai melintas di kepalanya. "Pemilik kontrakannya bilang dia nggak kenal, orangnya nggak mau sebut nama jelas, cuma bilang punya urusan penting sama aku. Tapi aku sudah tegaskan ke Bapak itu untuk nggak kasih tahu apa-apa. Kita sudah pindah, Ros. Aku nggak mau masa lalu atau siapa pun yang nggak berkepentingan masuk lagi ke hidup kita yang sekarang."
Rosa terdiam, ia teringat bagaimana perjuangan mereka membangun kedamaian di rumah baru ini. Kabar ada orang asing yang mencari Arsen ke rumah lama terasa seperti awan mendung kecil yang tiba-tiba muncul di langit biru mereka. Ia menyentuh lengan Arsen, mencoba memberikan ketenangan.
"Mungkin cuma urusan pekerjaan lama, atau orang yang salah cari alamat," bisik Rosa, meski ia sendiri merasa ada sedikit kecemasan. "Yang penting kita semua aman di sini. Mereka nggak tahu alamat ini, kan?"
Arsen menatap Rosa, lalu beralih menatap Arlo yang sedang asyik memainkan kancing kemejanya. "Harusnya nggak tahu. Aku sudah tutup semua akses dari sana. Tapi besok aku akan hubungi Rendy lagi, sekadar buat jaga-jaga kalau ada yang mencoba mengulik data kita lewat jalur hukum atau birokrasi."