Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 NONTON GAK KENAL WAKTU
Sampai di depan rumah, ia berhenti sejenak. Menatap pintu kayu yang sudah akrab sejak kecil.
Ara masuk.
Ibu yang sedang menyapu ruang tengah menoleh. “Udah dari Mak Eti?”
“Iya, Bu.” Ara mengangkat bungkusan kecil itu. “Masih panas.”
Ibunya tersenyum. “Dari tadi Ibu lihat kamu lewat depan rumah Bu Rina. Mereka lihat kamu terus.”
Ara terkekeh kecil. “Iya, Bu. Kayaknya hari ini aku jadi tontonan.”
Ibu berhenti menyapu, menatap anaknya lebih dalam
Ibunya mengangguk pelan “Yang penting kamu nggak goyah apapun keputusan kamu"
Ara duduk di kursi makan, membuka bungkusan pisang keju. Uap hangat kembali naik. Ia menggigit pelan.
Manis. Lembut. Hangat.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Nama Danu muncul di layar.
Ara menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.
“Halo?”
“Udah lagi dirumah?” suara Danu terdengar tenang seperti biasa.
“Iya lagi makan pisang keju Mak Eti.”
Danu tertawa kecil di ujung sana. “Wah enak tuh siang siang makan pisang keju”
Ara tersenyum. “Iya.”
Ada jeda singkat.
“Mas…” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Terima kasih ya… karena udah tetap berdiri tegak disamping aku walaupun banyak orang yang gak suka”
Danu terdiam, lalu tertawa kecil “Kita berdiri bareng, Ra. Bukan sendiri-sendiri.”
Ara membuka mata.
Di luar, dua ibu-ibu tadi sudah tidak ada. Jalanan kembali biasa.
Dan untuk pertama kalinya sejak unggahan lamaran itu ramai dibicarakan, Ara merasa bukan sedang melawan dunia.
Setelah selesai teleponan dengan Danu, Pak Adis meletakkan ponselnya di meja ruang TV. Suasana yang tadi terasa tegang kini berubah lebih ringan.
Ibu Adis datang dari belakang setelah menaruk sapu kemudian ia duduk tak disamping Ara lalu melirik ke arah meja kecil. Di sana ada bungkusan berisi pisang keju yang tadi dibeli Ara di warung Mak Eti.
Tanpa banyak bicara, Ibu Adis membuka bungkusan dan mencomot satu potong. Keju parutnya melimpah, susu kental manisnya mengilap terkena cahaya lampu. Ia menggigit pelan, lalu matanya langsung membesar sedikit.
“Wah… enak ya. Tetap sama rasanya, nggak berubah,” ucap Ibu Adis sambil tersenyum puas.
Ara terkekeh kecil. “Iya, Bu. Dari dulu memang begitu rasanya. Mak Eti nggak pernah pelit keju,” jawabnya ringan.
Ibu Adis tertawa kecil. “Iya, ya. Dari kamu kecil sampai sekarang, rasanya masih sama. Ibu ingat dulu kamu sering minta dibelikan ini tiap habis magrib.”
Ara tertawa pelan. “Iya… dulu kalau nggak dibelikan, Ara ngambek.”
“Iya, cemberutnya lama lagi,” sahut Ibu Adis sambil kembali menggigit pisang kejunya.
Suasana ruang TV terasa hangat dan tenang. Lampu kuning menyala lembut, bayangan mereka jatuh samar di dinding. Dari luar terdengar suara jangkrik bersahutan, menambah damainya malam itu.
Setelah pisang keju itu habis, Ara mengusap tangannya dengan tisu lalu berdiri pelan. “Bu, Ara ke kamar dulu ya,” ucapnya lembut.
“Iya, Nak” sahut Ibu Adis sambil merapikan kotak camilan di meja.
Ara tersenyum kecil lalu berjalan menuju kamarnya. Langkahnya terasa ringan malam itu. Ia membuka pintu kamar, menyalakan lampu, lalu langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.
Untuk mengalihkan pikiran sekaligus bersantai, Ara meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi streaming dan melanjutkan drama Korea yang sedang ia tonton. Episode terbaru dari Queen of Tears sudah menunggunya.
“Ah, akhirnya lanjut juga,” gumamnya pelan.
Cahaya layar menerangi wajahnya yang kini tampak lebih rileks. Ia menggulung selimut hingga sebatas pinggang, memposisikan bantal dengan nyaman, lalu mulai menonton.
Beberapa menit kemudian, ia sudah larut dalam cerita. Saat adegan romantis muncul, Ara tersenyum sendiri. “Duh… kenapa sih manis banget,” bisiknya pelan sambil menahan tawa kecil.
Sesekali ia ikut terbawa emosi—senyum-senyum sendiri, kadang menghela napas panjang saat adegannya menyentuh. Menonton drakor seperti ini selalu jadi cara Ara menenangkan diri. Seolah-olah dunia luar berhenti sebentar dan ia bisa tenggelam dalam cerita orang lain.
Tak terasa Ara sudah menghabiskan tiga jam lebih menonton. Satu episode berlanjut ke episode berikutnya tanpa ia sadari. Ia terlalu larut dalam cerita tertawa sendiri, gemas sendiri, bahkan sempat mengusap sudut matanya saat adegan sedih muncul.
Tiba-tiba layar ponselnya meredup sesaat. Ara mengerjapkan mata, lalu melirik jam di pojok layar.
“Ya ampun…” gumamnya pelan.
Waktu sudah sore.
Cahaya matahari yang tadi siang terang kini berubah menjadi semburat jingga yang masuk lewat celah jendela. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin sore. Suasana kamar yang tadinya terasa seperti siang kini berubah hangat dengan warna keemasan.
Ara duduk perlahan, meregangkan badannya. “Niatnya cuma satu episode…” katanya sambil tertawa kecil pada diri sendiri.
Dari luar kamar terdengar suara ibunya memanggil, “Ara… sudah sore, Nak.”
“Iya, Bu!” jawab Ara agak keras.
Ara melangkah ke dapur, melihat ibunya sedang memotong sayur di atas talenan kayu. Aroma bawang dan cabai yang ditumis tadi siang masih samar tercium di udara.
“Ara kira Ibu lagi istirahat,” ucap Ara sambil mendekat.
Ibu Adis tersenyum tanpa berhenti mengiris. “Istirahatnya nanti saja. Ini mau siapkan makan malam. Kamu dari tadi di kamar terus.”
Ara tersenyum malu. “Iya, Bu… kebablasan nonton.”
“Oh… pantes baru keluar pas Ibu panggil. Ternyata nonton, ya?” ucap Ibu dengan nada setengah menggoda.
Ara langsung tersenyum malu, sedikit menyeringai. “Hehe… iya, Bu. Cuma mau nonton satu episode, tapi malah lanjut terus.”
Ibu Adis tertawa kecil. “Ibu sudah curiga. Soalnya sunyi sekali dari tadi. Biasanya kamu keluar masuk kamar.”
Ara mendekat sambil merapikan ujung kerudungnya. “Maaf ya, Bu. Nggak terasa sudah dua jam lebih.”
Ibu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Sesekali santai itu boleh. Asal jangan lupa waktu saja.”
“Iya, Bu. Tadi lihat jam kaget banget. Tahu-tahu sudah sore,” jawab Ara sambil membantu mengambilkan piring.
Mereka pun kembali sibuk di dapur, suasana terasa santai dan penuh kehangatan. Ara sesekali masih tersenyum sendiri, teringat adegan drama yang ia tonton.
Hari hari berlalu gosip Ara dan Danu sedikit demi sedikit kian berubah dengan sendirinya.
Sementara itu, hari-hari Ara dan Danu berjalan dalam irama yang sama sekali berbeda dari biasanya lebih padat, lebih sunyi dari gosip, tapi lebih penuh makna.