NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 SEDIKIT RAGU

Percakapan itu berakhir dengan basa-basi. Tapi pesan tersiratnya jelas.

Tidak semua orang setuju.

Ara sendiri mulai merasakan perubahan itu ketika salah satu teman lamanya juga sama menanyakan

Lina: Ra, aku tanya jujur ya.

Ara: Tanya aja.

Lina: Kamu yakin? Maksudnya… background kalian beda banget.

Ara membaca pesan itu lama.

Ara: Beda gimana?

Lina: Kamu anak kota. Pernah tinggal lama di Jakarta. Kuliah bagus. Circle kamu juga beda. Takutnya nanti kamu susah adaptasi.

Ara tersenyum tipis. Ia tidak langsung membalas.

Karena pertanyaan itu bukan baru.

Itu pertanyaan lama yang dulu juga pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri.

Di sisi lain

Danu juga menerima “nasihat”

Seorang kenalan ayahnya berkata setengah bercanda yang hari ini lagi servis motornya ke bengkel “Hati-hati lho. Ara itu anak kota. Jangan sampai kamu yang nanti merasa minder.”

Danu hanya tersenyum kecil.

Ia dulu memang pernah minder.

Waktu SMA, ia menyembunyikan perasaan karena merasa selera Ara terlalu tinggi untuk anak petani seperti dirinya.

Tapi sekarang situasinya berbeda.

Ia tidak lagi berdiri sebagai anak yang ragu.

Ia berdiri sebagai laki-laki yang datang dengan niat.

Di sisi lain, Danu juga dapat chat lagi dari temannnya

Arif mengirim pesan pribadi.

Arif: Bro, gue nggak mau bikin lo kepikiran, tapi ada yang ngomong aneh-aneh di tongkrongan tadi.

Danu: Soal apa?

Arif: Ya… soal background. Katanya Ara anak kota, keluarganya mapan. Lo yakin nggak bakal ada benturan?

Danu membaca pesan itu lama.

Dulu, kalimat seperti itu cukup untuk membuatnya menarik diri.

Dulu, ia memang merasa selera Ara terlalu tinggi untuk anak petani sepertinya.

Tapi hari ini berbeda.

Danu: Gue nggak nikah sama ekspektasi orang.

Arif: Gue cuma nggak mau lo disakiti kalau nanti keluarganya ngerasa beda level.

Danu menatap layar ponselnya beberapa detik.

Kalimat Arif bukan tuduhan.

Bukan juga meremehkan.

Itu murni kekhawatiran.

Ia mengetik pelan.

Danu: Kalau mereka ngerasa beda level, itu urusan mereka.

Danu: Gue datang bukan buat lomba status. Gue datang bawa niat.

Arif tidak langsung membalas.

Beberapa menit kemudian.

Arif: Tapi lo siap kalau suatu hari lo yang dibanding-bandingin?

Danu tersenyum kecil.

Siap.

Bukan karena ia merasa paling kuat.

Tapi karena ia sudah selesai dengan rasa rendah

Dirinya.

Danu: Gue udah pernah ngerasa nggak cukup dari dulu dan ternyata yang bikin capek itu bukan orang lain. Tapi pikiran gue sendiri.

Ia menambahkan satu pesan lagi.

Danu: Kalau Ara bisa berdiri di samping gue tanpa malu, masa gue masih malu sama diri sendiri?

Kali ini Arif membalas lebih cepat.

Arif: …ya juga sih.

Arif: Gue cuma takut lo sendirian ngadepin omongan orang.

Danu membaca itu pelan.

Sore itu, langit masih menyisakan warna jingga ketika Danu memarkir motornya di depan rumah Ara.

Rumah itu tidak pernah terasa asing baginya.

Tapi hari ini, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan karena tempatnya.

Karena situasinya.

Ia menarik napas sebentar sebelum mengetuk pagar.

Pintu dibuka oleh ibu Ara.

“Eh, Danu. Masuk, Nak.”

Suaranya tetap hangat seperti biasa. Tidak canggung. Tidak berubah.

Danu menyalami beliau dengan sopan.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam. Ara di dalam.”

Ruang tamu terasa tenang. Hanya suara sendok beradu dengan cangkir dari dapur.

Ara keluar beberapa detik kemudian.

Ia masih mengenakan kaos. Rambutnya diikat seadanya. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi ketika melihat Danu, ada senyum yang otomatis muncul.

“Kamu nggak bilang mau ke sini.”

“Kalau bilang, nanti suprise” jawab Danu ringan.

Ara mengerti maksudnya.

Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Beberapa menit hanya diisi obrolan ringan. Tentang kerjaan. Tentang motor yang baru Danu servis.

Sampai akhirnya ibu Ara ikut duduk.

Beliau tidak langsung masuk ke inti.

“Tadi siang ada yang telepon lagi” katanya pelan.

Ara menoleh.

Danu diam.

Ibu Ara melanjutkan dengan tenang “Biasa. Tanya-tanya. Kadang pakai nada prihatin.”

Danu menegakkan duduknya sedikit.

“Maaf kalau jadi banyak omongan, Bu”

Ibu Ara langsung menggeleng.

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

Kalimat itu lembut, tapi tegas.

“Orang itu selalu punya sesuatu untuk dibicarakan. Kalau bukan soal pekerjaan, soal jodoh. Kalau bukan soal jodoh, nanti soal anak.”

Ara tersenyum kecil mendengar itu.

Ibu Ara menatap Danu.

“Kamu datang ke sini dengan niat baik, kan?”

“Iya Bu” Jawaban Danu mantap. Tidak keras. Tapi jelas.

“Ya sudah. Itu yang penting”

Hening sejenak.

Lalu ibu Ara menambahkan “Kami juga bukan keluarga yang lahir langsung jadi kaya. Semua mulai dari bawah. Jadi kalau ada yang merasa perlu mengukur-ngukur, biarkan saja”

Danu menunduk hormat.

Di sudut ruangan, Ara memperhatikan.

Ia melihat sesuatu yang dulu tidak ia sadari.

Danu tidak datang sebagai anak yang minder.

Ia datang sebagai lelaki yang berdiri.

Setelah ibu Ara kembali ke dapur, suasana menjadi lebih pribadi.

Ara menatap Danu.

“Kamu nggak kepikiran buat mundur?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu bukan meragukan.

Itu murni ingin tahu.

Danu menggeleng pelan.

“Kalau dulu, mungkin iya”

Ara menahan napas.

“Tapi sekarang?” suaranya lebih lembut.

“Sekarang aku tahu, yang bikin berat itu bukan perbedaan kita.”

Ia menatap Ara.

“Tapi rasa takut kalau aku nggak cukup nantinya menafkahi kamu”

Ara terdiam.

Danu melanjutkan “Dan rasa takut itu udah aku beresin sebelum aku datang melamar”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi kokoh.

Di luar, suara adzan maghrib mulai terdengar dan Danu akhirnya pamit pulang

Ia menutup pintu perlahan dan berjalan ke ruang tamu. Duduk di sofa, Ara menatap ponsel yang masih menyala. Ia membuka chat Danu sekali lagi:

Ara: Udah sampe rumah, kan?

Tidak lama, pesan masuk:

Danu: Iya. Sampai dengan selamat.

Ara tersenyum kecil. Ia menulis lagi:

Ara: Makasih ya, hari ini… aku merasa lebih tenang.

Danu membalas cepat:

Danu: Bagus… itu yang penting. Kita sama-sama kuat, Ra.

Ara menatap layar lama. Lalu menambahkan:

Ara: Tapi kadang aku masih kepikiran komentar orang…

Danu: Gue juga denger, Ra. Tapi mereka cuma omongan. Kita nggak nikah buat ekspektasi orang.

Ara tersenyum sendiri, mengetik lagi

Ara: Iya… dan aku nggak mau berdiri di atas kamu. Kita sejajar.

Danu: Setuju. Kita sama-sama tegak, sama-sama saling dukung.

Ara memejamkan mata sebentar. “Teguh… dia teguh. Teguh dan nggak goyah,” gumamnya pelan.

Setelah itu, Ara menaruh ponsel di meja, berjalan ke dapur, menuang air, dan duduk di tepi meja sambil menatap gelasnya.

Ia memikirkan semua komentar yang masuk

Ia memandang ke luar jendela, langit malam gelap tapi bertabur bintang. Angin malam lembut menerpa wajahnya.

“Kalau aku hidup buat menenangkan omongan orang, capeknya nggak ada habisnya,” gumamnya sendiri.

Tidak lama, suara langkah kaki terdengar dari lantai dapur. Ibu Ara keluar dari kamar, tersenyum lembut.

“Belum masuk kamar, Ra?” tanyanya.

“Iya ” jawab Ara sambil menoleh.

Ibu Ara duduk di kursi dekatnya. “Banyak orang yang Ngomongin Danu, ya?”

Ara mengangguk. “Iya… Tapi pas Mas Danu kerumah rasanya lega, tapi juga aneh, Bu. Sejak unggahan lamaran itu, semua orang kayak pengen ngeremehin kita.”

Ibu Ara tersenyum tipis. “Orang memang suka membandingkan. Tapi yang penting, Nak, kalian saling percaya. Dunia luar nggak akan mengubah itu.”

Ara menatap mata ibunya. “Aku tahu, Bu… tapi capek juga, kadang pengen kabur dari semua komentar itu.”

Ibu Ara menepuk bahu Ara lembut. “Capek itu wajar. Tapi kamu nggak sendiri. Danu ada di sampingmu, kan?”

“Ada, Bu. Dia… dia tetap teguh. Bikin aku ikut tenang,” jawab Ara.

Ibu Ara menatapnya lama. “Nak… kamu tau nggak, dulu aku dan ayahmu juga sering dibanding-bandingin sama orang lain. Tapi yang penting, kalian berdiri tegak, saling mendukung. Itu yang bikin beda.”

Ara mengangguk. “Aku ngerti, Bu. Aku pengen kita berdua… sama-sama kuat.”

Ibu Ara tersenyum hangat. “Itu baru anakku. Tapi jangan lupa, Nak… orang lain boleh ngomong apa pun. Jangan biarkan itu merusak hati kalian.”

Ara menghela napas panjang. “Iya, Bu. Aku janji.”

Setelah ibu Ara kembali ke kamar, Ara duduk sendiri di tepi jendela. Ia menatap langit malam. Cahaya lampu jalan memantul di kaca jendela, memberi bayangan-bayangan lembut di dinding kamar. Ia menutup mata sejenak, membayangkan Danu pulang, tersenyum, dan tetap teguh meski komentar orang datang dari mana-mana.

“Esok hari… kita pasti masih diomongin orang,” bisik Ara dalam hati. “Tapi yang penting… aku dan Danu, kita udah sama-sama. Kita teguh. Kita saling mendukung. Kita siap menghadapi dunia.”

Ia menaruh ponsel di samping bantal, memejamkan mata, dan tersenyum. Malam itu terasa panjang tapi hangat, seperti janji yang tidak perlu diucapkan keras janji yang sudah tertanam kuat di hati mereka berdua. Hari di mana mereka tidak lagi ragu, tidak lagi minder, dan siap menghadapi komentar orang, dengan satu sama lain di sisi masing-masing.

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!