NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Rahasia di Balik Labirin Ingatan

​Cahaya matahari sore yang berwarna jingga kemerahan menembus tirai tipis di ruang kerja pribadi Aruna di Sanatorium. Ruangan ini adalah hadiah lain dari Dante—sebuah tempat yang didedikasikan untuk ambisinya yang sempat mati suri. Di atas meja jati yang luas, berserakan jurnal-jurnal ilmiah bioteknologi dan tablet canggih yang terhubung langsung ke perpustakaan digital universitas. Namun, fokus Aruna hari ini bukan pada deretan rumus kimia atau struktur protein, melainkan pada pemandangan di taman bawah yang terlihat dari jendela besarnya.

​Di sana, Dante sedang duduk di bangku taman bersama Sari. Ibu Aruna kini sudah bisa duduk di kursi roda, meskipun tubuhnya masih sangat lemah. Pemandangan itu seolah-olah berasal dari dimensi lain. Seorang pria yang dikenal sebagai "Iblis dari Jakarta" sedang dengan sabar memegang cangkir teh untuk seorang wanita paruh baya yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk memegang sendoknya sendiri.

​Aruna merasakan denyut di dadanya—getaran yang kini tak lagi ia sangkal sebagai cinta. Namun, di balik rasa hangat itu, ada kecemasan yang membayang. Kata-kata ibunya saat pertama kali sadar tentang "enzim" dan "Adrian" terus menghantuinya.

​Pintu ruang kerja terbuka pelan. Dante masuk tanpa jas hitamnya, hanya kemeja putih dengan kancing atas terbuka yang memperlihatkan gurat otot lehernya. Ia membawa aroma angin sore dan wangi kayu cendana yang menenangkan.

​"Kau terlalu banyak bekerja, Aruna," ujar Dante, suaranya rendah dan serak, seolah ia bisa merasakan ketegangan di bahu Aruna.

​Ia berdiri di belakang kursi Aruna, meletakkan tangannya di bahu wanita itu dan mulai memijatnya pelan. Sentuhannya yang besar dan hangat membuat Aruna memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar di perut kencang Dante.

​"Aku hanya mencoba mengejar ketertinggalan tujuh tahun, Dante," bisik Aruna. "Dunia sains bergerak terlalu cepat sementara aku... aku terjebak dalam labirin Valerius."

​Dante menghentikan pijatannya, ia memutar kursi Aruna agar mereka berhadapan. Ia berlutut di depan Aruna, menempatkan tangannya di atas lutut wanita itu. Tatapannya yang abu-abu tajam kini penuh dengan kelembutan yang hanya dimiliki oleh Aruna.

​"Kau tidak pernah terjebak, Aruna. Kau adalah pusat dari semua ini. Jika bukan karena kau, Leonardo tidak akan memiliki ibu, dan aku... aku mungkin sudah kehilangan kemanusiaanku sepenuhnya." Dante menarik tangan Aruna dan mengecup telapak tangannya. "Istirahatlah. Ibumu ingin bicara denganmu. Sendirian."

​Aruna menegang. "Ada apa? Apakah kondisinya memburuk?"

​"Tidak. Dia justru terlihat lebih... jernih hari ini. Dia bilang ada sesuatu yang harus ia serahkan padamu sebelum 'hantu-hantu' Adrian menemukannya lagi."

​Aruna melangkah menuju taman dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menemukan Sari sedang menatap cakrawala, di mana matahari mulai tenggelam di balik barisan pinus. Nadia dan Leonardo sedang bermain lari-larian di kejauhan, suara tawa mereka adalah satu-satunya melodi yang memecah kesunyian tempat itu.

​"Ibu?" Aruna duduk di kursi kayu di samping kursi roda ibunya.

​Sari menoleh. Matanya yang jernih menunjukkan kesadaran yang sangat tajam, jauh lebih hidup daripada beberapa hari yang lalu. Ia meraih tangan Aruna, genggamannya terasa lebih kuat.

​"Aruna... anakku," suara Sari masih parau, namun mantap. "Kau mencintai pria itu, bukan? Dante Valerius."

​Aruna tersipu, namun ia tidak menghindar. "Dia menyelamatkan kita, Bu. Dia bukan pria seperti yang diberitakan orang. Dia... dia rumah bagiku sekarang."

​Sari menghela napas panjang, tatapannya kembali ke arah anak-anak yang bermain. "Adrian Salsabila, ayahmu... dia bukan hanya seorang ilmuwan bioteknologi yang gila. Dia adalah seorang perancang takdir. Dia tahu kecelakaan di pabrik itu akan terjadi. Dia tahu aku akan jatuh koma, dan dia tahu kau akan berakhir di tangan keluarga Valerius."

​Aruna terbelalak. "Maksud Ibu? Ayah merencanakan penderitaan kita?"

​"Bukan penderitaan, tapi perlindungan yang ekstrem," Sari terbatuk kecil sebelum melanjutkan. "Dante bukan sekadar pembeli yang kebetulan lewat di RS Medika. Adrian telah memantau Dante sejak pria itu masih muda. Dia tahu Dante adalah satu-satunya pria yang memiliki kekuatan militer dan finansial yang cukup gila untuk melindungi 'proyek' terbesarnya."

​"Proyek apa, Bu?"

​Sari menatap Aruna dengan tatapan yang menyayat hati. "Hiperlaktasimu, Aruna. Itu bukan anomali medis. Itu adalah hasil dari serum yang ia suntikkan padamu sejak kau kecil, yang ia sebut sebagai The Origin Enzyme. Cairan kehidupan yang kau berikan pada Leonardo tujuh tahun lalu... itu bukan sekadar nutrisi. Itu adalah penawar racun untuk kelainan genetik yang dimiliki keluarga Valerius."

​Dunia Aruna seolah berputar. Jadi, hubungannya dengan Leonardo, kasih sayangnya, dan kontrak satu miliar itu... semuanya adalah bagian dari rencana besar ayahnya?

​Malam itu, Sanatorium terasa lebih mencekam bagi Aruna. Ia berdiri di balkon, menatap kegelapan hutan. Rahasia yang diungkapkan ibunya terasa seperti beban ribuan ton. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang-benang yang ditarik oleh mendiang ayahnya.

​Dante muncul dari kegelapan balkon, ia memeluk Aruna dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Aruna. "Apa yang dia katakan padamu? Kau tampak seperti baru saja melihat hantu."

​Aruna berbalik di dalam pelukan Dante, menatap wajah pria yang kini ia cintai dengan sepenuh hati. "Dante... apakah kau mencintaiku karena aku adalah Aruna, atau karena aku adalah penawar racun bagi putramu?"

​Dante terdiam. Matanya menyipit, mencerna pertanyaan itu. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan menarik Aruna ke dalam ciuman yang mendalam dan penuh gairah—sebuah ciuman yang membungkam semua keraguan.

​"Aku mencintaimu karena kau adalah satu-satunya wanita yang berani menampar wajahku saat aku menawarkan uang satu miliar padamu," bisik Dante di sela napas mereka. "Aku tidak peduli dengan rencana gila Adrian. Bagiku, kau adalah wanita yang telah menyelamatkan nyawa putraku, dan wanita yang kini telah menyelamatkan jiwaku."

​Aruna terisak, ia membenamkan wajahnya di dada Dante. Di tengah badai rahasia yang mulai terungkap, satu hal yang pasti: cinta mereka adalah satu-satunya hal yang tidak dirancang oleh siapa pun. Itu adalah sesuatu yang asli, tumbuh di antara darah, air mata, dan harapan di balik jendela kaca Sanatorium.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!