NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Gerbang Perak

Perjalanan ke markas Klan Gong terasa lebih lama dari sebelumnya.

Bukan karena jaraknya—hanya dua hari perjalanan. Tapi karena beban di pikiranku. Setiap langkah kuda membawaku menjauh dari desa yang kubangun, dari orang-orang yang percaya padaku, dari mimpi yang mulai tumbuh.

Di sampingku, Gong Hyerin diam. Tangannya masih menggenggam tanganku, tapi matanya kosong menatap jalan di depan. Mungkin dia juga berpikir hal yang sama.

Gong Jinsung memimpin di depan, sesekali menoleh memastikan kami mengikuti.

Menjelang sore hari pertama, kami berhenti di sebuah penginapan kecil di pinggir jalan. Penginapan biasa, tapi bersih. Gong Jinsung memesan tiga kamar.

Saat makan malam, Hyerin hampir tidak menyentuh makanannya. Aku juga tidak bisa menelan banyak.

"Kalian harus makan," kata Gong Jinsung. "Besok kita sampai. Kau butuh energi."

"Aku tidak lapar," jawab Hyerin.

"Aku juga tidak," sahutku.

Gong Jinsung menghela napas. "Dengar, aku tahu ini berat. Tapi kau sudah membuat keputusan. Sekarang jalani. Jangan lemah di depan Patriark. Dia akan menguji kalian berdua."

"Ayahku... apa dia akan menerima Oppa?" tanya Hyerin pelan.

Gong Jinsung diam sejenak. "Jujur? Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti: dia tidak akan mempermudah. Kau harus siap."

---

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di beranda penginapan, memandangi langit malam yang penuh bintang. Di dunia sebelumnya, aku jarang melihat bintang—polusi cahaya kota terlalu terang. Tapi di sini, bintang-bintang berkelap-kelip seperti jutaan mata yang mengawasi.

Pikiranku melayang ke desa.

Apa yang mereka lakukan sekarang? Apakah Baek Dongsu sudah memimpin dengan baik? Apakah produksi mesiu berjalan? Apakah mereka akan bertahan tanpaku?

"Oppa."

Aku menoleh. Hyerin berdiri di ambang pintu, terbungkus selimut tipis.

"Kau juga tidak tidur?"

Dia mengangguk, lalu duduk di sampingku.

"Aku takut," bisiknya.

"Takut apa?"

"Takut ayahku tidak menerimamu. Takut dia akan menyakitimu. Takut..." dia berhenti.

"Takut apa?"

"Takut kau menyesal. Menyesal memilihku."

Aku meraih tangannya. "Hyerin-ah, lihat aku."

Dia menatapku.

"Aku tidak menyesal. Aku memilih ini. Memilih kau. Apa pun yang terjadi, itu keputusanku."

Dia tersenyum tipis. Tapi matanya masih sedih.

"Tapi Oppa, kau meninggalkan desamu. Orang-orangmu. Mimpimu."

"Mimpi bisa dibangun di mana saja." Aku menatap langit. "Dan desa itu... mereka bisa bertahan. Aku sudah ajari mereka. Sekarang mereka harus belajar berdiri sendiri."

"Kau yakin?"

"Tidak. Tapi aku percaya."

---

Pagi kedua, kami melanjutkan perjalanan.

Menjelang sore, gerbang perak Klan Gong mulai terlihat dari kejauhan.

Bukan gerbang biasa. Dua pilar besar dari batu putih menjulang, dihubungkan oleh gapura berukir naga. Di belakangnya, tembok batu setinggi lima belas meter membentang sejauh mata memandang. Di atas tembok, para pendekar berjaga dengan waspada.

"Selamat datang di markas Klan Gong," kata Gong Jinsung.

Aku menarik napas dalam-dalam. Ini sarang serigala. Dan aku masuk sebagai domba.

Tapi domba ini punya gigi. Tersembunyi, tapi ada.

---

Kami disambut oleh dua baris pendekar yang berjajar dari gerbang hingga aula utama.

Formasi penghormatan? Atau intimidasi?

Hyerin meremas tanganku. "Ini untukku. Biasanya mereka menyambut putri bungsu seperti ini."

"Atau untukku," jawabku pelan. "Supaya aku tahu tempatku."

Kami berjalan di antara barisan pendekar itu. Mereka menatapku dengan berbagai ekspresi—penasaran, sinis, bermusuhan, acuh tak acuh. Aku balas menatap mereka, tidak menunjukkan rasa takut.

Di ujung jalan, tangga batu menuju Aula Utama. Di puncaknya, berdiri seorang pria tua berjubah merah.

Patriark Gong Jinho.

---

Kami berhenti di kaki tangga. Gong Jinsung berlutut memberi hormat. Hyerin melakukan hal yang sama. Aku hanya menunduk sedikit—cukup untuk sopan, tidak untuk tunduk.

Gong Jinho menatapku lama.

"Jin Tae-kyung," suaranya berat. "Kau berani kembali ke sini."

"Aku datang, Patriark. Seperti yang kau minta."

"Kau pikir dengan menikahi putriku, semua masalah selesai?"

Aku diam. Ini pertanyaan jebakan.

"Aku tidak berpikir apa-apa, Patriark. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk melindungi orang-orangku dan putri-Nya."

Dia mendengus. "Lindungi? Kau hampir menyeretnya ke dalam perang dengan klan lain."

"Itu bukan salahku. Mereka yang menyerang."

"Karena kau ancam keseimbangan!"

Pertengkaran itu terjadi di depan umum. Semua orang diam, menyaksikan.

Aku menatap Patriark lurus.

"Maaf, Patriark. Tapi 'keseimbangan' macam apa yang membuat klan kecil harus mati diam-diam? 'Keseimbangan' macam apa yang membiarkan yang kuat menindas yang lemah? Aku hanya bertahan hidup."

Dia memicingkan mata. "Kau bicara berani untuk orang yang nyawaku pegang."

"Kalau kau mau bunuh aku, lakukan saja. Tapi ingat: putrimu mungkin tidak akan memaafkanmu."

Hyerin berdiri, berdiri di sampingku.

"Ayah, jangan. Aku mencintainya."

---

Keheningan menguasai Aula Utama.

Gong Jinho menatap putrinya lama. Lalu matanya beralih padaku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Akhirnya, dia berbalik.

"Masuk. Kita bicara di dalam."

---

Ruang pribadi Patriark sederhana.

Hanya meja, beberapa kursi, dan rak buku. Tidak ada hiasan mewah seperti di aula utama. Di sinilah keputusan-keputusan besar dibuat.

Gong Jinho duduk di kursi utamanya. Kami duduk di hadapannya. Hyerin di sampingku, Gong Jinsung di samping Hyerin.

"Kau tahu," Patriark memulai, "anak ini sejak kecil sudah menyusahkan."

Hyerin membuka mulut, tapi dia angkat tangan.

"Biarkan ayahmu bicara." Dia menatapku. "Dia keras kepala. Tidak mau mendengar nasihat. Melawan semua perjodohan yang kuatur. Dan sekarang..." dia menghela napas, "...memilih pria sepertimu."

"Ayah, dia hebat..."

"Aku belum selesai." Dia menatapku lagi. "Tapi aku juga dengar apa yang kau lakukan. Melawan Hojun. Membangun desa dari nol. Mengalahkan tiga klan dengan taktik licik." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Itu bukan pekerjaan orang biasa."

Aku diam.

"Kau punya nyali. Itu yang paling penting di dunia ini." Dia bersandar. "Tapi nyali saja tidak cukup. Kau harus punya kekuatan."

"Aku punya pengetahuanku."

"Pengetahuan? Tentang bubuk hitam itu?"

"Dan banyak hal lain."

Dia menatapku lama. Lalu bertanya, "Apa yang kau tahu tentang pandai besi?"

Aku terkejut. "Pandai besi?"

"Klan Gong terkenal dengan pedangnya. Tapi belakangan, kualitasnya menurun. Para tetua sibuk politik, para pandai besi tua pensiun, tidak ada yang meneruskan." Dia mencondongkan tubuh. "Katanya kau bisa membuat baja berkualitas. Tunjukkan."

---

Aku dibawa ke bengkel pandai besi Klan Gong.

Tempatnya besar—lima kali lipat dari tungku sederhanaku. Peralatannya lengkap. Tapi saat kulihat hasil kerjanya, aku mengerti maksud Patriark.

Besi mereka keras, tapi getas. Terlalu banyak karbon. Pedangnya cepat tumpul dan mudah patah.

"Kalian menggunakan arang biasa?" tanyaku.

"Ya. Arang dari kayu."

"Harusnya pakai arang kokas. Atau setidaknya arang dengan kualitas lebih tinggi."

Pandai besi kepala—pria tua bernama Hwang Dae—mendengus. "Kau pikir kau lebih tahu dari aku yang sudah empat puluh tahun kerja?"

Aku tidak terpancing. "Mau bukti? Coba pakai arangku."

Aku masih membawa sekantong kecil arang dari desa—persediaan darurat. Aku berikan padanya.

Dia ragu, tapi Patriark mengangguk. Hwang Dae mulai bekerja.

Satu jam kemudian, sebilah pedang pendek selesai.

Hwang Dae mengujinya—memotong besi biasa, membelah bambu, menangkis pukulan. Matanya berubah.

"Ini... ini lebih tajam dari pedang kita."

Aku tersenyum tipis. "Karena arangnya lebih murni. Suhu pembakarannya lebih tinggi. Karbonnya lebih sedikit."

Patriark Gong mengambil pedang itu, memeriksanya dengan saksama.

"Bisa kau ajari mereka?"

Bisa. Tapi dengan syarat.

"Bisa. Tapi aku minta imbalan."

Dia memicingkan mata. "Kau berani minta imbalan padaku?"

"Aku bukan budak, Patriark. Aku calon menantumu. Atau setidaknya, aku harap begitu."

---

Imbalan yang kuminta sederhana: kebebasan.

Bukan kebebasan mutlak—aku tahu mereka tidak akan memberikannya. Tapi kebebasan untuk keluar-masuk markas, untuk berkirim surat dengan desaku, dan untuk memiliki bengkel sendiri di dalam markas.

Patriark setuju. Tapi dengan satu syarat: aku harus tinggal di markas minimal setahun. Untuk membuktikan diri. Untuk belajar adat istiadat Klan Gong. Untuk... "menjadi layak" bagi putrinya.

Aku menerima.

---

Minggu pertama di markas Klan Gong adalah minggu penyesuaian.

Aku ditempatkan di paviliun kecil di kompleks timur—cukup dekat dengan bengkel, cukup jauh dari inti istana. Dua pelayan disediakan, tapi kulepaskan. Aku bisa urus diri sendiri.

Setiap pagi, aku ke bengkel. Mengajari Hwang Dae dan anak buahnya cara membuat arang berkualitas, cara mengontrol suhu tungku, cara menempa dengan teknik yang lebih baik.

Setiap sore, aku ke perpustakaan. Membaca sejarah Murim, mempelajari klan-klan besar, memahami politik yang rumit.

Setiap malam, aku bertemu Hyerin. Kadang di paviliunku, kadang di taman belakang. Kami bicara tentang banyak hal—masa lalu, masa depan, ketakutan, harapan.

Perlahan, aku mulai mengenal keluarga ini.

Patriark Gong, di balik ketegasannya, adalah pria yang lelah. Memimpin klan besar selama empat puluh tahun, melawan intrik internal, menjaga keseimbangan dengan klan lain. Dia hanya ingin memastikan anak-anaknya aman.

Gong Jinsung, pamannya, adalah sekutu terbesarku di sini. Tanpa dia, aku mungkin sudah diusir.

Dan Hyerin... Hyerin adalah jangkar. Yang membuatku tetap waras di tengah tekanan.

---

Tapi tidak semua orang menerimaku.

Para tetua Klan Gong terpecah. Ada yang mendukung—melihat potensiku. Ada yang menentang—menganggapku ancaman. Dan ada yang netral—menunggu siapa yang menang.

Petinggi yang paling keras menentang adalah Tetua Jang, kepala faksi konservatif. Dia tidak suka orang luar, apalagi yang membawa "cara baru" yang dianggapnya merusak tradisi.

Suatu sore, dia mencegatku di koridor.

"Jin Tae-kyung."

Aku berhenti. "Tetua Jang."

Dia tersenyum—bukan senyum ramah. "Kau pikir dengan menikahi putri bungsu, kau aman?"

"Aku tidak berpikir apa-apa, Tetua."

"Kau salah. Di klan ini, pernikahan tidak menjamin apa-apa." Dia mendekat, menurunkan suara. "Aku mengawasimu. Satu kesalahan, dan kau akan keluar dari sini. Mungkin tidak hidup."

Aku menatapnya tenang. "Terima kasih peringatannya, Tetua. Aku akan ingat."

Dia mendengus, lalu pergi.

---

Malam harinya, kuceritakan pada Hyerin.

Dia mengerutkan kening. "Tetua Jang... dia memang selalu menentang ayahku. Tapi jangan khawatir, aku akan bicara pada ayah."

"Jangan. Itu hanya akan memperburuk."

"Tapi..."

"Biarkan aku yang hadapi. Lagipula, aku sudah terbiasa dengan orang seperti dia."

Hyerin menatapku cemas. "Oppa, kau yakin?"

Aku tersenyum. "Di dunia sebelumnya, aku menghadapi atasan brengsek setiap hari. Ini tidak berbeda."

---

Bulan pertama berlalu.

Bulan kedua. Ketiga.

Aku terus bekerja di bengkel. Hasilnya mulai terlihat. Pedang-pedang Klan Gong mulai dikenal lagi kualitasnya. Beberapa tetua yang awalnya ragu mulai melunak.

Aku juga mulai membuat senjata baru—bukan hanya pedang. Meriam bambu versi lebih besar. Bom dengan sistem sumbu tunda. Bahkan, prototipe panah berapi.

Patriark terkesan. Tapi dia tidak pernah memujiku langsung. Hanya sesekali mengangguk, atau memberi tugas baru.

Hubunganku dengan Hyerin semakin dekat. Kami seperti pasangan tua—bisa bicara tanpa kata, bisa diam tanpa canggung. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Mulai merasa... lengkap.

Tapi di malam-malam sepi, saat Hyerin tidur dan aku duduk sendirian di paviliun, pikiranku selalu kembali ke desa.

Apa kabar mereka?

---

Surat pertama dari Baek Dongsu datang di bulan keempat.

"Tuan,

Semoga surat ini sampai. Desa baik-baik saja. Produksi mesiu jalan. Tiga keluarga baru pindah. Anak-anak mulai sekolah—kami bangun gubuk kecil untuk belajar, seperti yang Tuan ajarkan.

Tapi kami rindu Tuan. Tanpa Tuan, rasanya ada yang kurang. Nona Hyerin—maaf, calon Nyonya—mengirim kabar melalui pamannya. Katanya Tuan baik-baik saja. Syukurlah.

Kami tunggu kabar baik. Semoga Tuan cepat kembali.

Hormat kami,

Baek Dongsu"

Aku membaca surat itu berulang kali. Sampai hafal setiap kata.

Lalu aku membalas.

"Baek Dongsu,

Suratmu sampai. Senang dengar kabar baik. Teruskan yang sudah diajarkan. Jangan lupa jaga persediaan. Kalau ada masalah, kirim kabar lewat Gong Jinsung—dia akan teruskan padaku.

Aku akan kembali. Suatu hari. Janji.

Tae-kyung"

---

Bulan kelima, Gong Jinsung datang dengan kabar.

"Ada gerakan dari Klan Utara."

Aku mengerutkan kening. "Klan Utara?"

"Klan besar di utara Murim. Mereka dengar tentang senjatamu. Mereka ingin... bekerja sama."

Ini bisa baik atau buruk.

"Siapa yang tahu?"

"Belum banyak. Tapi intelijenku bilang mereka sudah mengirim utusan ke beberapa klan besar, mencari informasi."

Aku diam, memikirkan implikasi.

Kalau Klan Utara tertarik, klan lain pasti juga akan tertarik. Cepat atau lambat, rahasia mesiu akan tersebar. Dan saat itu terjadi...

"Kita harus bersiap," kataku.

"Bersiap bagaimana?"

"Bersiap untuk perang. Atau aliansi. Tergantung siapa yang datang pertama."

---

Malam itu, aku berbicara dengan Hyerin.

"Ada kemungkinan kita akan diserang."

Dia tegang. "Kapan?"

"Tidak tahu. Mungkin bulan depan, mungkin tahun depan. Tapi pasti."

"Apa yang akan kita lakukan?"

Aku meraih tangannya. "Kita hadapi bersama. Seperti biasa."

Dia tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke mata.

---

[Bersambung ke Bab 16]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!