Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Langkah Zayn terhenti tepat di ambang pintu kantin. Ia berhasil mencegat Luna sebelum gadis itu mencapai area parkir. Napasnya sedikit memburu, bukan karena jarak yang jauh, tapi karena rasa cemas yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Luna... tunggu!"
Luna berhenti. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Zayn dengan tatapan yang begitu asing, dingin dan tak terbaca. "Ya? Ada apa?"
Zayn ragu sejenak, matanya menyapu wajah Luna yang meski tertutup makeup, tetap memperlihatkan sisa-sisa pucat di sekitar bibirnya. "Apa kau sakit? Kau tampak sangat tidak sehat tadi di dalam."
Luna tersenyum sinis, sebuah senyum yang terasa seperti sayatan pisau di hati Zayn. "Kau bukan siapa-siapa, Zayn. Jadi jangan sok perhatian. Fokus saja pada kekasihmu yang hebat di London itu. Jangan sampai dia tahu kau masih mencemaskan sampah seperti aku."
Deg.
Kalimat itu menghantam Zayn telak. Ia terpaku, lidahnya mendadak kaku saat Luna berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pintu kantin itu seolah menjadi batas pemisah yang nyata antara masa lalu mereka dan kenyataan pahit yang kini mereka jalani.
Seminggu telah berlalu, dan perubahan Luna menjadi buah bibir di seluruh penjuru kampus California. Bidadari Kedokteran yang dulu lembut kini telah bermetamorfosis menjadi sosok yang paling dihindari. Mual dan muntah hebat di pagi hari telah menjadi rutinitas barunya, namun setelah melewati jam-jam sulit itu, Luna seolah menjadi orang yang berbeda.
Di kantin, Luna tidak lagi memesan salad buah atau makanan porsi kecil. Ia duduk sendirian di meja tengah, memesan dua porsi burger besar dengan tambahan kentang goreng, dan memakannya dengan rakus tanpa memedulikan pandangan menghakimi orang-orang di sekitarnya. Seolah ada energi besar di dalam tubuhnya yang terus-menerus meminta asupan.
Namun, yang paling mengerikan adalah amarahnya yang meledak-ledak. Luna tidak lagi memiliki filter.
"Apa kau tidak mandi seminggu?!" bentak Luna tiba-tiba pada seorang mahasiswa yang berdiri di belakangnya saat mengantre minuman. "Parfummu menjijikkan, baunya membuatku ingin muntah. Menyingkir dari radius satu meter dariku!"
Mahasiswa itu mematung, wajahnya memerah karena malu luar biasa, sementara Luna hanya mendengus kasar dan kembali fokus pada minumannya.
Sifat manisnya telah mati, digantikan oleh keangkuhan yang lebih tajam dari pedang. Jika ada yang menyenggol tasnya sedikit saja, Luna tidak segan-segan melontarkan makian pedas yang membuat orang tersebut langsung terdiam.
Anehnya, meski pagi hari ia terlihat lesu dan payah, sisa hari Luna justru tampak sangat bertenaga, energi yang ia gunakan sepenuhnya untuk menjadi gadis paling sinis di kampus.
Hera, yang terus mengamati perubahan kakaknya, mulai merasa ada yang sangat tidak beres. Sore itu, saat mereka dalam perjalanan pulang, bau tajam dari makanan yang dibawa Luna memenuhi mobil.
"Luna, demi Tuhan, berhentilah makan itu di mobilku. Baunya sangat menyengat," keluh Hera.
"Jangan mengaturnya, Hera. Aku lapar!" jawab Luna pendek, masih sibuk mengunyah.
Hera menghela napas panjang. Ia meraih sebuah kantong kecil dari dashboard dan melemparnya ke pangkuan Luna. "Aku sudah membelikannya. Pakai itu besok pagi. Kau tidak bisa terus-menerus bilang ini hanya karena stres, Luna. Stres tidak membuat orang makan seperti singa lapar dan muntah setiap jam enam pagi."
Luna melirik benda di dalam kantong plastik transparan itu, sebuah kotak test pack. Wajahnya mendadak kaku. "Aku tidak mau. Aku sudah bilang aku hanya stres karena pria sialan itu bilang dia bosan padaku! Aku tidak hamil, Hera!"
"Gunakan itu atau aku akan memberitahu Ayah bahwa kau sakit parah agar dia memanggil dokter keluarga ke rumah!" ancam Hera serius.
"Kau berani mengancamku?!" Luna berteriak, matanya berkilat penuh amarah.
"Aku melakukan ini karena aku peduli padamu! Kau berubah jadi orang gila, Luna! Kau kasar pada semua orang, kau makan seperti orang yang belum makan setahun, dan kau menolak melihat kenyataan!" Hera tak kalah keras.
Luna terdiam, tangannya mencengkeram erat kotak test pack itu. Di dalam hatinya, rasa takut mulai merayap. Ia ingat malam di markas itu bagaimana ia mengunci kaki di pinggang Zayn, bagaimana ia meminta Zayn melepaskan semuanya di dalam dirinya. Ia sangat yakin saat itu ia sedang tidak subur, tapi melihat kondisi tubuhnya sekarang... hatinya mulai goyah.
"Aku hanya stres, Hera... aku hanya sangat membenci Zayn karena dia lebih memilih Zella," bisik Luna lirih, pertahanan amarahnya mulai runtuh berganti dengan isakan pelan.
Hera melembut, ia mengusap bahu kakaknya. "Pakai saja, Luna. Jika hasilnya negatif, kita bisa ke dokter untuk mengobati stresmu. Tapi jika positif... kau harus tahu bahwa kau tidak bisa terus-menerus menjadi kasar hanya untuk menutupi kebenaran ini."
Luna hanya menatap keluar jendela, menggenggam alat tes itu dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu bahwa jauh di lubuk hatinya, ada rasa takut yang bercampur dengan harapan kecil, harapan bahwa jika ada kehidupan di rahimnya, maka Zayn tidak akan pernah benar-benar bisa bosan padanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰