Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Siang dan Tidur di Pangkuan Ibu
Matahari tepat berada di puncak kepala saat jam dinding tua di ruang tamu berdentang satu kali. Bagi orang lain, jam satu siang mungkin waktu untuk bekerja atau tidur siang di kamar, namun bagiku dan Ibu, ini adalah waktu untuk ritual wajib kami yaitu berburu kutu rambut. Entah apa yang membuat mahluk-mahluk kecil itu begitu betah bersarang di helai rambutku, seolah kepalaku adalah hutan belantara yang paling nyaman bagi mereka.
"Ayo, sini. Sudah jam satu," panggil Ibu sambil membawa wadah kecil berisi sedikit air dan sisir serit.
Aku segera menghampiri Ibu yang sudah duduk di bangku kayu di teras depan. Angin sepoi-sepoi yang bertiup menggoyangkan dedaunan pohon pisang di halaman, menciptakan suasana sejuk yang menghanyutkan. Aku mengambil posisi duduk di bawah, tepat di depan kaki Ibu, beralaskan tikar pandan yang sudah mulai usang.
"Ibu, cari yang banyak ya. Gatal sekali rasanya," keluhku sambil menyandarkan kepala ke pangkuan Ibu.
"Iya, diam saja. Jangan banyak gerak supaya tidak lepas kutunya," sahut Ibu lembut. Jemarinya yang masih memiliki bekas luka duri arbei itu mulai membelah rambutku dengan telaten.
Sentuhan tangan Ibu terasa begitu magis. Setiap belahan rambut dan pijatan kecil di kulit kepalaku membuat seluruh saraf di tubuhku rileks. Rasa kantuk menyerangku seketika. Aroma khas dari pakaian Ibu, perpaduan bau matahari dan sisa wangi sabun cuci, menjadi nina bobo yang paling ampuh. Tidak butuh waktu lama sampai mataku benar-benar terpejam, dan aku tenggelam dalam tidur yang sangat lelap di atas paha Ibu yang empuk.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terlelap, sampai sebuah tepukan lembut di pipiku membangunkanku.
"Nak, bangun... Lihat ini, sudah dapat banyak," bisik Ibu sambil terkekeh pelan.
Aku mengerjap-erjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran. "Euh... sudah selesai, Bu?" tanyaku dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Belum semuanya, tapi coba dengar ini."
Ibu mendekatkan kedua ibu jarinya ke telingaku. Pletak! Pletak! Pletak! Bunyi nyaring dari telur-telur kutu dan induknya yang ditekan dengan kuku jempol Ibu terdengar bersahut-sahutan. Bagi sebagian orang mungkin itu suara yang menjijikkan, tapi bagiku, suara itu adalah tanda kemenangan.
"Suaranya berisik sekali, Bu," kataku sambil tersenyum kecil, memandangi hasil buruan di dalam wadah kecil yang kini sudah berisi beberapa ekor kutu yang tak lagi bergerak.
"Ini ada induk yang besar sekali, pantas saja kamu gatal terus," ujar Ibu sambil menunjukkan kuku jempolnya. "Makanya, jangan suka main di bawah pohon yang rimbun terus kalau pulang sekolah."
Aku hanya nyengir, lalu kembali menyandarkan kepalaku. "Aku tidak suka kutunya, Bu. Tapi aku suka kalau Ibu cari kutuku seperti ini. Rasanya enak sekali, sampai tidak mau bangun."
Ibu tertawa, tangannya kembali membelai rambutku dengan gerakan menyisir yang tenang. "Dasar kamu ini. Sudah, sekarang duduk yang benar, Ibu selesaikan bagian belakangnya."
Di teras rumah yang sederhana itu, di bawah langit siang yang cerah, aku merasa dunia sedang berhenti berputar. Tidak ada tugas sekolah, tidak ada rasa lelah. Yang ada hanyalah aku, Ibu, dan kasih sayangnya yang mengalir melalui ujung jemarinya. Aku benar-benar merasa berada di tempat paling aman di seluruh dunia.
Ritual di lanjutkan begitu dengan tidurku yang sempat tertunda. Aku masih sedikit sadar ketika Ibu membolak-balikkan kepalaku berganti posisi dari kanan ke kiri untuk mencari kutu-kutu itu. Bagiku , itu adalah hal yang paling nyaman yang pernah aku rasakan. Entah aku harus berterimakasih pada kutu atau sebaliknya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰