Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Hutang ke Pak Burhan
#
Tiga hari setelah Faris lahir, Naura udah boleh pulang dari rumah sakit. Tapi Faris masih harus tinggal di inkubator. Dokter bilang minimal sebulan. Mungkin lebih kalau kondisinya belum stabil.
Zidan antar Naura pulang ke kontrakan dengan hati berat. Naura nangis sepanjang jalan. Nggak rela ninggalin Faris sendirian di rumah sakit.
"Mas, aku nggak mau pulang. Aku mau di rumah sakit nemenin Faris."
"Kamu harus istirahat sayang. Kamu baru lahiran. Tubuh kamu masih lemah. Kalau kamu sakit, nanti siapa yang jaga Faris?"
"Tapi aku nggak rela ninggalin dia sendirian Mas. Dia masih bayi. Dia pasti takut."
"Faris nggak sendirian. Ada suster yang jaga dua puluh empat jam. Kita besok kesana lagi. Sekarang kamu harus istirahat dulu."
Sesampainya di kontrakan, rumah mereka kelihatan sepi banget. Naura masuk terus langsung ngeliat ke sudut ruangan. Di sana ada boks bayi yang Zidan beli bekas minggu lalu. Boks kayu sederhana yang catnya udah pudar. Di dalamnya ada selimut bayi lusuh, bantal kecil, sama boneka beruang compang camping.
Naura jalan pelan ke boks itu terus pegang pinggiran kayunya. Air matanya jatuh.
"Harusnya Faris udah tidur di sini. Harusnya dia udah di rumah sama kita. Kenapa dia harus di rumah sakit? Kenapa?"
Zidan peluk istrinya dari belakang sambil ikut nangis. "Sabar ya sayang. Sebentar lagi dia pulang. Dia pasti pulang."
Malam itu Naura nggak bisa tidur. Dia terbaring di kasur sambil terus nangis. Tangannya dia letakkan di perut yang udah kempes. Kosong. Anaknya nggak ada di sana lagi. Anaknya jauh. Di rumah sakit. Sendirian.
Zidan yang tidur di sampingnya juga nggak bisa tidur. Pikirannya kemana mana. Mikirin biaya rumah sakit. Mikirin cicilan yang harus dibayar bulan depan. Mikirin gimana caranya cari uang tambahan.
Besoknya pagi, Zidan bangun jam tiga seperti biasa. Dia harus kerja. Harus cari uang. Sekarang tanggung jawabnya lebih berat. Ada Faris yang butuh biaya perawatan mahal. Ada Naura yang butuh nutrisi buat pemulihan. Ada Ibu Siti yang masih sakit di rumah sakit.
Semuanya butuh uang.
Uang yang dia nggak punya.
Dia berangkat kerja dengan hati berat. Nyetir angkot dari pagi sampai sore. Dapat seratus lima puluh ribu kotor. Dipotong bensin sama setoran ke bos, sisanya tujuh puluh ribu.
Tujuh puluh ribu.
Cukup buat makan dua hari.
Tapi nggak cukup buat bayar cicilan rumah sakit yang satu juta per bulan. Belum biaya perawatan Faris yang jalan terus setiap hari. Belum biaya Ibu Siti.
Sore itu, Zidan duduk di angkot yang udah parkir di terminal sambil itung itung uang. Kepalanya pusing. Dadanya sesak.
"Gimana ini? Dari mana aku cari uang sebanyak itu? Kerja tiga tempat aja masih nggak cukup. Apalagi sekarang Naura nggak bisa jualan gorengan dulu karena masih lemah. Gimana?"
Dia inget Pak Burhan. Rentenir yang pernah dia pinjem dulu.
Tapi dia juga inget pesan Bu Mariam. "Jangan pinjam ke rentenir Zidan. Bunganya gede. Nanti malah tambah susah."
Tapi dia nggak punya pilihan lain.
Dia udah coba pinjam ke bank. Ditolak karena nggak punya jaminan. Dia coba pinjam ke koperasi. Ditolak karena penghasilan nggak tetap. Dia coba pinjam ke temen temen. Nggak ada yang punya uang segitu.
Cuma Pak Burhan yang pasti mau kasih pinjaman. Dengan syarat apapun.
Zidan jalan ke rumah Pak Burhan dengan langkah berat. Hatinya berdebar keras. Tangan gemetar.
Sampe di rumah besar berlantai dua itu, dia ketuk pintu dengan pelan.
Pak Burhan keluar dengan baju koko putih dan songkok. Senyum lebar di wajahnya. Senyum yang bikin Zidan merinding.
"Zidan! Tumben dateng lagi. Ada perlu apa?"
"Pak, saya... saya mau pinjam uang lagi."
Senyum Pak Burhan makin lebar. "Berapa?"
"Sepuluh juta Pak."
Pak Burhan bersiul pelan. "Wah, gede juga. Buat apa emangnya?"
"Anak saya lahir prematur Pak. Harus masuk inkubator. Biaya rumah sakit mahal. Saya butuh uang buat bayar cicilan sama biaya perawatan."
"Oh gitu. Kasian ya. Oke, aku bisa kasih pinjaman sepuluh juta. Tapi bunganya naik jadi dua puluh persen per bulan. Kalau telat bayar, denda tiga puluh persen. Setuju?"
Dua puluh persen per bulan?
Itu dua juta per bulan hanya buat bunga!
Belum pokok pinjamannya!
Tapi Zidan nggak punya pilihan.
"Setuju Pak."
"Bagus. Tapi kali ini aku butuh jaminan. Rumah kontrakan kamu masih atas nama siapa?"
"Pemiliknya Pak Usman Pak."
"Oke. Kamu minta surat pernyataan dari Pak Usman kalau kamu yang ngontrak di sana. Terus kamu tanda tangan surat perjanjian. Kalau kamu nggak bisa bayar, rumah kontrakan itu jadi hakku. Aku yang akan ngomong sama Pak Usman. Mengerti?"
Zidan melotot. "Pak, tapi itu rumah kontrakan saya. Istri saya baru lahiran. Kalau rumah itu diambil, kami mau tinggal dimana?"
"Ya makanya bayar tepat waktu. Jangan sampai telat. Kamu mau atau nggak? Kalau nggak mau, ya udah. Cari pinjaman ke tempat lain."
Zidan diem lama. Otaknya berputar cepet. Ini pilihan yang berbahaya. Sangat berbahaya.
Tapi dia butuh uang sekarang.
Faris butuh perawatan sekarang.
Nggak ada waktu lagi.
"Saya... saya mau Pak."
Pak Burhan senyum puas. "Bagus. Tunggu sebentar."
Dia masuk ke dalam terus keluar bawa amplop tebal sama beberapa lembar kertas.
"Ini sepuluh juta. Ini surat perjanjiannya. Baca dulu, terus tanda tangan di sini."
Zidan baca surat itu dengan tangan gemetar. Tulisannya panjang dan bertele tele. Tapi intinya jelas. Pinjaman sepuluh juta. Bunga dua puluh persen per bulan. Jatuh tempo tiap tanggal lima. Kalau telat, denda tiga puluh persen. Kalau nggak bisa bayar sama sekali, rumah kontrakan jadi jaminan dan akan diambil alih.
Ini perangkap.
Perangkap yang licin.
Tapi dia nggak punya pilihan.
Dengan tangan yang nggak berhenti gemetar, dia tanda tangan surat itu.
"Bagus. Sekarang kamu bawa surat ini ke Pak Usman. Minta dia tanda tangan sebagai saksi kalau kamu yang ngontrak di rumahnya. Besok bawa balik kesini."
"Baik Pak."
Zidan keluar dari rumah Pak Burhan dengan amplop berisi sepuluh juta di tangan. Tapi hatinya nggak lega. Malah makin berat.
Dia baru aja masuk ke jeratan yang berbahaya.
Jeratan yang bisa menghancurkan hidupnya.
Tapi dia nggak punya pilihan lain.
Dia jalan ke rumah Pak Usman, pemilik kontrakan. Rumahnya nggak jauh. Cuma dua gang dari kontrakan Zidan.
Pak Usman buka pintu dengan wajah ramah. "Zidan? Ada apa Nak?"
"Pak, saya butuh bantuan. Saya perlu surat pernyataan kalau saya yang ngontrak di rumah Bapak. Bisa Pak?"
"Buat apa emangnya?"
Zidan bingung mau jawab apa. Dia nggak mau bilang buat jaminan hutang. Takut Pak Usman curiga.
"Buat... buat administrasi anak saya Pak. Di rumah sakit. Mereka minta bukti tempat tinggal."
"Oh gitu. Oke. Tunggu sebentar. Bapak buatin suratnya."
Pak Usman masuk terus keluar lima menit kemudian bawa surat pernyataan yang udah dia tulis tangan dan kasih cap jempol.
"Ini Nak. Semoga membantu."
"Terima kasih Pak. Terima kasih banyak."
Zidan balik ke rumah Pak Burhan dengan surat itu. Pak Burhan baca terus senyum puas.
"Bagus. Sekarang perjanjian kita resmi. Ingat ya Zidan. Bayar tepat waktu. Jangan sampai telat."
"Iya Pak. Saya janji akan bayar tepat waktu."
Tapi di dalam hatinya, Zidan nggak yakin.
Dua juta per bulan buat bunga aja.
Belum pokok pinjamannya.
Dari mana dia mau dapet uang sebanyak itu?
Dia jalan pulang ke kontrakan dengan langkah berat. Amplop berisi sepuluh juta dia pegang erat. Uang yang bisa nyelamatin Faris. Tapi juga uang yang bisa menghancurkan keluarganya.
Sesampainya di kontrakan, Naura lagi duduk di kasur sambil peluk boneka beruang kecil yang harusnya buat Faris. Dia nangis pelan.
"Naura, aku dapet uang. Sepuluh juta. Kita bisa bayar cicilan rumah sakit. Kita bisa bayar biaya perawatan Faris."
Naura noleh dengan mata sembab. "Dari mana Mas dapat uang sebanyak itu?"
Zidan diem sebentar. Dia nggak mau bohong. Tapi dia juga takut Naura khawatir.
"Aku... aku pinjam ke Pak Burhan lagi."
Wajah Naura langsung pucat. "Pak Burhan? Rentenir itu? Mas kenapa pinjam kesana lagi? Kan bunganya gede!"
"Aku nggak punya pilihan lain Naura. Aku udah coba kemana mana. Cuma dia yang mau kasih pinjaman."
"Berapa bunganya?"
"Dua puluh persen per bulan."
Naura melotot. "DUA PULUH PERSEN? Mas itu gila! Itu dua juta per bulan cuma buat bunga! Belum pokoknya! Gimana kita mau bayar sebanyak itu?"
"Aku akan kerja lebih keras lagi. Aku akan cari tambahan kerja. Aku pasti bisa bayar."
"Mas udah kerja tiga tempat tapi masih kurang! Sekarang mau kerja berapa tempat lagi? Mau kerja dua puluh empat jam nonstop? Mas mau mati apa?"
Zidan duduk di pinggir kasur sambil pegang kepala. "Aku nggak tau Naura. Aku bingung. Tapi aku nggak punya pilihan lain. Faris butuh perawatan. Kamu butuh nutrisi buat pemulihan. Ibu mertua juga masih sakit. Aku harus cari uang dari manapun."
Naura nangis sambil peluk suaminya. "Mas, aku takut. Aku takut kita nggak bisa bayar. Aku takut kita makin terpuruk."
"Kita pasti bisa. Percaya sama aku. Kita pasti bisa lewatin ini."
Tapi suaranya nggak yakin.
Bahkan dia sendiri nggak yakin.
Malam itu mereka tidur dengan perasaan berat. Uang sepuluh juta ada di bawah bantal. Tapi uang itu kayak bom waktu yang bisa meledak kapan aja.
Besoknya pagi, Zidan bangun jam tiga lagi. Dia ke pasar angkat barang. Dapat dua puluh ribu. Terus nyetir angkot sampai sore. Dapat tujuh puluh ribu. Malem jadi tukang parkir. Dapat tiga puluh ribu.
Total sehari seratus dua puluh ribu.
Sebulan tiga juta enam ratus ribu.
Dikurangi makan sehari hari, bensin, kebutuhan rumah tangga, sisanya cuma dua juta.
Pas buat bayar bunga Pak Burhan.
Tapi pokoknya gimana?
Belum cicilan rumah sakit satu juta per bulan.
Belum biaya perawatan Faris yang terus jalan.
Belum biaya Ibu Siti.
Semuanya nggak cukup.
Zidan duduk di parkiran mal jam sebelas malam sambil natap kosong ke depan. Tubuhnya remuk. Matanya cekung. Berat badannya turun drastis.
"Aku nggak akan kuat kalau kayak gini terus. Tapi aku nggak boleh menyerah. Aku harus kuat. Demi Naura. Demi Faris."
Dia inget doa doanya selama ini. Doa minta kekayaan. Doa minta kesuksesan.
"Ya Allah, kapan Engkau kabulkan doaku? Kapan Engkau kasih aku jalan keluar? Aku udah nggak kuat lagi. Tapi aku masih percaya. Aku masih yakin Engkau punya rencana terbaik buat aku."
Dia sujud di parkiran yang sepi sambil nangis.
"Ya Allah, berikanlah aku rezeki yang berlimpah. Berikanlah aku jalan keluar dari semua masalah ini. Aku mohon ya Allah. Dengan segala kerendahan hati aku mohon."
Dan doa itu mengalun ke langit malam.
Doa yang penuh harap.
Doa yang akan dikabulkan.
Tapi nggak dengan cara yang dia bayangkan.
Bukan dengan kebahagiaan.
Bukan dengan kemudahan.
Melainkan dengan ujian yang lebih berat lagi.
Ujian yang akan datang dari arah yang nggak terduga.
Dan ujian itu akan segera dimulai.
Pelan.
Tapi pasti.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja