NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Berita Baru

Di lain tempat, Mahesa tampak terus terduduk di hadapan meja kerjanya. Tangannya menyilang di dada dan punggungnya tersandar pada kursi. Pandangannya lurus ke depan ke arah komputer yang saat itu kondisi layarnya padam. Fokusnya jelas sekali bukan pada sesuatu yang berada di depan matanya.

“Sofia…” gumam Mahesa. “Ada hubungan apa kamu sama kejadian ini…?” pria itu berbicara pada dirinya sendiri.

Rahangnya mulai mengeras. Raut wajahnya berubah menegang. Saat itu Mahesa bergerak cepat mengoperasikan komputernya dan mengetikkan sesuatu di sana.

‘SOFIA NOVINA SUBAGYO’

Setelah mengetikkan rangkaian kata itu, layar komputer di hadapannya menunjukkan sebuah dokumen dengan judul ‘KECELAKAAN LALU LINTAS, JALAN ARTERI, TAHUN 2016’

Pikiran Mahesa yang masih diliputi keraguan seperti menuntunnya membuka file itu.

Dan tanpa membutuhkan waktu yang lama, seluruh laporan tentang penyelidikan kasus itu pun muncul pada layar komputer Mahesa.

Saat itu, Mahesa seperti kembali tertarik ke masa lalu. Mahesa berpikir, mungkin pada masa itu adalah masa kelam yang sangat sulit dilalui oleh Addam, sahabatnya.

Sofia adalah gadis cantik yang saat itu belum genap berusia 21 tahun ketika hal mengerikan itu terjadi.

Mahesa menggulir lembar demi lembar laporan tentang kejadian itu. Setiap halamannya ia perhatikan dengan teliti, namun pria itu tak menemukan sesuatu hal yang mencurigakan. Semuanya tampak normal walau seperti ada sesuatu hal yang mengganjal di dalam hatinya.

“Apa ya…” insting penyelidiknya mungkin baru saja merasakan kehadiran hal yang tidak seharusnya. “Pasti ada yang salah…” gumam Mahesa.

Terkadang, ketika Mahesa merasa ada sesuatu yang terlewatkan, ia akan kembali ke ruang kerjanya hanya untuk menatap ulang berkas-berkas lama. Bagi orang lain, hal itu mungkin terlihat sia-sia, tidak menarik, dan membosankan. Tetapi bagi Mahesa, menatap berkas-berkas sunyi itu seperti menunggu bisikan rahasia. Dalam hening, petunjuk kecil yang luput dari perhatian orang lain sering kali muncul seolah kasus itu sendiri sedang mencoba berbicara pada dirinya.

Ditengah kegelisahannya, ponsel yang Mahesa simpan di atas meja terdengar beberapa kali berbunyi singkat. Diraihnya segera ponsel itu dan Mahesa lekas membaca pesan-pesan yang baru saja diterimanya.

Kedua matanya tampak semakin melebar kala ia menatap layar ponselnya.

“Gak bener! Ini gak bisa didiemin!” katanya setengah berbisik, tetapi nadanya tajam.

Bisa ditebak. Saat itu Mahesa baru saja membaca pesan yang Naya kirimkan. Pesan terusan dari akun anonim yang meresahkan mereka dan temuan terbaru tentang kemungkinan adanya korban lain.

Kali ini sorot kedua mata Mahesa terlihat berubah. Tatapan tajam itu menyiratkan ada tekad kuat yang baru saja muncul dalam dirinya.

#

Malam yang datang selalu menghadirkan sepi yang asing. Dan ditengah rasa sepi yang memuakkan itu, irama langkah kaki yang tak diharapkan malah terdengar sangat nyaring dan semakin mendekat.

“A…s...tri…d…” panggilnya. Nadanya dibuat ramah seolah mereka telah berteman akrab.

Seperti yang selalu ia lakukan, pria bertudung itu duduk di sofa butut yang berada di depan Astrid yang terikat. Lebih tepatnya, sofa itu ia tempatkan di titik di mana ia bisa memastikan Astrid berada dalam jangkauannya.

“Kamu gak lapar? Kamu seharian ini belum makan apa-apa, lho,” sosok itu memasukkan kedua tangannya pada kantong jaket di bagian depan.

Astrid melirik sekilas pria dengan tudung yang menutupi kepalanya itu lalu membuang pandangannya yang penuh rasa benci.

Lalu dari balik kantong, pria itu mengeluarkan sebotol air mineral dan sebuah botol kecil yang tampak seperti tempat suplemen atau sejenisnya. Dari sana ia mengeluarkan sebutir kapsul berwarna kecoklatan.

Sosok itu berdiri, berjalan, dan berjongkok tepat di hadapan Astrid. Saat itu Astrid masih membuang pandangannya ke arah samping namun pria itu meraup dagu Astrid dan memaksa Astrid menatap ke arahnya.

“Astrid, dengarkan aku,” ucapnya tenang, seperti berbicara pada anak kecil yang keras kepala. “Kalau kamu terus menolak makanan pemberianku, aku khawatir kamu akan sakit. Tubuhmu itu butuh energi. Kalau kamu keburu sakit, rencana yang aku susun tidak akan berakhir menyenangkan!”

Tatapan Astrid semakin terlihat tajam. Kemarahannya tak tertutupi lagi. Terlihat jelas jika saat itu ia tengah mengumpat di dalam hatinya.

Pria itu kini membuka ikatan yang menyumpal mulut Astrid. Tapi sebelum ikatan itu benar-benar terlepas, ia terlihat menekan kapsul itu di antara jari dan langsung menyodorkannya pada bibir Astrid dengan paksa. Setelahnya, pria itu memaksa Astrid untuk meminum air yang tadi dibawanya.

Astrid berusaha semampu yang ia bisa untuk menolak dan melawan pria itu. Namun tubuhnya benar-benar terlalu kekurangan energi. Ia hanya bisa meringis merasakan kapsul itu perlahan masuk ke dalam kerongkongannya.

“Kau lihat sendiri, kan? Aku menjagamu, Astrid...” katanya dengan nada suara yang lembut, bertolak belakang dengan caranya mengencangkan ikatan yang menyumpal mulut Astrid. “Di mana lagi ada orang yang sangat peduli padamu seperti ini selain aku?”

#

Keesokan paginya, Naya telah bersiap untuk memulai rencana yang pernah ia susun. Hari itu ia berencana pergi kembali ke sekolah tempat Astrid bekerja. Sebelumnya, Naya telah memberi tahu Addam dan Mahesa tentang rencananya itu.

Untungnya, Addam bersedia menemani Naya menjalankan rencananya. Kebetulan juga saat itu perusahaan tempat Addam bekerja memang memberlakukan kebijakan ‘Work From Home’ alias bekerja dari rumah.

Tetapi sayangnya Mahesa tidak bisa hadir karena kesibukan pekerjaannya yang tidak bisa ditinggalkan.

Sesuai dengan yang telah mereka rencanakan, Addam dan Naya pergi mengunjungi tempat kerja Astrid pada pukul delapan pagi. Mereka lalu tiba di sana sekitar setengah jam kemudian.

“Bapak sama Ibu… Sudah ada janji?” tanya satpam yang berada di pos jaga, tak jauh dari gerbang utama.

Naya dan Addam sempat saling bertatapan sebelum akhirnya Addam menjawab pertanyaan satpam itu.

“Belum, Pak,” balas Addam singkat.

“Berhubung sekarang murid lagi pada belajar di rumah, guru-gurunya juga tidak semua datang ke sekolah, Pak. Kalau mau ketemu ya harus janjian dulu…” tutur satpam itu.

Addam mengangguk. “Kalau gitu saya bisa tanya ke Bapak saja?”

Dahi Pak Satpam terlihat mengkerut. “Tanya apa tuh Pak?”

“Bapak tahu Astrid, kan?” tanya Addam setelahnya.

“Tahu, tahu,” Pak Satpam mengangguk, “Bu Astrid guru Bahasa Indonesia. Ada apa ya?”

“Begini, beberapa hari ini kita gak bisa hubungi Bu Astrid. Barangkali Bu Astrid ngasih tahu sesuatu ke temen-temen kerjaannya, atau mungkin Bapak sendiri tahu kabar Bu Astrid?”

“Bu Astrid…” Pak Satpam menyilangkan tangannya di dada. Pandangannya ia alihkan ke atas seperti menerawang sesuatu yang sangat jauh.

“Setahu saya dia cuti,” sambung Pak Satpam, kedua matanya menyipit. “Tapi nih, Pak. Denger-denger katanya dia itu sebenernya mau ngundurin diri. Katanya cutinya sekarang ini sebenernya gak disetujuin sama Kepala Sekolah.”

Addam dan Naya tentu saja merasa terkejut mendengar ucapan Pak Satpam.

“Mau ngundurin diri, Pak?” sambar Naya.

“Iya, Bu. Kenapa Bu Astrid ngajuin cuti selama satu minggu itu karena dia nantinya mau ngundurin diri. Makanya Bu Kepala sempat gak setuju. Tapi Bu Astridnya tetep aja gak masuk…”

“Ngundurin diri kenapa ya, Pak? Kalau boleh tahu…” tanya Naya lagi.

“Denger-denger sih katanya Bu Astrid mau pindah ke luar kota… Ah, sebetulnya saya juga kurang tahu kenapa.” Pak Satpam mengendikkan bahunya.

“Oh iya, Pak. Di sini ada guru yang masih single?” Naya merubah alur pembicaraan.

Addam tampak sangat terkejut mendengar pertanyaan Naya, sementara Pak Satpam terlihat menahan tawanya.

“Guru yang masih single? Ada lah, Bu… Mau tak kenalin?” Pak Satpam cekikikan.

Naya tampak kikuk. Sebenarnya, saat itu Naya mendadak teringat dengan salah satu kenangannya tentang Astrid. Naya ingat bahwa Astrid pernah mengatakan Ia tengah memiliki hubungan dekat dengan seorang guru di sekolah tempatnya mengajar.

Kemudian saat itu Naya mengeluarkan ponselnya dan terlihat Ia menunjukkan sebuah foto pada Pak Satpam. “Yang mana nih Pak?”

Foto yang Naya tunjukkan pada Pak Satpam adalah sebuah foto bersama guru-guru di sekolah itu. Naya mendapatkannya dari akun sosial media milik Astrid.

“Ada Pak Yogi, Pak Mario, Pak Kiki,” Pak Satpam menunjuk satu per satu potret pria yang berdiri berjajar, “Mas Irvan-eh,” ucapan Pak Satpam mendadak terhenti.

“Tadi ini namanya siapa, Pak?” Naya menunjuk pria yang berdiri paling ujung.

“Mas Irvan. Tapi dia udah gak ada, Bu.”

Kedua alis Naya tertaut. “Ke mana, Pak?”

“Mas Irvan udah meninggal, Bu. Katanya serangan jantung. Pas banget dia meninggal waktu lagi pulang kampung. Baru seminggu lalu, Bu. Saya inget banget karena waktu itu Hari Senin Pak Irvan yang harusnya udah masuk, malah gak dateng-dateng. Eh, tahunya… Dia udah gak ada…” ungkap Pak Satpam dengan nada suara yang semakin terdengar lesu.

“Ya Tuhan…” Naya dan Addam sama-sama merasa terkejut.

“Kita turut berduka cita, Pak. Berarti meninggalnya hari Senin minggu kemarin ya?” tanya Naya.

Pak Satpam mengangguk. “Betul, Bu.”

“Ngomong-ngomong, kampungnya di mana, Pak?” Naya masih melancarkan pertanyaan.

“Wonoso…bo kalau gak salah… Yaa, daerah Jateng, Bu” kata Pak Satpam ragu.

“Jauh juga, ya… Beliau ini guru apa, Pak?” lanjut Naya.

“Guru seni budaya, Bu. Dia ini hebat banget, guru favoritnya anak-anak,” jawab Pak Satpam diikuti senyuman halus.

“Hmm…” Naya membuat raut wajahnya terlihat sendu “Sekali lagi kami ucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, Pak…”

Sesaat kemudian Naya menatap Addam dengan tatapan yang mudah diartikan.

“Kalau gitu kita mohon pamit, Pak. Makasih banyak infonya…” Addam mengakhiri obrolan mereka.

“Makasih ya, Pak. Kita permisi…” pungkas Naya.

“Sama-sama Pak, Bu.”

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!