Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN LUFFY DAN TAMU TAK TERDUGA
Enam bulan berlalu sejak kepulangan kami.
Kehidupan jatuh ke rutinitas yang produktif. Setiap pagi dimulai dengan latihan fisik untuk Luffy—lari dengan beban, push up, sit up, dan berbagai latihan kekuatan dasar. Siang untuk berburu dan makan. Sore untuk latihan teknik dan sparring ringan.
Perkembangan Luffy sangat pesat. Dengan bimbingan intensif dari kami yang sudah jauh lebih berpengalaman, dia berkembang lebih cepat dari timeline asli.
"Gomu Gomu no Bazooka!"
Kedua tangan Luffy melar mundur lalu ditembakkan bersamaan—menghantam boneka latihan yang kami buat dari karung beras dan kain.
BOOM!
Boneka meledak—isinya tumpah kemana-mana.
"Kekuatannya sudah bagus," Sabo berkomentar sambil catat di buku latihan. "Tapi masih kurang fokus. Energi terlalu tersebar."
"Luffy," aku memanggil. "Coba lagi. Kali ini fokuskan semua kekuatan ke satu titik kecil di tengah target—bukan ke seluruh permukaan."
"Satu titik? Bukannya lebih bagus kalau luas supaya pasti kena?"
"Untuk musuh besar mungkin iya. Tapi untuk musuh kuat dengan pertahanan keras—kau butuh penetrasi, bukan area damage. Maka fokus ke satu titik."
Luffy mengangguk—meskipun masih terlihat bingung. Dia ambil stance lagi.
Kali ini lebih fokus. Mata menatap tepat ke tengah boneka baru yang sudah kami siapkan.
"Gomu Gomu no Bazooka!"
Tangan melar—tapi kali ini tidak menyebar luas. Fokus ke satu titik kecil.
WHAM!
Boneka tidak meledak. Tapi ada lubang tembus di tengahnya—bersih seperti ditusuk tombak.
"Itu dia! Penetrasi sempurna!" aku bertepuk tangan. "Dengan fokus seperti itu, kau bisa tembus pertahanan musuh yang keras."
"Wah! Luffy mengerti sekarang! Fokus lebih baik dari luas!" Luffy berseru senang.
"Betul. Sekarang latihan berikutnya—Observation Haki dasar."
Luffy langsung cemberut. "Haki lagi... itu yang paling susah..."
"Karena Haki butuh fokus mental, bukan cuma fisik. Tapi ini penting. Dengan Observation Haki, kau bisa rasakan serangan musuh sebelum kena."
Kami sudah latihan Observation Haki dasar selama tiga bulan terakhir. Progress Luffy lambat—tidak secepat kami dulu—tapi tetap ada kemajuan.
"Oke, seperti biasa. Tutup mata. Aku dan Sabo akan lempar batu kecil dari berbagai arah. Kau harus rasakan dan hindari tanpa buka mata."
"Siap!"
Luffy tutup mata dengan kain hitam. Berdiri di tengah area terbuka.
Aku dan Sabo ambil posisi—satu di kiri, satu di kanan. Masing-masing pegang lima batu kecil seukuran kelereng.
"Mulai!"
Aku lempar batu pertama ke arah bahu kiri Luffy.
Dia tidak bergerak—batu mengenai bahu.
"Aduh! Luffy tidak rasakan!"
"Fokus! Jangan panik! Rasakan dengan tenang!"
Sabo lempar dari arah kanan—ke arah pinggang.
Kali ini Luffy sidestep sedikit—batu melewati dengan jarak sejengkal.
"Bagus! Kau mulai rasakan!"
Kami terus lempar dengan interval tidak teratur. Luffy mulai bisa menghindar lebih sering—meskipun masih sering kena juga.
Setelah sepuluh menit latihan, kami berhenti. Luffy buka kain penutup mata—wajah penuh keringat tapi tersenyum.
"Luffy rasakan sedikit! Ada seperti... perasaan aneh sebelum batu datang!"
"Itu presence. Itu awal dari Observation Haki. Terus latihan sampai perasaan itu jadi lebih jelas dan bisa andalkan dalam pertarungan."
"Yosh! Luffy akan latihan lebih keras!"
Latihan berlanjut sampai sore. Saat matahari mulai terbenam, kami istirahat di bawah pohon besar sambil minum air.
"Ace-nii," Luffy bertanya tiba-tiba. "Kapan kita akan berlayar? Luffy sudah tidak sabar jadi bajak laut!"
"Masih beberapa tahun lagi. Kau harus lebih kuat dulu."
"Berapa tahun lagi?"
"Mungkin lima atau enam tahun. Saat kau umur empat belas atau lima belas tahun."
"Lama sekali!" Luffy mengeluh.
"Memang lama. Tapi gunakan waktu itu untuk jadi sekuat mungkin. Supaya saat kita masuk Grand Line, kita sudah siap menghadapi monster-monster disana."
"Monster seperti apa?"
"Yonko yang bisa tenggelamkan pulau dengan satu pukulan. Admiral yang bisa ubah cuaca. Shichibukai dengan kemampuan aneh. Semua sangat kuat—jauh lebih kuat dari bajak laut yang pernah kita lihat di East Blue."
Mata Luffy berbinar mendengar itu—bukan takut, tapi excited.
"Luffy mau ketemu mereka semua! Dan kalahkan mereka semua! Terus jadi Raja Bajak Laut!"
"Itu semangatnya. Maka latihan terus sampai cukup kuat."
Kami berjalan pulang ke gubuk saat hari sudah gelap. Dadan sudah siapkan makan malam—nasi, daging panggang, dan sayur.
"Kalian latihan keras sekali ya," dia berkomentar sambil menyajikan makanan. "Luffy pulang capek setiap hari sekarang."
"Tapi Luffy senang! Luffy jadi lebih kuat setiap hari!" Luffy menjawab sambil makan lahap.
"Bagus kalau kau senang. Tapi jangan sampai sakit karena terlalu keras latihan."
"Kami jaga dia baik-baik, Dadan-san," aku meyakinkan. "Tidak akan paksa melewati batas tubuhnya."
Setelah makan malam, kami duduk di luar gubuk sambil menatang bintang. Udara malam sejuk dan tenang.
"Ace," Sabo berbicara pelan supaya Luffy yang sudah tidur di dalam tidak dengar. "Aku punya perasaan aneh beberapa hari ini."
"Perasaan apa?"
"Seperti ada yang mengamati kita. Bukan presence biasa—tapi seseorang dengan Haki sangat kuat yang sengaja menyembunyikan diri."
Aku langsung waspada. Observation Haki Sabo lebih tajam dari aku—kalau dia bilang ada yang mengamati, kemungkinan besar benar.
"Sejak kapan?"
"Tiga hari lalu. Kadang muncul, kadang hilang. Tidak pernah mendekat terlalu dekat—selalu jaga jarak aman."
"Bisa identifikasi siapa?"
"Tidak. Terlalu jauh dan terlalu pintar menyembunyikan presence. Tapi level Haki-nya sangat tinggi—setara Vice Admiral atau lebih tinggi."
Vice Admiral. Atau lebih tinggi.
Berarti Marine sudah mulai amati kami lagi. Atau... ada pihak lain yang tertarik.
"Kita tunggu saja. Kalau mereka cuma mengamati, tidak masalah. Tapi kalau mulai bergerak—kita siap."
Sabo mengangguk. Tapi wajahnya tetap khawatir.
Dua hari kemudian, orang yang mengamati akhirnya muncul.
Pagi itu, kami sedang latihan rutin dengan Luffy saat Yamamoto datang dengan ekspresi serius.
"Ada tamu. Orang penting. Sangat penting."
"Siapa?"
"Lebih baik kalian lihat sendiri."
Kami mengikuti Yamamoto ke arah pantai. Disana berdiri seorang pria dengan jubah hijau panjang, tato di wajah kiri, dan aura yang sangat kuat—bahkan dari jarak jauh bisa kurasakan.
Jantungku berhenti sejenak.
Aku kenal orang itu.
Monkey D. Dragon.
Pemimpin Armada Revolusioner. Orang paling dicari di dunia. Dan ayah biologis Luffy.
"Kenapa dia ada disini..." aku bergumam pelan.
Dragon berbalik saat mendengar kami mendekat. Mata tajamnya menatap dengan intensitas mengerikan.
"Portgas D. Ace. Outlook Sabo," suaranya dalam dan berat. "Akhirnya kita bertemu."
"Dragon-san," aku menjawab dengan hati-hati—jaga jarak aman. "Apa yang membawa pemimpin Revolusioner ke pulau kecil seperti Dawn Island?"
"Dua alasan. Pertama—" dia melirik ke arah gubuk dimana Luffy masih latihan. "—melihat anakku dari jauh. Memastikan dia baik-baik saja."
"Kedua—" dia menatap kami lagi. "—merekrut kalian berdua ke Armada Revolusioner."
Hening total.
Merekrut? Dragon mau merekrut kami?
"Kenapa kami?" Sabo bertanya dengan nada curiga.
"Karena kalian punya kualitas yang Revolusioner butuhkan. Kuat. Punya prinsip. Dan yang paling penting—punya kehendak D yang sama dengan aku."
Dia melangkah lebih dekat—tapi tidak mengancam. Hanya ingin bicara lebih serius.
"Dunia ini korup. Pemerintah Dunia menindas orang lemah. Tenryuubito memperlakukan manusia seperti mainan. Marine yang seharusnya lindungi rakyat malah jadi alat penindasan."
"Revolusioner ada untuk ubah itu semua. Untuk ciptakan dunia yang lebih adil. Dan kami butuh orang-orang kuat seperti kalian."
Kata-katanya berat dan penuh keyakinan. Tapi—
"Kami menolak," aku menjawab tanpa ragu.
Dragon terlihat sedikit terkejut. "Kenapa? Kalian tidak setuju dengan tujuan Revolusioner?"
"Kami setuju dunia ini perlu diubah. Tapi kami punya cara sendiri. Kami akan jadi bajak laut—bebas berlayar tanpa terikat organisasi apapun."
"Bajak laut tidak bisa ubah dunia. Kalian cuma akan dianggap penjahat dan diburu."
"Tapi bajak laut punya kebebasan yang Revolusioner tidak punya. Kami bisa pilih pertempuran kami sendiri. Bisa lindungi yang kami mau lindungi tanpa harus ikut perintah."
Dragon diam—memikirkan kata-kata kami.
"Dan Luffy," aku melanjutkan. "Dia akan jadi Raja Bajak Laut suatu hari. Bukan Revolusioner. Itu mimpinya. Dan kami akan dukung dia sampai akhir."
Dragon menatap ke arah gubuk lagi—ekspresi sulit dibaca.
"Luffy ya... anak itu memang punya jalan sendiri. Sama seperti ayahnya..."
Dia berbalik menghadap laut.
"Baiklah. Aku tidak akan paksa. Tapi tawaranku tetap terbuka. Kalau suatu hari kalian berubah pikiran—hubungi aku."
Dia mengeluarkan dua kartu kecil dan lempar pada kami. Vivre Card—menunjuk ke arah Dragon dimanapun dia berada.
"Dan satu pesan—" dia menatap kami terakhir kali sebelum pergi. "—jaga Luffy. Dunia ini akan coba hancurkan dia karena darah yang mengalir di tubuhnya. Darah dari aku. Dan darah dari ibunya yang juga punya rahasia besar."
Ibu Luffy. Aku tidak tahu siapa di timeline asli—tidak pernah disebutkan.
"Kami akan jaga dia. Apapun yang terjadi," aku berjanji.
Dragon mengangguk puas. Lalu tubuhnya mulai diselimuti angin kencang—Devil Fruit kemampuannya yang bisa kontrol angin.
Dalam sekejap, dia menghilang—terbang dengan angin meninggalkan Dawn Island.
Kami berdiri di pantai dengan Vivre Card di tangan.
"Dragon sendiri yang datang untuk rekrut kita..." Sabo bergumam tidak percaya. "Itu artinya Revolusioner sudah dengar tentang kita."
"Dan Marine juga pasti. Bounty kita akan naik lagi setelah ini."
"Kau yakin menolak Dragon adalah keputusan yang benar? Bergabung dengan Revolusioner bisa kasih kita perlindungan dan sumber daya besar."
"Tapi juga kasih kita kewajiban dan batasan. Aku tidak mau terikat pada organisasi—bahkan yang punya tujuan mulia. Aku mau bebas memilih jalan sendiri."
Sabo tersenyum. "Kau benar. Kebebasan lebih penting dari apapun."
Kami berjalan kembali ke area latihan. Luffy masih latihan dengan semangat—tidak tahu ayahnya baru saja ada di pulau yang sama.
Dan mungkin lebih baik dia tidak tahu. Setidaknya untuk sekarang.
Suatu hari nanti, mereka akan bertemu. Tapi bukan hari ini.
Hari ini—kami fokus pada apa yang penting.
Latihan. Tumbuh lebih kuat. Persiapan untuk masa depan.
Karena dunia di luar sana semakin memperhatikan kami.
Dragon. Marine. Mungkin bahkan Yonko sudah dengar nama kami.
Dan saat kami akhirnya berlayar—semua mata akan tertuju pada kami.
Maka kami harus siap.
Siap menghadapi apapun.
Siap melindungi mimpi Luffy.
Siap mengubah dunia dengan cara kami sendiri.
Api takdir berkobar lebih terang.
Ditiup oleh angin kebebasan.
Menciptakan badai yang akan guncangkan dunia.