"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECEWA
Intan melangkah mantap ke ruang lobi rumah sakit sambil membawa sekeranjang buah.
Pagi tadi ia mendapat kabar dari Norma bahwa Aira di rawat rumah sakit dan Bara menjaganya.
Meski awalnya terlihat bingung mendengar hal itu, tapi Norma bisa meyakinkan Intan bahwa selalu Bara yang mendampingi Aira selama dirawat sejak awal pengobatan. Intan makin tak merasa aneh karena yang ia pahami, Bara adalah kakak sepupu yang menjaga adik sepupunya.
"Ini kesempatan bagus kamu menunjukkan perhatianmu pada adik sepupunya. Ia tak mungkin mengelak kamu berkunjung kan, ambil peluang itu untuk mendekatkan hubungan kalian lagi"
Yang di katakan Norma di telpon tadi menemani semangatnya bertemu Bara siang ini.
TING
Intan keluar dari lift dan berjalan santai melalui lorong ruang inap yang berjajar di sebelah kanan dan kiri. Lorong itu sepi, hingga setiap benturan hak sepatunya di lantai terdengar nyaring.
TOKTOKTOK
CEKLEK
Bara tertegun menatap wanita yang dulu pernah menemani masa-masa lajangnya. Wanita yang sama, tapi dengan penampilan yang berbeda. Wanita itu lebih--cantik.
"Intan, sedang apa? " tanya Bara bingung.
"Assalamualaikum. Boleh aku membesuk Aira? "
"Wa'alaikumsalam."
Bara menghela nafas, lalu membukakan pintunya lebih lebar.
"Terima kasih, " ujarnya sambil masuk ke dalam.
"Halo Aira, bagaimana kondisi mu? " tanya Intan sambil meletakkan keranjang buah di atas lemari.
"Lebih baik, maaf kakak siapa ya?"
"Aku yang berkunjung ke rumah kemarin. Kamu lupa? " Intan merasa canggung.
"Oh maaf, saya lupa."
"Berkunjung? kamu berkunjung ke rumahku? " tanya Bara.
"Iya, silaturahmi dengan Ibumu. Boleh kan? "
'Apa maksud wanita ini? jelas-jelas sudah putus dan aku selalu menolaknya, kenapa dia malah ke rumah? '
Bara hanya tersenyum dingin.
"Apa ada reaksi lain selain demam Bara? " tanya intan seolah tulus.
"Aira sekarang.. amnesia, " jawab Bara dengan suara berat.
Intan terhenyak.
"Pantas saja dia lupa sudah bertemu denganku. Lalu bagaimana setelah ini? "
"Masih akan di observasi, mungkin butuh beberapa hari lagi di sini. "
"Aku ikut bersedih, Aira. Aku berharap kamu cepat sembuh. Kita bisa makin akrab. "
Bara melirik Intan.
'Makin tak jelas niat wanita satu ini, " batinnya.
"Sebenarnya, Aira tinggal dimana sebelumnya? "
"Ia tinggal di Panti asuhan menjadi pendamping dan pengajar anak yatim disana."
Intan mengangguk mendengarkan.
"Apa dia sempat kuliah? " tanya Intan lagi. Ia terus bertanya supaya makin meyakinkan kalau dia peduli.
"Tidak, lulus SMA saja. Dia langsung bekerja di sana setelah lulus. "
Aira menatap Intan dan Bara bergantian, wajahnya serius ikut mendengarkan cerita Bara. Seolah ia juga sedang mendengarkan cerita tentang orang lain, bukan tentang dirinya.
"Kamu memang baik sekali Bara, rela ambil cuti demi menjaga adik sepupumu."
Intan tersenyum bangga menatap Bara yang terlihat bingung.
"Adik sepupu?" tanya Bara.
Aira pun ikut bingung, karena yang ia dengar sejak awal sadar tadi dia istri Bara.
"Iya, bukannya Aira adik sepupumu? "
"Aira... istriku, Intan."
Intan terhenyak sambil berdiri tegak turun dari brankar menatap Bara.
"Istri? Tapi ibumu bilang dia adik sepupumu. Makanya aku ke sini, " elak Intan tak ingin disalahkan.
Bara menghela nafas kasar.
'Ternyata yang dikatakan Puspa semalam benar. Ini pasti rencana ibu, ' batinnya geram.
"Maaf kalau ibuku berbicara asal dan membuatmu kebingungan. Aku tahu maksud ibuku. Kami baru saja menikah beberapa minggu yang lalu."
Intan mengangguk mengerti, ia masih syok dengan cerita yang baru ia dengar.
"Maafkan aku Bara, aku tak bermaksud...apa mungkin ibumu menyuruhmu--? "
Intan melirik Aira ragu melanjutkan perkataannya.
"Ya intan, aku paham yang kamu maksud. Memang benar, tapi aku menolaknya."
Intan menunduk.
"Jadi...kamu sebenarnya tak pernah sedikitpun ingin kembali? " tanya Intan matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf Intan, aku tak pernah berpikir ke sana. Kita sudah selesai."
'Benar saja dia memblokir nomerku, ' batin Intan.
Ia memalingkan wajah, berusaha mengendalikan emosinya.
"Kakak ini mantan pacar suami saya? " tanya Aira memecah keheningan saat itu.
Bara salah tingkah, tak menyangka Aira akan bertanya soal itu.
"Oh, kami cuma.. eh te--"
"Kami cuma dekat, teman dekat, " jawab Intan tahu jawaban apa yang akan disampaikan Bara.
Lebih baik dia yang memperjelas hubungan itu.
"Kalau begitu aku permisi, maaf sudah mengganggu waktu istirahat mu. Semoga kamu cepat pulih, Aira, " pamit Intan tersenyum canggung.
"Terima kasih sudah menengokku, " sahut Aira tenang.
"Aku pamit, Mas. Assalamu'alaikum. "
"Wa'alaikumsalam.Terima kasih."
Bara berjalan membukakan pintu.
CEKLEK
"Mas, " panggil Aira.
Bara tersenyum menghampiri Aira.
"Ada apa sayang? " tanyanya.
"Maaf... sebenarnya aku sampai sekarang masih ragu kebenaran hubungan kita. Apa tak sebaiknya kamu membuka kesempatan berbalikan dengan kak Intan tadi?"
Bara tersentak, "Aira.. kalaupun kamu belum mengingat ku, bukan berarti aku akan melepasmu begitu saja beralih pada orang lain. Aku akan sabar menunggu hingga kamu benar-benar sembuh."
Aira tertunduk, ini agak berarti baginya. Itulah yang ia rasakan saat ini.
"Aira coba apa saja yang sekiranya masih kamu ingat tentang kehidupanmu? Tak perlu dipaksakan tapi tetap harus dicoba, seperti saran dokter Faisal tadi."
"Yang ku ingat hanya namaku dan...panti asuhan yang masih samar-samar. Aku tak ingat tentang mu sama sekali."
Bara menarik nafas panjang lalu duduk di kursi samping brankar.
Aira menatap Bara yang tertunduk menopang kepalanya dengan dua tangan yang bersandar pada pahanya. Ia tak tega melihat reaksi itu, ada rasa bersalah dan kesedihan.
"Mas.. Maaf, " ujarnya sambil menyeka airmata yang tiba-tiba mendesak keluar.
"Tak apa Aira.. Tidak apa-apa, " sahut Bara sambil masih menunduk menahan tangisnya. Ia tak ingin Aira melihat airmata itu dan akhirnya membuat Aira menyerah.
***
Intan baru saja sampai di parkiran kantornya. Tak lama terdengar suara sering handphonenya.
Ia menatap layar, nama Tante Norma tertulis di layar.
Intan ragu mengangkat telpon itu, ia masih kesal. Bisa-bisanya ibu Bara itu menjebaknya dengan cara seperti itu.
Dering telpon terhenti, digantikan dengan suara notifikasi pesan masuk.
[Intan, kamu pasti sudah tahu kalau Aira bukan adik sepupu Bara, tapi istrinya. Maaf kalau kamu kesal saya perlakukan seperti itu. Satu hal tujuan saya melakukannya. Saya tahu, Aira itu sudah goyah sejak kita bertemu kemarin. Saya sudah memberi tahu Aira rencana saya untuk menjodohkanmu dengan Bara. Pasti setelah kamu pergi, Aira akan membujuk Bara. Jadi, kamu jangan menyerah begitu saja. ]
"Tante ini benar-benar aneh, bagaimana mungkin dia tega bersikap seperti itu pada menantunya. Padahal Aira terlihat sangat baik, " gumam Intan.
Ia memilih mengabaikan pesan itu dan beranjak keluar mobil berjalan menuju gedung bank.
***
"Kenapa hanya dibaca? " gumam Norma kesal sambil menatap layar ponselnya.
"Apa mungkin dia benar-benar akan menyerah? Ah intan, hanya segitu keberanian mu"
"Bu, kenapa ngomong sendiri dari tadi? " tanya Puspa yang sejak tadi memperhatikan Mamanya dari depan pintu kamar.
"Lama-lama urusan mas mu ini bikin Ibu gila, Pus. "
"Ibu itu yang terlalu berlebihan mengurusi mas Bara. Mas Bara sudah setua itu loh, Bu. Hargai saja keputusannya."
"Hah, keputusannya menikahi Aira saja berakhir begini. Bagaimana ibu bisa diam saja Puspa? "
"Bu, sakitnya Kak Aira ini sudah takdir. Siapa yang mau sakit. Ini memang ujian untuk rumah tangga mas Bara. Harusnya Ibu dukung bukannya malah tambah bikin rumit, apalagi sampai melibatkan orang lain."
"Kamu nggak paham, Ibu ini mikir ke depan. Kalau Bara masih sama Aira. Kita hidup ya begini-gini aja. Malah harus membayar hutang biaya pengobatannya."
"Bu, mas Bara suami kak Aira, itu sudah tanggung jawabnya. Beruntung Ibu punya anak seperti mas Bara, bertanggungjawab. Nanti Ibu juga pasti dapat imbas kebaikan nya. Mungkin nggak sekarang, Bu."
Norma melengos, "Sudahlah, Ibu capek ngobrol sama kamu. Nggak se frekuensi."
Norma beranjak dari kursi masuk ke kamarnya.
"Ngerti juga ibu istilah nggak se frekuensi, " ejek Puspa lirih.