Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup yang Terlalu Rapi
Arga Wiratama hidup dalam dunia yang bisa diprediksi.
Jam bangunnya bisa ditebak.
Rute perjalanannya hampir tidak pernah berubah.
Bahkan isi kulkasnya tersusun seperti diagram minuman di kiri, makanan di kanan, tanpa satu pun barang yang berdiri miring.
Jika hidup adalah meja kerja, maka hidup Arga adalah meja yang selalu bersih, bebas remah, bebas kekacauan, dan menurut sebagian orang bebas kesenangan spontan.
Jam weker berbunyi pukul 05.00 tepat, tidak lebih, tidak kurang.
Arga membuka mata tanpa menggerutu, ia tidak pernah membenci pagi. Pagi adalah waktu paling jujur dalam sehari. Tidak ada drama, tidak ada tuntutan sosial, tidak ada pertanyaan menyebalkan seperti
“kapan nikah?” setidaknya belum.
Ia duduk di tepi tempat tidur, merapikan selimut, lalu berdiri.
Lima belas menit kemudian, kamar sudah kembali rapi seperti tidak pernah dipakai.
Arga percaya satu prinsip:
jika ruang sekitarmu rapi, kepalamu juga ikut rapi.
Ia mandi, mengenakan kemeja biru muda yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya, lalu berdiri di depan cermin.
Wajahnya datar, rambutnya tersisir rapi, tidak ada ekspresi berlebihan.
“Cukup,” gumamnya
Ia tidak pernah merasa perlu memotivasi diri dengan kata-kata berlebihan. Hidup baginya bukan soal semangat, tapi soal konsistensi.
Di dapur, Arga membuat kopi. Takaran airnya pas, takaran bubuknya pas, tidak terlalu pahit, tidak terlalu ringan.
Ia duduk di meja makan sendirian.
Dan ia menyukai itu, kesendirian bukan kesepian bagi Arga. Itu adalah sebuah ketenangan.
Ponselnya bergetar, nama Tante Mira muncul di layar.
Arga menatap layar itu beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Biasanya, Tante Mira menelepon untuk dua hal yaitu
Menanyakan kabar
Mengingatkan sesuatu yang ingin Arga lupakan
Ia mengangkat telepon.
“Iya, Tante.”
“Kamu sudah bangun?”
“Sudah.”
“Bagus, seharusnya Tante nggak menanyakan itu ya ... Kalau kamu angkat kan berarti kamu sudah bangun.” kata Tante Mira cepat.
“Kita perlu bicara.”
Kalimat itu lagi.
Arga menutup mata sejenak.
“Tante,” katanya tenang,
“kalau ini soal pernikahan—”
“Itu memang soal pernikahan.”
Arga menghela napas pelan, ia tidak marah, ia hanya merasa lelah dengan pembahasan yang selalu sama.
“Tante,” katanya,
“saya sudah bilang. Saya belum memikirkan—”
“Namanya Nara.”
Arga berhenti menuang kopi, tetesan terakhir jatuh ke meja.
“Nara?” ulangnya.
“Iya. Nara Amelinda.”
Nama itu asing, tapi nada Tante Mira terlalu yakin.
“Anaknya baik,” lanjut Tante Mira.
“Pintar. Mandiri.”
“Semua orang baik di cerita orang lain Tante,” jawab Arga datar.
Tante Mira mendesah.
“Kamu tahu janji Papa kamu dulu.”
Tentu saja ia tahu.
Janji itu seperti arsip lama yang tidak pernah benar-benar dihapus. Tidak dibuka, tapi selalu ada.
“Itu janji Papa,” kata Arga.
“Bukan saya."
“Tapi kamu anaknya.”
Kalimat itu lagi dan logika Arga selalu kuat sampai dihadapkan pada kalimat itu.
Ia duduk.
“Tante,” katanya hati-hati,
“hidup saya stabil. Saya tidak butuh perubahan drastis.”
“Justru itu,” jawab Tante Mira cepat.
“Kamu terlalu stabil.”
Arga mengernyit.
“Apa maksud Tante?”
“Hidup kamu seperti jadwal. Bangun, kerja, pulang, tidur. Kamu tidak pernah memberi ruang untuk hal lain.”
“Karena hal lain sering membawa masalah.”
“Masalah itu bagian dari hidup.”
Arga terdiam, ia tidak membantah.
Karena sebagian dari dirinya tahu itu adalah benar.
“Kamu akan bertemu Nara akhir pekan ini,” kata Tante Mira.
“Hanya bertemu.”
Arga menatap dinding dapur.
“Dan kalau saya menolak?”
“Orang tua Nara sudah berharap.”
Itu kalimat yang lebih berat daripada yang mau diakui Arga.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
“Saya akan bertemu.”
Tante Mira terdengar lega.
“Bagus, Tante akan memberi kabar orang tua Nara, terima kasih Arga have a nice day.”
Telepon ditutup, Arga duduk diam.
Kopi di depannya sudah dingin, mood baiknya seketika berubah menjadi mendung pekat.
"siapa yang punya janji mengapa aku yang harus dikorbankan."
Di kantor, Arga kembali menjadi Arga yang dikenal semua orang.
Profesional, fokus, tidak banyak bicara.
Rekan kerjanya, Dimas, menepuk pundaknya.
“Pagi, Pak Rapi.”
Arga melirik.
“Pagi.”
“Gue heran,” lanjut Dimas.
“Lo bisa hidup se-terstruktur itu, hidup lo kayak spreadsheet.”
“Dan spreadsheet itu bekerja,” jawab Arga.
Dimas tertawa.
“Iya, tapi hidup bukan cuma kerja, banyak kesenangan yang harus Lo cobain Ga... Kayak gue ni...”
Arga tidak menanggapi.
Ia duduk, membuka laptop, dan mulai bekerja.
Angka-angka masuk akal, data bisa dianalisis.
Masalah bisa dipecahkan.
Manusia? Tidak selalu.
Dan entah kenapa, hari itu fokus Arga sedikit terganggu.
Nama Nara muncul di kepalanya, ia tidak tahu seperti apa perempuan itu.
Tapi satu hal ia yakini kini hidupnya akan berubah.
Dan Arga tidak suka perubahan mendadak.
Saat makan siang, Dimas kembali mengganggunya.
“Pak Arga,” katanya dengan nada menggoda, “lo kenapa melamun?”
“Ada yang perlu dipikirkan.”
“Cewek?”
Arga mengangkat kepala.
“Kenapa semua orang selalu sampai ke kesimpulan itu?”
“Karena lo jarang mikir selain kerja,” jawab Dimas cepat.
“Jadi kalau lo bengong, pasti bukan soal angka, lagipula Lo itu terlalu kaku mikirin cewek bisa membantu hati dan pikiran Lo menjadi berwarna..”
Arga menghela napas.
“Mungkin,” katanya pelan.
Dimas membelalakkan mata.
“Wah. Ini serius???? cewek mana yang bisa membuat si bapak rapi satu ini menjadi galau dan kacau seperti ini ??"
Arga tak menghiraukan celotehan Dimas, dan melanjutkan menyantap hidangan di depannya.
Malamnya, Arga pulang tepat waktu.
Ia menggantung jaket, mencuci tangan, lalu duduk di sofa.
Televisi menyala, tapi pikirannya tidak di sana.
Ia membuka ponsel.
Tanpa sadar, ia mengetik satu nama.
Nara Amelinda
Hasil pencarian tidak banyak.
Media sosialnya privat, tidak ada foto berlebihan, tidak ada caption motivasi.
“Menarik, sepertinya dia wanita yang tidak mengumbar kehidupannya, baguslah...” gumam Arga.
Ia menutup ponsel, bukan karena tidak penasaran justru karena ia terlalu penasaran.
Arga bangkit, berdiri di depan jendela.
Lampu kota menyala tapi hidupnya selama ini tenang, teratur, dan aman.
Ia tidak kesepian.
Ia hanya… sendirian.
Dan ia nyaman dengan itu.
Tapi janji lama itu kembali mengetuk.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga bertanya pada dirinya sendiri,
Bagaimana jika hidup yang terlalu rapi… justru menyisakan ruang kosong?
Ia tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu, akhir pekan ini ia akan bertemu seseorang bernama Nara.
Dan entah kenapa, perasaan itu yang jarang muncul pelan-pelan naik ke permukaan.
Bukan takut, bukan senang.
Tapi rasa ingin tahu yang mengganggu ketenangan.
Siapa wanita yang dijodohkan dengannya?.
Arga mematikan lampu.
“Hanya bertemu,” katanya pada diri sendiri. “Tidak lebih, dan semoga bisa selesei secepatnya.”
Namun untuk pertama kalinya, ia tidur dengan pikiran yang tidak sepenuhnya rapi.