"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Rumah Sakit Medika, 03.15 WIB.
Lampu neon lorong rumah sakit berkedip redup, menciptakan suasana mencekam yang seolah mengejek kondisi batin Disa. Di pelukannya, tubuh Fikri masih terasa panas menyengat meski dokter sudah memberikan obat penurun panas melalui infus. Disa duduk di sudut bangku plastik yang keras, matanya menatap nanar pada layar ponsel yang menampilkan saldo m-banking miliknya.
Rp 14.500.
Disa tertawa getir. Angka itu seperti tamparan keras di wajahnya. Sebagai wanita yang dulu memegang gelar Cum Laude Akuntansi, melihat angka di bawah dua puluh ribu rupiah di saat anaknya butuh biaya rumah sakit adalah sebuah penghinaan terhadap kecerdasannya sendiri.
Tiga tahun lalu, ia menyerahkan seluruh kariernya karena percaya pada kalimat Abdi: "Cukup Mas yang cari nafkah, kamu fokus ibadah dan jaga anak di rumah. Surga istrimu ada pada ketaatanmu."
Sekarang, "surga" itu sedang berdiri di depannya dengan wajah kusut dan napas yang masih memburu. Abdi baru saja datang, bukan dengan uang di tangan, tapi dengan seribu alasan.
"Mas, dokter bilang Fikri harus observasi minimal tiga hari. Depositnya lima juta," suara Disa terdengar parau, nyaris habis karena tangis yang ia tahan sejak di taksi tadi.
Abdi mengusap tengkuknya, sebuah gerakan yang selalu ia lakukan setiap kali merasa terdesak. "Lima juta, Dis? Mas... Mas baru saja bayar tagihan kartu kredit Ibu. Bulan lalu Ibu pakai buat beli perlengkapan arisan, katanya malu kalau rumahnya nggak ada renovasi sedikit."
Disa memejamkan mata. "Tabungan pendidikan Fikri, Mas. Masih ada di rekeningmu, kan? Pakai itu dulu. Aku janji bakal ganti kalau jualan dasterku laku bulan ini."
Hening. Sunyi yang tercipta di antara mereka terasa sangat menyesakkan. Abdi tidak berani menatap mata Disa.
"Uang itu... sudah tidak ada, Dis," bisik Abdi.
Disa merasa dunianya seolah berhenti berputar. "Maksudmu apa, Mas? Kita sepakat simpan itu untuk masa depan Fikri. Itu asuransi kesehatannya juga!"
"Ibu... Ibu sangat butuh, Dis. Shinta lamaran minggu lalu. Ibu bilang, sebagai kakak tertua, Mas harus kasih mahar yang pantas supaya keluarga pria tidak meremehkan Shinta. Mas nggak tega melihat Ibu nangis di depan Mas. Mas cuma pinjam sebentar, nanti kalau bonus akhir tahun Mas turun, Mas ganti semuanya."
Disa melepaskan dekapan tangannya pada Fikri yang sudah tertidur karena efek obat. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan dada Abdi.
"Pinjam? Kamu meminjam nyawa anakmu sendiri untuk gengsi adikmu? Mas, ini bukan soal bakti lagi. Ini soal kewarasan!" suara Disa mulai meninggi, mengabaikan tatapan beberapa suster yang lewat.
"Jaga bicaramu, Disa! Kamu nggak tahu rasanya jadi aku! Aku ini tumpuan keluarga. Ibu sudah susah payah membesarkanku sendiri setelah Ayah meninggal. Kalau aku nggak bantu mereka, siapa lagi? Kamu mau aku jadi anak durhaka?!" Abdi balik membentak, menggunakan kartu "durhaka" yang selalu menjadi senjata pamungkasnya.
Disa terdiam. Kata-kata itu selalu berhasil membungkamnya selama tiga tahun terakhir. Tapi malam ini, saat melihat tangan kecil Fikri yang tertusuk jarum infus, sesuatu di dalam diri Disa patah. Rasa hormatnya pada Abdi luruh bersama air mata yang mengalir tanpa suara.
"Aku nggak akan minta kamu jadi anak durhaka, Mas," kata Disa dengan nada yang mendadak tenang, sangat tenang sampai membuat Abdi merinding. "Tapi mulai malam ini, aku juga nggak akan membiarkan anakku jadi korban dari 'baktimu' yang salah alamat itu."
"Maksudmu apa?"
"Cari uang itu sekarang, Mas. Entah kamu mau pinjam ke kantormu atau kamu minta balik perhiasan emas yang baru kamu belikan untuk Ibu sore tadi. Aku nggak peduli. Satu jam lagi, kalau deposit belum dibayar, Fikri akan dipindahkan ke bangsal umum yang fasilitasnya tidak memadai untuk kondisinya. Kamu mau itu terjadi?"
Abdi mengerang frustrasi dan memutuskan keluar dari ruang rawat anaknya dan terlihat mondar-mandir di lorong rumah sakit, sesekali memukul tembok dengan tangannya.
Akhirnya, ia meraih ponselnya dan melangkah menjauh, sepertinya mencoba menghubungi seseorang.
Disa kembali duduk di samping Fikri. Ia mengambil napas dalam-dalam. Ia tahu, ia tidak bisa pergi sekarang. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya tabungan, dan orang tuanya di kampung pun orang sederhana yang tidak mungkin ia bebani. Jika ia cerai sekarang, ia akan kalah. Ia akan kehilangan hak asuh Fikri karena dianggap tidak mampu secara finansial.
Aku harus main cantik, batin Disa.
Ia membuka ponselnya. Ia tidak lagi mengecek m-banking, tapi mulai mencari kontak lama. Teman-teman kantornya dulu, para auditor dan manajer keuangan yang dulu pernah menghormati kinerjanya.
Satu pesan ia kirimkan kepada mantan bosnya: "Pak, apakah posisi Senior Auditor di firma Bapak masih tersedia? Saya siap kembali bekerja secepatnya."
Sambil menunggu balasan, Disa mulai mengaktifkan insting akuntannya. Ia mengambil buku catatan kecil dari tas bayinya. Ia mulai mencatat. Bukan catatan belanja harian, tapi catatan "Piutang Luka".
Setiap rupiah yang Abdi ambil dari rumah tangga mereka untuk keluarganya, ia catat dengan detail. Tanggal, nominal, dan tujuannya. Ia ingat semuanya. Ingatannya yang tajam adalah anugerah sekaligus kutukan malam ini.
Tiba-tiba, sebuah pesan balasan masuk.
Pak Heru (Mantan Bos): "Disa? Wah, kebetulan sekali! Kami sedang butuh tenaga ahli untuk proyek audit forensik sebuah perusahaan besar. Kalau kamu bisa mulai Senin depan, posisinya milikmu. Tapi kamu tahu kan, kerjanya akan sangat menyita waktu?"
Jari Disa gemetar saat mengetik: "Saya siap, Pak. Sangat siap."
Disa menutup ponselnya tepat saat Abdi kembali dengan wajah lesu.
"Mas sudah dapat pinjaman dari kantor. Tapi gajiku bulan depan bakal dipotong hampir setengahnya buat cicilan ini," ujar Abdi tanpa rasa bersalah, malah seolah-olah ia adalah pahlawan yang baru saja menyelamatkan dunia.
Disa hanya mengangguk. "Ya, terima kasih, Mas."
Abdi menghela napas lega, mengira istrinya sudah kembali "jinak" seperti biasanya. Ia duduk di samping Disa, mencoba merangkul bahu istrinya. "Makanya, Dis... jangan galak-galak sama suami. Mas ini cari uang susah buat kalian. Kalau kita sabar, rezeki pasti datang."
Disa membiarkan tangan Abdi menyentuh bahunya, tapi ia tidak merasakan apa-apa lagi. Hatinya sudah sedingin es. Di dalam kepalanya, ia sudah menyusun rencana besar. Ia akan membiarkan Abdi merasa menang untuk sementara. Ia akan berpura-pura menjadi istri yang patuh selama beberapa bulan ke depan sambil mengumpulkan pundi-pundi uang dari pekerjaannya nanti.
Ia akan membiarkan keluarga mertuanya terus menguras Abdi sampai kering, sementara ia diam-diam membangun benteng finansialnya sendiri.
"Nikmati kemenanganmu, Mas. Nikmati setiap gram emas yang kamu berikan pada Ibumu. Karena saat aku pergi nanti, aku pastikan kamu tidak akan punya apa-apa lagi bahkan harga dirimu sekalipun," sumpah Disa dalam hati.
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, lahirlah Disa yang baru. Bukan lagi istri yang hanya bisa menangis, tapi seorang auditor yang siap mengaudit setiap kebohongan dalam pernikahannya.
Saat Abdi tertidur di kursi tunggu, ponselnya yang tergeletak di pangkuan menyala. Sebuah pesan masuk dari adiknya, Shinta.
"Mas, makasih ya buat uang asuransinya! Shinta sudah DP gedung paling mewah. Tapi Ibu bilang, mobil pengantinnya juga harus bagus. Mas bisa bantu sewa Alphard kan buat hari-H? Jangan bilang Mbak Disa ya, nanti dia berisik lagi."
Disa, yang ternyata hanya berpura-pura tidur, membaca pesan itu dengan jelas. Ia tersenyum tipis senyuman yang terlihat sangat mengerikan di kegelapan malam.