NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Evolusi Perih

Pintu ruang medis berdesis tertutup, mengunci dengungan reaktor yang memekakkan telinga di luar. Li Wei bersandar pada meja bedah porselen yang retak, napasnya berat dan berbau ozon yang tajam. Tangannya yang gemetar meraih sebuah kaleng kopi tua yang tergeletak di atas baki instrumen—sebuah upaya insting untuk mencari sesuatu yang normal, sebuah jangkar kecil dari kehidupan lamanya yang sederhana, di tengah kekacauan sensorik yang sedang mencabik-cabik sistem sarafnya.

"Li Wei, baringkan dirimu sekarang! Sinyal sarafmu sudah melewati batas kritis!" seru Chen Xi, suaranya bergetar saat ia mengaktifkan scanner medis di tabletnya.

Namun, sebelum Li Wei sempat membuka tutup kaleng itu, sebuah dentuman besar menghantam pintu luar bunker di kejauhan, menggetarkan seluruh fondasi. Debu putih berjatuhan dari plafon seperti salju kematian, dan saat itulah evolusi itu menagih harganya. Tubuh Li Wei tersentak hebat. Kaleng kopi itu jatuh dari genggamannya, isinya yang tinggal setetes meninggalkan noda hitam pekat di lantai putih yang berlumut—sebuah noda kecil yang menandakan berakhirnya kemanusiaan yang tenang bagi Li Wei.

"Li Wei! Kau dengar aku?" Chen Xi menarik bahu Li Wei, namun segera menarik tangannya kembali karena rasa panas yang menyengat dari kulit pria itu. "Astaga... suhu tubuhmu melonjak ke empat puluh dua derajat!"

"Jangan... jangan sentuh aku, Chen Xi," rintih Li Wei. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan gema statis yang beresonansi dengan frekuensi rendah. "Semuanya... berteriak di kepalaku."

"Xiao Hu! Ambilkan Serum Qi dan Penstabil Bio di lemari pendingin itu! Cepat!" perintah Chen Xi, suaranya naik satu oktav karena panik.

Li Wei ambruk di atas meja bedah. Tubuhnya mulai mengalami kejang tonik; setiap serat ototnya mengeras seperti kabel baja yang ditarik paksa melampaui batas elastisitasnya. Pendaran ungu di matanya mulai merembes keluar dalam bentuk tetesan cairan merah pekat—air mata darah yang mengalir perlahan melewati pelipisnya menuju permukaan porselen yang dingin.

"Aku melihat mereka, Chen Xi," igau Li Wei, matanya menatap kosong ke langit-langit yang remang. "Ribuan orang... mereka terperangkap dalam energi ini. Mereka tidak ingin aku mengambilnya, tapi mereka tidak punya tempat untuk pergi. Han... dia juga di sana, memandangku dari balik kegelapan data."

"Itu hanya halusinasi saraf karena beban data yang berlebihan, Li! Fokus pada suaraku!" Chen Xi dengan panik menyiapkan alat injeksi sirkuit, jemarinya menari di atas layar yang dipenuhi peringatan merah.

"Bukan... ini memori. Ayah... ayah ada di sini," suara Li Wei melemah, namun ketegangannya kian meningkat. "Dia bilang... aku adalah pedang yang harus ditempa dalam perih. Tapi kenapa rasanya sesakit ini? Rasanya seperti sumsum tulangku digantikan oleh lava cair yang terus mendidih."

Xiao Hu berlari mendekat, membawa botol serum yang permukaannya sudah mengkristal sebagian karena usia. "Ini, Kak Chen! Tapi alat monitoring bilang frekuensi jantung Kak Li tidak terbaca oleh sensor standar!"

"Gunakan defibrilator saraf! Sekarang!" teriak Chen Xi. Ia mengambil alat itu dan menempelkannya ke pelipis Li Wei. "Aku tidak akan membiarkanmu mati di meja ini, Li Wei. Tidak setelah kita sampai sejauh ini, menembus pengepungan para pembunuh di koridor reaktor tadi!"

Zzap!

Sentakan listrik biru beradu dengan aura ungu yang memancar dari tubuh Li Wei. Ruangan itu seketika diterangi oleh kilatan cahaya yang menyambar instrumen medis di sekitarnya hingga mengeluarkan percikan api. Li Wei meraung, sebuah suara yang sanggup merobek kesunyian bunker, saat energinya mulai memaksa sel-sel sarafnya berevolusi secara paksa menuju tingkat kekuatan yang lebih tinggi.

"Bertahanlah, Li..." bisik Chen Xi, air matanya jatuh di atas punggung tangan Li Wei yang terkepal kuat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. "Jangan biarkan energi ini menghapus siapa dirimu sebenarnya. Kau manusia, bukan sekadar inang bagi energi kuno ini."

"Sakit ini... nyata, Chen Xi," Li Wei mencengkeram pinggiran meja bedah hingga porselennya retak seribu. "Aku bisa merasakan setiap sirkuit di bunker ini. Aku bisa merasakan langkah-langkah berat yang mendekat ke arah kita. Mereka... mereka bukan manusia."

"Garda Besi," gumam Chen Xi sambil melirik pintu medis yang mulai bergetar. "Mereka sudah menembus aula utama."

"Xiao Hu, bersembunyilah di bawah meja instrumen," perintah Li Wei dengan suara yang kini terdengar lebih stabil namun menyimpan getaran kekuatan yang mengerikan. "Jangan keluar sampai aku mengatakannya."

"Tapi Kak Li... Kakak masih berdarah," Xiao Hu terisak, namun ia tetap merangkak masuk ke tempat perlindungan yang sempit itu.

Li Wei menarik napas panjang, mencoba memfokuskan rasa perih di sumsum tulang belakangnya menjadi satu titik di pusat kesadarannya. Ia menatap Chen Xi, dan untuk sesaat, pendaran ungu di matanya meredup, menyisakan tatapan manusiawi yang penuh dengan permohonan maaf.

"Jika aku berubah menjadi sesuatu yang lain... jika aku tidak lagi mengenali suaramu," ucap Li Wei dengan nada rendah. "Tinggalkan aku. Selamatkan Ibu."

"Jangan bicara seolah kau sudah kalah, Li Wei!" bantah Chen Xi keras, meskipun tangannya yang memegang alat injeksi gemetar hebat. "Kita akan keluar dari sini bersama-sama. Kau dengar? Bersama-sama!"

Suara hantaman di pintu medis kian mengeras, menciptakan dentuman ritmis yang selaras dengan denyut nadi Li Wei yang kini melampaui batas frekuensi manusia. Cahaya ungu yang memancar dari pori-pori kulitnya mulai mengental, membentuk kabut tipis yang menyelimuti meja bedah. Chen Xi berdiri terpaku, menatap grafik pada tabletnya yang kini bukan lagi menampilkan angka, melainkan simbol-simbol kuno yang tidak terbaca—kode-kode sisa dari protokol Project Zero.

"Li Wei, stabilisasi sarafmu sudah mencapai ambang batas!" seru Chen Xi, suaranya nyaris tenggelam oleh deru energi. "Kau harus melepaskan tekanannya sekarang, atau kau akan hancur dari dalam!"

"Aku tidak bisa melepaskannya... jika aku melepaskannya, energi ini akan meruntuhkan seluruh ruangan ini," balas Li Wei dengan gigi terkatup rapat. Keringat dingin bercampur darah menetes dari dagunya. "Aku harus... menjadikannya bagian dariku."

Ia memejamkan mata, memaksakan kesadarannya masuk lebih dalam ke labirin saraf yang sedang terbakar. Di sana, ia melihat bayangan Sersan Han yang berdiri tegak di tengah badai data. Han tidak lagi tampak seperti ancaman, melainkan seperti pengingat akan beban yang harus ia pikul. Li Wei menarik napas panjang, membayangkan energi Qi yang liar itu bukan sebagai musuh, melainkan sebagai aliran sungai yang harus ia arahkan ke muara Void di dalam dirinya.

"Jangan ditahan... biarkan mengalir," bisik Li Wei pada dirinya sendiri.

Seketika, aura ungu yang tadinya meledak-ledak mulai menyusut, tersedot masuk kembali ke dalam tulang belakangnya. Kejang di tubuhnya berhenti seketika. Li Wei jatuh terduduk di atas meja bedah, dadanya naik turun dengan cepat, namun matanya kini terbuka lebar dengan kejernihan yang menakutkan. Lingkaran neon ungu di pupilnya kini menetap, bersinar dengan intensitas yang stabil.

"Li? Kau... kau berhasil?" Chen Xi mendekat dengan ragu, tangannya terulur namun tertahan di udara.

Li Wei menatap telapak tangannya. Getaran liar itu sudah hilang, digantikan oleh rasa dingin yang sangat tenang, seolah-olah seluruh emosinya telah dibekukan untuk memberi ruang bagi kekuatan baru ini. "Sakitnya masih di sana, Chen Xi. Tapi aku tidak lagi takut padanya."

"Tingkat sinkronisasimu... scanner-ku menunjukkan Level 5," bisik Chen Xi dengan nada tidak percaya. "Kau baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan di laboratorium Kekaisaran, dan kau melakukannya dalam hitungan menit di atas meja bedah berlumut."

"Kekuatan ini memiliki harga yang mahal," Li Wei bangkit berdiri, gerakannya kini terasa luar biasa presisi, seolah-olah setiap inci ototnya telah dikalibrasi ulang oleh AI dunia. "Aku bisa merasakan mereka sekarang. Di balik pintu itu. Tiga unit Garda Besi, kelas berat."

"Tiga?" Chen Xi segera meraih pistol bio-nya. "Kita tidak punya senjata yang cukup kuat untuk menembus zirah magnetik mereka di ruang sesempit ini!"

"Kita tidak butuh senjata," sahut Li Wei datar. Ia berjalan menuju pintu medis yang kini sudah melengkung ke dalam akibat hantaman dari luar.

"Li Wei, apa yang kau lakukan? Kembali ke posisi bertahan!" teriak Chen Xi panik.

Xiao Hu mengintip dari bawah meja, matanya membelalak melihat punggung Li Wei yang kini memancarkan aura tipis berwarna ungu gelap. "Kak Li... Kakak terlihat berbeda."

"Tetap di sana, Xiao Hu. Jangan tutup matamu," ucap Li Wei tanpa menoleh. "Lihatlah apa yang mereka lakukan pada kita, dan lihatlah bagaimana kita membalasnya."

Pintu baja itu akhirnya menyerah. Dengan suara ledakan logam yang memekakkan telinga, pintu itu terlempar ke dalam, menabrak meja-meja instrumen hingga hancur berkeping-keping. Dari balik kabut asap, tiga siluet raksasa setinggi dua meter melangkah masuk. Mereka adalah Garda Besi—robot keamanan dengan zirah baja hitam matte dan lengan meriam yang sudah berpendar merah, siap memuntahkan api.

"Subjek Li Wei terdeteksi. Status: Pengkhianat Level Satu. Perintah: Eksekusi mati," suara monoton mekanis bergema dari unit terdepan.

"Eksekusi?" Li Wei mengangkat kepalanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang dingin, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Kalian terlambat. Kematian adalah sesuatu yang sudah aku lalui beberapa menit yang lalu."

Garda Besi terdepan mengangkat lengannya, namun sebelum meriam plasma itu sempat menyalak, Li Wei sudah menghilang dari pandangan. Ia bergerak dengan kecepatan Level 5, sebuah manuver yang melampaui kemampuan mata manusia biasa untuk menangkapnya. Dalam sekejap, Li Wei sudah berdiri tepat di depan robot raksasa itu, telapak tangannya menyentuh pelat dada baja hitam tersebut.

"Void-Pulse," bisik Li Wei pelan.

Gelombang ungu pekat meledak dari telapak tangannya, menghantam zirah Garda Besi dengan tekanan gravitasi yang luar biasa. Logam hitam itu meledak ke dalam, hancur berkeping-keping seolah-olah hanya terbuat dari kertas tipis. Robot seberat satu ton itu terlempar ke belakang, menghantam dua unit lainnya hingga ketiganya tertimbun reruntuhan koridor.

Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara percikan listrik dari bangkai robot yang hancur. Chen Xi menatap pemandangan itu dengan napas tertahan, sementara Li Wei berdiri diam di tengah debu, menatap tangannya sendiri yang masih mengeluarkan asap tipis.

"Satu langkah lagi menuju kebenaran," gumam Li Wei, suaranya bergetar antara kemenangan dan kepedihan yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!