Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Demam, Telepon, dan Suara Napas Teratur
Malam semakin larut.
Aku memarkir motor di garasi luas rumahku, tepat di samping Alphard putih milik Mam Genevieve. Begitu aku melepas helm, pintu samping rumah terbuka.
"Selamat malam, Tuan Muda," sapa Mbak Sari ramah, membukakan pintu.
"Malam, Mbak."
Di ruang tengah, Mam Genevieve sedang duduk santai sambil menonton drama Korea di TV besar. Dia mengenakan piyama sutra berwarna peach, wajahnya memakai masker wajah sheet mask yang membuatnya terlihat seperti hantu cantik.
"Eh, anak bujang Mam udah pulang," sapa Mam dengan suara agak kaku karena masker. "Gimana kencannya? Sukses?"
Aku memutar bola mata malas. "Bukan kencan, Mam. Rapat strategi kelas."
"Halah, alasan," goda Mam. "Muka kamu cerah gitu kok. Pasti abis ketemu cewek cantik."
Aku tidak menanggapi godaan Mam dan memilih langsung naik ke lantai dua. Tubuhku terasa lengket dan lelah. Otakku sudah bekerja keras menyusun rencana di mall tadi, dan sekarang rasanya ingin segera mati suri di kasur.
Masuk ke kamar, aku melempar tas ke kursi belajar. Aku mandi sebentar dengan air hangat untuk melemaskan otot, lalu berganti pakaian menjadi kaos oblong putih polos dan celana pendek yang nyaman.
Bruk.
Aku menjatuhkan tubuh ke atas kasur king size-ku yang empuk. Menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu tidur temaram.
Sunyi. Tenang.
Tanganku meraba meja nakas, mengambil ponsel. Aku teringat notifikasi yang membanjiri layar kunci tadi saat di parkiran mall.
Aku membuka aplikasi chattan.
Benar saja. Ruang chat dengan nama kontak Zea (Manajer Bawel) berada di urutan paling atas dengan lencana merah bertuliskan angka 15. Ada juga 5 panggilan tak terjawab.
Zea: Cal, kamu di mana? Udah pulang belum? Aku bosen nih... Cal... kepala aku pusing banget deh. Badan aku panas. Kayaknya aku demam gara-gara kelamaan nungguin kamu bales chat. (Stiker kucing nangis) Angkat telepon dong, Cal...
Aku membaca pesan-pesan itu. Awalnya aku mengira dia cuma caper (cari perhatian) seperti biasa. Tapi pesan terakhir dikirim satu jam yang lalu, dan setelah itu tidak ada spam lagi. Itu aneh. Biasanya Zea akan meneror sampai dibalas.
"Sakit?" gumamku pelan.
Mungkin efek perubahan cuaca, atau mungkin karena dia terlalu bersemangat beberapa hari ini.
Rasa bersalah menyusup pelan di dadaku. Tadi aku memang mengabaikannya demi bertemu Rafan dan Fany.
Aku menimang-nimang ponsel. Haruskah aku membiarkannya tidur? Tapi kalau dia beneran sakit sendirian di kamar...
"Ah, sudahlah."
Jari jempolku menekan tombol ikon telepon.
Tuuut... Tuuut...
Panggilan tersambung.
Baru dering kedua, panggilan itu langsung diangkat.
"Ha-halo?"
Suara di seberang sana terdengar serak, lemah, dan sedikit sengau. Sangat berbeda dari suara ceria Zea yang biasa kudengar di sekolah.
Aku menghela napas pelan, merubah posisi tidurku menjadi menyamping.
"Halo, Ze," sapaku lembut. "Maaf baru nelpon. Aku baru sampe rumah."
"Cal..." panggilnya lirih. Terdengar suara gesekan selimut, sepertinya dia sedang meringkuk di balik selimut tebal. "Kamu jahat banget... aku nelponin dari tadi..."
"Iya, maaf. Tadi aku lagi nyetir motor, nggak bisa angkat," alasanku logis. "Kamu beneran sakit? Katanya demam?"
"Hm..." gumam Zea lemas. "Iya. Tadi udah diukur pake termometer, 38 derajat. Tenggorokan aku juga sakit."
Uhuk. Uhuk.
Zea terbatuk kecil. Batuk kering yang terdengar menyakitkan.
"Udah minum obat?" tanyaku, nadaku berubah menjadi sedikit khawatir.
"Udah... tadi Mama kasih parasetamol. Tapi nggak bisa tidur. Kepala aku nyut-nyutan."
Hening sejenak. Aku bisa mendengar suara napasnya yang agak berat di speaker ponsel.
"Ya udah, kamu istirahat aja sekarang. Matiin teleponnya, terus tidur. Biar besok sembuh," saranku.
"Nggak mau," tolak Zea cepat, suaranya merengek manja. "Jangan dimatiin, Cal. Plis... Aku kesepian. Mama sama Papa udah tidur. Di kamar sepi banget."
"Sekarang masih jam setengah delapan, Ze. Masih sore," kataku melihat jam dinding.
"Makanya itu... temenin aku ya?" pinta Zea. "Temenin ngobrol sampe aku ngantuk. Boleh ya? Ya? Ya?"
Mendengar suara seraknya yang memohon begitu, pertahanan logikaku runtuh lagi. Bagaimana bisa aku menolak orang sakit?
Aku meletakkan ponsel di bantal, menyalakan mode speaker, dan meletakkan kepalaku di sebelahnya. Rasanya seperti dia ada di bantal yang sama.
"Iya," jawabku pasrah. "Boleh."
"Yey..." sorak Zea lemah tapi senang. "Makasih, Cal. Kamu emang terbaik."
Kami pun mulai mengobrol. Bukan obrolan berat tentang strategi atau pelajaran, melainkan obrolan random yang mengalir begitu saja.
"Cal, kamu udah siap buat lari 400 meter?" tanya Zea tiba-tiba.
"Tahu dari mana aku ikut lari?"
"Rafan tadi update status di WA, katanya 'Sang Raja turun gunung di lintasan lari'. Siapa lagi kalau bukan kamu?" kekeh Zea pelan.
"Dasar Rafan ember," gerutuku. "Iya, aku ikut. Biar poin kelas nambah."
"Keren..." gumam Zea kagum. "Aku bayangin kamu lari... pasti cepet banget kayak cheetah. Nanti aku teriakin nama kamu paling kenceng dari tribun."
"Jangan teriak, nanti tenggorokanmu tambah sakit," tegurku.
Zea tertawa kecil, lalu terbatuk lagi. "Iya, iya, Dokter Callen."
Hening sebentar.
"Cal," panggilnya lagi.
"Hm?"
"Makanan kesukaan kamu apa sih? Selain sop ayam?"
Aku berpikir sejenak. "Nasi goreng buatan Mam. Sama... steak tingkat kematangan medium rare."
"Wih, fancy juga seleranya," komentar Zea. "Kalau hobi? Selain main catur sama bikin orang pingsan?"
Aku tersenyum tipis mendengar sindirannya.
"Baca buku," jawabku. "Sama dengerin musik instrumen. Piano atau biola."
Aku tidak menyebutkan hobi asliku yang lain: Merakit gundam, latihan bela diri, dan menganalisis pasar saham. Biarlah itu jadi rahasia lain kali.
"Suka musik klasik ya? Cocok banget sama muka kamu yang tenang gitu," kata Zea, suaranya mulai terdengar memberat, tanda kantuk mulai menyerang. "Kalau aku... aku suka nyanyi. Tapi suaraku tidak terlalu bagus. Cuma berani nyanyi di kamar mandi."
"Nggak apa-apa. Nyanyi itu buat seneng-seneng, bukan buat konser," tanggapku.
"Cal..."
"Ya?"
"Kamu... kenapa sih baik sama aku?" tanya Zea, suaranya makin pelan, nyaris berbisik. "Padahal aku berisik... aku maksa kamu terus... aku bikin kamu digosipin satu sekolah..."
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Kenapa?
Awalnya karena terpaksa. Karena satu kelompok. Tapi sekarang?
Aku menatap langit-langit kamar. Membayangkan wajah Zea yang ceria, wajahnya yang memerah saat kugoda, dan wajahnya yang bangga saat aku menang basket.
"Karena kamu..." aku berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Karena kamu satu-satunya orang yang berani narik aku keluar dari gua persembunyianku, Ze. Dan anehnya, aku nggak benci itu."
Tidak ada jawaban dari seberang.
"Ze?" panggilku pelan.
Hening. Hanya terdengar suara napas yang teratur dan halus.
Fiuuh... Fiuuh...
Zea sudah tertidur.
Obrolan kami, suaraku yang rendah, dan mungkin rasa nyaman yang dia rasakan, akhirnya mengalahkan demamnya dan membawanya ke alam mimpi.
Aku mendengarkan suara napasnya itu selama satu menit penuh. Ada rasa damai yang aneh merambat di hatiku.
"Selamat tidur, Zea," bisikku lembut. "Cepet sembuh. Kita punya perang yang harus dimenangkan minggu depan."
Aku menekan tombol merah di layar ponsel. Panggilan berakhir pukul 20.55.
Aku meletakkan ponsel di nakas, menarik selimut sebatas dada, dan memejamkan mata dengan senyum tipis yang masih tersisa di bibir.