NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Seragam Baru, Jarak Baru.

Alarm ponsel di atas nakas berbunyi nyaring tepat pukul empat pagi. Dinara segera mematikan benda itu sebelum suaranya sempat merusak tidur nyenyak Dimas. Ia bergegas menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin yang seolah menusuk pori-pori, lalu bersiap untuk Tahajud.

Namun pagi ini, setelah salam terakhir, Dinara tidak lagi memiliki waktu untuk bersandar di bahu Dimas sambil menunggu Subuh. Ia harus segera menyetrika seragam barunya—kemeja berwarna cokelat gelap yang kaku dengan lambang institusi kejaksaan di lengannya.

"Dek, pagi-pagi sudah sibuk sama setrikaan," gumam Dimas dengan suara serak. Ia duduk di tepi ranjang, rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam.

"Mas, hari ini ada apel besar. Aku nggak boleh telat, apalagi baju belum licin begini," sahut Dinara tanpa menoleh. Tangannya bergerak cepat, memastikan setiap lipatan seragamnya sempurna.

Dimas menguap lebar, lalu bangkit perlahan. Ia berjalan menuju dapur, menyalakan mesin kopi otomatis yang suaranya mengisi kesunyian apartemen. Kehidupan mereka telah berubah drastis sejak sebulan lalu. Dinara kini bukan lagi mahasiswi yang bisa diajak begadang demi mengejar revisi, dan Dimas bukan lagi sekadar penulis yang diam di rumah. Dimas kini memiliki kesibukan baru sebagai pemilik Dina Coffee, kafe buku yang sedang ia rintis di salah satu sudut strategis kota.

"Sarapan apa, Sayang? Mas buatkan roti bakar ya?" tawar Dimas sambil menuang susu ke dalam gelas.

"Enggak sempat, Mas. Aku minum air putih saja. Nanti makan di kantor kalau ada jeda," jawab Dinara. Ia sudah mengenakan seragam lengkap, jilbabnya terpasang rapi dengan jarum pentul yang presisi.

Dimas menatap istrinya dengan dahi berkerut. Sosok di depannya kini tampak sangat kaku dan berwibawa. Tidak ada lagi sisa-sisa "Dinara yang manja" saat mengerjakan skripsi. Seragam itu seolah memberikan tembok tak kasat mata di antara mereka pagi ini.

"Mas... aku berangkat sekarang ya. Masih mau Subuhan di masjid kantor saja biar nggak kena macet di jalan," Dinara menyambar tas kerjanya dan mencium tangan Dimas kilat.

"Lho, gak bareng? Mas kan bisa antar pakai SUV dhisik," ujar Dimas heran.

"Kelamaan kalau nunggu Mas siap-siap. Aku naik ojek online saja biar cepat nyelip-nyelip. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam..." Dimas hanya bisa menatap pintu apartemen yang tertutup rapat. Ia melihat gelas susu yang baru saja ia tuang masih penuh, tak tersentuh.

Ia menghela napas, lalu duduk sendirian di meja makan. Kontras sekali. Dinara sudah berpacu dengan waktu di jalanan Surabaya yang mulai padat, sementara ia masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek, baru akan memulai harinya beberapa jam lagi ketika Dina Coffee dibuka.

Siang hari di kantor Kejaksaan adalah neraka bagi mereka yang menyukai ketenangan. Dinara duduk di balik meja yang penuh dengan tumpukan berkas perkara. Suara telepon berdering, langkah kaki sepatu pantofel yang tegas di koridor, dan aroma kertas lama memenuhi penciumannya.

"Din, ini berkas kasus pencurian motor di wilayah utara. Tolong dirapikan draf dakwaannya," ujar salah satu seniornya sambil meletakkan map tebal.

"Siap, Pak," jawab Dinara singkat. Ia segera fokus. Di sini, ia belajar bahwa satu kata saja salah tulis, nasib seseorang bisa berubah. Dunianya kini penuh dengan pasal-pasal dingin dan logika yang tidak mengenal kompromi.

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, Dina Coffee sedang mulai menggeliat. Dimas berdiri di balik bar, aroma biji kopi yang baru digiling tercium harum. Ia mengenakan apron kulit, menyapa pelanggan dengan gaya santai dan ramah.

"Mas Dimas, pesanan meja nomor empat belum keluar!" teriak salah satu pegawainya.

"Sabar, rek. Kopi enak itu butuh perasaan, nggak bisa buru-buru kayak dikejar debt collector," sahut Dimas sambil nyengir. Ia menikmati dunianya yang dinamis, penuh dengan obrolan ringan dan diskusi buku.

Namun, di sela kesibukannya, Dimas sesekali melirik ponsel. Tidak ada pesan dari Dinara. Biasanya, saat masih kuliah dulu, Dinara akan mengirimkan foto makan siangnya atau sekadar mengeluh soal dosen. Sekarang? Sunyi.

Baru pada pukul tujuh malam, Dimas kembali ke apartemen. Ia membawa sebungkus nasi bebek favorit mereka, berharap bisa makan malam bersama. Namun, ia mendapati lampu ruang tengah masih padam. Dinara belum pulang.

Hampir pukul sembilan malam, barulah terdengar suara kunci pintu diputar. Dinara masuk dengan langkah gontai, bahunya merosot, wajahnya terlihat sangat pucat tertimpa cahaya lampu koridor.

"Baru pulang, Dek?" tanya Dimas, ia baru saja selesai memanaskan nasi bebek tadi.

"Iya, Mas. Tadi ada pemeriksaan tambahan sampai maghrib, terus lanjut rapat internal," Dinara meletakkan tasnya asal-asalan di sofa. Ia langsung duduk dan menyandarkan kepala.

Dimas menghampiri, berniat memberikan pijatan ringan di bahu istrinya. "Makan dhisik, Sayang. Mas sudah belikan nasi bebek. Iki sik anget (ini masih hangat)."

Dinara menggeleng lemah. "Aku sudah makan di kantor tadi, bareng teman-teman staf lain. Maaf ya, Mas."

Dimas menarik tangannya kembali. Rasa kecewa kecil menyusup di hatinya, namun ia mencoba maklum. "Nggih pun kalau sudah makan. Tapi setidaknya minum teh anget dhisik, biar capeknya hilang."

"Nanti saja, Mas. Aku mau langsung mandi terus tidur. Besok pagi harus stand-by lagi jam tujuh," Dinara bangkit, berjalan menuju kamar mandi tanpa banyak bicara.

Dimas berdiri mematung di ruang tengah yang kini terasa sangat luas. Ia melihat seragam cokelat Dinara tersampir di kursi, seolah-olah seragam itu sedang menertawakannya. Jarak di antara mereka bukan lagi soal kilometer antara kantor dan kafe, melainkan ritme hidup yang mulai berbenturan.

Dulu, mereka adalah dua orang yang selalu punya waktu untuk duduk berlama-lama membicarakan hal-hal sepele. Kini, percakapan mereka terbatas pada "sudah makan?", "hati-hati di jalan", dan "selamat tidur".

Dimas berjalan menuju balkon, menyulut sebatang rokok. Di kejauhan, lampu-lampu Surabaya masih terang benderang, namun ia merasa kesepian di dalam rumahnya sendiri. Ia teringat masa-masa di Blitar dulu, saat Bapak dan Ibunya selalu menekankan pentingnya shalat berjamaah dan makan bersama sebagai pengikat keluarga.

"Mas..." panggil Dinara dari pintu balkon. Ia sudah berganti pakaian santai, rambutnya yang masih agak basah dibiarkan tergerai.

"Belum tidur, Dek?"

"Nunggu Mas. Mas marah ya Dinara pulang telat?" tanya Dinara, ia melangkah mendekat dan memeluk lengan Dimas.

Dimas mematikan rokoknya, lalu mengusap rambut Dinara. "Nggak marah, Sayang. Cuma Mas kangen saja sarapan bareng kamu. Tadi pagi gelas susumu nggak disentuh blas."

Dinara menunduk, rasa bersalah muncul di matanya. "Maaf ya, Mas. Dinara masih adaptasi. Di kantor itu suasananya kaku banget, Dinara jadi terbawa tegang sampai rumah."

"Iya, Mas paham. Tapi jangan sampai badanmu rontok gara-gara kerjaan. Ingat, kamu punya suami yang butuh diperhatikan juga, nggak cuma berkas perkara saja yang diperhatikan," goda Dimas, mencoba mencairkan suasana.

"Nggih, Mas. Besok Dinara usahakan sarapan bareng. Tapi Mas bangunnya jangan kesiangan ya!" balas Dinara sambil mencubit pinggang Dimas.

Tawa kecil pecah di antara mereka, namun keduanya tahu, tawa itu hanya penawar sementara. Ada sebuah realitas baru yang harus mereka hadapi—bahwa seragam baru Dinara dan kesibukan Dina Coffee milik Dimas telah menciptakan sebuah jarak baru yang harus mereka jembatani dengan lebih sabar.

Malam itu, mereka tidur bersisian, namun dalam mimpi masing-masing, Dinara masih berkutat dengan dakwaan hukum, dan Dimas masih memikirkan stok biji kopi yang menipis. Surabaya masih tetap sama, namun dinamika di dalam apartemen mereka telah memasuki babak yang jauh lebih menantang daripada sekadar ujian skripsi.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!